NovelToon NovelToon
Miranda Istri Yang Diabaikan

Miranda Istri Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIA 14

Miranda keluar rumah dengan langkah cepat. Dari balik pintu, ia sempat menoleh ke kamar Amora. Nadia tampak sibuk menggendong bayi itu sambil menepuk-nepuk punggungnya perlahan. Walau belum menikah dan belum pernah punya anak, gerakan Nadia begitu terampil, penuh kelembutan. Amora yang semula rewel kini mulai tenang.

“Titip Amora ya, Mbak,” ucap Miranda pelan.

“Iya, Mbak. Tenang saja,” jawab Nadia sambil tersenyum.

Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Miranda segera memesan taksi online. Hujan turun rintik-rintik, membasahi halaman rumah, membuat udara terasa dingin dan muram. Ia menatap langit yang dipenuhi awan hitam menggumpal. Sepertinya hujan akan turun sepanjang hari.

Perjalanan menuju Mangga Dua terasa panjang. Di balik kaca mobil yang berembun, Miranda terus memikirkan rencananya. Hari ini ia harus menemukan kamera terbaik. Bukan sekadar alat murah yang mudah rusak. Ia butuh mata yang tak pernah tidur.

Sesampainya di pusat elektronik, Miranda turun dari mobil dan langsung melangkah masuk ke sebuah toko besar bertuliskan “Sistem Keamanan Digital”. Lampu putih terang memantul di etalase kaca. Deretan kamera, kabel, monitor, dan kotak-kotak kemasan memenuhi rak. Suasana toko terasa dingin, berbau plastik dan logam.

Seorang wanita berkulit kuning bermata sipit, berkacamata, segera menghampirinya.

“Cari apa, Mbak?” tanyanya ramah.

“Saya cari CCTV tanpa kabel, bisa terhubung langsung ke ponsel,” jawab Miranda pelan.

“Oh, ada. Ini, Mbak,” ucap wanita itu sambil mengeluarkan beberapa benda kecil dari laci etalase.

Miranda tertegun. Bentuknya mungil, nyaris seperti kancing baju. Jika tidak diperlihatkan langsung, ia tak akan pernah menyangka benda itu kamera pengintai.

“Ini hasilnya bagus?” tanya Miranda ragu.

“Ini tipe tertinggi, Mbak,” jelas wanita itu yang memperkenalkan diri sebagai Cici. “Lensanya kualitas tinggi, ada sensor gerak, audio terekam jelas, dan bisa merekam dalam gelap tanpa lampu.”

“Dayanya dari mana?” tanya Miranda lagi.

“Pakai baterai. Tahan sampai dua minggu.”

“Boleh saya lihat hasil rekamannya?”

Cici segera menyalakan kamera dengan peniti kecil, lalu mengarahkannya ke sudut toko yang agak gelap. Beberapa detik kemudian, layar ponsel di tangannya menampilkan gambar jelas, bahkan bayangan rak terlihat tajam.

Miranda menahan napas. Hasilnya lebih bagus dari yang ia bayangkan.

“Harganya berapa, Mbak?”

“Lima juta satu.”

Miranda menelan ludah. Ia butuh enam kamera. Tiga puluh juta rupiah. Jumlah yang tidak kecil. Sebagai pencinta uang, hatinya terasa perih. Namun ia mengatupkan rahang, memaksa diri tetap tenang.

“Baiklah. Saya ambil enam.”

Saat pembayaran selesai dan ia bersiap pergi, Miranda berhenti sejenak.

“Mbak sendiri pakai kamera seperti ini di rumah?”

Cici menggeleng. “Saya pakai yang itu,” katanya sambil menunjuk sebuah lampu gantung di sudut toko.

“Itu CCTV juga?”

“Iya. Sekalian lampu, jadi praktis. Murah, cuma delapan ratus ribu.”

“Bagaimana hasilnya?”

Cici menyalakan monitor kecil. Gambar muncul, cukup jelas, meski tidak setajam kamera sebelumnya.

“Bisa dipantau lewat ponsel?”

“Bisa, Mbak. Tapi kapasitasnya kecil. Seminggu sekali rekaman harus dipindahkan ke komputer.”

Miranda terdiam. Terlalu merepotkan.

Miranda bertukar kontak dengan mba cici untuk konsultasi kalau alatnya rusak

Kemudian Miranda keluar dari toko dan berdiri di bawah kanopi kecil. Ia baru saja hendak memesan taksi online ketika ponselnya berdering. Nama Nabil muncul di layar.

Miranda segera mencari tempat yang agak sepi, menjauh dari suara kendaraan dan percikan hujan.

“Ada apa?” tanya Miranda.

“Aku sudah menemukan bukti perselingkuhan suami kamu,” ucap Nabil datar.

Dada Miranda seketika terasa sesak. Jantungnya berdegup keras. Seperti biasa, Nabil selalu melangkah lebih cepat darinya.

“Berikan padaku sekarang,” pinta Miranda tergesa.

“Aku tidak bisa mengirimnya lewat pesan WhatsApp.”

“Terus bagaimana?” tanya Miranda dengan nada kesal.

“Kita ketemu saja di kafe biasa.”

Miranda melirik jam tangannya. Sudah pukul sebelas siang. Masih ada lima jam sebelum Anton pulang dari golf. Ia menghitung cepat. Satu jam bertemu Nabil, satu jam perjalanan pulang. Masih cukup waktu memasang kamera.

“Baiklah, aku ke sana,” jawab Miranda mantap.

Ia memesan taksi online. Orang-orang berlalu lalang menepi ke pinggir jalan, menghindari genangan air yang memenuhi trotoar. Hujan sejak pagi tak juga berhenti. Miranda menyesal tidak membawa mantel. Angin dingin menembus pakaiannya, membuat kulitnya meremang.

Tak lama kemudian sebuah mobil minibus berhenti di depannya. Miranda masuk dan menyebutkan tujuan. Mobil melaju perlahan menembus kemacetan. Hujan masih turun rapat, mengetuk-ngetuk kaca jendela tanpa henti.

Pendingin udara di dalam mobil membuat tubuh Miranda semakin menggigil. Namun kepalanya justru terasa panas. Pikirannya penuh tanda tanya. Dengan siapa sebenarnya Rizki berselingkuh? Saras, atau orang lain?

Tangannya mengepal di atas pangkuan.

Jika Nabil sudah memegang bukti, lalu untuk apa ia bersusah payah membeli CCTV?

Miranda memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang.

Perlu waktu tiga puluh menit hingga akhirnya mobil berhenti di sekitar Menteng. Miranda turun dengan langkah cepat, lalu berjalan menuju kafe yang sudah sangat ia kenal. Hujan masih turun rintik, membasahi ujung rambut dan bahunya.

Ia menyerahkan uang seratus ribu rupiah kepada sopir, padahal tarif hanya empat puluh lima ribu.

“Ambil saja kembaliannya,” ucap Miranda singkat.

Sopir itu tersenyum ramah. “Terima kasih, Mbak. Semoga hajat Mbak dikabulkan Allah.”

Miranda tersenyum tipis. Andai sopir itu tahu, hajat terbesarnya saat ini hanyalah satu. Ia ingin segera bercerai dari Rizki.

Tanpa menunda, Miranda naik ke lantai dua. Dari kejauhan tampak Nabil sudah duduk, rokok menyala di jarinya, asap tipis mengepul pelan.

“Mana buktinya?” tanya Miranda tanpa basa-basi.

Nabil hanya menggeleng. “Tenangkan dirimu dulu.”

Miranda menarik napas berat, lalu mengembuskannya kasar sebelum duduk di hadapannya.

“Mana buktinya?” ulangnya, suara bergetar.

Belum sempat Nabil menjawab, seorang pelayan datang membawa secangkir cappuccino dan segelas air putih. Ia menatanya rapi, lalu pergi.

“Cepat berikan buktinya,” desak Miranda, nada suaranya semakin tinggi.

“Minum dulu,” jawab Nabil datar.

Miranda meraih botol air mineral. Tangannya gemetar, tutup botol terasa keras. Emosinya memuncak, hampir saja botol itu ia banting ke meja.

Nabil sigap mengambil botol itu, membukanya, lalu mengulurkannya kembali.

“Minum dulu,” katanya lagi, tetap tenang.

Miranda meneguk air dengan cepat. Ia tersedak. Sebagian air menyembur mengenai baju Nabil.

“Maaf, maaf. Aku emosi,” ucap Miranda panik.

“Dasar ceroboh,” gumam Nabil pelan sambil mengelap bajunya.

Miranda menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Dadanya terasa sesak. Ia tahu, apa pun yang akan ia lihat setelah ini akan mengubah hidupnya. Walau pernikahan mereka berawal tanpa cinta, perlahan hatinya tumbuh. Dan kini, perasaan itu harus mati oleh sebuah pengkhianatan.

“Mana bukti kalau Rizki selingkuh?” tanya Miranda lirih.

Nabil mengeluarkan ponselnya, lalu mendorongnya ke arah Miranda.

Di layar muncul sebuah rekaman. Dua sosok, seorang pria dan seorang wanita, berjalan berdampingan memasuki lobi hotel.

Miranda memperbesar gambar wanita itu. Napasnya tertahan.

Pria di sampingnya tidak mungkin salah.

Itu adalah Rizki. Dan perempuannya adalah,,,,

1
partini
beguna lah banyak video itu
partini
wow bisa bela diri teryata Very good 👍👍👍👍
partini
OMG mau eksekusi
Ma Em
Miranda makanya kamu hrs pintar dan cerdas jgn mau di manfaatkan .
partini
good story
partini
OMG kadal semua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!