Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9: Tamu Tak Diundang dari Hutan Hitam
Tiga hari telah berlalu sejak Li Wei mulai mengelola Ladang Herbal No. 9.
Transformasinya mencengangkan. Tanah yang tadinya retak dan abu-abu kini memiliki rona cokelat subur. Di tengah ladang, sepuluh batang Rumput Embun Pagi tumbuh dengan ganas. Daunnya bukan lagi hijau biasa, melainkan hijau kristal yang memancarkan pendaran cahaya lembut di malam hari.
Ini bukan lagi Rumput Roh Tingkat Rendah. Ini telah berevolusi menjadi Rumput Embun Kristal (Tingkat Menengah).
Li Wei berdiri di pinggir ladang, menyeka keringat di dahinya. Wajahnya puas.
"Satu batang ini bernilai lima katu di pasar sekte. Kalau aku jual di pasar gelap, mungkin bisa sepuluh," gumamnya, matanya berbinar menghitung keuntungan.
Namun, senyumnya tidak bertahan lama.
Hidungnya berkedut. Angin malam yang berhembus dari arah hutan di belakang lembah membawa bau yang tidak sedap. Bau yang tajam, air liur, dan niat membunuh yang kental.
Giok Dao Abadi di dadanya bergetar memberikan peringatan bahaya Fluktuasi Qi Liar Mendekat.
Li Wei segera memadamkan lampu minyak di gubuknya. Ia menyelinap ke dalam bayang-bayang, mencengkeram pisau karatnya.
Lembah Abu berbatasan langsung dengan Hutan Hitam, zona penyangga yang memisahkan sekte dari pegunungan liar. Biasanya, binatang buas tidak mendekat ke sini karena tidak ada Qi. Tapi sekarang? Ladang Li Wei adalah suar yang menyala terang di tengah kegelapan, memancarkan aroma Qi murni yang menggoda setiap predator lapar dalam radius sepuluh mil.
Krek.
Suara ranting patah.
Dari balik kabut abu-abu, sepasang mata merah menyala muncul. Lalu sepasang lagi. Dan lagi.
Enam ekor serigala berukuran sebesar anak sapi melangkah keluar dari semak-semak. Bulu mereka berwarna abu-abu besi, dan cakar mereka memancarkan kilau logam.
Serigala Angin (Iron-Wind Wolf). Binatang Spiritual Tingkat 1 Puncak (Setara Qi Condensation Lapis 3).
Mereka menatap ladang herbal Li Wei dengan air liur menetes. Bagi mereka, memakan rumput roh itu bisa memicu evolusi. Dan manusia kurus yang menjaganya? Hanya makanan pembuka.
"Sial," umpat Li Wei pelan. "Enam ekor Lapis 3. Aku hanya Lapis 2."
Secara logika, dia harus lari. Nyawanya lebih berharga dari sepuluh batang rumput.
Tapi Li Wei menatap ladangnya. Itu adalah modal masa depannya. Itu adalah tiketnya untuk mengejar ketertinggalan dari Wang Jian dan melindungi dirinya sendiri.
"Siapa pun yang menyentuh hartaku," mata Li Wei menyipit dingin, aura pembunuhnya meledak, "harus membayar dengan darah."
Serigala terdepan melolong panjang. Auuuuum!
Tiga serigala melesat maju, gerakan mereka secepat angin. Mereka mengincar ladang, bukan Li Wei.
"Jangan harap!"
Li Wei menghentakkan kakinya. [Langkah Api Hantu!]
Ledakan kecil terjadi di telapak kakinya. Tubuhnya melesat memotong jalur serigala itu.
Alih-alih menyerang dengan pisau, Li Wei menendang sebuah batu kecil di tanah yang telah ia tandai sebelumnya dengan tumpukan jerami.
Itu bukan batu biasa. Itu adalah sumbat untuk salah satu "Lubang Vena Naga" yang ia buka kemarin.
Bwuush!
Sumbat terbuka. Semburan uap Qi bertekanan tinggi meledak dari tanah.
Serigala pertama yang berlari di atasnya tidak sempat menghindar. Semburan itu menghantam perutnya yang lunak.
Kaing!
Serigala itu terlempar ke udara, perutnya melepuh terkena dampak Qi murni yang terlalu padat (setara ledakan udara). Ia jatuh berguling-guling, melolong kesakitan.
"Satu tumbang," hitung Li Wei.
Dua serigala lainnya kaget, tapi insting buas mereka mengambil alih. Mereka berbelok menyerang Li Wei dari kiri dan kanan.
Li Wei tidak bisa menggunakan Langkah Api Hantu terus-menerus. Qi nya terbatas.
Ia berguling ke depan menghindari gigitan serigala kiri, tapi cakar serigala kanan berhasil merobek lengan bajunya, meninggalkan goresan merah di kulitnya.
"Kulit Tembaga!" Li Wei mengaktifkan teknik pertahanan dasar yang ia pelajari dari manual umum sekte. Kulitnya mengeras sesaat, menahan agar lukanya tidak dalam.
Ia membalas. Pisau karatnya menusuk ke arah mata serigala kanan.
Tang!
Pisau itu mengenai tulang tengkorak serigala yang sekeras besi. Percikan api muncul. Pisau itu tidak tembus!
"Sial, tulang mereka terlalu keras!"
Serigala itu menggeram dan menerjang lagi. Li Wei terdesak mundur.
Tiba-tiba, dari arah hutan, seekor serigala yang jauh lebih besar melangkah keluar. Ukurannya dua kali lipat yang lain. Ada bekas luka silang di matanya.
Raja Serigala (Wolf King). Binatang Spiritual Tingkat 2 Awal (Setara Qi Condensation Lapis 4/5).
Tekanan auranya membuat Li Wei sesak napas. Raja Serigala itu tidak menyerang. Ia hanya menatap Li Wei dengan tatapan cerdas dan kejam, lalu mengaum memberi perintah.
Sisa serigala mengepung Li Wei. Taktik berburu kawanan.
"Mereka mau mempermainkanku," batin Li Wei, keringat dingin mengucur di punggungnya. "Aku akan mati jika terus begini."
Matanya melirik ke sekeliling ladang. Ia punya satu kartu as lagi. Sebuah Vena Naga utama yang berada tepat di tengah ladang, yang belum berani ia buka karena tekanannya terlalu besar dan tidak stabil.
"Aku harus memancing mereka ke tengah."
Li Wei berbalik dan lari menuju tengah ladang, seolah-olah dia menyerah dan ingin melindungi tanaman secara fisik.
Melihat mangsanya terpojok, kawanan serigala itu termasuk Raja Serigala menerjang serentak. Mereka melompat ke udara, siap mencabik-cabik Li Wei.
"Sekarang!"
Li Wei menjatuhkan dirinya ke tanah, tepat di samping tanaman herbal terbesar. Tangannya menghantam tanah, menyalurkan seluruh sisa Qi-nya melalui teknik Jari Tangan Hijau Surgawi untuk meruntuhkan struktur tanah di bawahnya.
RUMBLE!
Tanah di tengah ladang runtuh.
Bukan ledakan keluar, tapi hisapan ke dalam sebelum ledakan. Vena Naga yang tidak stabil itu melepaskan gelombang kejut Qi.
BOOM!
Sebuah pilar cahaya putih meledak dari tanah.
Li Wei, yang sudah bersiap, berlindung di balik gundukan tanah, tapi tetap saja ia terlempar lima meter ke belakang.
Kawanan serigala yang sedang di udara tidak seberuntung itu. Mereka dihantam telak oleh gelombang energi murni itu. Tulang-tulang mereka berderak. Tiga serigala biasa tewas seketika, organ dalam mereka hancur.
Raja Serigala, bagaimanapun, adalah monster Lapis 5. Ia meraung, menggunakan aura tubuhnya untuk menahan ledakan. Ia terlempar, bulunya hangus, berdarah-darah, tapi masih berdiri.
Mata Raja Serigala itu kini merah total. Kemarahan murni.
Ia menatap Li Wei. Tanpa aba-aba, ia melesat. Kecepatannya dua kali lipat dari sebelumnya.
Li Wei baru saja bangun, kepalanya pusing. Ia melihat bayangan besar menerjang. Tidak ada waktu untuk menghindar. Tidak ada waktu untuk Langkah Api.
"Mati atau hidup!"
Li Wei tidak mundur. Ia melemparkan pisau karatnya ke wajah serigala itu sebagai pengalihan.
Serigala itu menepis pisau dengan cakarnya.
Crash! Pisau itu patah jadi dua.
Tapi detik itu cukup bagi Li Wei. Ia tidak mundur, melainkan maju menabrakkan dirinya ke pelukan maut serigala itu. Tangan kanannya, yang kini bersinar hijau terang karena ia memusatkan semua kekuatan Giok di sana, menghantam dada Raja Serigala yang bulunya hangus terbuka akibat ledakan tadi.
Ini bukan teknik tempur. Ini teknik pertanian. [Jari Tangan Hijau Surgawi - Pengurai Akar]
Teknik ini biasanya digunakan untuk mengurai akar tanaman yang keras. Tapi otot dan jantung pada dasarnya hanyalah serat organik, sama seperti akar.
"Hancur!" teriak Li Wei.
Jarinya menembus daging dada serigala itu, masuk ke sela tulang rusuk, dan melepaskan getaran Qi yang mengurai serat jantung.
DEG.
Raja Serigala itu membeku di udara. Matanya melebar.
Jantungnya di dalam sana tidak meledak, tapi terurai menjadi bubur.
Tubuh raksasa itu ambruk menimpa Li Wei. Berat. Bau darah dan bulu terbakar memenuhi hidung Li Wei.
Hening.
Sisa dua serigala yang masih hidup melihat pemimpin mereka mati. Mereka merengek ketakutan, ekor di antara kaki, lalu lari terbirit-birit kembali ke hutan.
Li Wei mendorong mayat Raja Serigala itu dari tubuhnya. Ia terbaring di tanah berlumpur, napasnya tersengal-sengal seperti orang tenggelam yang baru mencapai permukaan.
Seluruh tubuhnya sakit. Qi-nya habis total. Tangannya mati rasa.
Tapi dia hidup. Dan ladangnya...
Li Wei menoleh. Ledakan tadi menghancurkan separuh ladang, tapi lima tanaman Rumput Embun Kristal di sisi pinggir masih selamat.
Li Wei tertawa. Tawa yang serak dan gila.
"Untung besar..."
Ia merangkak ke arah mayat Raja Serigala. Ia membedah dadanya dengan sisa patahan pisau. Di sana, di antara bubur jantung, ada sebuah kristal seukuran kelereng berwarna hijau angin.
Inti Binatang (Beast Core) Tingkat 2.
Benda ini saja harganya setara 50 batu roh. Cukup untuk membeli senjata baru, manual formasi, dan pil kultivasi selama sebulan.
Li Wei menggenggam inti itu erat-erat. Darah serigala melumuri wajahnya.
"Lembah Abu mungkin sepi," bisiknya pada malam yang gelap. "Tapi malam ini sangat meriah."