Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
“Sir,apakah anda baik-baik saja?”
Sudah lima belas menit Dion melihat bosnya duduk memangku kepala.
Ada apasih?
Callum bukan seperti Callum yang biasanya.Dia yang terbiasa ngomel-ngomel padanya,kini justru diam bagai patung. Bahkan, tadi Dion sedikit kelabakan saat Callum menelpon.Memang urusan pekerjaan,tapi bisa-bisanya pria itu membatalkan cuti seenak jidat.
“Hm,aku baik-baik saja. Katakan apa jadwalku."
Dion melirik Callum yang memejamkan mata. “Hari ini jadwal Anda tidak padat, Sir. Karena kemarin saya memindahkan beberapa untuk dua hari ke depan.Hanya,jam 9 nanti Anda punya pertemuan dengan pimpinan Lentera."
Callum membuka mata.Lentera yang itu?
“Apa agendanya?” tanya Callum kali ini memasang muka serius.
“Melanjutkan pertemuan minggu lalu. Untuk membahas tender yang diincar Tander dan Narayanan." Dion sibuk menggulir layar tablet.Memeriksa isi e-mail yang dikirim sekretaris Lentera.
Callum mengangguk. Tender di Bali itu memang menggiurkan.Untungnya bisa sampai sepuluh kali lipat. Dan bisa jadi, Callum harus bertarung dengan pebisnis yang lain.Katakanlah Krisna Narayanan,si pebisnis nomor 1 di Asia. Kalau Tander,Callum tidak perlu khawatir.
“Kalau begitu,persiapkan dengan matang,”ucap si CEO.
Dion mengangguk hormat.Berlalu pergi,setelah dirasa tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan. Toh kelamaan di sini,dia hanya akan melihat wajah 'galau' si bos.
Aneh.Menikah bukannya bahagia,malah semrawut.
Walaupun Dion tau,pernikahan bosnya hanyalah terpaksa.Di lihat dari track record Callum yang suka memata-matai Delanay di masa lalu, harusnya pria itu senang.Dia menikahi wanita incarannya.
Tapi kok jadi begini?
Entahlah, Dion hanya tokoh figuran yang kerjanya membantu Callum di balik layar.
Sementara itu,usai pintu tertutup,Callum melempar punggungnya ke sandaran kursi.Pikirannya masih kusut.Teringat pada kejadian semalam. Kejadian di luar nalar.
Callum memang merealisasikan ucapannya.Dia tidur di ranjang,sedangkan Delanay terusir ke lantai.Untuk beberapa saat tidak ada yang berubah.Mereka tidur dengan posisi saling memunggungi.
Namun,entah karena Callum berjiwa sosial atau apa. Di detik dia mendengar Delanay berteriak dalam tidurnya-jangan sentuh aku!Callum langsung melompat ke bawah.Dia berusaha menenangkan Delanay. Namun malah melihat ekspresi takut, pucat, dan gemetar di wajah wanita itu.
Tidak tau bagaimana semalam,mereka justru berakhir saling memeluk sampai pagi. Dan begitu terbangun,suasananya berubah canggung.
Delanay memilih berlari ke kamar mandi.Sedangkan Callum termenung menatap dirinya yang berada di kasur lantai,satu selimut dengan wanita itu. Tadi itu...,mereka tidur berdempetan?
Sialan!
Semalam,apa sih yang Callum lakukan? Kenapa dia peduli pada Delanay?
“Aku memang harus membuatnya menjauh,”desah pria tampan dengan mata setajam elang itu.Tidak ingin mengambil konsekuensi lain.
Kontrak itu harus disahkan hari ini. Lagipula,baik Delanay maupun Clara tidak bisa mengelak dari keputusan tentang tinggal berpisah.Dengan begitu,Callum tidak perlu lagi bertindak di luar akal sehatnya.
Tok-tok-tok
Pintu yang terketuk membuat Callum menegakkan tubuh.
“Ada apa?”
Dion lagi-lagi muncul. Tanpa tablet atau berkas yang harus Callum tanda tangani.
“Anda kedatangan tamu,Sir."
“Siapa?”
Dion mengangguk ragu.“A-anu dia....”
Alis Callum terangkat. Siapa yang mengajaknya bertemu sepagi ini? Apalagi Callum yakin dia bukan salah satu kolega atau client-nya,melihat raut Dion sulit terbaca.Apa mungkin itu musuhnya?
“Kalau memang bukan orang penting,usir saja,”titah Callum.
“T-tapi,Sir,Nyonya Harper yang ingin bertemu dengan Anda."
Mata Callum berkilat. Jadi yang ingin menemuinya adalah Lauren?
“Wanita itu lagi,"geram Callum.
Pasti wanita serakah yang merupakan ibu tiri Delanay itu,ingin membicarakan perihal pembelian saham Harper.Maxmilian memberitahu kalau diskusi kemarin belum mencapai kesepakatan. Harper tidak ingin melepas saham dengan harga 50 milyar. Bukankah mereka tidak tau diri?
“Suruh dia masuk." Callum ingin melihat seberapa keras usaha Lauren membujuknya.
Stevan mengangguk. Menghampiri wanita ber blouse coklat ketat yang terduduk angkuh di kursi tunggu.
“Silakan masuk,Nyonya.Sir Callum menunggu Anda."
Lauren lantas mendengus dan menyambar sling bag-nya.Kesal pada Dion yang tadi melarangnya masuk.
“Sudah kubilang,dia pasti akan menemui ibu mertuanya. Kenapa harus pakai prosedur segala? Dasar,bawahan tidak berguna,"gerutu wanita bergincu merah menyala itu.
Dion menunduk.Berusaha terlihat meminta maaf,padahal dalam hati mengumpati wanita tersebut.
Ini kantor orang. Dion tidak punya wewenang memasukkan orang sembarangan.Bahkan meski itu ibu mertua bosnya,Dion tidak bisa bertindak seenaknya,sebelum izin kepada Callum.
Dan sekarang Dion tau,apa yang membuat Callum geram bertemu sang mertua. Wanita ini tidak punya tata krama. Mentang-mentang menjadi besan Westwood,dia sesuka hati mengancam orang lain.
Oh,Dion tidak menuduh.Justru dia mendapat laporan dari resepsionis tentang Lauren yang memaksa masuk. Ketika dilarang,dia berteriak akan memecat Chelsea si resepsionis,begitu bertemu Callum.
“Apa kabar,Nak?”
Dion berusaha untuk tidak berdecak.Melihat wajah Lauren berubah ramah,dia akui wanita itu benar-benar bermuka dua.
“Saya baik. Silakan duduk,Ibu Mertua."Callum tidak tersenyum.Wajahnya datar.
“Terima kasih." Lauren lantas meletakkan bokongnya ke sofa empuk,berwarna hitam.
Ia tidak bisa menahan diri.Matanya mulai berkeliaran di sekitar ruangan CEO Westwood Group itu.Mengagumi betapa besar dan mewahnya kepemilikan Westwood.Tidak seperti milik suaminya,George Harper,yang hanya berukuran seperempat dari ruangan ini.
Ah,andai dia masih muda.Menggaet Callum sepertinya lebih menyenangkan.Dia akan hidup berkecukupan.Setidaknya sekarang,melalui Delanay,dia akan merasakan harta Westwood juga.
“Buatkan kami teh,”suruh Callum pada Dion yang berdiri di sampingnya.
“Yes,Sir.”
Selama Dion melangkah,Callum menatap Lauren. Wanita itu jelas sekali terpesona dengan kantornya.Tidak bisa disembunyikan kilat serakah di abu-abu itu.
Diam-diam Callum berdecak.
“Ada keperluan apa Anda datang ke sini?" tanya Callum to the point.
Lauren menoleh.Tersenyum seraya menyilangkan kakinya di atas yang lain.Sungguh,angkuh.
“Aku yakin kamu sudah mengetahuinya,Nak.Apa yang akan kutawar, ah ralat,kuminta darimu."
“Saham Harper?”tanya Callum memastikan.
“Ya,tentu saja.”
Callum mengangguk.
“Kalau begitu,saya tidak akan berubah pikiran,”tegasnya.
Dia tidak akan bertaruh pada saham Harper. Seratus miliar katanya? Apa itu sebuah aset negara atau tempat berharga? Harga vila Callum di Bali saja tidak mencapai segitu.
“Astaga,tidak bisakah kamu berbaik hati pada mertuamu?”
“Tidak.”
Senyum di bibir Lauren seketika luntur.
“Kenapa?”
Callum menyilangkan tangan ke depan dada. “Anda memang mertua saya. Tapi saya tidak akan membeli saham tersebut dengan harga tinggi,walaupun Harper akan bangkrut detik itu juga."
“Kejam!”tuduh Lauren.
Bahu Callum naik beberapa senti.
“Itu julukan saya, Nyonya."
“Apa ini balasanmu pada kami?” sindir Lauren bernada sengit.
“Padahal tanpa kami,kamu tidak akan bisa duduk di sini. Menikmati semuanya.”
Rahang Callum mengetat.
“Memang apa yang kalian lakukan?”
“Melanie mengor-”
“Saya tanya,apa yang kalian lakukan?!”bentak Callum mengejutkan Dion yang masuk dan nyaris menjatuhkan nampan di tangannya.
“Kalian.Saya tanya kalian.Bukan Tante Melanie." Nada dan mata Callum bersinar dingin.Teringat kembali kesengsaraan hidup Delanay dan Melanie karena wanita di depannya ini.
“Anda ataupun Om George,tidak melakukan apapun.”
Lauren terdiam.Tidak bisa berkata-kata.
“Benar,Tante Melanie menyelamatkan hidup saya. Jadi saya menyelamatkan Delanay. Bukankah impas?”
Dion membeku di dekat pintu.Baru mengetahui fakta di balik kehidupan Callum.
Baru lima bulan menjadi sekretaris Callum,dia hanya mengetahui sedikit tentang pria itu.Callum Westwood, pebisnis kejam yang tidak pandang bulu.
Bahkan di hari pertama kedatangannya,Callum sudah memecat seorang manajer keuangan.Terbukti,manajer itu sudah setahun ini melakukan korupsi.
“Dengar,Nyonya.Saya bukan pria baik. Kalau mau,sudah saya buat Anda kehilangan segalanya.Jadi jangan bertingkah di luar batas.Berikan saham itu atau kalian akan menanggung akibatnya," ancam Callum dengan nada sedingin es.Membuat Lauren merasa menggigil di tempat.
“Dion,” panggil Callum pada pria yang masih berdiri mematung.
“Y-yes,Sir?” Stevan tergeragap.
“Antarkan Nyonya ini keluar,”kata Callum lalu berjalan santai ke kursinya.Kembali sibuk memeriksa berkas.
Tangan Lauren terkepal. Pria itu sudah menghinanya.
'Lihat saja. Kelak, Lauren akan menghancurkan kesombongan itu'
Dengan gerakan kasar Lauren menyambar tas,kemudian berjalan pergi.
“Tidak perlu mengantarku!"semburnya pada Dion yang hendak membuntuti. Jelas saja pria muda itu berjengkit mundur.
Begitu menjeblak pintu,wajah Lauren berubah terkejut. Di sana,sudah ada Ethan Westwood yang menatapnya datar.Serupa Callum. Dasar, anak dan bapak, sama saja! Mereka sama-sama sombong.
Melirik Lauren yang berjalan cepat,membawa amarah,Ethan melihat putranya.Saat itu Callum juga menatap ke arahnya.
“Apa yang kamu lakukan pada mertuamu,Callum?”
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰
seruuu banget thor😄
callum kok dingin ky es balok banget sih