Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pagi datang dengan suara burung yang samar dan cahaya matahari yang menyelinap lewat celah gorden. Mahendra terbangun lebih dulu. Perutnya tidak lagi melilit, hanya menyisakan rasa hangat yang aneh, bukan sakit, lebih seperti sisa kenyamanan.
Ia duduk perlahan, mencoba mengingat semalam. Bubur. Sendok. Tatapan ayahnya. Dan Melati yang tidak memaksanya apa pun.
Pintu kamar terbuka pelan. Melati muncul dengan langkah hati-hati, seolah takut mengganggu. Di tangannya ada segelas air hangat.
“Kamu gimana?” tanyanya lirih.
Mahendra menatapnya sesaat, lalu mengangguk kecil. “Nggak mual.”
Melati tersenyum tipis. Bukan senyum lega berlebihan, hanya cukup untuk menunjukkan syukur. Ia meletakkan gelas di meja kecil.
“Kalau masih enak, hari ini istirahat aja. Nanti Mama bilang ke sekolah.”
Mahendra terdiam. Kata Mama masih terasa asing, tapi kali ini tidak menusuk. Ia tidak membantah.
“Iya.”
Di luar kamar, Cokro berdiri tanpa suara. Ia tidak berniat menguping, tapi langkahnya terhenti saat mendengar jawaban itu. Ada sesuatu di dadanya yang mengendur, disusul rasa bersalah yang datang belakangan.
Ia mundur satu langkah, lalu berdehem pelan sebelum akhirnya berjalan ke dapur.
Melati menyusul beberapa menit kemudian. Suasana dapur tenang. Kompor belum dinyalakan. Cokro sedang menuang kopi, gerakannya kaku seperti orang yang terlalu banyak berpikir.
“Mahen nggak sekolah?” tanyanya tanpa menoleh.
“Tidak. Aku pikir lebih baik dia istirahat,” jawab Melati.
Cokro mengangguk. Tidak ada sanggahan.
Ia menyesap kopi, lalu meletakkan cangkirnya terlalu cepat hingga bunyinya sedikit keras. Seolah ia butuh alasan untuk berbicara.
“Kemarin…” katanya, lalu berhenti.
Melati menunggu. Tidak menyela.
“Aku mungkin… terlalu keras.”
Kalimat itu tidak sempurna. Bahkan nyaris terdengar seperti pembenaran. Tapi Melati tahu, bagi Cokro, itu sudah sejauh langkah yang bisa ia ambil hari ini.
“Aku ngerti,” jawabnya pelan. “Mahen penting buat Mas.”
Cokro menoleh. Tatapan mereka bertemu. Tidak lama, tapi cukup untuk membuat napas Cokro terasa berat.
“Aku cuma—” Ia menghela napas. “Aku nggak mau kehilangan lagi.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa rencana. Terlalu jujur.
Melati tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk pelan. “Aku juga,” katanya singkat.
Cokro terdiam. Untuk pertama kalinya, kesamaan itu terasa nyata. Di ruang tengah, Mahesa tertawa kecil sambil mendorong mobil-mobilannya. Suara itu masuk ke dapur, memecah ketegangan.
Cokro melirik ke arah suara itu, lalu kembali ke Melati.
“Kalau… nanti Mahen minta sesuatu,” katanya ragu, “kamu bilang ke aku.”
Melati mengangguk. “Iya.”
Bukan izin. Bukan perintah. Lebih seperti ajakan berdiri di sisi yang sama, pagi itu, tanpa pelukan, tanpa janji, jarak di antara mereka bergeser setipis helaan napas nyaris tak terlihat, tapi nyata.
Setelah percakapan singkat namun menenangkan, Cokro berangkat kerja dengan perasaan yang sangat berbeda, ada lega yang ia sendiri belum berani mengutarakan, namun reflek bibirnya tersenyum dengan sendirinya.
☘️☘️☘️☘️
Cokro baru saja mematikan mesin mobil ketika ponselnya bergetar di saku jas. Ia sempat melirik jam di dashboard, belum terlalu siang. Biasanya, tak ada yang mencarinya di jam seperti ini selain urusan kantor.
Nomor tak dikenal.
Ia menjawab tanpa banyak pikir.
“Halo.”
Di seberang, suara perempuan terdengar ragu, seperti menimbang apakah telepon ini keputusan yang benar.
“Mas Cokro?”
Langkah Cokro terhenti di samping mobil. Suara itu… tidak asing. Bukan suara yang sering ia dengar, tapi suara yang pernah ia simpan lama di sudut ingatan, lalu ia kunci rapat.
“Iya. Dengan siapa?”
Hening sesaat. Lalu napas kecil.
“Aku... aku Lina. Adiknya Rani.”
Nama itu jatuh pelan, tapi tepat. Seperti batu kecil yang dilempar ke air tenang, riaknya menjalar ke mana-mana.
Cokro memejamkan mata, ada perasaan sesak namun perlahan ia hempas layaknya sesuatu yang sudah tidak berguna lagi.
“Ada apa?” tanyanya akhirnya, suaranya terdengar normal, terlalu normal untuk orang yang dadanya baru saja mengeras.
“Aku nggak bermaksud ganggu,” kata Lina cepat. “Aku cuma… kemarin aku ketemu Mbak Rani.”
Jari Cokro mengencang di gagang pintu mobil. “Di mana?” tanyanya, refleks.
“Di klinik daerah timur. Dia—” Lina berhenti, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, “dia nanya soal anak-anak.”
Angin pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Cokro menatap halaman parkir yang mulai ramai, tapi matanya seperti tidak melihat apa pun.
“Kamu jawab apa?” tanyanya.
“Aku bilang aku nggak tahu apa-apa. Tapi Mas… dia kelihatan nggak baik-baik saja.”
Cokro tertawa kecil, pendek dan seperti kosong.
“Sudah bertahun-tahun. Itu bukan urusanku lagi.”
“Aku tahu,” jawab Lina cepat. “Makanya aku cuma mau bilang. Takutnya… suatu hari Mas dengar dari orang lain.”
Telepon ditutup setelah beberapa basa-basi singkat. Cokro berdiri lebih lama dari yang ia rencanakan. Baru setelah dadanya terasa sesak, ia masuk ke gedung.
Ia berjalan dengan kepala yang tegak, setelah semuanya terjadi, ia mendengar keadaan mantan, dan entah kenapa justru bayangan Melati yang sekarang muncul lebih dominan.
Cara perempuan itu, merawat sang anak, berdiri sendiri meskipun banyak penolakan, semua terlintas begitu saja.
"Bagiku yang terbaik bukan yang aku gilai," gumamnya sambil memegang gagang pintu ruang kerjanya. "Tapi yang berusaha bertahan meski dunia tidak melihatnya."
☘️☘️☘️☘️☘️
Di rumah, sore datang dengan tenang yang menipu. Mahendra tidur lebih awal. Mahesa menggambar di lantai. Melati melipat baju di ruang tengah, sesekali melirik ke arah pintu, menunggu langkah kaki yang belum terdengar.
Ketika Cokro akhirnya masuk, suasananya langsung berubah, bukan karena kata-kata, tapi karena caranya berdiri. Terlalu tegak. Terlalu waspada.
“Kamu pulang cepat,” kata Melati.
“Iya,” jawabnya singkat.
Ia melepas sepatu, lalu berhenti. Matanya menyapu ruang tamu, berhenti di anak-anak, lalu kembali ke Melati.
“Kamu… belakangan ini ada orang asing ke sini?” tanyanya tiba-tiba.
Melati tertegun. “Maksud Mas?”
“Siapa tahu ada yang nanya-nanya. Atau titip pesan.”
“Tidak ada,” jawab Melati jujur. “Kenapa?”
Cokro menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Tapi nada suaranya tidak meyakinkan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
Mahendra yang setengah terjaga di sofa menoleh. “Papa kenapa?”
“Nggak apa-apa,” ulang Cokro, kali ini pada anaknya.
Namun Mahendra melihatnya. Cara ayahnya berdiri seolah siap menutup pintu dari sesuatu yang belum datang.
Malam itu, saat rumah sudah lebih sunyi, Melati mendapati Cokro berdiri di depan jendela kamar, menatap halaman gelap.
“Mas,” panggilnya pelan.
Cokro menoleh. Untuk sepersekian detik, wajahnya lelah. Tua. Tidak seperti biasanya.
“Kalau suatu hari…” ia berhenti, lalu menggeleng. “Tidak. Sudahlah.”
Melati tidak mendesak. Ia hanya berdiri di sana, cukup dekat untuk ada, cukup jauh untuk tidak memaksa.
Di kamar sebelah, Mahendra terbangun karena mimpi yang tidak jelas. Ia duduk, memeluk lutut, dengan satu perasaan yang belum bisa ia beri nama.
Sementara di luar rumah itu, di kota yang sama, seseorang yang lama tak disebut mulai memikirkan alamat yang pernah ia hapal di luar kepala.
Dan tanpa satu pun dari mereka sadari, masa lalu telah mengambil langkah pertamanya pelan, tapi pasti.
Bersambung.