NovelToon NovelToon
The Fault In Our Secrets

The Fault In Our Secrets

Status: tamat
Genre:Ketos / Duniahiburan / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Pagi di SMA Garuda selalu dimulai dengan rutinitas yang membosankan bagi Romeo. Ia menyandarkan tubuhnya di deretan loker, memutar-mutar bola voli di ujung jarinya. Matanya yang tajam menangkap sosok Jenny yang baru saja masuk ke koridor dengan senyum lebar, menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya.

"Pagi, Pak Satpam!"

"Pagi, Bi Sum!"

"Pagi, Romeo pengganggu!" Jenny sengaja menambahkan itu saat melewati Romeo tanpa menoleh.

Romeo mendengus. "Pagi, Little Miss Sunshine. Masih belum sadar kalau senyum lo itu bikin silau mata orang pagi-pagi?"

Jenny berhenti, berbalik sambil berkacak pinggang. "Lo itu nggak capek ya, Rom? Masih jam tujuh pagi dan lo udah mulai cari gara-gara."

Romeo berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi mengintimidasi. Ia menunduk, berbisik tepat di telinga Jenny. "Gue nggak cari gara-gara. Gue cuma lagi nunggu... kapan topeng kesempurnaan di sekitar lo bakal pecah."

Jenny mengerutkan kening. "Maksud lo apa sih?"

"Tanya aja sama pacar robot lo itu. Oh, atau tanya ke sahabat tersayang lo, Claudia. Mereka kayaknya punya banyak cerita menarik yang belum lo tahu," ucap Romeo dengan nada penuh teka-teki sebelum berjalan menjauh, meninggalkan Jenny dalam kebingungan yang bercampur kesal.

Di sisi lain sekolah, di dalam ruang OSIS yang sunyi, Jonathan sedang merapikan tumpukan berkas. Wajahnya setenang air di danau, kaku dan tanpa cela. Namun, ketenangannya terusik saat pintu terbuka dan Lisa masuk tanpa mengetuk.

Lisa, dengan seragam yang sengaja diperkecil dan riasan yang mencolok, duduk di atas meja kerja Jonathan. "Ketua OSIS kita sibuk banget, ya? Sampai nggak tahu kalau pacarnya lagi digodain kapten tim voli di koridor?"

Jonathan bahkan tidak mengangkat kepalanya. "Romeo memang suka mengganggu Jenny. Itu bukan berita baru."

"Bukan cuma itu, Jon," Lisa memainkan kukunya yang dicat merah. "Gue nggak suka cara Claudia ngeliatin Romeo. Dan gue lebih nggak suka cara Claudia ngeliatin lo kemarin di parkiran."

Tangan Jonathan berhenti bergerak sejenak. "Claudia adalah sahabat Jenny. Jangan menyebar gosip yang tidak berdasar, Lisa. Itu tidak efisien."

"Efisien? Lo bicara kayak mesin," Lisa tertawa sinis. "Oke, terserah. Tapi inget, kalau Claudia macam-macam sama hubungan gue dan Romeo, gue nggak bakal tinggal diam. Dan kalau dia macam-macam sama lo... well, kasihan si Jenny, kan?"

Lisa melompat turun dari meja dan keluar dengan hentakan kaki yang keras. Jonathan melepaskan kacamatanya, memijat pangkal hidungnya. Ia tahu Lisa adalah ancaman karena gadis itu tidak bisa dikontrol dengan logika.

Istirahat siang di kantin menjadi panggung bagi Claudia. Ia duduk di samping Jenny, membagikan bekal buah yang ia bawa.

"Jen, tadi Romeo gangguin kamu lagi?" tanya Claudia dengan nada khawatir yang sangat meyakinkan.

"Iya, dia bilang hal-hal aneh soal kamu dan Jonathan. Benar-benar nggak jelas," keluh Jenny sambil menyuap potongan apel.

Jantung Claudia berdegup sedikit lebih kencang, tapi ia tetap tenang. Playing it cool adalah keahliannya. "Romeo itu cuma mau ngerusak hubungan kalian, Jen. Dia kan iri lihat kamu dan Jonathan sesempurna itu. Kamu jangan dengerin dia, ya?"

"Iya sih, aku tahu. Tapi kata-katanya tadi... kayak dia tahu sesuatu," gumam Jenny pelan.

"Sesuatu apa?" Claudia memiringkan kepalanya, matanya menatap Jenny dalam-dalam, mencari tahu seberapa banyak yang Jenny curigai.

"Nggak tahu. Mungkin dia cuma mau bikin aku kepikiran," Jenny menghela napas lalu tersenyum lagi. "Eh, nanti malam Jonathan ngajak aku makan malam formal sama orang tuanya. Aku deg-degan banget!"

Claudia tersenyum lebar, meski hatinya terasa panas. "Wah, keren dong! Kamu harus pakai baju yang paling cantik. Mau aku temenin cari baju sepulang sekolah?"

"Boleh banget! Makasih ya, Claud. Kamu emang sahabat terbaik!" Jenny memeluk Claudia erat.

Di bahu Jenny, senyum Claudia menghilang. Ia menatap ke arah meja tim voli, di mana Romeo sedang memperhatikannya dengan tatapan menghakimi. Claudia tahu Romeo adalah variabel yang tidak terduga dalam rencananya.

Sore itu, saat Jenny sedang menunggu Claudia di halte sekolah, sebuah motor besar berhenti di depannya. Romeo membuka kaca helmnya.

"Mana sahabat 'terbaik' lo?" tanya Romeo sinis.

"Lagi ke toilet sebentar. Kenapa? Mau ngeledek lagi?" balas Jenny ketus.

Romeo terdiam sejenak. Ia melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang lain. Ia merogoh saku jaketnya dan melemparkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk hati berwarna perak ke arah Jenny.

Jenny menangkapnya dengan bingung. "Ini... ini kan punya Claudia yang hilang minggu lalu?"

"Gue nemuin itu di kursi belakang mobil Jonathan kemarin sore. Pas mereka berdua 'rapat' OSIS sampai telat jemput lo," ucap Romeo datar.

Wajah Jenny memucat. "Nggak mungkin. Jonathan bilang dia sendirian di ruang OSIS."

"Terserah mau percaya atau nggak. Tapi saran gue, jangan terlalu jadi orang baik, Jen. Orang baik itu biasanya yang terakhir tahu kalau mereka lagi ditikam dari belakang," Romeo menutup kaca helmnya dan memacu motornya pergi, meninggalkan debu yang berterbangan di depan Jenny yang membeku.

Gantungan kunci perak itu terasa sangat dingin di telapak tangan Jenny. Untuk pertama kalinya, keceriaan di matanya sedikit meredup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!