NovelToon NovelToon
Hatimu Milik Siapa?

Hatimu Milik Siapa?

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:19.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.

Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.

​Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.

"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"

Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)

Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Sisa Kehangatan dan Badai yang Menunggu

Apartemen Maya tidaklah semegah rumah Rey. Tidak ada marmer Italia yang dingin atau langit-langit setinggi lima meter yang membuat suara langkah kaki menggema kesepian.

Tapi, di tempat yang sempit ini, Tania merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya: kehangatan yang jujur.

​Pagi itu, sinar matahari masuk malu-malu melalui celah gorden tipis di kamar tamu. Tania terbangun bukan karena alarm ponsel atau suara teriakan Rey yang mencari kaus kakinya, melainkan karena aroma mentega yang terpanggang dan wangi cokelat yang sangat lembut. Tania terdiam sejenak di balik selimut, menatap langit-langit kamar. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, jantungnya tidak berdegup kencang karena kecemasan pagi hari.

​Ia bangun, merapikan rambutnya yang masih berantakan, dan melangkah keluar. Di dapur kecil itu, Tania melihat pemandangan yang membuatnya terpaku. Adrian sedang berdiri membelakanginya, mengenakan apron kain milik Maya yang tampak kekecilan di tubuh tegapnya. Pria itu sedang fokus membalik telur di atas teflon, sementara tangannya yang lain sibuk menata potongan buah stroberi di atas piring.

​"Bangun juga akhirnya," suara Maya terdengar dari meja makan. Sahabatnya itu sedang menyesap kopi sambil menatap Tania dengan senyum penuh arti. "Ada yang datang jam enam pagi cuma buat bikinin sarapan kesukaan kamu, Tan. Katanya, dia nggak mau kamu berangkat kerja dengan perut kosong."

Adrian menoleh, senyumnya langsung merekah begitu melihat Tania. Matanya menatap Tania dengan lembut, seolah ingin memastikan bahwa wanita di depannya ini tidak hancur lagi seperti semalam di pantai.

​"Pagi, Tan. Tidurmu nyenyak?" tanya Adrian lembut.

​Tania mengangguk pelan, duduk di kursi kayu yang terasa hangat. "Nyenyak banget, Yan. Makasih ya... buat yang semalam juga. Maaf aku merepotkan."

​"Berhenti minta maaf untuk hal yang bukan salahmu," Adrian meletakkan sepiring roti panggang, telur mata sapi dengan kuning yang masih setengah matang, dan segelas cokelat hangat di depan Tania. "Makanlah. Kamu butuh tenaga untuk menghadapi hari ini."

​Tania menatap piring itu lama. Matanya mulai terasa panas lagi. Selama ini, dialah yang selalu memastikan piring Rey terisi dengan menu terbaik, memastikan kopi Rey tidak terlalu manis, dan memastikan vitamin suaminya tidak terlewat. Tapi, hampir tidak pernah ada yang bertanya padanya, "Apa kamu sudah makan?" atau "Apa kamu suka sarapan ini?".

Sentuhan kecil Adrian—seperti menyisihkan bagian pinggir roti yang agak gosong karena tahu Tania tidak menyukainya—terasa seperti belati yang mencairkan kebekuan hatinya. Tania menyesap cokelat hangat itu, merasakan cairannya mengalir di tenggorokannya, membawa ketenangan yang luar biasa.

​"Jangan nangis lagi di depan makanan, Tan. Nanti telurnya jadi asin," kelakar Adrian sambil mengacak pelan rambut Tania sebelum ia duduk di kursi seberangnya.

​Tania tertawa kecil, tawa pertama yang terdengar tulus setelah sekian lama. Di meja makan kecil itu, diiringi obrolan ringan Maya tentang pekerjaan, Tania merasa seperti manusia lagi. Bukan pajangan, bukan pelayan, melainkan seorang wanita yang berharga.

​Satu jam kemudian, Tania bersiap untuk berangkat ke kantor. Udara pagi itu cukup menusuk tulang karena sisa hujan semalam. Saat mereka hendak keluar, Adrian melepas jaket denim yang ia kenakan dan menyampirkan nya ke bahu Tania.

​"Pakai ini. Udara di luar dingin, dan AC di mobilku kadang agak rewel," ucap Adrian tanpa menunggu jawaban Tania.

​Jaket itu terlalu besar untuk tubuh Tania yang mungil, tapi aroma parfum Adrian—campuran kayu cendana dan jeruk yang segar—menyelimutinya, memberikan rasa aman yang aneh. Mereka turun menuju lobi dengan langkah yang lebih ringan.

​Tapi, begitu pintu kaca lobi terbuka, atmosfer hangat itu seketika tersedot keluar.

​Di samping mobil SUV hitam milik Adrian, berdiri sosok yang tampak sangat kontras dengan cerahnya pagi itu. Rey.

Pria itu tampak mengerikan. Matanya cekung dan merah, menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak memejamkan mata semalaman. Kemeja kantornya yang biasanya licin sempurna kini tampak kusut masai, kancing paling atasnya terbuka kasar. Ia bersandar di pintu mobil Adrian dengan tangan bersedekap, tapi jemarinya tampak gemetar menahan amarah yang meluap.

​"Bagus. Bagus sekali," suara Rey terdengar serak, parau, dan penuh dengan racun kecemburuan. "Aku cari kamu ke setiap rumah sakit, ke rumah teman-temanmu yang lain, sampai aku hampir gila di jalanan. Dan ternyata kamu... kamu baru keluar dari gedung ini pagi-pagi sama laki-laki ini?"

​Langkah Tania terhenti. Ia merasakan trauma itu kembali mencoba mencengkeramnya, tapi ia teringat pelukan Adrian semalam di pantai. Ia menarik napas panjang dan melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Adrian.

​"Apa yang kamu lakukan di sini, Rey? Kamu menguntit aku? Ini sudah keterlaluan," ucap Tania, suaranya tetap tenang meski hatinya bergemuruh.

​Rey tertawa sumbang, tawa yang terdengar sangat menyedihkan. Ia melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah jaket denim yang melingkar di bahu Tania. "Jaket siapa itu, Tania? Punya dia? Kamu secepat itu membiarkan laki-laki lain menyentuhmu? Kamu masih istriku, demi Tuhan!"

​"Aku istrimu hanya di atas kertas yang sebentar lagi akan disobek oleh hakim, Rey," balas Tania tajam. "Berhenti bersikap seolah kamu peduli. Kamu hanya marah karena ego kamu terluka, bukan karena kamu mencintaiku."

​"Jangan sok tahu!" bentak Rey, ia mencoba meraih pergelangan tangan Tania, tapi Adrian dengan sigap menepis tangan Rey dan berdiri tegap di antara mereka.

​"Jangan sentuh dia dengan tangan yang baru saja kamu pakai untuk memeluk wanita lain semalam," desis Adrian. Suaranya rendah tapi berwibawa, membuat beberapa orang di lobi mulai melirik ke arah mereka.

​Rey mengepalkan tinjunya, wajahnya merah padam. "Kamu pikir kamu siapa, hah? Kamu cuma pecundang yang ambil kesempatan di saat rumah tangga orang lain lagi goyah! Kamu mau jadi pahlawan buat Tania?"

​"Aku tidak perlu jadi pahlawan. Aku cukup jadi manusia yang punya hati untuk menghargai dia," sahut Adrian tanpa rasa takut sedikit pun.

​Rey kembali menatap Tania, kali ini dengan tatapan memohon yang dipaksakan. "Tania, pulang. Mama sakit semalam, setelah kamu pergi. Tensi beliau naik, dia terus panggil nama kamu. Apa kamu setega itu? Kamu mau jadi penyebab Mama masuk rumah sakit hanya karena kamu mau pacaran sama laki-laki ini?"

​Tania tertegun sejenak mendengar kabar Mama Ratna. Hatinya yang lembut masih menyayangi mertuanya. Tapi, ia teringat bagaimana Rey selalu menggunakan Mamanya sebagai tameng setiap kali ia melakukan kesalahan.

​"Kalau Mama sakit, itu tanggung jawab kamu sebagai anaknya, Rey. Bawa beliau ke dokter, jangan cari aku," ucap Tania, suaranya mulai bergetar tapi tetap tegas. "Selama tiga tahun aku selalu ada buat Mama, tapi kamu? Kamu bahkan nggak ada buat aku. Jadi, tolong pergi. Jangan ganggu hidupku lagi."

​"Tania! Kamu jangan keras kepala!" Rey merangsek maju, mencoba melewati Adrian. "Kamu pikir laki-laki ini lebih baik dari aku? Dia cuma mau manfaatin kamu!"

​"Setidaknya dia tidak pernah membuatku merasa sendirian saat kami duduk di meja makan yang sama, Rey!" teriak Tania akhirnya. Air matanya mulai menggenang, tapi ia menolaknya untuk jatuh. "Dia melihatku sebagai manusia, bukan sebagai robot yang kerjanya cuma masak dan beresin rumah kamu!"

Rey membeku. Kata-kata Tania itu seperti peluru yang menembus dadanya yang paling dalam. Ia menatap istrinya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sebuah jurang yang sangat lebar di antara mereka—jurang yang ia gali sendiri selama tiga tahun terakhir.

​"Masuk ke mobil, Tan. Biar aku yang selesaikan di sini," ucap Adrian lembut sambil membuka pintu penumpang.

​Tania masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi. Ia tidak ingin melihat wajah hancur Rey, karena ia tahu itu hanya akan membuatnya merasa bersalah atas dosa yang tidak ia lakukan. Tania menutup pintu mobil, mengunci dirinya dari dunia Rey yang berisik dan penuh kepalsuan.

​Dari dalam mobil yang kacanya gelap, Tania melihat Rey mencoba menggedor kaca jendela, meneriakkan namanya berkali-kali. Wajah Rey tampak begitu putus asa, namun bagi Tania, keputusasaan itu sudah terlambat.

​Adrian masuk ke kursi kemudi, ia tidak segera menjalankan mobilnya. Adrian menatap Tania sejenak, memastikan wanita itu baik-baik saja, kemudian menoleh ke arah Rey yang masih berdiri di samping mobil. Adrian menurunkan kaca jendela sedikit.

​"Hargai keputusannya, Rey. Jangan buat dia makin membencimu," ucap Adrian singkat sebelum melajukan mobilnya keluar dari area parkir.

​Melalui spion, Tania melihat sosok Rey yang perlahan mengecil. Pria itu tampak kehilangan tenaga, terduduk lemas di aspal parkiran, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang. Di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang berangkat kerja, sang CEO angkuh itu kini tak lebih dari seorang pria yang baru saja menyadari bahwa hartanya yang paling berharga telah ia buang ke tempat sampah.

​Di dalam mobil, Tania meremas jaket Adrian yang masih melekat di bahunya. Ia menangis dalam diam, membiarkan air matanya membasahi kain denim yang kasar itu. Tania menangis karena merasa sangat lega bahwa ia akhirnya berani melepaskan diri, tapi ia juga menangis karena menyadari betapa banyaknya waktu yang ia sia-siakan untuk mencintai orang yang salah.

​"Kamu aman sekarang, Tan," bisik Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.

​Tania mengangguk, mencoba mengatur napasnya. Ia tahu perjalanan menuju perceraian akan panjang dan melelahkan, tapi setidaknya pagi ini, ia tidak lagi merasa kedinginan. Karena ia punya sisa kehangatan dari sarapan sederhana dan perlindungan dari seseorang yang benar-benar menghargainya sebagai manusia.

1
Daulat Pasaribu
awal yg sad thor bacanya
@Yayang ♡ Risa
Rey kamu dan Bianca sama sama dapat karmanya
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
wkwkwk Bianca dibully habis"nya, mulutnya tajem juga itu narapidana
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
dia ga hanya mendukungmu tapi dia melihat kamu dengan bakatmu juga🤭
🧡⃟ʏᴇ ʜͫᴀᷲᴏʀᴀɴ⁴
Adrian perhatian banget, cowo idaman
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🧡⃟ᴢʜᴇͫɴᷲɢ ʜᴜɪ³𖤍ᴹᴿ᭄
skrng Tania lebih bersinar iya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆ᴍᴜᴍᴜ
cie Tania dilamar Adrian ini🤭
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
karma emang datang begitu cepat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🧡⃟ᴍᴜᴍᴜ⁷
mulai dari awal lagi rey, harus semangat
❤️⃟Wᵃfᴄͫᴇᷰɢͫɪᷰʟ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ☘𝓡𝓳
karma sedang kalian alami, semoga kalian sadar iya
🧡𑇙ᴄнᷟєᷲηɢ тιαη χιαηɢ⁶
ga selamanya kita selalu diatas
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
sabar iya
𝐀⃝🥀мυмυ
rey rey kamu harus sabar iya
Yayang Lop3♡ Risa
Bianca kamu taubat kesalahan kamu besar banget
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
semoga kamu bisa belajar dari tania iya bianca
❤️⃟Wᵃfᴍᷟᴀᷰxᷟɪᷰᴀᴏʏᴜ
maun kasian tapi itu karna buat kalian yg jahat ke tania
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢ ᴛɪɴɢ ʀᴜɪ
Kasian ibunya rey sakit"an tapi mau gmn dia dlu ga membela tania
☘𝓡𝓳 мυмυ
kalian berdua harus smaa" belajar berubah lebih baik lagi dan bertaubat
ѕ⍣⃝✰ѕнєη нᷟαᷴσᷟηᷴαη
uhuy adrian romantis sekali🤭
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
cie adrian selalu ada buat tania🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!