NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: tamat
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan / Tamat
Popularitas:155.4k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Ke Rumah Sakit

“Saya harus pulang…”

Suara Hanin pecah. Tubuhnya gemetar sampai Ustaz Hamid harus menahan bahunya agar ia tidak jatuh.

“Tenang, Nak. Ustaz antar sekarang.”

“Sekarang, Ustaz … tolong … Hanin mau lihat Abi dan Umi,” ucapnya dengan napas terputus-putus.

“Iya. Kita berangkat.”

Sepanjang perjalanan, Hanin tak berhenti menangis. Tangannya menggenggam ujung kerudung sampai kusut. Matanya bengkak. Ia bahkan tak peduli pada sawah dan jalan desa yang mereka lewati.

“Ini salah Hanin …,” bisiknya lirih, berulang-ulang seperti doa yang terbalik.

“Bukan,” jawab Ustaz Hamid pelan.

“Kalau saja Hanin tidak masuk pondok hari ini … kalau saja Hanin tidak bikin Abi dan Umi sedih … mereka tidak akan buru-buru pulang dan tidak akan kecelakaan .…”

“Jangan menyalahkan diri sendiri.”

“Tapi mereka kecelakaan setelah ninggalin Hanin .…” Tangisnya pecah lagi. “Hanin anak durhaka, Ustaz. Baru saja mau belajar jadi lebih baik, malah bikin orang tua celaka .…”

Ustaz Hamid hanya bisa beristighfar pelan. Dia paham kalau gadis itu berucap demikian karena putus asa.

“Kecelakaan itu terjadi saat mereka sudah hampir masuk desa kalian,” ucap beliau hati-hati.

Hanin terdiam. Hampir sampai rumah.

“Berarti tinggal sedikit lagi mereka sampai .…” suaranya gemetar. “Itu pasti karena Abi capek. Umi pasti khawatir mikirin Hanin.”

Air matanya semakin deras. Rumah sakit itu terasa begitu asing dan dingin.

Begitu sampai di depan ICU, Hanin hampir berlari tanpa arah. Nafasnya tersengal. Dadanya sesak.

“Pak Rahmat dan Bu Salma di mana? Saya anaknya … saya Hanin …,” ucapnya terburu-buru pada perawat.

“Di dalam ICU, Mbak. Tapi tunggu sebentar.”

Detik terasa menyiksa. Saat akhirnya pintu dibuka dan ia diizinkan masuk, langkah Hanin terasa berat.

Begitu melihat dua ranjang dengan tubuh yang penuh selang, dunia Hanin runtuh.

“Abi .…” Suaranya langsung patah.

Wajah ayahnya pucat. Bibirnya kering. Mesin di sampingnya berbunyi pelan.

Hanin mendekat, tangannya gemetar menyentuh ujung selimut.

“Abi … Hanin di sini .…” Air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan. “Abi jangan tidur lama-lama. Hanin takut .…”

Ia beralih ke ranjang Umi.

“Umi .…” Suaranya makin pecah. “Umi bangun, Mi. Biasanya Umi paling cerewet kalau Hanin telat mandi, sekarang kok diam saja .…”

Tangisnya mengguncang bahunya.

“Maafin Hanin … ya Allah … maafin Hanin .…”

Ia berdiri di antara dua ranjang itu, merasa kecil sekali. Dadanya sesak melihat kedua orang yang sangat ia sayangi itu.

“Abi … Umi. Hanin belum sempat bilang terima kasih, belum sempat bilang Hanin sayang banget dengan kalian.”

Tangannya memegang pagar ranjang erat-erat.

“Hanin janji bakal nurut. Hanin janji bakal jaga diri. Asal Abi sama Umi sembuh. Jangan tinggalin Hanin.”

Monitor tetap berbunyi stabil, tapi tak ada jawaban. Beberapa saat kemudian ia diminta keluar. Dokter mau memeriksa keadaan orang tuanya.

Di lorong, ia terduduk. Tangisnya tak berhenti. Sekarang Ustaz Hamid yang masuk. Sepertinya pria itu membacakan doa untuk kedua orang tuanya.

**

Pagi harinya, setelah Ustaz Hamid pamit kembali ke pondok, seorang perawat menghampiri.

“Mbak Hanin, tadi orang tua Mbak sempat sadar. Kalau mau bicara, silakan masuk sekarang.”

Jantung Hanin berdegup kencang. Berharap kedua orang tuanya benar-benar sadar dan bisa pulih lagi.

“Sadar?” suaranya bergetar.

“Iya, tapi jangan lama-lama.”

Hanin hampir berlari masuk. Abi membuka mata perlahan.

“Abi .…” Hanin langsung menggenggam tangan ayahnya. “Abi dengar Hanin, kan? Ini Hanin .…”

Mata itu bergerak pelan, menatapnya. Air mata Hanin kembali jatuh.

“Abi jangan pergi … jangan tinggalin Hanin. Hanin masih butuh Abi .…”

Abi mencoba berbicara. Suaranya lemah.

“Hanin … maafkan Abi .…”

“Jangan, Bi. Jangan minta maaf.” Hanin menggeleng cepat. “Hanin yang harus minta maaf. Hanin yang sering bikin Abi pusing. Sering bantah … sering bikin kecewa .…”

Abi menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Abi belum jadi ayah yang sempurna .…”

“Abi ayah terbaik!” Hanin menangis lebih keras. “Abi selalu bangun paling pagi … selalu doain Hanin … selalu kerja keras … jangan bilang begitu .…”

Di ranjang sebelah, Umi juga membuka mata.

“Umi .…” Hanin berpindah, menggenggam tangan ibunya.

“Maafkan … Umi .…” suara itu lirih sekali.

“Tidak, Mi. Umi tidak salah. Hanin yang sering keras kepala…”

Umi menatapnya dalam-dalam.

“Hanin … jaga diri. Jaga kehormatan, jangan ulangi kesalahan .…”

Tangis Hanin tak terkendali. Teringat kembali apa yang telah ia lakukan.

“Hanin janji, Mi. Hanin janji bakal jadi anak yang baik. Hanin bakal bikin Abi sama Umi bangga, tapi tolong jangan pergi sekarang. Umi dan Abi harus sembuh biar bisa lihat Hanin yang berubah seperti apa yang kalian inginkan.”

Abi berusaha mengangkat sedikit tangannya.

“Kalau nanti … Abi dan Umi tidak ada .…”

“Tidak!” Hanin hampir berteriak. “Jangan bilang begitu! Hanin nggak kuat. Hanin nggak bisa hidup sendirian. Hanin masih mau dimarahin Umi … masih mau dinasehatin Abi .…”

Suaranya pecah.

“Hanin masih mau pulang dan cium tangan kalian. Masih mau denger suara Abi panggil Hanin nak. Jangan ambil mereka, ya Allah .…”

Monitor tiba-tiba berbunyi lebih cepat. Angka di layar berubah drastis. Perawat masuk tergesa.

“Mbak, silakan keluar!”

“Abi! Umi! Jangan tinggalin Hanin! Hanin di sini!” teriaknya histeris saat didorong keluar.

Pintu ICU tertutup. Dari balik kaca kecil, ia melihat dokter dan perawat bergerak cepat.

“Hanin belum selesai minta maaf …,” bisiknya sambil terisak. “Hanin belum bilang Hanin sayang Abi dan Umi. Jangan pergi ... Jangan hukum Hanin seberat ini .…”

Hanin menarik napas. Melihat kesibukan di dalam dari balik kaca.

"Abi, Umi, sadarlah. Kalian pukul saja Hanin. Kalian marahi aja Hanin. Tapi jangan pergi. Jika kalian pergi, Hanin dengan siapa. Jangan buat Hanin merasa sangat bersalah begini. Jangan hukum Hanin seberat ini ...."

Beberapa menit terasa seperti ribuan detik. Lalu pintu terbuka. Dokter keluar dengan wajah serius.

Hanin langsung menghampiri. Dia ingin tahu keadaan kedua orang tuanya.

“Dokter … Abi dan Umi bagaimana, Dok? Mereka nggak apa-apa, kan? Tadi masih sadar … tadi masih bicara .…”

Dokter melepas masker perlahan. “Saya mohon Mbak bersabar .…”

Jantung Hanin terasa berhenti. Ucapan itu menusuk ke ulu hatinya.

“Kami sudah berusaha semampu kami …,” lanjut dokter itu pelan.

Hanin menggeleng pelan, mundur setapak.

“Jangan bilang begitu … jangan bilang .…”

“Tapi takdir berkata lain .…”

Kata-kata berikutnya seperti tak lagi terdengar jelas di telinganya. Hanin berdiri kaku. Dunia runtuh untuk kedua kalinya hari itu.

1
Marlina Prasasty
😭😭😭
sri hastuti
sdh tak baca Mom, bagus 👍👍
Enny Suhartini
sudah baca mommy
Angga Gati
good ceritanya
sukses sellu 💝💝💝💝💝
Ilfa Yarni
happy ending alhamdulillah
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Ida Nur Hidayati
Alhamdulillah berakhir dengan bahagia.
terima kasih atas novel novel nya Mama Reni 🙏💪😍
Ainal Fitri
otw mama...
Ainal Fitri
bhgia sx melihat mereka adem ayem bgini... rumah yg hangat kasih sayaang yg nyata sungguh sebuah keluarga yg bahagia.. 🥰
terima kasih mama Reni telah mciptakan sebuah keluarga yg harmonis untuk jd cerminan buat reader semua. masa lalu yg adalah masa lalu yg tak harus d ingat ingat lg. yg perlu d pikirkan adalah masa depan dan jalani hari hati yg telah d gatiskan dengan lapang dada.
insyaAllah kedamaian akn membersamai

terima kasih Mama Reni
🥰🥰🥰
🤗🤗🤗
ken darsihk
Bagus mam cerita nya
Sudah lounching kah ??
Mama Reni: udah tadi pagi
total 1 replies
septiana
Alhamdulillah happy ending.. di tunggu karya selanjutnya mama Reni...
Apriyanti
terimakasih thor🙏
endhing nya bagus bgt,,di tunggu bonus chapter nya🙏😘
Apriyanti
lanjut thor 🙏
ken darsihk
Alhamdulillah end yng cantik, btw terimakasih mama Reni sudah menemani dngn bacaan yng bagus 😍😍😍
ken darsihk
Biar kan masa lalu itu terkubur dan jangan di ingat lagi , karena hidup terus berjalan dan kita tidak harus tetap melangkah kedepan
Radya Arynda
kok cepet banget the end nya mama🥺🥺🥺🥺🥺
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Naufal Affiq
terimakasih kak atas karyanya
Dew666
💎💎
Oma Gavin
akhirnya happy ending keren hanin bisa memaafkan arsenio dan membuka lembaran hidup tanpa dendam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!