Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAHAYA DI UJUNG HARAPAN
Malam di Bandung kali ini tidak terasa begitu mencekam seperti biasanya. Meski kabut tipis masih setia menyelimuti aspal jalanan, hangatnya bara arang dari angkringan Rangga seolah menjadi magnet bagi siapa saja yang lewat. Sudah dua minggu ini, ada pemandangan yang berbeda di gerobak cokelat tua itu. Syakira, gadis yang tempo hari berteduh, kini jadi sering mampir. Bukan cuma sekadar beli teh jahe, tapi dia benar-benar membantu Rangga menata dagangannya.
"Mas Rangga, coba deh susunan satenya dibuat begini. Lalu, kasih lampu kelap-kelip kecil di pinggiran spanduk itu supaya anak muda lebih tertarik mampir," ujar Syakira sambil tangannya lincah merapikan nasi kucing.
Rangga cuma bisa tersenyum canggung. Dia merasa tidak enak hati karena gadis seanggun Syakira mau berurusan dengan debu dan asap arang. "Aduh, Mbak Syakira... jadi repot begini sih. Saya nggak enak loh, Mbak kan bukan pelayan di sini," ucap Rangga sambil mengipas sate dengan pelan.
Syakira tertawa kecil, suara tawanya bening sekali, kontras dengan deru knalpot motor yang sesekali lewat. "Ah, Mas ini kaku sekali sih. Saya senang kok bantu-bantu. Lagian Rinjani juga makin ceria kalau ada teman ngobrol kan?" Syakira melirik Rinjani yang sedang asyik mewarnai di sudut bangku dengan krayon pemberian Syakira kemarin.
Suasana mendadak hening saat para pelanggan mulai pulang satu per satu. Rangga menunduk, menatap bara api yang mulai memudar. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dia tidak ingin Syakira punya harapan lebih atau salah paham tentang sosoknya. Rangga merasa perlu jujur, meski kejujuran itu mungkin akan membuat Syakira menjauh karena jijik atau malu berteman dengannya.
"Mbak Syakira... sebenarnya, saya ini punya masa lalu yang kelam sekali," bisik Rangga tanpa berani menatap mata gadis itu.
Syakira menghentikan kegiatannya. Dia menatap Rangga dengan pandangan yang tenang. "Masa lalu apa, Mas?"
"Saya ini duda, Mbak. Baru saja bercerai karena dikhianati istri saya di Jakarta. Saya pulang ke Bandung cuma bawa satu tas baju dan hati yang sudah hancur lebur. Saya ini cuma lelaki gagal yang dibuang karena miskin..." Rangga menjeda kalimatnya, suaranya parau sekali, menyimpan luka yang sangat dalam. "Jadi, mending Mbak nggak usah terlalu dekat sama orang seperti saya. Malu-maluin nanti kalau dilihat orang lain."
Hening menyelimuti mereka selama beberapa detik. Rangga sudah bersiap mendengar kata-kata penghinaan atau setidaknya melihat Syakira yang bergegas pergi. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Syakira menarik napas panjang, lalu menatap Rangga dengan tatapan yang sangat menyejukkan.
"Mas Rangga, dengar ya," suara Syakira lembut sekali tapi tegas. "Masa lalu itu adalah guru yang paling jujur. Dia datang buat mendewasakan kita. Kegagalan rumah tangga bukan berarti Mas itu orang jahat atau orang rendah. Justru, masa depan itu milik mereka yang tetap berdiri setelah jatuh berkali-kali. Saya justru kagum, jarang ada lelaki yang tetap tegar jaga anaknya meski sudah dihancurkan sehancur itu. Jangan minder lagi dong, Mas."
Rangga tertegun. Kata-kata Syakira seolah menjadi cahaya yang menembus kegelapan di hatinya. Dia tidak menyangka akan ada orang yang menghargai perjuangannya sedalam itu. Di saat Laras membuangnya bagai sampah, Syakira justru melihatnya sebagai berlian yang sedang tertutup lumpur.
Keesokan harinya, saat Rangga sedang sibuk menyiapkan dagangan sore, sebuah mobil mewah berwarna perak berhenti tepat di depan ruko kosong tempatnya berjualan. Seketika, jantung Rangga berdegup kencang. Dia takut kalau pemilik ruko itu datang buat mengusirnya karena dianggap mengotori trotoar.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian batik sutra yang tampak mahal sekali turun dari mobil. Wajahnya berwibawa, tapi tatapannya sangat tajam saat menatap ke arah gerobak Rangga. Rangga seketika gemetar. Dia teringat lagi pada sosok pria kaya seperti Badru yang selalu memandangnya rendah.
"Ini dia orangnya, Yah," suara Syakira tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Gadis itu muncul dengan senyum lebar, menggandeng lengan pria tua itu.
Rangga makin bingung. Dia menatap Syakira, lalu menatap pria itu bergantian. "Eh, Mbak Syakira... ini...?"
"Mas Rangga, perkenalkan, ini Ayah saya. Beliau pemilik ruko ini," ucap Syakira ceria.
Rangga seketika menunduk dalam-dalam, merasa minder sekali. Dia menatap penampilannya sendiri; kaus kusam yang terkena noda arang dan sandal jepit yang sudah tipis. Dia merasa sangat tidak pantas berdiri di depan martabat keluarga Syakira yang ternyata sekaya ini. "Maaf, Pak... saya mohon maaf kalau keberadaan gerobak saya mengganggu ruko Bapak. Saya akan pindah sekarang juga kalau Bapak keberatan," ujar Rangga dengan suara yang bergetar karena rasa malu.
Ayah Syakira, Pak Haji Mansyur, diam sejenak. Beliau menatap Rangga dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu beralih menatap Rinjani yang sedang duduk manis membantu ayahnya merapikan sendok. Pak Haji menatap kebersihan gerobak Rangga yang sangat terjaga meski cuma gerobak kayu tua.
"Syakira banyak cerita soal kamu," suara Pak Haji berat tapi tidak menunjukkan kemarahan. "Katanya ada seorang pria pekerja keras yang jujur dan sayang sekali sama anaknya berjualan di sini. Ternyata benar. Syakira jarang sekali memuji orang lain sehebat dia memuji kamu."
Syakira yang berdiri di samping ayahnya tampak tersipu malu. Dia menatap Rangga dengan pandangan penuh kekaguman yang tak bisa disembunyikan lagi. Ada binar di matanya yang seolah berkata bahwa Rangga tidak perlu takut pada apa pun.
"Mas Rangga ini orangnya jujur sekali loh, Yah. Kemarin aku kasih uang lebih saja ditolak mentah-mentah karena katanya beliau bukan pengemis. Padahal Mas Rangga lagi butuh modal," tambah Syakira membela.
Rangga cuma bisa terdiam, lidahnya kelu. Dia merasa seperti sedang bermimpi. Di tengah kehancuran hidupnya yang disebabkan oleh pengkhianatan Laras, Tuhan tiba-tiba mendatangkan orang-orang baik yang justru merangkulnya tanpa syarat.
Pak Haji Mansyur mendekat, lalu menepuk pundak Rangga yang masih kaku. "Ruko ini sebenarnya mau saya sewakan mahal ke orang lain. Tapi Syakira memaksa saya untuk meninjau kamu dulu. Saya butuh orang jujur buat menjaga tempat ini. Gimana kalau kamu kelola angkringan ini secara resmi di teras ruko saya? Saya kasih izin kamu pakai fasilitas di sini, dan soal bagi hasilnya, kita bicarakan nanti yang sekiranya tidak memberatkan kamu. Saya lebih menghargai kerja keras daripada cuma sekadar uang sewa."
Rangga merasa matanya memanas. Cahaya harapan yang selama ini redup, seketika berkobar kembali dengan sangat terang. Dia menatap Syakira yang tersenyum tulus ke arahnya. Luka yang ditinggalkan Laras perlahan mulai terasa tidak sakit lagi, digantikan oleh semangat baru untuk membuktikan bahwa dia sanggup bangkit dari keterpurukan.
"Terima kasih banyak, Pak... terima kasih, Mbak Syakira... saya janji tidak akan mengecewakan kepercayaan kalian," bisik Rangga dengan penuh rasa syukur. Dia menatap langit sore Bandung yang mulai jingga, menyadari bahwa setelah badai yang sangat hebat, pelangi itu benar-benar datang melalui kebaikan hati orang-orang yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,