Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Vello
Hari beranjak malam. Orang-orang yang semula berkerumun didepan rumahnya, sekarang sudah kembali ke tempat masing- masing.
Maya yang baru saja selesai membersihkan diri, meraih ponsel yang berada di atas nakas dan memeriksanya, berharap ada pesan atau apapun dari Max yang sejak kemarin menghilang.
"Kau dimana Max? Kau sama sekali tidak mengirim pesan apapun dan membiarkan aku menghadapi keluarga Lewis sendirian. Sebenarnya, apa selama ini kau serius membantuku, atau hanya mempermainkan aku, Max?" gumam Maya penuh tanya.
Namun di detik berikutnya, Maya justru terkekeh miris saat mengingat status dirinya, status Max dan juga Bryan disini.
"Dasar bodoh!! Aku benar-benar bodoh, kenapa aku harus menaruh harapan pada Max? Padahal dia masih keluarga Lewis, mana mungkin dia mau membantu orang lain menghancurkan nama baik keluarganya sendiri!"
"Tapi kalau kau tidak mau membantuku, kenapa kau harus memberikan harapan yang begitu besar lalu kau berubah pikiran di saat-saat terakhir!" Maya meremas kuat sprei, menahan rasa kecewa yang teramat sangat.
Perasaan cintanya pada Max dan juga harapannya yang begitu besar, di hancurkan Max dalam satu hari dengan tanpa tersisa.
"Aku tidak tahu, kalau ternyata... Orang yang bersumpah akan membantu sekalipun, justru menjadi orang yang paling menghancurkan. Kau bahkan menghilang tanpa jejak. Aku membencimu, Max. Aku membencimu!"
Maya melemparkan ponselnya asal, meredam rasa sakit dan sesalnya sekaligus, atas keputusan Max yang meninggalkannya dipersidangan.
*
Ketika menikmati rasa sesal dan kecewanya, mata Maya terbelalak saat menyadari setelah kembali dari persidangan, Vello sama sekali tidak mencarinya. Bahkan, ia tidak mendengar suara Vello yang memanggil ayahnya atau sekedar berteriak meluapkan kemarahan.
"Astaga! Kenapa aku baru sadar, Vello sama sekali belum mencariku?"
Maya melihat jam dinding, dan seketika matanya membola. Sejak mereka masuk kedalam rumah, Vello tidak pernah keluar lagi. Dan itu sudah berlalu kurang lebih enam jam, tidak mungkin Vello sama sekali tidak membutuhkan sesuatu. Sebab dengan kondisinya yang masih belum stabil, Vello pasti selalu membutuhkan Maya disampingnya.
"Tidak. Jangan sampai Vello melakukan hal yang gila."
Dengan tergesa, Maya keluar dari kamarnya dan memeriksa kamar Vello, berharap tidak terjadi sesuatu pada adik nya.
Maya mengetuk pintu kamar Vello, berharap adiknya merespon.
"Vello, kau baik-baik saja di dalam? Kenapa tidak mencari kakak?" tanya Maya.
Namun di dalam sama sekali tidak ada jawaban. Maya kembali mengetuk pintu kamar Vello dengan sedikit lebih keras, berpikir kalau adiknya tengah tidur.
"Vello, jangan diam saja. Jawab kakak, kamu baik-baik saja kan?"
Namun lagi-lagi nihil. Maya sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari Vello. Semakin lama, Maya semakin merasa kekhawatiran yang cukup besar. Pikirannya mulai merancang cerita yang buruk.
Lantas, akhirnya Maya memilih membuka paksa kamar Vello yang sempat terkunci, setelah berhasil mata Maya membelalak melihat Vello dengan posisi tergantung di kamarnya dengan lidah yang menjulur dan wajah yang membiru.
Maya bisa melihat di sekitar lantai di letakkan bantal, yang dimaksudkan agar saat kursi di tendang tidak menimbulkan suara apapun.
Vello mengakhiri hidupnya sendiri, dengan cara menjerat lehernya menggunakan kain seprei yang di ikat sedemikian rupa dan di ikat pada langit-langit kamar yang tidak memiliki plafon.
"Astaga!"
Sepersekian detik Maya membeku, menatap tubuh adiknya yang tergantung. Sebelum akhirnya ia menjerit dengan keras.
"VELLONA!!!" Teriak Maya, lalu mendekat kearah jasad Vello dan berusaha menurunkan tubuh adiknya itu dari sana.
Fernand dengan tergopoh masuk kedalam kamar Vello saat mendengar teriakan Maya yang menggema.
Sama seperti yang terjadi pada Maya, Fernand juga ikut terdiam dan tertegun melihat kondisi Vello yang terlilit kain seprei dan lidahnya terjulur keluar.
"Ya tuhan Vello!! Apa yang kau lakukan, nak? Kenapa kau harus mengakhiri hidupmu seperti ini!"
"Kenapa kau harus bodoh Vello, kenapa kau harus mengakhiri hidup seperti ini!" Maya ikut menyesalkan, apa yang dilakukan adiknya.
Tangis Maya dan juga Fernand tumpah, mendapati Vello yang meninggal dengan kondisi yang tragis.
Tangan Maya gemetar hebat saat berhasil menurunkan tubuh Vello dari jeratan maut itu. Dengan histeris, ia memeluk tubuh adiknya yang sudah dingin dan kaku.
"Vello, bangun! Jangan tinggalkan kakak, Vello! Kenapa kau melakukan ini padahal kakak sudah berjanji akan melindungimu? Vello!" Maya meraung, memecah kesunyian malam. Air matanya terus mengalir deras membasahi wajah dan pakaiannya.
Fernand yang masih terpaku, akhirnya mendekat dan ikut memeluk kedua putrinya. Air matanya juga tak berhenti mengalir, hatinya hancur melihat kenyataan pahit yang menimpa keluarganya.
"Vello... maafkan ayah, Nak. Ayah gagal menjagamu. Maafkan ayah," lirih Fernand, suaranya bergetar menahan kesedihan yang mendalam.
Di tengah isak tangis yang memilukan, Maya menyadari sesuatu. Ia melihat sebuah surat yang tergeletak di atas meja belajar Vello. Dengan tangan gemetar, Maya meraih surat itu dan membacanya.
"Untuk Kakak Maya dan Ayah...
Maafkan Vello karena sudah membuat kalian kecewa. Vello sudah tidak sanggup lagi menanggung malu dan sakit hati ini. Vello merasa menjadi beban untuk kalian berdua. Setelah kejadian di persidangan tadi, Vello merasa hidup Vello sudah tidak ada artinya lagi.
Kak, Ayah... Vello sayang sekali sama kalian. Tapi Vello tidak tahu harus bagaimana lagi. Vello harap kalian bisa memaafkan Vello.
Selamat tinggal..."
Air mata Maya semakin deras membasahi surat itu. Hatinya hancur berkeping-keping membaca setiap kata yang ditulis oleh adiknya. Ia merasa bersalah karena tidak menyadari betapa besar beban yang ditanggung oleh Vello.
"Tidak, Vello! Kau tidak boleh pergi! Kakak janji akan melakukan apapun untukmu. Kakak janji akan membuatmu bahagia. Vello, bangunlah!" Maya mengguncang-guncang tubuh Vello, berharap adiknya akan membuka mata dan kembali bersamanya.
Namun, semua sudah terlambat. Vello telah pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan luka yang mendalam di hati Maya dan Fernand. Malam itu, di kamar Vello, hanya ada tangisan dan penyesalan yang tak berujung.