NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keraguan di Ambang Pintu

Genta berdiri di depan gerbang panti, memanaskan mesin motornya. Ia menoleh ke arah Aira yang masih berdiri mematung di teras panti, mengenakan jaket tipisnya.

"Ra, beneran nggak mau bareng sekarang? Gue bisa tungguin lima menit lagi kalau lu mau ganti baju," ajak Genta.

Aira meremas ujung jilbabnya. Bayangan Kara yang terkapar di lumpur, suara monitor rumah sakit yang berbunyi tajam, dan tatapan dingin Ibu Kara tiba-tiba berputar kembali di kepalanya. Kakinya terasa seberat timah.

"Gue... gue nyusul besok subuh aja, Gen," suara Aira bergetar. "Gue masih perlu waktu buat nata hati. Gue takut pas liat Kara nanti, gue malah nangis lagi di depan dia. Gue nggak mau dia ngerasa dikasihanin."

Genta menghela napas, ia paham trauma Aira belum sembuh total. "Oke, gue duluan ya. Tapi inget, jangan kelamaan 'ngumpet' di balik rasa takut lu. Kara butuh lu lebih dari apa pun sekarang."

Setelah motor Genta menjauh, Aira kembali masuk ke dalam panti. Ia menyibukkan diri dengan segala hal; membersihkan gudang, melipat ratusan sprei, hingga membantu memasak di dapur umum. Ia bekerja sampai tangannya lecet, berharap rasa lelah fisik bisa membungkam suara-suara ketakutan di kepalanya.

Malam harinya, saat suasana panti sudah sunyi, Aira duduk di ranjang kecilnya. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Genta masuk.

Genta: Ra, gue baru balik dari kamar Kara. Dia lagi latihan gerakin jarinya buat baca titik-titik kertas tebal (kata Eyang itu huruf Braille). Tangannya gemeteran, Ra. Dia berkali-kali salah, tapi dia nggak mau berhenti.

Genta: Tadi dia sempet nanya ke gue, "Aira udah makan belum?". Dia nggak nanya dirinya sendiri, dia malah nanyain lu. Dia bener-bener lagi berusaha jadi kuat supaya pas lu dateng, dia nggak keliatan hancur.

Aira membaca pesan itu sambil menangis sesenggukan. Ia merasa sangat pengecut. Di saat Kara yang buta berjuang keras untuk "melihat" lewat jari, ia yang punya mata lengkap justru takut hanya untuk sekadar melangkah.

Pesan Genta berlanjut:

Genta: Lu nggak usah takut sama kondisi dia yang nggak stabil. Justru karena dia nggak stabil, dia butuh pegangan. Dan pegangan itu cuma lu, Ra.

Aira mematikan ponselnya, memeluk kitab doa dari Kiai Mansur. Keraguan itu perlahan luntur, berganti menjadi tekad yang bulat. Ia tidak akan menunggu subuh lagi. Ia akan berangkat dengan bus paling pagi, membawa seluruh keberanian yang tersisa.

***

Keesokan paginya, sebelum berangkat ke terminal, Aira berpamitan pada Mbah Isah. Nenek tua itu sedang duduk menatap jendela yang masih berembun.

"Mbah, Aira mau pamit sebentar ke kota. Mau nemuin teman Aira," bisik Aira sambil mencium tangan Mbah Isah yang keriput.

Mbah Isah menoleh, lalu meraih tangan Aira dengan lembut. "Nduk, kamu tahu kenapa Mbah betah di sini padahal Mbah punya keluarga?"

Aira mengernyit. Selama ini ia mengira Mbah Isah sebatang kara.

"Mbah dulu punya anak yang lahir dengan mata seperti kamu," ujar Mbah Isah lirih, membuat jantung Aira berdegup kencang. "Orang-orang desa bilang dia terkutuk. Mbah takut, lalu Mbah buang dia ke panti asuhan karena Mbah pikir itu satu-satunya cara supaya dia selamat dari amukan warga."

Aira terpaku. Napasnya tertahan.

"Tapi Mbah salah," lanjut Mbah Isah dengan air mata yang mulai mengalir. "Mbah malah membunuh jiwanya. Ternyata, mata itu bukan kutukan, tapi titipan. Jika saja dulu Mbah seberani kamu menemani temanmu itu, mungkin anak Mbah masih ada di sini sekarang."

Mbah Isah merogoh sesuatu dari bawah bantalnya—sebuah kalung perak tua dengan liontin berbentuk matahari kecil yang sudah kusam. "Bawa ini. Berikan pada temanmu. Katakan padanya, cahaya itu tidak pernah hilang, dia hanya berpindah ke hati orang-orang yang tulus."

Aira menerima kalung itu dengan tangan gemetar. Ia menyadari sesuatu; panti ini bukan sekadar tempat pengasingan. Ini adalah tempat di mana sejarah "kutukan" itu mungkin pernah bermula, dan ia dikirim ke sini untuk memutus rantai rasa bersalah yang telah berusia puluhan tahun.

Dengan kalung matahari di genggamannya, Aira melangkah keluar panti. Ia tidak lagi ragu. Ia akan menemui Kara, sang Matahari yang sedang belajar bersinar dalam gelap, membawa pesan dari masa lalu bahwa cinta memang harus lebih kuat dari ketakutan.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!