Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Hidden Protector
Senin pagi di Milford Hall selalu dimulai dengan kesibukan yang membosankan. Namun bagi Damian, Senin ini terasa aneh. Sejak turun dari mobilnya, matanya secara tidak sadar memindai kerumunan murid di gerbang depan, mencari sosok dengan rambut hitam legam yang selalu terlihat ingin berdebat dengannya.
Ia menemukannya di dekat loker gedung utama. Fraya sedang berdiri bersama Florence, tampak serius membicarakan sesuatu. Damian baru saja akan melangkah mendekat—entah untuk alasan apa—ketika ia melihat Axel dan gerombolannya berjalan dari arah berlawanan.
Damian berhenti. Ia melihat Axel menyeringai ke arah Fraya, seringai predator yang sangat ia kenal.
"Lihat siapa ini," suara Axel menggema di koridor, membuat beberapa murid menoleh. "Si jago tinju yang sombong. Bagaimana kabarmu hari ini, Alexandrea? Sudah siap untuk pelajaran hidup yang sebenarnya?"
Fraya tidak bergeming. Ia hanya menatap Axel dengan pandangan datar, meski Damian bisa melihat jemari gadis itu meremas tali tasnya dengan kuat.
"Jangan cari masalah denganku, Axel. Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu."
Axel tertawa, tawa yang terdengar sangat merendahkan. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia berdiri tepat di depan Fraya. "Berani sekali kamu bicara begitu. Kamu pikir karena kamu dekat dengan Damian, kamu aman?"
Florence tampak ketakutan dan menarik lengan Fraya, namun Fraya tetap berdiri kokoh.
Tepat saat Axel hendak mengangkat tangannya untuk melakukan sesuatu—mungkin untuk menyentuh rambut Fraya atau sekadar mengintimidasi lebih jauh—Damian muncul di antara mereka. Ia tidak berlari, namun kehadirannya terasa begitu tiba-tiba dan mendominasi.
"Axel," suara Damian terdengar rendah dan dingin, sangat berbeda dari nada bicaranya yang biasa.
Axel menoleh, alisnya terangkat. "Oh, Damian! Panjang umur. Aku baru saja menyapa aset barumu."
Damian menaruh tangannya di pundak Axel, namun tekanan jemarinya tidaklah ramah. "Dia sedang di bawah pengawasanku sekarang, ingat? Mrs. Crabtree memberi tanggung jawab besar padaku untuk nilai Bahasa Jermannya. Kalau kamu mengganggunya, itu artinya kamu mengganggu jadwal belajarku. Dan kalau aku gagal, Ayahku tidak akan senang."
Damian menggunakan nama ayahnya—kartu as yang selalu ia benci, tapi kali ini ia gunakan demi melindungi Fraya.
Axel menatap Damian lama, mencari-cari apakah sepupunya itu sedang bercanda. Namun ia hanya menemukan mata biru Damian yang sekeras es. Akhirnya, Axel mengangkat tangannya tanda menyerah.
"Alright, bro. Loosen' up. Aku tidak akan merusak mainanmu," ujar Axel sambil berlalu, namun ia sempat membisikkan sesuatu pada Fraya yang membuat gadis itu menegang.
Setelah gerombolan Axel menjauh, koridor kembali sedikit normal. Damian berbalik menghadap Fraya. Ia berharap melihat tatapan terima kasih, namun yang ia dapat justru kerutan di dahi Fraya.
"Aku tidak butuh perlindunganmu, Harding," cetus Fraya, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan.
"Aku tidak melindungimu. Aku hanya memastikan jadwalku tidak kacau," sahut Damian cepat, kembali ke topeng sombongnya. Namun matanya tetap tertuju pada wajah Fraya, memastikan gadis itu benar-benar tidak terluka.
Fraya mendengus, lalu tanpa kata lagi ia menarik Florence pergi. Damian berdiri mematung di tengah koridor. Ia tahu tindakannya barusan akan memancing pertanyaan dari Axel nantinya, tapi ia tidak peduli.
Pikirannya justru melayang pada bagaimana wajah Fraya yang tampak sangat pucat tadi. Ia merasa ada dorongan aneh untuk benar-benar memastikan gadis itu aman, bukan karena misi Axel, tapi karena ia memang... ingin melakukannya.
Sore harinya, saat jam istirahat kedua, Damian melihat Fraya sedang duduk sendirian di perpustakaan, di pojok yang paling tersembunyi. Gadis itu tidak sedang belajar Bahasa Jerman, melainkan tampak melamun menatap keluar jendela.
Damian mendekat perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Dari sudut ini, ia bisa melihat profil wajah Fraya dengan jelas. Ada guratan kelelahan di sana, dan entah kenapa, itu membuat dada Damian terasa nyeri.
Dia benar-benar cantik kalau sedang diam begini, batin Damian.
Ia mengeluarkan sebuah cokelat batangan kecil dari sakunya—jenis yang mahal dan sulit didapat di kafetaria sekolah—dan menaruhnya begitu saja di atas meja Fraya tanpa berkata apa-apa.
Fraya tersentak dan menoleh. "Apa lagi ini?"
"Glukosa bagus untuk otak yang lambat," ujar Damian sambil terus berjalan melewati mejanya, tidak mau menunggu jawaban.
Fraya menatap cokelat itu, lalu menatap punggung Damian yang menjauh. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasakan keinginan untuk memaki cowok itu. Ia justru merasa bingung dengan debaran aneh yang mulai menyelinap di hatinya.
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit