Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambel
Anggika menunjuk wajah Mario dengan jari telunjuknya.
“Awas ya kalau besok pagi aku dimarahin Bapak gara-gara gosip tadi. Kalau sampai aku digantung di pohon rambutan, aku bakal jadi hantu yang gangguin kamu seumur hidup!”
Mario terkekeh santai.
“Kalau kamu jadi hantu, aku ikut aja. Biar kita abadi bareng di alam lain.”
“Ih, apaan sih!” Anggika mendorong bahunya pelan. “Serem banget ngomongnya. Ayo cari makan, aku laper.”
Mario mengangguk.
“Ayo. Kamu mau apa?”
“Bakso aja deh.”
Mereka pun duduk di warung bakso yang ramai.
“Bang, baksonya dua ya,” pesan Mario.
Sambil menunggu, Anggika menatapnya penasaran.
“Ngomong-ngomong, kamu kok bisa dapat nomor urut dua sih? Katanya itu nomor favorit, biasanya diperebutkan.”
Mario mendekat sedikit, pura-pura berbisik rahasia.
“Ini rahasia besar.”
“Apa?” Anggika ikut mendekat serius.
Mario tersenyum nakal.
“Karena kamu satu-satunya di hatiku. Nggak ada orang kedua.”
Anggika langsung melotot.
“Mario! Ih, kamu tuh ya! Aku sudah dengerin serius malah bercanda!”
Ia memukul lengannya pelan.
Mario pura-pura meringis.
“Aduh! Kamu ini hobi banget KDRT. Belum nikah aja sudah begini, nanti kalau sudah sah aku bisa jadi samsak tinju tiap hari.”
Anggika mendengus.
“Samsak apaan? Lebay.”
Mario tersenyum lembut.
“Tapi serius, nomor urut itu hasil undian. Cuma kebetulan dapat dua.”
“Gitu kek dari tadi,” gumam Anggika sambil menyilangkan tangan.
Tak lama kemudian bakso datang.
“Ini baksonya, Mas Mario.” kata penjual.
Mario menyodorkan mangkuk ke Anggika.
“Nih, sebelum kamu marahin aku lagi.”
Anggika tersenyum tipis.
“Baiklah, untuk sementara kamu dimaafkan.”
Mario menatapnya dengan senyum kecil.
“Syukurlah. Hidupku aman sampai bakso ini habis.”
Pak Mamat, si penjual bakso, tersenyum lebar sambil mengelap tangannya dengan celemek.
“Wah, saya nggak nyangka Mas Mario, calon kepala desa, mau mampir ke warung kecil saya.”
Mario tertawa ringan.
“Pak Mamat ini bisa aja. Saya ke sini karena memang lapar, bukan karena jabatan.”
Pak Mamat mendekat sedikit sambil berbisik setengah bercanda.
“Kalau Mas Mario mau bikin bakso saya laris, traktir saja semua warga desa malam ini. Dijamin besok nyoblosnya ke Mas semua.”
Mario tersenyum sopan.
“Maaf ya, Pak. Saya nggak pakai jalur begitu.”
Pak Mamat mengangkat alis.
“Wah, pelit dong. Pak Andi kemarin traktir satu kampung.”
Anggika yang dari tadi diam langsung menyahut cepat.
“Ya sudah, suruh saja Pak Andi traktir tiap hari sekalian, Pak. Biar warga kenyang terus.”
Pak Mamat tertawa kikuk.
“Bukan begitu maksud saya…”
Mario menimpali dengan tenang.
“Kalau warga memilih saya cuma karena bakso gratis, nanti saya harus ganti modalnya waktu menjabat. Saya nggak mau seperti itu.”
Pak Mamat mengangguk pelan.
“Iya juga sih, Mas…”
“Saya maunya warga pilih karena percaya,” lanjut Mario. “Bukan karena kenyang semalam.”
Anggika meliriknya sekilas, ada senyum tipis di bibirnya.
“Nah, dengar itu, Pak. Jadi baksonya tetap kami bayar ya, jangan tiba-tiba dinaikkan harganya.”
Pak Mamat tertawa lagi.
“Tenang, Mbak. Harga tetap sama. Malah saya doakan Mas Mario menang.”
Mario mengangguk hormat.
“Amin. Terima kasih, Pak.”
Anggika menyendok sambal berkali-kali, sampai mangkuk baksonya berubah merah menyala.
Mario melongo melihatnya.
“Gi… itu sambalnya mau kamu habisin satu toples sekalian?”
Anggika santai mengaduk baksonya.
“Biasa aja kali. Aku tiap hari makan cabe segini.”
“Segitu dibilang biasa?” Mario geleng-geleng kepala. “Perut kamu itu bukan baja.”
Anggika menyeringai.
“Tenang, perutku sudah terlatih. Dari kecil hidup sama sambal."
“Nanti kalau mules jangan nyalahin aku ya,” goda Mario.
“Aku nggak bakal mules. Kamu aja yang lemah,” balas Anggika cepat. “Makan bakso tanpa sambal banyak itu nggak afdol.”
Mario pura-pura tersinggung.
“Lemah? Ini strategi. Aku menjaga masa depan perutku.”
Anggika terkekeh.
“Alasan aja. Sini tambah lagi sedikit biar kamu jadi laki-laki pemberani.”
Mario menahan tangannya.
“Jangan! Kalau besok aku nggak bisa kampanye gara-gara perut melilit, kamu tanggung jawab.”
Anggika tertawa puas.
“Siapa suruh jadi calon kepala desa tapi takut sambal?”
Mario akhirnya menyerah, menambahkan sedikit sambal ke mangkuknya.
“Baiklah. Demi harga diri.”
Anggika tersenyum puas.
“Nah gitu dong. Baru calon pemimpin yang berani.”
Mario menatap mangkuk baksonya yang merah menyala.
“Mati aku… ini sambal kayaknya bisa bikin lambung pensiun dini. Tapi demi dapetin hati Anggika, pedas segini pun harus ditaklukkan,” batinnya pasrah.
Ia menyuap bakso dengan wajah tegang, berusaha terlihat santai di depan Anggika.
Anggika melirik.
“Kenapa mukanya kaya lagi ujian nasional?”
“Enggak kok,” Mario tersenyum kaku. “Enak banget… pedasnya mantap.”
Beberapa menit kemudian…
“Bang, bayar!” seru Anggika ke penjual.
Setelah membayar dan berdiri dari bangku, Mario tiba-tiba meringis sambil memegang perutnya.
“Rio, kamu kenapa?” tanya Anggika curiga.
“Perutku… kayak digigit seribu semut. Mules banget,” jawab Mario pelan.
Anggika menahan tawa.
“Tuh kan! Udah dibilangin jangan sok kuat.”
“Serius ini, Gi… kayaknya aku harus ke toilet sekarang juga.”
“Ya udah sana ke toilet umum depan sana,” tunjuk Anggika.
Mario langsung menggeleng cepat.
“Enggak. Aku nggak biasa ke toilet umum. Nggak nyaman.”
Anggika menghela napas.
“Ya ampun calon kepala desa manja banget. Terus maunya gimana?”
“Bisa nggak… ke rumah kamu aja?” ucap Mario lemas.
Anggika terdiam sebentar, lalu mengangguk.
“Ya udah, ayo. Cepet sebelum kamu drama di tengah jalan.”
Mario berjalan pelan sambil menahan perutnya.
“Aduh… lemes banget. Kayaknya aku nggak kuat bawa motor.”
Anggika langsung mengambil kunci dari tangannya.
“Udah, aku aja yang bawa.”
Mario mengangkat alis.
“Emang bisa?”
Anggika menatap tajam.
“Meremehkan?”
“Bukan gitu, maksudku—”
“Diam. Naik aja belakang. Pegang yang kuat, jangan malah jatuh gara-gara mules.”
Mario pasrah duduk di belakang.
“Iya, Bu Sopir…”
Anggika tersenyum tipis.
“Rasain. Sok jago makan sambal.”
Motor berhenti mendadak di depan rumah Anggika. Begitu mesin dimatikan, Mario langsung turun sambil menahan perutnya.
“Cepat sana ke kamar mandi!” ujar Anggika setengah panik, setengah menahan tawa.
Mario sudah setengah berlari ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum… numpang kamar mandi, Pak!” teriaknya buru-buru tanpa menunggu jawaban.
Herry yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri heran.
“Waalaikumsalam… lho itu Mario kenapa lari-lari begitu?”
Anggika masuk sambil melepas helm.
“Nggak kuat makan sambal, Pak. Sok jago tadi.”
Dari dapur, Kulsum ikut keluar.
“Astaghfirullah, Anggi… nggak semua orang lambungnya sekuat kamu, Neng.”
Anggika mengangkat bahu.
“Dia sendiri yang nantang, Bu. Katanya calon kepala desa nggak boleh kalah sama sambal.”
Terdengar suara pintu kamar mandi ditutup cepat.
Herry menggeleng pelan.
“Ya ampun… kasihan juga. Kalau sampai dia kenapa-kenapa gimana?”
Kulsum menatap Anggika khawatir.
“Iya, nanti orang tuanya gimana kalau tahu anaknya tumbang gara-gara makan bareng sama kamu? ”
Anggika mulai merasa bersalah.
“Ah nggak separah itu kali, Bu… paling cuma mules biasa.”