Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7 Pertemuan Gio dan Vania
Waktu dengan cepat berlalu, sudah hampir satu bulan Vania bekerja di restoran STEAK HOUSE. Dia bekerja semaksimal mungkin dan memberikan yang terbaik untuk restoran itu. Hal tersebut membuat Liam semakin mengagumi sosok Vania Adinata. Diam-diam dia selalu memperhatikan Vania saat bekerja, tak lupa dirinya juga sesekali mengajak wanita itu makan siang bersama. Namun, di sisi lain. Ayla merasa tidak suka. Sudah lama dia menyukai Liam tetapi tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk dekat dengan pria itu. Sementara Vania, belum genap satu bulan kerja disana malah sudah bisa dekat dengan sang Manager.
"Lihat saja, aku akan beri perhitungan padamu." tekad Ayla tak ingin tersaingi.
__________
"Apa ada informasi tentang gadis itu?" tanya Gio yang sedang berada di ruang kerjanya.
"Ya, Bos. Gadis itu bernama Vania, dan kabarnya dia kabur dari rumah karena ingin dijodohkan oleh pria tua."
Gio menatap asistennya dengan tajam. "Apa dia punya nama kepanjangan?"
"Vania Adinata. Salah satu putri dari Baskara Adinata, rekan bisnis Anda."
'Berarti dia gadis yang ku temui malam itu.' batin Gio merasa tidak tenang karena mendapat kabar jika Vania kabur dari rumah.
"Kerahkan anggota, suruh mereka mencari keberadaan gadis itu! Aku tidak boleh kehilangan dia." Perintah Giorgino dan di jawab anggukkan oleh Hans.
Pria itu pergi untuk mengerjakan tugas dari atasannya.
"Vania, kau harus ku dapatkan." gumamnya sambil meremas tangan yang berada di atas meja.
___________
Ayla menghampiri Vania yang sedang berjalan keluar dari restoran. Ini sudah malam dan waktunya mereka pulang ke rumah masing-masing. Vania sekarang menyewa rumah sederhana tak jauh dari tempatnya bekerja. Ya, demi menghemat ongkos, wanita itu rela berjalan setiap pulang dan pergi bekerja.
"Tunggu!" teriak Ayla. Dia mendekati Vania dan menatapnya dengan sinis. "Aku ingin bicara sesuatu padamu." ucapnya dingin.
"Kenapa serius sekali? Apa aku berbuat salah?"
''Ya! Tapi ini bukan masalah pekerjaan. Kau harusnya sadar kau itu siapa, Vania. Kau cuma karyawan baru di restoran ini, jadi jangan berpikir untuk merebut Liam dariku."
"Aku tidak tau apa maksudmu.''
Ayla tertawa. "Ckck. Ayolah, Vania. Tak mungkin kau tidak tahu apa yang ku katakan. Pikirkan sendiri, dan jauhi Liam! Awas saja kalau aku sampai melihatmu dekat-dekat lagi dengannya, ku pastikan kau akan di pecat dari restoran ini."
Vania merasa terkejut, dia tidak tahu jika Ayla punya perasaan terhadap Liam. "Aku tidak tahu apa yang kamu maksud dengan 'merebut Liam darimu'. Aku hanya ingin bekerja dan melakukan tugas dengan baik. Aku tidak punya perasaan apa pun ke Liam selain sebagai atasan," kata Vania dengan nada yang tenang.
Ayla tertawa lagi dan menggelengkan kepala. "Jangan bohongi aku, Vania! Aku tahu kalau kau juga menyukai Liam. Aku melihat bagaimana kau memandangnya dan bagaimana kau bicara dengannya. Aku tidak akan membiarkan kau merebut dia dariku," kata Ayla dengan nada yang keras.
Vania merasa jika Ayla salah paham saat ini. Dia memutuskan untuk meninggalkan Ayla dan pergi ke rumahnya. Vania tidak ingin terlibat dalam konflik dengan Ayla dan hanya ingin melakukan pekerjaannya dengan baik.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu, Ayla. Kalau itu yang kau inginkan, aku akan jauhi Liam. Aku harus segera pulang dan istirahat. Aku lelah," kata Vania sebelum berjalan meninggalkan Ayla.
Ayla memandang kepergian Vania dengan mata yang penuh kemarahan. Dia tidak akan membiarkan Vania merebut Liam darinya dan akan melakukan apa pun untuk menghentikan saingannya itu.
* * * * *
Tak butuh waktu lama, Gio yang memiliki kekuasaan dan uang langsung mendapatkan informasi tentang Vania. Dia bergegas pergi ke restoran yang dikatakan oleh Hans. Setelah sampai disana, pria itu disambut hangat oleh semua karyawan. Tak ada siapapun disana karena Hans sudah membooking restoran itu.
Gio memasuki restoran dan melihat sekeliling. Dia tidak melihat Vania di mana pun, tapi dia yakin jika Vania ada di sana. Dia memanggil salah satu karyawan dan menanyakan menu.
"Apa makanan yang paling mahal dan best seller di restoran ini?"
"Wagyu, Tuan. Salah satu makanan utama dan terfavorit di restoran kami." ujar Liora, salah satu karyawan di restoran STEAK HOUSE.
"Baiklah, sajikan semua menu best seller yang ada."
"Dengan senang hati, Tuan." Liora hendak pergi, tetapi Gio kembali memanggilnya.
"Tunggu! Apa di restoran ini ada karyawan yang bernama Vania?"
'Bagaimana dia bisa kenal dengan Vania? Apa jangan-jangan, wanita itu...' batin Liora yang berpikir jika Vania bukan wanita baik-baik.
"Ada, Tuan. Dia sedang mencuci piring di dapur."
"Aku ingin dilayani oleh karyawan itu, maksudku Vania." ucap Gio setengah malu. Sementara Liora hanya mampu menganggukkan patuh.
"Kenapa Vania begitu populer sekali? Liam tertarik padanya, dan sekarang Tuan Abraham. Pengusaha terkenal dan nomor satu di kota. Kalau sampai Erlangga bertemu dengan Vania, aku yakin dia juga pasti akan kepincut. Itu tidak bisa dibiarkan!'' gumam Liora sambil berjalan menuju ke dapur. Erlangga adalah pemilik sekaligus pendiri STEAK HOUSE. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu merintis usahanya sendirian. Mulai dari cafe biasa sampai menjadi restoran besar seperti sekarang.
Sesampainya di dapur, Liora langsung memberikan pesanan Gio pada Ayla. Kemudian dia menghampiri Vania yang sedang mencuci piring.
"Van, kau harus melayani customer kita." ucap Liora tanpa basa-basi.
"Aku? Tapi kenapa? Kau lihat sendiri kan aku sedang mencuci piring. Lagipula sudah ada kau dan karyawan lainnya."
"Tapi ini permintaan customer. Dia itu pengusaha terkenal dan kaya, kau mau restoran ini di tutup karena ulahmu? Jangan main-main deh, Van." ketus Liora merasa kesal.
'Pengusaha? Bagaimana kalau dia mengenaliku?' Ketakutan mulai merasuki hati Vania.
"Malah bengong lagi! Udah cepetan layani! Apa susahnya sih? Tinggal mengantarkan makanan, senyum dan ramah. Gitu aja repot."
Vania tidak punya pilihan lain, dia hanya bisa mematuhi perintah dari Liora. Vania takut gara-gara satu orang restoran itu di tutup. Dirinya berjalan membawa pesanan Giorgino, jantung nya berdebar kencang saat melihat tubuh tegap nan berwibawa itu dari kejauhan. Vania berulangkali menelan ludah karena merasa gugup. Dia berdoa agar pengusaha di depannya itu tidak mengenalnya.
Setelah sampai di meja Gio, dia terus menunduk tetapi tangannya sibuk menata menu di atas meja. Vania berbalik badan, akhirnya dia bisa menghela napas lega karena pria itu tidak mengenalinya.
"Berhenti!"
Baru saja bernapas lega, kini tubuh Vania kembali bergetar karena takut. Ya, takut jika dikenali.
"Berbalik!" perintah Giorgino dengan suara beratnya.
"T—tapi..." ucap Vania terbata.
"Sekali lagi saya bilang berbalik!" pinta Gio untuk yang kedua kalinya.
Vania pun akhirnya berbalik, alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa pria yang ada di depannya sekarang. Tentu saja Vania masih mengingat dan mengenali pria itu.
'Dia kan, pria tidak sopan yang waktu itu ada di pesta. Astaga, kenapa bisa bertemu dengannya di sini? Ya Tuhan, apa dunia sesempit ini?' batinnya merasa sial.
"Kau bekerja disini?" tanya Gio dengan sopan.
"Kau lihat bajuku sama dengan karyawan lainnya kan? Kenapa masih bertanya?" jawab Vania ketus.
"Seorang putri dari seorang pengusaha bekerja di sebuah restoran? Hm, menakjubkan."
"Pelankan nada bicaramu, Tuan yang terhormat." ucap Vania penuh penekanan dan setengah berbisik, matanya pun ikut melotot karena kesal.
Gio tersungging. "Penyamaran yang luar biasa." ejeknya kemudian.
"Diam!" Vania pun beranjak pergi dari sana, dia begitu marah dengan ucapan Gio barusan. "Hari-hariku sial jika bertemu dengan pria itu." gumamnya sambil berjalan cepat menjauh dari meja Gio.
.....
BERSAMBUNG