cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21
Pagi itu Aura datang lebih awal ke kelas. Ia memilih bangku dekat jendela, seperti biasanya. Ruangan masih setengah kosong, hanya beberapa mahasiswa yang sudah duduk sambil membuka laptop. Karena ia dan Harry memang satu kelas, tidak ada kemungkinan untuk benar-benar menghindar. Setiap pertemuan mata, setiap suara kursi yang digeser, selalu terasa lebih jelas dari yang seharusnya.
Beberapa menit kemudian Harry masuk.
Langkahnya tenang seperti biasa, tas selempang tergantung di bahunya. Ia tidak langsung duduk. Pandangannya menyapu ruangan sebentar, lalu berhenti tepat pada Aura. Bukan tatapan yang mencolok, tapi cukup untuk membuat Aura sadar bahwa ia diperhatikan.
Harry berjalan dan duduk di bangku sebelahnya.
Bukan terlalu dekat, masih ada satu kursi kosong di antara mereka. Namun tetap dalam jarak yang sama. Jarak yang dulu terasa nyaman, lalu sempat terasa canggung.
“Aku kira kamu bakal duduk di belakang,” ucap Aura pelan tanpa menoleh.
“Aku biasa duduk sini,” jawab Harry santai.
Benar. Sejak awal semester, mereka memang sering duduk berdekatan. Hanya saja setelah Aura meminta jarak beberapa waktu lalu, Harry sempat memilih bangku berbeda.
Dosen masuk. Kelas dimulai.
Aura mencoba fokus pada materi, mencatat poin-poin penting. Namun beberapa kali ia merasakan tatapan sekilas dari samping. Bukan mengganggu, hanya memastikan. Seolah Harry sedang mengecek apakah ia benar-benar baik-baik saja.
Saat dosen melempar pertanyaan, Aura terdiam. Biasanya ia cukup aktif. Tapi hari itu pikirannya sedikit terpecah.
Harry yang lebih dulu menjawab.
Penjelasannya jelas dan runtut. Dosen mengangguk puas.
Aura menoleh sebentar. “Kamu belajar duluan?”
“Enggak. Cuma baca sekilas.”
Jawabannya ringan, tapi Aura tahu Harry memang selalu memperhatikan.
Jam istirahat tiba. Beberapa mahasiswa keluar ruangan. Aura tetap duduk, menatap catatannya.
“Kamu masih capek?” tanya Harry pelan.
“Sedikit.”
“Kalau kamu belum kuat, jangan paksa diri.”
Aura menghela napas kecil. “Kamu nggak bosan ngingetin itu terus?”
Harry tersenyum tipis. “Enggak.”
Hening sejenak.
“Orang-orang ngomongin kita,” ucap Aura akhirnya.
Harry tidak terlihat terkejut. “Aku tahu.”
“Aku nggak suka jadi bahan cerita.”
“Kita nggak bisa kontrol itu.”
Aura menatap lurus ke depan. “Aku cuma pengen semuanya biasa.”
“Biasa menurut kamu itu nggak ada aku di samping kamu?”
Pertanyaan itu lembut, tapi langsung mengenai inti.
Aura terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Biasa itu nggak ada tekanan.”
Harry memikirkan kalimat itu. “Aku nggak pernah niat bikin kamu tertekan.”
“Aku tahu.”
“Tapi kalau keberadaanku bikin kamu nggak nyaman, aku bisa pindah duduk lagi.”
Aura menoleh cepat. “Kenapa kamu selalu siap pindah?”
Harry menatapnya tenang. “Karena aku lebih milih kamu nyaman daripada aku dekat.”
Jawaban itu membuat Aura kehilangan kata-kata.
Beberapa detik berlalu dalam diam yang tidak sepenuhnya canggung. Lebih seperti dua orang yang sedang sama-sama berpikir.
“Aku nggak minta kamu pindah,” kata Aura pelan.
Harry mengangguk kecil. “Oke.”
Bel masuk kembali berbunyi. Kelas berlanjut. Kali ini Aura mencoba benar-benar fokus. Tanpa sadar, saat dosen membagikan tugas kelompok spontan, nama mereka kembali disebut dalam kelompok yang sama seperti awal semester.
Aura dan Harry memang satu kelas. Sulit untuk terus berpura-pura tidak ada apa-apa ketika mereka harus bekerja berdampingan.
Sepulang kelas, mereka berjalan berdampingan keluar gedung. Tidak terlalu dekat, tapi tidak lagi berjarak.
“Aku nggak mau kamu berubah cuma karena omongan orang,” ucap Aura tiba-tiba.
Harry menoleh. “Aku juga nggak mau kamu berubah cuma karena takut.”
Langkah Aura melambat sedikit.
“Aku belum siap kasih jawaban,” katanya jujur.
“Aku nggak lagi minta jawaban.”
“Terus kamu ngapain?”
Harry berhenti sejenak sebelum menjawab, “Aku tetap di tempat yang sama. Kalau suatu hari kamu mutusin buat jalan ke arahku, aku ada. Kalau belum, aku tetap ada sebagai teman satu kelas kamu.”
Kalimat itu terasa lebih dewasa dari sebelumnya. Tidak menekan. Tidak mengikat.
Mereka sampai di depan gedung. Mahasiswa lain berlalu lalang di sekitar mereka. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada pengakuan.
Hanya dua orang dalam satu ruang yang sama, mencoba belajar bukan hanya tentang materi kuliah.
Tapi tentang bagaimana tetap dekat tanpa saling melukai.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini rumit, Aura tidak merasa ingin menjauh saat Harry berjalan di sampingnya.
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣