Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Seberang Meja Kebenaran
Lantai ruang sidang utama kembali menjadi saksi bisu pertemuan mereka. Namun, kali ini bukan urusan pribadi yang membawa mereka ke sini. Sebuah kasus pembunuhan berencana yang melibatkan seorang pengusaha muda—yang diklaim sebagai korban konspirasi—menjadi pusat perhatian publik.
Ara berdiri di sisi meja pembela. Mengenakan blazer hitam yang tajam, ia tampak sangat profesional. Fokusnya adalah membuktikan bahwa kliennya tidak berada di lokasi saat pembunuhan terjadi. Namun, ada satu batu sandungan besar yang menghalangi jalannya: laporan otopsi dari ahli forensik terbaik kepolisian.
"JPU silakan hadirkan saksi ahli Anda," ucap Hakim Ketua.
Pintu samping terbuka. Devan Altair Wren melangkah masuk dengan jas putih laboratorium yang tersampir di lengannya, memperlihatkan kemeja abu-abu yang pas di tubuh tegapnya. Ia tidak menoleh ke arah Ara. Matanya lurus ke depan, dingin dan presisi, kembali ke mode "Dokter Robot" yang dulu pernah Ara cintai sekaligus benci.
Konfrontasi di Mimbar Saksi
Setelah pengambilan sumpah, Devan mulai memaparkan temuannya dengan bahasa medis yang sangat teknis.
"Berdasarkan pola lebam mayat dan suhu rektal saat ditemukan, estimasi waktu kematian adalah pukul 22.15. Jejak DNA yang kami temukan di bawah kuku korban identik 99,9% dengan terdakwa," ujar Devan datar.
Ara berdiri, membenarkan posisi kacamatanya. Ia harus menyerang validitas data tersebut jika ingin menyelamatkan kliennya.
"Interupsi, Yang Mulia. Saya ingin mengajukan pertanyaan pada saksi ahli," Ara melangkah maju ke tengah ruangan, tepat di depan mimbar tempat Devan duduk.
Mata mereka bertemu. Ada kilatan memori yang lewat—pelukan terakhir enam bulan lalu—tapi Ara segera menepisnya. Ia harus bersikap profesional.
"Dokter Devan," suara Ara jernih dan tegas. "Anda menyebutkan estimasi waktu kematian pukul 22.15. Namun, apakah Anda mempertimbangkan faktor suhu ruangan yang saat itu berada di bawah 16 derajat Celsius karena AC yang menyala penuh? Bukankah itu bisa memperlambat proses algor mortis?"
Devan menatap Ara. Ia tertegun sejenak. Ara telah mempelajari anatomi forensik dengan sangat baik. "Benar, Pengacara Arabella. Namun, saya juga melakukan pemeriksaan pada cairan vitreous di mata korban. Kadar kalium di sana tidak bisa berbohong karena suhu ruangan."
"Tapi bukankah kontaminasi silang bisa terjadi di laboratorium?" Ara mengejar, suaranya naik satu oktav. "Laboratorium Anda menangani puluhan kasus minggu ini. Bagaimana Anda bisa menjamin tidak ada kesalahan manusiawi dalam penanganan sampel klien saya?"
Devan terdiam. Ia melihat kegigihan Ara. Ia tahu Ara sedang melakukan tugasnya, tapi ia juga tahu kebenaran medis yang ia pegang.
"Laboratorium saya mengikuti protokol internasional, Nyonya Arabella," jawab Devan, suaranya sedikit melunak saat menyebut namanya. "Saya menjamin keakuratannya dengan reputasi saya."
"Reputasi bukan berarti kesempurnaan, Dokter," balas Ara tajam. "Klien saya memiliki alibi yang kuat pada jam tersebut. Kesaksian Anda hari ini bukan hanya memberatkan, tapi berpotensi menghancurkan hidup orang yang tidak bersalah hanya karena angka-angka di atas kertas Anda."
Luka yang Kembali Terbuka
Sidang diskors untuk istirahat makan siang. Di kafetaria pengadilan yang ramai, Devan berdiri di dekat mesin kopi otomatis. Ia melihat Ara sedang duduk sendirian di sudut, memijat pelipisnya yang tampak lelah.
Devan mendekat, membawa secangkir kopi hitam tanpa gula. Ia meletakkannya di meja Ara tanpa suara.
Ara mendongak, sedikit terkejut. "Aku tidak memintamu membelikan kopi, Mas... maksudku, Dokter Devan."
"Kau terlihat pening," Devan duduk di kursi seberang. "Kau melakukan pekerjaan yang hebat di dalam sana. Kau hampir membuatku ragu pada temuanku sendiri."
Ara tersenyum pahit, menutup map berkasnya. "Aku hanya ingin keadilan, Devan. Sama seperti kau. Tapi keadilanmu sangat... hitam dan putih. Kau tidak melihat sisi manusia di balik DNA itu."
"Itu tugas forensik, Ara. Untuk menjadi suara bagi mereka yang sudah tidak bisa bicara. Aku tidak bisa mengubah fakta medis hanya karena aku ingin membantumu," Devan menatap Ara dengan tatapan yang sangat dalam. "Kau sangat bersinar di dalam sana. Jauh lebih hebat daripada saat kau hanya menungguku di rumah."
"Itu pujian yang menyakitkan, kau tahu?" Ara meminum kopinya sedikit. "Sangat ironis melihat kita sekarang. Dulu kita di satu rumah tapi tidak pernah bicara. Sekarang kita di seberang meja, saling menyerang, tapi justru merasa lebih... terhubung secara intelektual."
"Aku merindukanmu," bisik Devan tiba-tiba.
Langkah kaki terdengar mendekat. Alaska Jasper muncul dengan setelan jas mahal, wajahnya tampak tidak senang melihat Devan berada begitu dekat dengan Ara.
"Sidang sudah mau dimulai, Ra. Ayo," Alaska menarik kursi di samping Ara, seolah menandai wilayahnya. Ia menoleh ke Devan dengan senyum miring. "Berhenti mencoba mempengaruhinya, Devan. Kau saksi ahli, bukan konsultan asmara."
Devan berdiri, merapikan jasnya. "Aku hanya memberikan kopi, Alaska. Sampai jumpa di dalam, Pengacara Arabella. Aku akan tetap pada kesaksianku, karena kebenaran tidak punya perasaan."
Saat Devan berjalan pergi, Ara menatap punggung suaminya dengan perasaan yang berkecamuk. Ia tahu Devan tidak akan goyah, dan itu berarti ia harus mencari cara lain untuk memenangkan kasus ini, atau ia akan kalah oleh pria yang kini mulai ia cintai kembali dalam diam.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/