Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.30 Rencana serangan digital
Fajar di Lombok tidak pernah gagal menyajikan gradasi warna yang luar biasa, mulai dari jingga pekat hingga ungu keperakan. Namun, bagi Sekar, fajar kali ini terasa seperti garis pemisah antara kehidupan yang ia dambakan dan kenyataan yang terus mengejarnya.
Pantai Kuta yang biasanya tenang kini dipenuhi sisa-sisan pertempuran semalam. Pasir yang teraduk-aduk, aroma mesiu yang samar, dan bangkai helikopter yang tenggelam di kejauhan, hanya menyisakan ekor besi yang mencuat dari permukaan air seperti sirip hiu raksasa.
Warga desa masih berkumpul di sekitar dermaga. Pak Wayan, pria yang nyawanya diselamatkan Sekar beberapa hari lalu, berdiri dengan parang tersarung di pinggangnya.
Ia menatap ke arah laut dengan tatapan tajam seorang penjaga. Bagi para nelayan ini, Sekar bukan lagi orang asing dengan gelar dokter dari benua jauh. Dia adalah bagian dari napas desa mereka.
"Dokter Maria," Pak Wayan menghampiri saat Sekar turun dari bukit kapur bersama Arini. "Mereka tidak akan kembali dalam waktu dekat. Perahu motor mereka sudah menuju laut dalam. Tapi kami akan tetap berjaga di sepanjang teluk."
Sekar menggenggam tangan Pak Wayan, sebuah gerakan syukur yang tulus. "Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika Bapak dan warga tidak datang."
"Dokter sudah menyelamatkan nyawa saya tanpa meminta imbalan," sahut Pak Wayan dengan suara berat namun lembut. "Di sini, nyawa dibayar dengan nyawa. Itu hukum laut kami."
Di teras gubuk selancar yang kini setengah hancur, Alvin sedang duduk bersandar pada tiang kayu yang retak.
Ia sedang mencoba membalut rusuknya yang memar dengan kain perca. Wajahnya yang biasanya bersih kini dipenuhi goresan dan noda hitam asap. Saat Sekar mendekat, Alvin segera menyembunyikan rasa sakitnya di balik seringai tipis.
"Jangan menatapku seperti itu, Sekar. Aku tahu aku terlihat sangat seksi dengan gaya 'tentara kalah perang' ini, tapi tolong, fokuslah pada tugas medismu," gumam Alvin, suaranya sedikit tertahan karena nyeri di dadanya.
Sekar tidak membalas candaannya. Ia langsung berlutut di depan Alvin, membuka paksa kain perca itu dan menggantinya dengan perban medis yang benar dari tasnya. "Kau mengalami retak rusuk, Alvin. Jika kau terus bicara omong kosong, paru-parumu bisa tertusuk."
"Lebih baik paru-paruku tertusuk daripada harga diriku hancur karena terlihat lemah di depan anak kecil," Alvin melirik ke arah Arini yang sedang duduk tak jauh dari mereka, asyik menggambar sesuatu di pasir menggunakan sebatang kayu.
Sekar menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap Alvin dengan pandangan yang dalam, seolah-olah sedang membaca lembaran rahasia di balik mata pria itu.
"Kenapa kamu melakukan ini, Alvin? Kenapa kamu tidak lari saat suar pelacak itu menyala? Kamu punya banyak kesempatan untuk menghilang dan memulai hidup baru dengan uangmu yang tersisa."
Alvin terdiam. Seringainya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang jarang ia tunjukkan. Kejujuran yang Terasa nyata. Ia menatap ombak yang pecah di bibir pantai.
"Karena aku sudah lelah menjadi penonton, Sekar," bisik Alvin. "Selama sepuluh tahun, aku menonton bagaimana Rahman merusakmu, menonton bagaimana Wijaya menghancurkan Lukas, dan menonton bagaimana kamu menderita di penjara. Aku selalu berada di bayang-bayang, mengurus logistik, membersihkan jejak darah, tapi aku tidak pernah benar-benar... ada."
Ia menarik napas panjang, yang segera diikuti oleh ringisan kecil. "Di sini, di pantai berdebu ini, untuk pertama kalinya aku merasa menjadi bagian dari sesuatu yang nyata. Bukan sebagai pengatur siasat, tapi sebagai tameng. Dan rasanya... jauh lebih baik daripada menjadi kaya."
Sekar menyentuh tangan Alvin—tangan yang sama yang semalam bertarung di atas pasir. "Kau sudah lebih dari sekadar ada, Alvin. Kau adalah alasan Arini bisa menggambar pagi ini."
Arini bangkit dari pasir dan berlari menghampiri mereka. Ia menunjukkan gambar yang ia buat di buku sketsanya.
Di sana, ia menggambar sebuah pohon besar dengan akar yang sangat kuat yang memeluk sebuah rumah kecil. Di dahan pohon itu, ada dua ekor burung kecil yang hinggap.
"Pohon ini adalah Om Alvin," ujar Arini polos sambil menunjuk gambar itu. "Akar-akarnya menjaga rumah kita agar tidak terbawa air laut."
Alvin tersedak air kelapanya. Ia menatap Arini dengan wajah yang memerah. "Aku? Sebuah pohon? Tidakkah aku terlihat lebih seperti elang atau harimau?"
Arini menggeleng yakin. "Om Alvin itu pohon. Pohon tidak pergi ke mana-mana saat badai datang. Dia tetap di sana, meskipun daunnya rontok."
Sekar tertawa kecil, sebuah tawa yang sudah lama tidak terdengar begitu lepas. Ia menyadari bahwa Arini, dengan segala ketajaman instingnya sebagai produk tak sengaja dari serum Von Hess, memiliki kemampuan untuk melihat esensi seseorang jauh lebih jelas daripada orang dewasa.
Namun, tawa Sekar tidak bertahan lama. Ia menyadari bahwa meskipun mereka memenangkan pertempuran kecil ini, perang besar melawan Von Hess belum usai.
Pesan di ponsel satelit itu membuktikan bahwa keberadaan Arini adalah anomali yang akan terus diburu selama perusahaan itu masih berdiri.
Malam kembali turun di Lombok. Kali ini, warga desa menyalakan api unggun di sepanjang pantai sebagai bentuk kewaspadaan.
Sekar duduk sendirian di bangku kliniknya, sementara Arini dan Alvin sudah tertidur di dalam rumah—Alvin tertidur di sofa karena menolak untuk meninggalkan pintu depan.
Sekar mengeluarkan medali perak milik Arini. Ia memutarnya di bawah cahaya lampu minyak.
Tiba-tiba, suhu di ruangan itu turun beberapa derajat. Aroma cendana dan tembakau kembali menyapa, kali ini lebih pekat daripada biasanya.
Sekar tidak menoleh. Ia tahu siapa yang datang.
"Kau melihat semuanya, kan?" tanya Sekar pada udara kosong. "Kau melihat bagaimana pria yang kau anggap musuh bebuyutanmu itu justru menjadi satu-satunya yang menjaga putri kita."
Angin berhembus melalui jendela, membolak-balik halaman buku catatan Sekar.
“Berikan dia kesempatan,” sebuah bisikan tipis seolah merayap di telinga Sekar. Suaranya berat, serak, namun penuh kedamaian. Suara Rahman.
Sekar memejamkan mata. Ia merasa seolah sebuah beban yang ia bawa selama bertahun-tahun—beban kebencian terhadap Rahman dan rasa bersalah terhadap Lukas—perlahan-lahan luruh.
Rahman tidak lagi menuntut dendam. Rahman hanya ingin Arini hidup.
"Aku akan memberinya kesempatan," bisik Sekar. "Dan aku akan memberiku sendiri kesempatan juga."
Kehadiran itu perlahan memudar, meninggalkan rasa hangat yang menjalar di dada Sekar.
Ia menyadari bahwa untuk benar-benar mengalahkan Von Hess, ia tidak bisa hanya bertahan. Ia harus menyerang balik. Ia harus memastikan bahwa tidak akan ada lagi Lukas atau Arini di masa depan.
Keesokan paginya, Alvin sudah terbangun dan nampak sibuk dengan laptop satelitnya di teras. Ia terlihat jauh lebih segar, meskipun jalannya masih sedikit bungkuk.
"Kamu lagi apa?" tanya Sekar sambil membawakan kopi hitam untuknya.
"Aku sedang melakukan apa yang paling aku kuasai selain menjadi pohon," sahut Alvin tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku sedang meretas sistem logistik Von Hess. Jika mereka bisa melacak kita lewat satelit, maka aku bisa melacak aliran dana mereka."
Alvin mengetuk tombol Enter dengan keras. "Dan tebak apa, Dokter? Von Hess Pharma sedang dalam proses merger dengan konsorsium medis di Singapura. Mereka butuh Arini sebagai 'bukti sukses' untuk meningkatkan nilai saham mereka sebelum merger itu sah dua minggu lagi."
Sekar duduk di sampingnya, matanya menyipit tajam. "Dua minggu. Itu waktu yang singkat."
"Cukup singkat untuk membuat mereka bangkrut jika kita bisa mengirimkan data inhibitor Steiner ke publik tepat saat merger itu berlangsung," Alvin menoleh pada Sekar dengan senyuman licik yang sudah lama tidak ia lihat. "Tapi aku butuh kunci enkripsi yang hanya ada di laboratorium lama Steiner di Berlin. Laboratorium yang sudah hancur itu."
"Aku punya salinannya," ujar Sekar tiba-tiba.
Alvin tertegun. "Apa? Di mana?"
Sekar menyentuh kalung yang selalu ia pakai—kalung yang berisi pasir Alpen. "Aku tidak hanya menaruh pasir di sini, Alvin. Di dalamnya ada micro-SD yang dibungkus plastik kedap air. Steiner memberikannya padaku malam sebelum aku menyerahkan diri ke polisi. Dia bilang, ini adalah asuransi nyawaku."
Alvin menatap kalung itu seolah itu adalah bongkahan berlian terbesar di dunia. Ia tertawa pelan, sebuah tawa penuh kekaguman. "Sekar, Sekar... terkadang aku lupa kalau di balik wajah malaikatmu ini, kau adalah seorang konspirator yang hebat."
"Aku belajar dari yang terbaik, Alvin," sahut Sekar. "Pria yang berdiri di depanku sekarang."
Alvin berdehem, mencoba menyembunyikan rasa senangnya. "Baiklah. Kalau begitu, lupakan soal bersembunyi di gua. Kita punya waktu dua minggu untuk menyiapkan 'kado' paling beracun bagi Von Hess."
Rencana mulai disusun. Mereka tidak akan meninggalkan Lombok, namun mereka akan mengubah pulau ini menjadi benteng digital dan fisik. Alvin akan bekerja dengan data dari Sekar, sementara warga desa akan terus menjadi pelindung alami mereka.
Di tengah semua persiapan itu, Sekar menatap Arini yang kini sedang berlatih selancar di tepi pantai bersama anak-anak nelayan.
Arini tertawa lepas, rambutnya berkibar tertiup angin laut. Untuk pertama kalinya, Sekar merasa bahwa masa depan bukan lagi sebuah ancaman yang menakutkan, melainkan sebuah perjuangan yang layak dijalani.
Dendam Sekar telah bermutasi menjadi pelindung. Duka Sekar telah bermutasi menjadi kekuatan. Dan Alvin... Alvin telah bermutasi dari seorang pengamat yang sinis menjadi jantung dari keluarga kecil ini.
"Kita akan menyelesaikannya di sini, kan?" tanya Sekar.
Alvin menutup laptopnya, berdiri, dan menatap horison. "Kita akan menyelesaikannya di mana pun mereka mau. Tapi kali ini, mereka tidak akan hanya berhadapan dengan seorang dokter dan pengawalnya. Mereka akan berhadapan dengan sebuah keluarga yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dikorbankan."
Langit Lombok kembali berubah menjadi ungu, namun kali ini warna itu tidak lagi nampak seperti luka, melainkan seperti jubah kemenangan yang sedang menunggu untuk dikenakan.