Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. Bayangan dari balik tinta
Ketenangan di pesisir Lombok selatan adalah jenis kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan sisa aset keluarga Pratama sekalipun.
Namun, bagi Sekar, ketenangan itu adalah sebuah lapisan es tipis di atas danau yang dalam. Di permukaannya nampak tenang, namun di bawahnya, arus kebenaran masih terus bergolak.
Pagi itu, Sekar duduk di meja kayu jati di sudut kliniknya. Di depannya terdapat sebuah laptop dan tumpukan kertas yang berisi catatan medis, jurnal eksperimen Dr. Steiner, serta salinan dokumen persidangannya di Berlin.
Selama beberapa minggu terakhir, ia mulai menyusun sebuah memoar. Bukan untuk mencari simpati publik, melainkan sebagai upaya untuk memulihkan nama baik profesinya yang sempat dinodai oleh kebohongan Von Hess.
Ia ingin dunia tahu bahwa seorang dokter pernah dipaksa menjadi algojo, dan seorang ibu pernah dijadikan tawanan oleh keserakahan korporasi. Namun, setiap kali jemarinya mulai mengetik tentang "Proyek Kembar," ia selalu terhenti.
"Menulis adalah cara terbaik untuk membunuh hantu, Sekar. Tapi pastikan hantu itu tidak menarikmu ikut masuk ke dalam kertas," suara Alvin memecah keheningan.
Alvin berdiri di ambang pintu, membawa dua gelas jus jeruk segar. Ia memperhatikan raut wajah Sekar yang tegang. Ia berjalan mendekat dan meletakkan salah satu gelas di samping laptop Sekar.
"Aku bingung, Alvin," aku Sekar, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Jika aku mempublikasikan ini, aku bisa membersihkan namaku secara medis. Aku bisa kembali memiliki lisensi bedah internasional. Tapi... itu artinya aku harus menceritakan tentang Arini. Dunia akan tahu siapa dia. Para ilmuwan, wartawan, dan mungkin sisa-sisa pengikut Von Hess akan menganggapnya sebagai keajaiban yang harus diteliti lagi."
Alvin menyesap jusnya, matanya menatap tajam ke barisan kalimat di layar monitor. "Namamu sudah bersih di mataku, di mata Arini, dan di mata warga desa ini. Apakah pengakuan dari dunia yang pernah membuangmu itu lebih berharga daripada privasi anakmu?"
Sekar terdiam. Pertanyaan Alvin menghujam tepat ke jantung dilemanya.
"Aku hanya tidak ingin Arini hidup dalam bayang-bayang kebohongan selamanya," bisik Sekar. "Aku ingin dia bangga pada siapa dirinya, bukan karena dia adalah 'produk', tapi karena dia adalah penyintas."
Di ruang sebelah, Arini sedang sibuk dengan mikroskop sederhana yang dibelikan Alvin bulan lalu.
Di usianya yang masih sangat muda, Arini telah menunjukkan minat yang luar biasa pada dunia biologi.
Ia tidak hanya menggambar bunga. Ia membedah strukturnya, mengamati sel-sel daun di bawah lensa, dan mencatat pengamatannya di buku khusus.
"Ibu! Om Alvin! Lihat ini!" seru Arini penuh semangat.
Sekar dan Alvin bergegas menghampiri. Arini menunjuk ke arah slide mikroskop. "Sel dari tanaman lidah buaya ini... kalau aku beri sedikit air garam, mereka bergerak lebih lambat, tapi kalau aku beri sisa jus jeruk, mereka nampak lebih cerah. Kenapa ya, Bu?"
Sekar terpaku. Arini tidak hanya mengamati; ia sedang melakukan eksperimen dasar tentang reaksi seluler terhadap tingkat keasaman.
Ketajaman intelektual ini jauh melampaui anak-anak seusianya. Sekar menyadari bahwa meskipun mutasi Arini telah ditidurkan oleh stabilisator, kapasitas otaknya tetaplah luar biasa.
"Itu karena nutrisi, Arini. Sama seperti kamu yang butuh vitamin agar kuat," Sekar menjelaskan sambil mengelus bahu putrinya.
Alvin bersedekap, menatap Arini dengan ekspresi bangga yang bercampur dengan rasa waswas. "Hati-hati, Dokter. Kita mungkin sedang membesarkan calon peraih Nobel, atau... seseorang yang akan membedah kita saat kita tidur nanti."
Arini tertawa, matanya berbinar ceria. "Tenang saja, Om Pohon. Aku hanya akan membedah rasa sombong Om agar hilang sedikit!"
Alvin mendengus, namun ada senyum tulus yang tersungging di bibirnya. Sarkasmenya kini tidak lagi menjadi perisai untuk menjauhkan orang, melainkan bahasa cinta yang hanya dimengerti oleh keluarga kecil ini.
Ketenangan mereka terusik saat sebuah mobil jip putih dengan logo 'Press' di pintunya berhenti di depan klinik. Seorang pria dengan rompi banyak saku dan kamera DSLR yang tergantung di lehernya turun dengan langkah penuh percaya diri.
Alvin, yang secara naluriah selalu waspada, langsung berdiri di depan pintu. "Maaf, klinik hari ini hanya melayani keadaan darurat. Siapa Anda?"
Pria itu tersenyum ramah, namun ada kilat haus informasi di matanya. "Nama saya Bram. Saya jurnalis investigasi dari majalah nasional. Saya sedang mencari 'Dokter Maria'. Saya dengar ada seorang dokter dari Eropa yang melakukan keajaiban medis pada nelayan-nelayan di sini."
Sekar muncul dari balik punggung Alvin, wajahnya tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. "Saya Maria. Ada yang bisa saya bantu, Mas Bram?"
Bram menatap Sekar dengan intens, seolah mencoba mencocokkan wajah Sekar dengan foto-foto buronan internasional yang mungkin pernah ia pelajari. "Saya hanya tertarik dengan cerita pengabdian Anda. Tapi... profil Anda sangat sulit ditemukan di database IDI. Seolah-olah Anda muncul begitu saja dari udara."
"Itu karena saya lebih suka bekerja daripada mengurus administrasi," sahut Sekar dingin. "Jika Anda ingin meliput pengabdian, silakan bicara dengan warga desa. Tapi jika Anda mencari sensasi, Anda salah alamat."
Alvin melangkah maju satu tindak, auranya berubah menjadi intimidatif. "Bram, kan? Dengar, teman-teman jurnalis di Jakarta biasanya tahu kapan harus berhenti bertanya sebelum kamera mereka jatuh ke laut secara tidak sengaja. Kau mengerti maksudku?"
Bram nampak sedikit terkejut dengan nada suara Alvin. Ia mengenali gaya bicara pria di depannya—gaya bicara orang yang terbiasa memegang kekuasaan. "Tentu. Saya tidak bermaksud mengganggu. Hanya saja... cerita tentang Anda terlalu menarik untuk diabaikan, Dokter."
Setelah Bram pergi, suasana di klinik menjadi tegang. Alvin segera masuk ke ruangannya dan menyalakan laptop. "Dia bukan sekadar jurnalis, Sekar. Dia spesialis kasus-kasus 'orang hilang' dan pelarian politik. Seseorang di Jakarta atau Berlin pasti telah membocorkan keberadaan kita."
Malam itu, hujan turun dengan lebat, membilas debu di jalanan desa. Sekar kembali menatap draf memoarnya.
Ia menyadari bahwa mempublikasikan kebenaran sekarang sama saja dengan menyalakan suar di tengah kegelapan untuk para pemburu.
"Alvin, apa kita harus pindah lagi?" tanya Sekar lirih.
Alvin duduk di lantai, sedang membersihkan sisa-sisa alat selancar. Ia berhenti sejenak, menatap Sekar yang nampak rapuh di bawah cahaya lampu minyak. "Pindah ke mana, Sekar? Ke kutub utara? Ke bulan? Selama kau masih memegang kebenaran yang ditakuti dunia, mereka akan selalu mencarimu."
Alvin bangkit, mendekati Sekar, dan menutup laptop wanita itu. "Hapus memoar itu, Sekar. Setidaknya untuk saat ini."
"Tapi keadilannya, Alvin? Kebohongan Von Hess harus dibongkar secara total!"
"Keadilan terbaik untuk Arini adalah keselamatannya," sahut Alvin tegas. "Dunia tidak butuh pahlawan medis sekarang. Dunia hanya butuh seorang ibu yang bisa menjaga putrinya tumbuh tanpa harus merasa seperti monster di bawah mikroskop."
Sekar terisak. Ia menyadari bahwa egonya untuk membersihkan namanya hampir saja membahayakan surga kecil yang telah mereka bangun.
Ia meraih draf kertas di atas meja dan perlahan-lahan merobeknya menjadi potongan-potongan kecil. Setiap robekan terasa seperti melepaskan beban, namun juga melepaskan sebagian dari identitas masa lalunya.
"Kau benar," bisik Sekar. "Maria tidak butuh memoar. Maria hanya butuh melihat Arini sekolah besok pagi."
Alvin memeluk Sekar, sebuah pelukan yang kuat dan protektif. "Aku sudah mengurus si jurnalis itu. Besok dia akan mendapatkan 'berita' lain yang jauh lebih menarik di pulau sebelah, berkat sedikit koneksi dan uang yang tersisa. Dia tidak akan kembali lagi."
Di tengah suara hujan yang menghantam atap seng, Sekar merasakan kehadiran yang sangat tenang di sudut ruangan. Ia tidak melihat sosok Rahman, namun ia mencium aroma tanah basah dan tembakau yang sangat tipis. Kali ini, kehadiran itu tidak terasa seperti peringatan akan bahaya.
Ia seolah melihat bayangan Rahman yang sedang mengangguk setuju pada keputusannya untuk menghancurkan memoar tersebut.
Seolah Rahman berkata bahwa kebenaran terbesar tidak perlu ditulis di atas kertas, melainkan harus diukir dalam detak jantung anak mereka yang selamat.
Sekar tersenyum dalam pelukan Alvin. Ia menyadari bahwa hidupnya bukan lagi tentang memenangkan perdebatan di ruang sidang internasional atau di jurnal medis.
Hidupnya adalah tentang saat ini—tentang kehangatan napas Arini yang tertidur di kamar sebelah, dan tentang kekuatan pria yang memeluknya sekarang.
"Alvin," panggil Sekar.
"Hmm?"
"Terima kasih sudah menjadi 'pohon' yang paling menyebalkan sekaligus paling kuat di dunia."
Alvin tertawa kecil, mengecup kening Sekar. "Sama-sama, Dokter. Tapi ingat, besok kau harus membantuku di yayasan. Guru bahasa Inggris kita sedang sakit, dan aku tidak mau mengajar anak-anak itu dengan bahasa sarkasme level tinggi yang aku punya."
Sekar tertawa, dan untuk pertama kalinya, tawa itu terdengar tanpa beban masa lalu yang menggantung.