NovelToon NovelToon
Anomali Detik Ke-601

Anomali Detik Ke-601

Status: tamat
Genre:Action / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Mesin waktu

Tahun 2045 adalah sebuah ironi yang bernapas. Kota Jakarta yang dulu dikenal dengan kemacetan dan hujan yang menenangkan, kini telah berubah menjadi labirin baja dingin yang disebut "Chronopolis". Di sini, waktu bukan lagi sesuatu yang mengalir, melainkan mata uang yang paling berharga.

Arumi berdiri di tengah puing-puing Bundaran HI yang kini kering kerontang. Di sekelilingnya, gedung-gedung pencakar langit yang dilapisi panel surya hitam menjulang tinggi, menembus awan polusi yang pekat. Namun, yang paling mencolok adalah pemandangan di langit: Jam transparan raksasa yang merupakan manifestasi dari jiwa Kala kini menjadi satu-satunya sumber cahaya bagi dunia ini. Penduduk kota menyebutnya "The Eternal Dial".

"Berlutut!" sebuah suara parau memerintah dari balik bayangan reruntuhan.

Sekelompok pria dan wanita mengenakan jubah yang terbuat dari rangkaian kabel dan logam bekas mengepung Arumi dan Naya. Di dahi mereka terdapat tato berbentuk jarum jam yang sedang berputar. Mereka adalah Sekte Detik Terakhir, manusia-manusia yang selamat dari keruntuhan realitas dan kini memuja "Sistem" (Kala) sebagai Tuhan mereka.

"Siapa kalian?" Arumi bertanya, tangannya mendekap Naya dengan protektif.

"Kami adalah hamba dari Dia yang Menjaga Langit," ujar pemimpin mereka, seorang pria tua dengan satu mata mekanik yang berkedip merah. "Kamu datang dari Pintu Cahaya. Hanya mereka yang diberkati oleh Sang Mesias yang bisa menembus dinding waktu tanpa terbakar."

Pria itu melihat ke arah bahu Naya yang tertutup kain, namun segel emasnya memancarkan hawa panas yang sanggup melunakkan logam di sekitarnya. "Anak itu... dia memiliki detak jantung yang sama dengan Langit."

Seketika, seluruh anggota sekte itu bersujud di atas aspal yang retak. "Pewaris Waktu telah kembali! Nubuat itu benar!"

Arumi merasa ngeri. Ia tidak ingin Naya menjadi Tuhan bagi siapa pun. Ia hanya ingin putrinya bisa berlari di taman tanpa harus takut dikejar oleh entitas perak.

"Vera! Apa yang harus aku lakukan?" Arumi berbisik, berharap sisa-sisa partikel sahabatnya itu masih ada di sekitarnya.

Namun, yang menjawab bukan Vera. Jam saku digital di pergelangan tangan Arumi tiba-tiba mengeluarkan proyeksi hologram kecil. Bukan wajah manusia, melainkan rangkaian gelombang frekuensi yang membentuk suara Kala yang sangat berat dan lelah.

“Arumi... mereka tidak berbahaya, tapi mereka adalah umpan,” suara Kala bergema halus. “Dewan Realitas membiarkan sekte ini tumbuh untuk memancing kalian keluar. Di bawah kota ini, di dasar Jantung Chronopolis, mereka sedang membangun mesin 'Anti-Sistem' untuk menarikku jatuh dari langit.”

"Jadi kamu di sana, Kala?" Arumi mendongak ke langit, matanya berkaca-kaca menatap pendar cahaya biru yang merupakan suaminya.

“Aku adalah atmosfer ini, Sayang. Tapi aku mulai retak. Jika mereka berhasil menarikku jatuh, waktu di tahun 2045 akan membeku selamanya, dan semua manusia akan terjebak dalam satu detik penderitaan yang abadi.”

Tiba-tiba, suara dentuman keras mengguncang kota. Dari arah gedung pusat pemerintahan yang paling tinggi, sebuah sinar merah raksasa ditembakkan ke arah jam di langit. Jam itu bergetar. Cahaya birunya sedikit meredup, digantikan oleh warna jingga yang menyakitkan.

"Mereka mulai menarik Ayah!" teriak Naya. Anak itu tiba-tiba melepaskan pegangan tangan Arumi.

Tubuh Naya mulai melayang. Rambutnya berdiri karena energi statis yang luar biasa. Segel di bahunya pecah sepenuhnya, menampakkan sayap cahaya yang terbuat dari ribuan jarum jam kecil. Naya bukan lagi sekadar bayi atau anak kecil; di titik ini, ia adalah reaksi balik dari alam semesta.

"Naya, jangan!" Arumi mencoba meraih kaki putrinya, namun sebuah medan gaya menolaknya.

"Ibu... Ayah sedang kesakitan," suara Naya berubah, terdengar seperti perpaduan antara suara anak kecil dan suara kosmos yang agung. "Aku harus memberikan jarum jamku kepadanya."

Naya melesat ke arah sinar merah itu, menentang gravitasi, menuju jantung kekuatan Dewan Realitas yang kini bersembunyi di balik teknologi manusia masa depan.

Para anggota sekte berteriak histeris, menganggap ini sebagai kiamat yang dijanjikan. Namun Arumi tahu, ini adalah jebakan terakhir Dewan. Mereka ingin Naya menyatu dengan Kala, sehingga mereka bisa menghancurkan keduanya dalam satu ledakan besar dan memulai kembali penciptaan dari nol (The Great Reset).

"Kurator!" Arumi berteriak ke arah langit, tahu bahwa entitas itu pasti sedang menonton. "Ambil aku! Jangan mereka!"

Sesosok bayangan muncul di samping Arumi. Kurator, dalam wujud pria berjas hitam yang kini tampak lebih seperti iblis daripada birokrat, tersenyum dingin. "Sudah terlambat, Arumi. Cintamu yang menciptakan anomali ini, dan cintamu jugalah yang akan menghancurkannya. Lihatlah... mereka akan bersatu, dan BOOM... keheningan yang sempurna akan tercipta."

Arumi mengepalkan tinjunya. Ia teringat sesuatu. Sesuatu yang Vera katakan di Bab 3 tentang "Singularitas Biologis". Arumi adalah pusatnya. Arumi adalah alasan kenapa Kala mencuri waktu.

"Jika aku yang memulai ini," bisik Arumi pada dirinya sendiri, "Maka aku yang harus mengakhirinya."

Arumi merogoh saku jaketnya, menemukan pecahan kaca dari jam saku Kala yang ia simpan sejak di perpustakaan. Kaca itu masih menyimpan setetes darah Kala—darah dari masa lalu saat Kala masih manusia.

Ia menusukkan kaca itu ke telapak tangannya sendiri.

Paradoks Darah.

Darah masa depan Arumi bercampur dengan darah masa lalu Kala. Seketika, sebuah ledakan energi merah-biru menyembur dari tubuh Arumi. Ia tidak melayang seperti Naya, tapi ia menjadi jangkar. Ia menarik energi Naya dan energi Kala untuk kembali ke Bumi, kembali ke wujud manusia.

"APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak Kurator, wajahnya yang cermin mulai retak.

"Aku membatalkan keilahian mereka!" raung Arumi. "Kami tidak ingin menjadi Tuhan! Kami hanya ingin menjadi keluarga!"

Energi itu menarik Naya jatuh dari langit, dan menarik cahaya biru Kala turun ke permukaan bumi. Sinar merah dari gedung Dewan meledak karena kehilangan sasarannya. Kota Chronopolis berguncang hebat. Jam di langit pecah menjadi jutaan kepingan salju biru yang indah.

Di tengah debu dan reruntuhan, cahaya itu meredup.

Arumi tersengal-sengal, tangannya bersimbah darah. Di depannya, Naya terbaring pingsan, kembali menjadi anak kecil biasa. Dan di samping Naya, sesosok pria perlahan-lahan muncul dari tumpukan debu cahaya.

Kala.

Ia kembali memiliki wajah. Ia kembali memiliki napas. Ia memakai kemeja biru yang compang-camping, dan matanya menatap Arumi dengan kesadaran penuh seorang manusia.

"Arumi..." suaranya parau, nyata, dan penuh kehidupan.

Namun, kemenangan itu harus dibayar mahal. Langit tahun 2045 yang tadinya diterangi cahaya Kala, kini menjadi gelap gulita. Waktu di dunia itu mulai berjalan dengan sangat lambat. Oksigen mulai menipis karena mesin-mesin kota mati total.

"Kala, kita harus pergi dari tahun ini," Arumi memeluk suaminya.

"Tidak ada lagi tempat untuk pergi, Rum," Kala tersenyum lemah. "Aku sudah menghancurkan pintu-pintunya. Kita terjebak di sini."

Tiba-tiba, dari kegelapan kota yang mati, sebuah suara motor tua terdengar. Brum... brum...

Sebuah ojek motor dengan lampu kuning yang redup mendekat. Sopirnya adalah si Pria Tua dari Bab 2, tapi kali ini ia tampak transparan.

"Naiklah," ujar si pria tua. "Aku punya sisa bahan bakar untuk satu perjalanan terakhir. Bukan ke masa depan, bukan ke masa lalu."

"Lalu ke mana?" tanya Kala.

"Ke Masa Sekarang yang seharusnya. Tempat di mana detik ke-601 tidak pernah terjadi."

1
Marina Bunga
masyaallah, baru baca bagian depan udah kerennnnn😍
Samuel sifatori: Hiii kakk, makasih banget lohh😁☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!