NovelToon NovelToon
Gaze Of The Heart

Gaze Of The Heart

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:23.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏

Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#28

Udara pagi di lingkungan kampus masih terasa sejuk, sisa-sisa hujan semalam meninggalkan embun yang bergelayut di dedaunan hutan kota. Dayana melangkah pelan menuju gerbang utama asrama putri. Kepalanya masih sedikit pening, namun hatinya terasa jauh lebih ringan setelah percakapan singkat tengah malam tadi.

Di meja penjaga, sebuah tas kain berwarna krem telah menunggunya. Dayana membukanya dengan rasa penasaran yang membuncah. Di dalamnya terdapat sebuah termos kecil berisi sup ayam jahe yang masih mengepul hangat, sekotak kurma sukari, dan sebotol madu murni. Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah secarik kertas kecil yang diselipkan di sela-sela kotak obat.

“Madu ini untuk imun, supnya harus habis. Bunda bilang, anak sholehah tidak boleh telat makan. Cepat sembuh.”

Dayana menyentuh tulisan tangan yang rapi dan tegas itu. Ia tahu persis ini bukan tulisan tangan Bunda Ameera. Ini tulisan tangan Aydan. Aydan sengaja menggunakan nama Bundanya sebagai alasan, namun perhatian itu murni darinya. Dayana tersenyum lebar, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, mengalahkan rasa dingin akibat flu yang menyerangnya.

Sambil berjalan kembali ke kamarnya, Dayana meraih ponsel dan mengetik pesan singkat.

“Bilang sama Bunda Amy, paketnya sudah diterima. Enak banget supnya. Makasih ya, Ay.”

Di lapangan olahraga fakultas Teknik, Aydan sedang melakukan rutinitas jogging paginya. Kaus olahraganya sudah basah oleh keringat, memperlihatkan bahunya yang tegap. Saat ia sedang melakukan pendinginan di pinggir lapangan, ponselnya bergetar di dalam saku celana.

Ia membaca pesan dari Dayana. Sebuah senyum tipis yang sangat langka muncul di wajahnya yang biasanya kaku. Tanpa membuang waktu, jemarinya bergerak cepat membalas.

“Kata Bunda, sama-sama, Ay. Habiskan obatnya juga.”

Aydan memasukkan kembali ponselnya ke saku, merasa energinya pulih berkali-kali lipat hanya karena satu pesan singkat itu. Namun, ia tidak menyadari bahwa sejak tadi, ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan penuh selidik.

Dion, teman sekamar Aydan yang semalam terbangun karena getaran ponsel, tiba-tiba muncul dari arah belakang sambil menenteng botol minum. Ia sengaja mendekat dengan wajah jahil yang sudah tidak tahan ingin meledak.

"Cieelah, Aydan... senyum-senyum sendiri liat HP," goda Dion sambil menyenggol bahu Aydan.

"Manggilnya Ay-Ay gitu ya? Gue denger loh semalam. Iya Ay, jangan sakit Ay. Wah, parah sih. Gue kira Silent King kita ini hatinya terbuat dari baja dingin, ternyata ada Ayang-ayangan juga."

Aydan menghentikan gerakannya, berusaha kembali ke ekspresi datarnya yang biasa, namun rona merah tipis di telinganya tidak bisa berbohong.

"Dion, jangan berisik. Itu cuma... teman," jawab Aydan singkat, mencoba menghindar.

"Teman? Teman mana ada yang manggil Ay jam satu pagi dengan suara seromantis itu? Suara lo semalam tuh ya, Dan, kalau cewek lain yang denger pasti langsung pingsan," Dion tertawa terbahak-bahak, mengundang perhatian beberapa mahasiswa Teknik lainnya yang sedang pemanasan.

"Siapa sih, Dan? Anak mana? Sekampus atau satu komplek rumah lo?" tanya Dion semakin penasaran.

Aydan menarik napas panjang, menyadari bahwa menghindar dari Dion yang cerewet adalah hal yang mustahil. "Sekampus," jawabnya pelan.

"Wah! Serius? Anak Teknik juga? Atau anak Kedokteran?" cecar Dion lagi. "Kenapa nggak pernah gue liat lo jalan bareng? Masa cowok seganteng lo kalau punya cewek disembunyiin terus. Takut ditikung ya?"

Aydan meminum air mineralnya dengan tenang, lalu menatap Dion dengan pandangan yang serius namun teduh, tatapan yang sangat mirip dengan ayahnya, Liam, saat sedang memberikan prinsip hidup.

"Kenapa nggak pernah ketemu? Karena kami belum jadi suami istri, Dion. Gue nggak mau bawa dia jalan-jalan nggak jelas kalau belum ada ikatan yang sah," ucap Aydan dengan nada yang sangat tegas.

Tawa Dion dan teman-teman di sekitarnya mendadak berhenti. Mereka terdiam, mencerna kalimat Aydan yang terdengar sangat kolot bagi remaja masa kini, namun terasa sangat berkelas dan bermartabat. Di dunia di mana pacaran dan pamer kemesraan adalah hal biasa, Aydan berdiri dengan prinsip yang berbeda.

"Gila... lo beneran mau nunggu sampai akad baru mau jalan bareng?" tanya Dion dengan nada kagum yang tulus.

"Menjaga itu lebih sulit daripada memiliki, Yon," Aydan menepuk bahu Dion, lalu beranjak pergi meninggalkan lapangan. "Gue duluan, ada kelas Material Teknik."

Teman-temannya hanya bisa menatap punggung Aydan yang menjauh. Mereka selalu tahu Aydan adalah pribadi yang tertutup masalah privasi, namun hari ini mereka belajar satu hal baru, bahwa Aydan tidak sedang bermain-main. Ia sedang menjaga seorang wanita dengan cara yang paling terhormat yang pernah mereka dengar.

Sepanjang jalan menuju gedung kuliah, Aydan membayangkan Dayana sedang menikmati sup ayamnya di asrama putri. Ia tahu jarak gedung mereka yang jauh, kesibukan kuliah yang menyita waktu, dan prinsip tanpa pertemuan yang mereka jalani saat ini adalah ujian yang akan membuahkan hasil manis nantinya.

Bagi Aydan, Dayana bukan sekadar pacar yang bisa ia pamerkan di kantin. Dayana adalah amanah, seseorang yang hidayahnya harus ia jaga, dan seseorang yang masa depannya ingin ia tanggung sepenuhnya di bawah saksi Tuhan kelak.

Sementara itu, di asrama putri, Dayana menghirup sup jahe pemberian Aydan. Ia merasa sangat beruntung. Di saat mahasiswi lain sibuk galau karena pesan yang tidak dibalas atau pacar yang selingkuh, ia justru merasa sangat aman dicintai oleh pria seperti Aydan. Pria yang tidak memintanya bertemu di cafe remang-remang, tapi mengirimkan doa dan perhatian lewat nama Bundanya.

“Tunggu aku di garis finis yang halal ya, Ay,” bisik Dayana dalam hati sambil menatap Termos pemberian Aydan.

Masa kuliah ini mungkin masih panjang, jalan menuju masa depan mungkin masih berliku, namun bagi dua Ay ini, setiap detik penantian adalah bagian dari ibadah yang mereka bangun di atas fondasi kepercayaan yang tak tergoyahkan.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
apa aku yg salfok ya, perasaan waktu awal kehamilan Dayana pingsan usia kehamilan usia 6 minggu trs kok sudah melewati masa ngidam dan sampe sekarang kehamilannya masih tetap 6 minggu juga thor..ga bertambah.🤔🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Ameera mertua idaman dan untungnya ngidanya juga ga aneh² atau di luar nurul.. kadang kalau baca novel pemerannya lagi ngidam pengen aneh² suka/ekstreem suka kurang sreg kesannya berlebihan. 🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sudah ketebak daribawal Sarah nitipin tuh pil kb, hadeuuhh..🤦‍♀️
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kenapa ga jujur saja sama sahabatmu kalau kamu sudah menikah Aydan... itu lebih baik dari pada di rahasiain, biar kedepannya jaga dari fitnah.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Wow Aydan gercep.👏👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Didikan Liam Sama Ameera pada.Aydan TOP pokoknya mah.👍👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
selamat datang baby Aydan, pelengkap pertama untuk Liam Ameera..👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
👍👍👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
pak dokter sweet banget, suami idaman, teguh iman.👍👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sedikitnya ngerti agama tapi panggilan ke suami sebagai imam masih rumah tangga kok ga di terapkan thor.🙏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: sama² kak.🙏🙂
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kenapa Ameera masih manggil suaminya dengan nama saja thor rasanya kurang sreg di denger.🙏🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Mau shalat sunah kenapa ga kelihatan sudah wudhu belumnya thor tau² sudah gelar sajadah dan langsung shalat aja.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
akhirnya, doa kalian terkabul juga sama Author.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Waduuhhh... apa Liam sebenarnya sudah suka sama Ameera ya.. sampe ngeluarin kata² manisnya.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
semangat Ameera, pasti kamu bisa.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
menarik, moga aja selanjutnya tetap bagus.🤭👍
💗 AR Althafunisa 💗
Bernafas aja salah, itulah wanita. Ditambah lagi ngidam 😂
Retno Isusiloningtyas
apakah dokter Liam sdh kenal Ameera sebelumnya yaaa
Rahayu Ayu
Terima kasih kak Author 🙏🤍🤍
ros 🍂: makasih kembali kak 🥰
total 1 replies
Rahayu Ayu
Luar biasa 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!