Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Pulang Ke Desa
Asep dan Ziya kembali ke ruangan tempat Pak Arman berada.
“Ziya mau nikah sama Asep,” ungkapnya, membuat binar senang muncul di wajah Pak Arman, “tapi, dengan sayat, jika dalam satu tahun hubungan pernikahan Ziya dan Asep gak berhasil Papah akan biarin Ziya ngambil keputusan untuk hidup Ziya sendiri.”
Pak Arman terdiam sejenak, namun tak lama setelahnya dia pun mengangguk setuju.
“Dan satu lagi, gak boleh ada yang tahu soal pernikahan Ziya, termasuk teman-teman Ziya, kalau ada yang tanya kemana Ziya pergi bilang aja Ziya lagi liburan ke luar negeri,” sambungnya.
“Baiklah, Papah akan lakukan sesuai keinginan kamu.”
Malam harinya, pernikahan pun diadakan secara sederhana hanya ada saksi dan penghulu juga keluarga Ziya, sementara dari pihak Asep hanya dia seorang karena acaranya pun dadakan, namun dia sudah memberi tahu Pamannya dan temannya yang bernama Udin agar melaporkan tentang Pernikahannya kepada pengurus setempat.
“Bagaimana para saksi, Sah?”
“Sah!”
Dan lantunan doa pun menggema di ruangan besar itu, akhirnya Ziya dan Asep resmi menikah. Tak ada keluarga dan kerabat Asep yang hadir bahkan maskawin yang dia berikan pun benar-benar seadanya, berupa uang lima ratus ribu rupiah itupun uang yang ia siapkan untuk biaya akomodasi perjalanannya.
Pak Arman menepuk pundak Asep, dia bernapas lega karena beban hidupnya kini sudah separuh terangkat, dia yakin Asep mampu membawa Putrinya ke jalan yang benar.
“Neng, saya harus pulang besok, kalau Neng mau–,”
“Gue mau,” sambarnya.
“Mau apa Neng?”
“Mau ikut Lu lah, gak mungkin gue tetep tinggal disini setelah semua kejadian ini, lagi pula gue males liat muka bokap sama nyokap, sebel gue.”
“Ya udah kalau gitu. Tapi Neng yakin mau ikut saya, disana kampung loh bukan kota, mungkin Neng gak bakal betah.”
“Gue kesana bukan untuk tinggal selamanya, jadi semakin gue gak betah semakin bagus kan,” ujarnya.
“Ah iya, terserah Neng aja kalau gitu.”
***
Keesokan harinya. Ziya sudah duduk di dalam Mobil Pickup-nya Asep, dia bahkan tak ingin berpamitan pada kedua orang tuanya, tampaknya rasa kecewa dihatinya amat besar terhadap Pak Arman membuat gadis itu tak ingin repot-repot bicara dengan kedua orangtuanya.
“Sep, saya titip Ziya ya. Jika suatu hari dia membuat kesalahan yang gak bisa kamu maafin, tolong kembalikan saja Ziya kemari saya tidak akan bertanya alasan apa pun sama kamu, cukup kamu kembalikan saja Ziya sama saya,” ucap Pak Arman.
Asep hanya mengangguk sebagai jawaban, dia tidak tahu harus berkata apa pada Pria paruh baya yang kini telah menjadi Ayah mertuanya.
“Pak, Bu, kalau begitu saya permisi dulu, saya akan mengabari kalau sudah sampai,” ucap Asep.
“Iya Sep, hati-hati dijalan.”
Mobil pun melaju meninggalkan kediaman orang tua Ziya, semakin jauh bahkan kini sudah mulai meninggalkan Ibu Kota. Sedang Ziya, wanita itu hanya diam saja menatap kosong ramainya jalanan.
Namun lambat laun isakan pelan terdengar darinya, ternyata dia menangis sambil mendekap lututnya.
Asep menyodorkan kotak tisu yang ada di dashboard mobilnya tanpa bicara, dia membiarkan saja wanita yang kini menjadi Istrinya itu menangis menumpahkan perasaan kecewa dihatinya lewat air mata.
Jauh sudah mereka pergi, Asep menepikan mobilnya untuk beristirahat.
“Neng, mau saya belikan Teh atau kopi?”
“Gak usah, gue gak haus,” tolaknya masih dengan posisi yang sama.
Asep tak ingin bertanya lagi, dia pun keluar dan singgah di sebuah warung pinggir jalan.
“Kang kopi na hiji,” (Kang Kopinya satu) ucap Asep sambil duduk di bangku kayu yang tersedia di depan warung tersebut.
“Siap atuh Kang, mulih timana ie th?” ( Siap atuh Kang, pulang darimana ini teh?) tanya sang pemilik warung.
“Uih ngajajapkeun Sayuran Kang ti Jakarta,” (Pulang nganterin Sayuran Kang dari Jakarta) jawab Asep.
“Oh kitu Kang. Ari itu saha, naha henteu di ajak ngopi atuh?” (Oh gitu, kalau itu siapa kenapa gak di ajak ngopi atuh?) tanya si Akang ingin tahu.
“Ah itu mah cuma temen Kang, katanya gak laper, udah atuh mana kopi saya?” pungkas Asep dia tak ingin banyak bercerita pada tukang warung langganannya tiap ia istirahat di perjalanan.
“Ah masa cuma temen, sampe ikut kamu pulang atuh Kang,” dia terus saja memancing percakapan membuat Asep sedikit jengah.
“Bala-bala sama leupet nya lima Kang, Air dua botol sama Roti satu bungkus, jangan lupa ini kopinya di itung juga.”
“Mau kemana atuh Kang, biasanya juga nyantai dulu ngobrol dulu,” ucap sang pemilik warung, sepertinya dia tidak enak hati pada Asep karena perkataannya barusan.
“Lain kali aja ya Kang, saya lagi buru-buru juga soalnya. Makasih kopinya,” setelah membayar barang belanjaannya Asep pun kembali masuk kedalam Pickup-nya dan mulai melaju kembali di jalanan.
Asep memberikan sebotol air mineral dan satu bungkus roti itu pada Ziya, “makan dulu atuh Neng, biar nangisnya ada tenaga.”
Ziya hanya mendelik sebagai tanggapan, dia juga tak menyambut sama sekali makanan yang disodorkan Asep padanya.
“Kalau gak mau makan Airnya aja atuh diminum, biar gak dehidrasi,” sambungnya.
“Elu ngeledek gue Sep?”
“Ngeledek apa atuh Neng, nangis itu emang ngeluarin air kan, udah berapa jam loh Neng nangis gak berhenti-henti, itu tisu saya sampe habis.”
“Cih, cuma perkara tisu doang, gue bisa ganti berapa yang elu mau, satu pabrik gue bisa beli,” kesalnya, dia menyambar botol air mineral itu dari tangan Asep.
“Satu aja udah cukup atuh Neng. Udah jangan nangis terus, Dua jamaan lagi kita sampai entar kalau wajah Neng bengkak orang kampungnya nyangkanya Neng di apa-apain lagi sama saya.”
Ziya mendengus kasar kemudian meminum air pemberian Asep, dia menghabiskan hampir setengah dari isinya.
“Kampung loh jauh banget Sep, kayanya serem kalau bawa mobil sendirian malem-malem,” komentar Ziya, sambil melihat sekeliling.
“Lumayan lah Neng.”
Tiba-tiba mobil yang Asep kemudian pun berhenti, “kita udah sampe Sep?”
“Belum Neng, sebentar lagi.” Sahutnya.
“Terus, kenapa berhenti?” tanya Ziya, dia melihat sekeliling tak ada pemukiman warga disini hanya ada tebing curam dan hutan sepanjang mata memandang, ada juga air sungai yang begitu deras mengalir di bawah jalan yang tengah ia lewati.
“Kita harus ngantri Neng, jembatan penghubung nya cuma bisa dilewatin sama satu mobil.”
Hah? Ziya melongokkan kepanya keluar, barisan mobil dan motor mengantri di dekat sebuah jembatan yang separuhnya terendam air sungai dan ada beberapa orang pemandu di sana dengan tali tambang sebagai pegangan.
“Serius kamu kita lewat jembatan itu Sep?”
“Iya atuh Neng, cuma itu akses jalan satu-satunya di Desa ini.”
“Kalau kita kebawa arus gimana?”
“Gak bakal atuh Neng, mobil kan cukup berat gak mungkin sampe kebawa arus kalau airnya cuma segini.”
“Wah jadi airnya bisa lebih dari ini?”
“Iya Neng, itu ada tulisan batas air kalau lagi meluap.”
“Terus kalau airnya lagi meluap?”
“Ya kita gak bisa kemana-mana Neng, akses jalannya di tutup total.”
‘Wah gila, gue gak nyangka Desanya sepedalaman ini, kayanya gue salah ngambil keputusan dengan ikut si Asep kesini, ah sial.’ Ziya menyisir rambutnya kebelakang.
Biar si benalu cari duit sendiri
❤❤😍😍💪💪
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
ziya auto njerittt..
aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..
🤣🤣😄😍❤❤❤❤
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..
❤💪💪💪😍😍😄😄😄