NovelToon NovelToon
Suami Mafiaku

Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:CEO / Action / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. The Queen's Choice

Ledakan energi dari koper yang jatuh ke laut Macau menciptakan gelombang kejut yang memecahkan seluruh kaca di lantai puncak The Emerald Dragon. Cahaya biru yang menyilaukan itu perlahan memudar, membawa serta sosok Jennie Tua yang lenyap seperti debu yang tertiup angin.

Namun, harga yang harus dibayar sangatlah mahal.

Ingatan yang Terkikis

Di tengah reruntuhan ruangan, Jennie tergeletak tak sadarkan diri. Limario segera menghambur memeluknya. "Jennie! Bangun!"

Perlahan, Jennie membuka matanya. Ia menatap Limario dengan pandangan kosong. "Lim...?" suaranya parau. Ia memegangi kepalanya yang terasa seolah baru saja dihantam gada besi. "Kenapa kita ada di Macau? Dan... siapa wanita yang tadi berdiri di sana?"

Limario membeku. Jantungnya seakan berhenti detak. "Jennie, apa yang kau bicarakan? Itu tadi adalah dirimu... dari masa depan."

Jennie mengerutkan kening, mencoba menggali ingatannya. Ia ingat Arkano, ia ingat Kenzhi, tapi seluruh pengetahuannya tentang masa depan—kejadian-kejadian yang belum terjadi, strategi mengalahkan musuh yang belum muncul—telah terhapus bersih oleh ledakan paradoks itu. Ia kembali menjadi Jennie yang hanya hidup di masa sekarang.

"Aku... aku tidak ingat ada wanita lain," gumam Jennie lirih.

Kondisi Kenzhi dan Beban Kronos

Di sudut lain, Hans sedang memangku Kenzhi yang pingsan. Tangan gadis kecil itu masih mengeluarkan asap tipis, dan bekas luka hitam di pergelangan tangannya kini berubah warna menjadi perak permanen.

"Tuan, detak jantung Nona Muda sangat tidak stabil," lapor Hans dengan nada cemas yang jarang ia tunjukkan.

Limario tidak punya waktu untuk meratapi hilangnya ingatan Jennie. "Bawa dia ke helikopter! Kita kembali ke Indonesia sekarang!"

Sepanjang perjalanan pulang, Kenzhi mengigau dalam tidurnya. Ia menggumamkan rumus-rumus fisika dan koordinat waktu yang tidak dimengerti oleh siapa pun. Energi kronos yang ia serap dari mesin tadi telah mengubah struktur sarafnya. Kenzhi bukan lagi sekadar anak kecil yang cerdas; ia adalah "kamus hidup" dari Proyek Chronos yang tersisa di dunia ini.

Arkano: Penguasa Mansion yang Baru

Sementara itu, di Indonesia, suasana Mansion Vincentius pasca-penyerangan Vorg terlihat mencekam. Para staf rumah tangga dan penjaga yang tersisa menatap Arkano (4 tahun) dengan rasa takut yang tak tersembunyi.

Arkano berdiri di teras depan, di samping macan tutul hitamnya yang masih menjilati sisa darah di cakarnya. Anak itu tidak tampak terganggu sedikit pun oleh pemandangan mayat-mayat tentara bayaran yang sedang dievakuasi.

"Bersihkan semuanya," perintah Arkano pada kepala pelayan. Suaranya kecil namun memiliki otoritas yang membuat orang dewasa gemetar. "Aku tidak ingin Mummy melihat noda darah saat dia pulang."

Saat helikopter Limario mendarat di halaman, Arkano adalah orang pertama yang berlari menyambut. Namun, ia berhenti beberapa langkah di depan ibunya. Insting hewannya merasakan sesuatu yang berbeda dari Jennie.

"Mummy?" panggil Arkano ragu.

Jennie turun dari helikopter, langsung memeluk Arkano. Ia menangis bahagia, namun ada sesuatu yang hilang dalam tatapannya. Ia tidak lagi menatap Arkano dengan tatapan "waspada terhadap takdir" seperti biasanya. Ia menatapnya hanya sebagai seorang ibu biasa yang merindukan anaknya.

"Arka, anakku sayang... syukurlah kau baik-baik saja," ucap Jennie.

Arkano menatap ayahnya. "Daddy, ada apa dengan Mummy? Kenapa 'bau' pikirannya berubah?"

Limario hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. "Mummy lelah, Arka. Dia hanya... butuh istirahat."

Rahasia di Pergelangan Tangan Kenzhi

Dua hari kemudian, Kenzhi akhirnya terbangun di ruang medis bawah tanah. Ia melihat pergelangan tangannya yang kini memiliki garis perak bercahaya. Saat ia menyentuh garis itu, ia bisa melihat bayangan kejadian yang akan terjadi lima detik ke depan.

Kenzhi melihat perawat akan menjatuhkan nampan obat. Lima detik kemudian, nampan itu benar-benar jatuh.

"Ini bukan sihir," bisik Kenzhi pada dirinya sendiri. "Ini adalah sisa energi yang tertinggal."

Ia melihat ibunya masuk ke kamar. Kenzhi mencoba membaca pikiran atau masa depan ibunya, namun ia menemukan dinding kosong. Jennie benar-benar telah bersih dari beban masa depan.

"Mummy tidak ingat lagi, ya?" tanya Kenzhi saat Jennie duduk di sampingnya.

Jennie tersenyum lembut sambil mengelus rambut Kenzhi. "Ingat apa, Sayang? Mummy hanya ingat kita harus tetap bersama. Kenapa kau bicara aneh sekali?"

Kenzhi terdiam. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit: Sekarang, beban untuk melindungi keluarga Vincentius dari ancaman masa depan sepenuhnya berpindah ke pundaknya. Ibunya telah dibebaskan, tapi dia dan Arkano justru semakin terjerat dalam kutukan keistimewaan ini.

Pesan Terakhir Sang Arsitek

Malam itu, Limario menemukan sebuah surat di dalam saku jasnya yang ia pakai saat di Macau. Surat itu bukan dari Jennie Tua, melainkan dari "Sang Arsitek" yang asli—pihak ketiga yang selama ini mengadu domba kedua Jennie.

"Ingatan istrimu adalah bayaran yang adil untuk nyawa anak-anakmu. Tapi ingatlah, Limario... Kenzhi sekarang adalah 'Kunci' yang baru. Jika kau tidak bisa menyembunyikannya dari dunia, maka perang yang sebenarnya baru saja dimulai."

Limario meremas surat itu dan membakarnya. Ia menoleh ke arah jendela, melihat Kenzhi yang sedang berdiri di balkon, menatap langit malam dengan pandangan yang terlalu dingin untuk anak seusianya. Di bawahnya, Arkano duduk dikelilingi serigala-serigala penjaga.

"Kalian tidak akan pernah menyentuh mereka lagi," sumpah Limario.

....

Malam itu, Mansion Vincentius terasa seperti sebuah kerajaan yang baru saja memenangkan perang, namun kehilangan jiwanya. Cahaya bulan menyinari koridor marmer, memperlihatkan siluet Limario yang berdiri di depan pintu kamar Kenzhi.

Perjanjian Antara Ayah dan Putri

Limario masuk dengan langkah pelan. Ia menemukan Kenzhi sedang duduk di meja belajarnya, bukan sedang mengerjakan tugas sekolah, melainkan sedang menggambar skema mesin yang ia lihat di Macau hanya dari ingatannya.

"Kau seharusnya tidur, Kenzhi," ucap Limario lembut.

Kenzhi menoleh. Garis perak di pergelangan tangannya berpendar redup saat ia merasa gelisah. "Aku tidak bisa tidur, Daddy. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat ribuan kemungkinan tentang apa yang akan terjadi besok. Aku melihat Mummy yang lupa... dan aku melihat Daddy yang ketakutan."

Limario menghela napas, ia duduk di samping putrinya. "Mummy-mu tidak lupa padamu, Kenzhi. Dia hanya dibebaskan dari beban yang seharusnya tidak pernah ia pikul. Tapi kau..."

"Aku yang memikulnya sekarang," potong Kenzhi dengan nada datar. "Jangan beri tahu Mummy tentang apa yang bisa kulakukan. Biarkan dia percaya bahwa dunia ini aman. Biarkan dia menjadi bahagia."

Limario tertegun. Di usia 9 tahun, putrinya baru saja membuat kesepakatan untuk melindungi kewarasan ibunya dengan cara memikul rahasia gelap sendirian. "Baiklah. Itu akan menjadi rahasia kita berdua. Tapi kau tidak akan menanggungnya sendiri. Aku akan menjadi perisaimu."

Sementara itu, di lantai bawah, Jennie sedang menemani Arkano makan malam. Arkano (4 tahun) terus menatap ibunya dengan tatapan menyelidik. Ia merasa ada yang berbeda dari energi yang dipancarkan Jennie; tidak ada lagi kecemasan yang berlebihan, tidak ada lagi ketakutan akan kematian yang menghantui setiap pelukannya.

"Mummy," panggil Arkano sambil memainkan sendoknya. "Burung hantu di luar bilang... ada orang jahat yang masih mengawasi kita dari jauh. Tapi Mummy jangan takut, Arka sudah bilang pada mereka untuk mematuk mata siapa pun yang berani mendekat."

Jennie tertawa kecil, menganggap itu hanya imajinasi kanak-kanak putranya. "Arka sayang, kau terlalu banyak menonton film pahlawan. Tidak ada orang jahat di sini. Kita semua aman sekarang."

Arkano hanya tersenyum polos, namun di bawah meja, tangannya memberi isyarat pada seekor kucing hitam besar yang duduk di samping kakinya. Kucing itu segera melesat keluar jendela, menjalankan perintah tak kasat mata dari tuannya untuk berpatroli di perbatasan hutan.

Arkano tahu ibunya "berubah", dan ia memutuskan untuk menjadi garda terdepan agar ibunya tidak perlu lagi merasakan ketakutan seperti dulu.

Kebangkitan "The Silver Queen"

Keesokan paginya, Hans memberikan laporan kepada Limario di ruang bawah tanah. "Tuan, efek dari energi kronos pada Nona Kenzhi lebih dari sekadar penglihatan. Refleksnya meningkat 300% dan ia bisa memproses data sepuluh kali lebih cepat dari komputer keamanan kita."

Limario menatap layar yang menunjukkan Kenzhi sedang berlatih tanding dengan tiga instruktur bela diri sekaligus. Kenzhi bergerak seperti bayangan, seolah-olah ia sudah tahu ke mana lawan akan memukul sebelum mereka sempat menggerakkan otot.

"Dia bukan lagi anak-anak, Hans," gumam Limario. "Dia adalah perisai Vincentius yang sesungguhnya."

Namun, di tengah latihan, Kenzhi tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke arah kamera CCTV, seolah tahu ayahnya sedang menonton. Ia mengangkat pergelangan tangan peraknya dan berbisik tanpa suara yang terbaca lewat gerak bibir:

"Sang Arsitek ada di Swiss. Dan dia sedang menunggu kita."

Fajar Baru tiba

Jennie berdiri di balkon mansion, menghirup udara pagi dengan perasaan lega yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Ia merasa seolah sebuah beban berat telah diangkat dari bahunya. Ia tidak lagi dihantui oleh bayangan kematian di gudang tua atau pengkhianatan Reynard.

Ia berbalik saat melihat Limario, Kenzhi, dan Arkano berjalan bersama di taman. Ia melihat keluarga yang sempurna. Ia tidak tahu bahwa kesempurnaan itu dijaga oleh suaminya yang rela berbohong, putrinya yang bisa melihat masa depan, dan putra kecilnya yang mengendalikan alam liar di sekeliling mereka.

Jennie Ruby Jane telah mendapatkan "kehidupan normalnya", namun dengan harga: anak-anaknya telah menjadi penguasa baru di balik bayang-bayang.

1
Gustinur Arofah
sangat menakjubkan ceritanya, syukaa🤗🤗🤗🤗
Ratna Wati
Ini Ceritanya Masih Lanjut Ngga?
Rubyred
ceritanya menarik aku suka lanjut
Rubyred
cerita yang menarik dan bagus penuh intrik dan misterius
Umi Zein
mummy Kya mayat yg di awetkan. /Shy//Shy/mommy lebih baik panggilan nya/Chuckle//Smile/
Umi Zein
looh kan udh balik dr RS. kok Ruang VIP RS?!😂😂
Umi Zein
Kaka judulnya bisa bahasa Indonesia aja gak?!😭😭 soalnya aku syediih karna gak ngerti🤣🤣🤣
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan alurnya tidak bertele-tele, penulisan rapi jd enak bacanya🤗🤗🤗🤗
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan satset tanpa bertele-tele, jd setiap baca slalu deh degan dan tidak mudah di tebak alurnya🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!