Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lara sayang paman
Arka mulai menyadari satu hal yang tidak pernah ia rencanakan:
Keheningan di rumah itu kini terasa aneh jika tidak ada suara Lara.
Pagi hari yang biasanya sunyi kini dipenuhi langkah kecil yang berlari dari kamar ke ruang makan. Siang hari yang dulu terasa panjang kini selalu diakhiri dengan pertanyaan sederhana—Paman lagi ngapain?—dan malam hari hampir selalu ditutup dengan ketukan pelan di pintu kamarnya.
Seperti pagi itu.
Arka baru saja duduk di tepi ranjang, mengikat tali sepatunya, ketika pintu kamarnya terbuka tanpa izin.
“Paman!” seru Lara ceria.
Arka mendongak. “Ketuk dulu.”
Lara menatap pintu, lalu menatap Arka lagi. “Kan sudah kebuka.”
Arka mendecak pelan. “Keluar.”
“Tidak mau.”
“Kenapa?”
“Lara mau ikut Paman ke sekolah.”
Arka terdiam. “Tidak bisa.”
“Kenapa lagi?”
“Karena kau masih kecil.”
Lara mengerutkan hidung. “Tapi Lara bisa duduk manis.”
“Kau akan bosan.”
“Tidak.”
“Kau akan rewel.”
“Tidak.”
“Kau akan—”
“Paman tidak mau sama Lara,” potong Lara tiba-tiba.
Nada suaranya pelan. Terlalu pelan.
Arka berhenti bicara.
Ia menatap Lara yang kini berdiri di ambang pintu, tangannya memegang ujung baju tidur, matanya menunduk.
“Itu bukan maksudku,” kata Arka akhirnya.
Lara mendongak cepat. “Jadi Paman mau?”
Arka menghela napas panjang. “Tidak.”
Wajah Lara langsung jatuh.
Namun sebelum gadis kecil itu sempat berbalik, Arka menambahkan, “Tapi nanti sore, aku ajak kau beli es krim.”
Mata Lara langsung berbinar. “Janji?”
“Janji.”
Hari itu, Arka pergi ke sekolah dengan pikiran yang tidak sepenuhnya di kelas. Ia beberapa kali melirik jam, menghitung waktu, entah sejak kapan sore menjadi sesuatu yang ia tunggu.
Sementara itu, Lara menghabiskan harinya menunggu.
Ia duduk di ruang tamu, memeluk boneka kelincinya, sesekali berdiri di dekat jendela, berharap motor Arka sudah terlihat di ujung jalan.
“Paman pulang jam berapa?” tanyanya pada Mbak Sari, pengasuh rumah.
“Sore, Non.”
“Oh.”
Lara kembali duduk. Lima menit kemudian berdiri lagi.
Saat suara motor akhirnya terdengar, Lara berlari keluar tanpa alas kaki.
“Paman!” teriaknya.
Arka terkejut melihat Lara sudah berdiri di depan rumah. Ia turun dari motor dengan cepat.
“Masuk,” katanya. “Nanti jatuh.”
“Tapi Paman sudah pulang.”
Arka menghela napas, lalu mengacak pelan rambut Lara. “Ganti sepatunya dulu.”
Di perjalanan membeli es krim, Lara duduk di belakang Rafael seperti biasa. Tangannya melingkar di pinggang Arka, kepalanya bersandar di punggungnya.
“Paman,” panggil Lara.
“Apa?”
“Kalau Lara besar nanti, Lara boleh ikut Paman ke mana-mana?”
Arka diam sejenak. “Kau akan punya duniamu sendiri.”
“Dunia Lara sama Paman saja.”
Jawaban itu terlalu polos untuk disanggah.
Arka tidak menjawab.
Mereka duduk di bangku kecil di depan toko es krim. Lara memegang cone cokelatnya dengan hati-hati, menjilat pelan agar tidak tumpah.
“Paman mau?” Lara menyodorkan es krimnya.
Arka menggeleng. “Tidak.”
Lara mendekatkan lagi. “Satu aja.”
Arka akhirnya menggigit sedikit. “Sudah.”
Lara tersenyum puas.
“Paman baik,” katanya tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Karena Paman mau ajak Lara.”
Arka menatap ke depan. “Aku kan sudah janji.”
“Kalau gitu,” Lara mengangguk serius, “Lara juga mau janji.”
“Janji apa?”
“Lara akan selalu sama Paman.”
Arka menoleh, menatap wajah kecil itu.
“Jangan bilang begitu.”
“Kenapa?”
“Karena nanti kau akan lupa.”
Lara menggeleng kuat-kuat. “Tidak. Lara ingat.”
Ia menempelkan telapak tangannya ke dada Rafael. “Di sini.”
Arka membeku.
Sentuhan kecil itu ringan, tapi entah mengapa terasa berat.
Malamnya, seperti biasa, Lara mengetuk pintu kamar Arka sebelum tidur.
“Kau mau apa lagi?” tanya Arka.
Lara menyeret bantal kecilnya. “Cerita.”
“Tidak.”
“Sedikit saja paman ”
Arka mengalah. Ia duduk di tepi ranjang, sementara Lara naik dan berselonjor di sampingnya.
“Cerita apa?”
“Cerita tentang Paman.”
“Apa yang harus kuceritakan?”
“Terserah.”
Arka terdiam. Ia tidak pandai bercerita.
“Aku dulu tidak suka rumah ini,” katanya akhirnya. “Terlalu ramai.”
“Sekarang?”
“Sekarang… tidak terlalu.”
Lara tersenyum puas.
“Paman,” katanya mengantuk, “Lara sayang Paman.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa ragu, tanpa makna rumit.
Namun Arka menegang.
“Jangan bilang begitu sembarangan.”
“Kenapa?”
“Karena… karena kata itu penting.”
Lara berpikir sebentar. “Makanya Lara bilang ke Paman.”
Arka menatap langit-langit. “Tidurlah.”
“Paman belum jawab.”
“Jawab apa?”
“Paman sayang Lara tidak?”
Hening.
Arka tidak pernah menjawab pertanyaan seperti itu. Tidak pernah ditanya. Tidak pernah perlu.
Namun kini, mata bulat itu menatapnya penuh harap.
“Tidurlah,” ulang Arka.
Lara mendesah pelan, kecewa, lalu memejamkan mata.
Beberapa menit berlalu. Napas Lara mulai teratur.
Arka berdiri, hendak menurunkannya dari ranjang—namun tangan kecil itu mencengkeram bajunya.
“Paman jangan pergi,” gumam Lara.
Arka duduk kembali.
Ia menatap wajah Lara lama, terlalu lama untuk sekadar memastikan ia tidur.
Dengan suara sangat pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, Arka berkata,
“Aku tidak akan pergi.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak kematian orang tuanya, Arka tertidur dengan perasaan tidak sepenuhnya sendirian.