NovelToon NovelToon
Takhta Sang Ratu Mineral

Takhta Sang Ratu Mineral

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SERIGALA DI BALIK AMBULANS

Malam di Jakarta selalu menyimpan rahasia di balik debunya, namun malam ini, udara terasa lebih berat bagi Alya. Sesuai kesepakatan hukum dengan Saraswati, Alya akan dipindahkan dari rumah sakit menuju sebuah vila rehabilitasi medis yang lokasinya dirahasiakan—sebuah tempat yang seharusnya menjadi zona netral, jauh dari jangkauan Zhang Liang maupun ketiga sahabatnya.

Alya duduk di atas kursi roda, tangannya mendekap erat tas kecil berisi dokumen saham dari Liyun. Ia menolak dibantu oleh suster saat hendak berpindah ke ranjang ambulans.

"Saya bisa sendiri," ucap Alya pendek. Suaranya tidak lagi bergetar. Matanya yang dulu penuh ketakutan kini tampak seperti telaga tenang yang menyimpan badai di dasarnya.

Saraswati berdiri di sampingnya, memeriksa ponselnya dengan cemas. "Ambulans ini dikawal oleh tim keamanan independen saya, Alya. Tidak ada orang Zhang, Wei, atau Zhihao di sini. Kau aman."

Alya mengangguk. Namun, tepat saat pintu belakang ambulans ditutup, ia melihat kilatan lampu jauh dari sebuah mobil van hitam yang terparkir di pojok area parkir rumah sakit. Perasaannya tidak enak.

Ambulans melaju membelah jalanan tol Jakarta-Cikampek yang mulai sepi. Dua mobil pengawal mengikuti di depan dan belakang. Alya mencoba memejamkan mata, membelai perutnya yang sesekali berkedut. Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita akan bebas, bisiknya dalam hati.

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar. Ambulans berguncang hebat.

BRAKK!

Sebuah truk kontainer besar sengaja memotong jalur, menghantam mobil pengawal di depan hingga terpental ke pembatas jalan. Di belakang mereka, tiga motor besar bermesin tinggi segera mengepung ambulans, menembakkan gas air mata ke arah kaca depan pengemudi.

"Tiarap, Nyonya! Tiarap!" teriak paramedis di dalam ambulans.

Alya meringkuk di lantai ambulans. Jantungnya berpacu, namun ia tidak berteriak. Ia merogoh sakunya, menyalakan pelacak GPS yang diam-diam diberikan Liyun padanya.

Pintu belakang ambulans didobrak paksa dari luar menggunakan linggis. Asap putih masuk ke dalam kabin. Di tengah kepulan asap itu, muncullah sosok wanita dengan wajah yang sudah tak lagi menyerupai manusia—Chen Yiren. Rambutnya berantakan, dan di tangannya ia memegang sebuah alat kejut listrik.

"Halo, Gadis Desa. Kau pikir kau bisa pergi begitu saja dengan membawa harta keluarga Zhang?" desis Yiren.

"Yiren... kau sudah gila. Polisi akan menangkapmu!" ancam Alya, mencoba mundur ke sudut kabin.

"Polisi? Madam Liu Xian sudah membayar mereka untuk buta selama satu jam," Yiren tertawa nyaring. "Dokter Kelvin, cepat masuk! Kita lakukan di sini atau di gudang!"

Dr. Kelvin Huang muncul dengan wajah pucat, membawa tas medis berisi peralatan bedah darurat. "Yiren, ini terlalu berbahaya! Kondisinya belum siap untuk operasi paksa!"

"LAKUKAN! Ambil bayinya, dan biarkan wanita ini mati kehabisan darah! Itu perintah Nyonya Besar!"

Di saat maut seolah tinggal sejengkal, suara deru mesin helikopter terdengar sangat rendah di atas tol. Lampu sorot raksasa menyiram lokasi kejadian dengan cahaya putih yang membutakan.

Dari arah berlawanan, sebuah mobil sport mewah melompati pembatas jalan dengan kecepatan gila. Itu adalah Luo Cheng. Ia keluar dari mobil bahkan sebelum kendaraannya berhenti sempurna, memegang sebilah tongkat taktis.

"YIREN! JAUHKAN TANGAN KOTORMU DARI ALYA!" teriak Luo Cheng.

Di saat yang sama, semua layar di dalam ambulans—monitor jantung dan tablet paramedis—mendadak menyala dan menampilkan wajah Han Zhihao.

"Yiren, aku sudah mematikan seluruh sistem pelarianmu. Pengawal bayaranmu sudah dilumpuhkan oleh timku. Menyerahlah sebelum aku membocorkan video perselingkuhanmu dengan Dr. Kelvin ke publik," suara Zhihao menggema melalui speaker ambulans, dingin dan penuh perhitungan.

Yiren panik. Ia mengarahkan alat kejut listrik ke arah perut Alya. "Mundur! Atau aku bunuh anak-anak ini sekarang!"

"JANGAN!"

Sosok ketiga muncul. Zhang Liang berlari menembus asap, wajahnya penuh luka dan napasnya tersengal. Ia mengabaikan peringatan pengawal Yiren dan terus maju. "Yiren, lepaskan dia! Ini urusanku denganmu, jangan bawa anak-anakku!"

"Anak-anakmu? Kau bahkan tidak pernah mencintainya, Liang! Kau hanya mencintai rahimnya!" teriak Yiren histeris.

Di tengah kekacauan para pria yang berebut untuk "menyelamatkannya", Alya melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia tidak lagi menunggu diselamatkan.

Saat Yiren lengah karena berteriak pada Liang, Alya meraih tabung oksigen kecil di samping ranjang ambulans. Dengan tenaga yang ia kumpulkan dari seluruh rasa sakit dan penghinaannya selama ini, ia menghantamkan tabung baja itu tepat ke arah pergelangan tangan Yiren.

KRAKK!

Yiren menjerit kesakitan, alat kejut listriknya terjatuh. Alya tidak berhenti di situ. Ia menarik botol antiseptik cair dan menyiramkannya ke mata Yiren, membuatnya buta sesaat.

"Jangan pernah... sentuh anak-anakku lagi!" desis Alya. Ia berdiri dengan kaki gemetar, namun tangannya memegang pecahan kaca dari botol obat yang pecah. Ia menatap Liang, Wei Jun (yang baru saja tiba dengan tim medisnya), Luo Cheng, dan kamera Zhihao dengan tatapan yang sama.

"Mundur kalian semua! Mundur!" teriak Alya.

Liang terpaku. Ia melihat Alya yang berbeda. Bukan Alya yang memohon perlindungan di gang sempit, bukan Alya yang menangis di kamar sayap kiri.

"Alya, tenang... kami di sini untuk membantumu," ucap Wei Jun mencoba mendekat.

"Membantu? Kalian semua sama!" Alya menunjuk mereka satu per satu dengan pecahan kaca. "Mas Liang yang membeli saya, Wei Jun yang mengoleksi rumah saya, Zhihao yang memata-matai saya, dan Luo Cheng yang memperlakukan saya seperti barang sitaan! Kalian bukan pelindung! Kalian adalah alasan saya berada di ambulans ini sekarang!"

Alya menoleh ke arah Dr. Kelvin yang gemetar. "Dokter, ambilkan ponsel Yiren. Sekarang!"

Dr. Kelvin yang ketakutan segera menyerahkannya. Alya menekan tombol record.

"Yiren, katakan di depan mereka semua. Siapa yang memerintahkanmu membunuhku malam ini? Katakan, atau aku pastikan kau membusuk di penjara paling gelap!"

Yiren, yang mengerang kesakitan, akhirnya pecah. "Madam Liu Xian! Ibumu, Liang! Dia yang memberikan uangnya! Dia ingin darah murni Zhang tanpa ada ibu miskin sepertimu di samping mereka!"

Liang jatuh berlutut. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras dari peluru. Ibunya sendiri adalah otak di balik semua ini.

Alya menatap ambulans yang kini dikelilingi oleh empat pria paling berkuasa itu. Ia memegang ponsel berisi rekaman pengakuan Yiren.

"Mulai malam ini, saya tidak butuh kalian," ucap Alya tegas. Ia menatap Saraswati yang baru saja tiba dengan polisi asli. "Mbak Saras, bawa wanita ini dan dokter itu ke kantor polisi. Gunakan rekaman ini."

Alya kembali menatap Liang. "Mas Liang, jangan pernah cari saya lagi. Kontrak kita sudah bukan lagi tentang bayi, tapi tentang nyawa. Jika saya melihat salah satu dari kalian dalam jarak satu kilometer dari saya, rekaman ini dan seluruh dokumen 'Proyek Pewaris' akan saya kirim ke setiap stasiun TV di negara ini."

Alya masuk kembali ke dalam ambulans yang baru tiba—ambulans milik yayasan sosial independen yang ia hubungi secara rahasia melalui Liyun sebelumnya.

"Alya! Tunggu!" teriak Liang.

Alya tidak menoleh. Ambulans itu melaju pergi, meninggalkan empat "Naga" Jakarta yang kini hanya bisa saling menatap dalam kehampaan. Mereka memiliki segalanya—uang, kekuasaan, teknologi—namun mereka baru saja kehilangan satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli: jiwa Alya.

Di dalam ambulans, Alya mengelus perutnya. "Kita menang, Nak. Kita bebas."

Namun, di kegelapan malam, Han Zhihao menatap layar tabletnya. Pelacak yang ia tanam di tas Alya masih menyala. Ia tersenyum tipis. "Kau boleh lari dari mereka, Alya. Tapi kau tidak akan pernah bisa lari dari mataku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!