"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kompetisi perusahaan
Di depan layar komputer yang telah menyala, Nila duduk terpaku begitu fokus memeriksa pesan email untuknya.
Suasana cukup hening, seluruh karyawan tampak sibuk dengan tugas masing-masing.
"Karena kamu masih baru, sebulan ini kamu awasi dulu kerja senior dan pelajari semuanya." lugas suara pria dari sisi lain,
Dia berhenti ke samping meja Nila, membawa satu karyawan baru. "Bu Nila, ini karyawan baru yang tadi pagi saya omongin."
Nila menoleh ke samping, lidahnya kelu melihat adik sepupunya. Dia sempat berpikir, mungkin wajah mereka saja yang mirip tapi ternyata tidak? Itu benar-benar Raisa.
Pagi ini Herman sempat memanggil Nila dan mengabari kalau dia akan diberi tanggung jawab untuk metraining karyawan baru. Seperti dia dulu saat baru masuk kerja,
Tapi siapa sangka? "Raisa.." Nila bangkit dari duduk dengan kedua mata membulat.
"Kamu, kerja di sini?" gumamnya merendahkan suara, masih tak percaya.
Ada apa ini? Kenapa gadis itu bisa kebetulan diterima dan sekantor dengannya.
"Hai, kak. Mohon bantuannya.." sapa Raisa tersenyum.
"Kalau gitu kalian lanjutkan saja." pamit Herman melangkah pergi, menyerahkan semua tugas pada Nila.
"Pak Herman gimana sih?" menggerutu dalam hati, setelah kejadian kemarin seharusnya pria itu tahu hubungan mereka.
Tapi karena pembicaraan yang terjadi di rumah lama Nila, dan ancaman dari pamannya. Elang tak punya pilihan selain memasukkan Raisa,
Sepertinya Elang takut jika Nila sampai tahu tentang kecelakaan itu.
"Darimana dia tahu ada loker di sini?" benak Nila, meski berat hati dia harus tetap bersikap profesional.
Diambilnya sebuah map. "Hari ini, kamu pelajari dulu dokumen ini."
"Harus baca dulu? Kayak anak sekolah aja---kenapa ga langsung diajarin kakak?" jawab Raisa berceloteh, menatap remeh berkas yang disodorkan ke arahnya.
"Dijelasin langsung juga percuma. Kamu ga bakal ngerti, jadi baca dulu gausah ngeyel! Dan inget ya, kita ada di kantor. Di sini kamu harus manggil aku, Bu Nila." ketus Nila melempar kertas tadi ke atas meja milik Raisa, lalu kembali duduk.
Dengan tatapan sinis gadis itu menempatkan diri sembari meraih map di depannya. "Dih, lebay banget. Gitu aja ngomel-ngomel..."
"Baca semua ini? Banyak banget," rengek Raisa memandang lembaran kertas dipenuhi tinta. "Mending langsung ajarin deh--aku bakal paham kok!"
"Dibilangin ga usah ngeyel. Niat kerja apa ga sih?" lugas Nila mengernyit, tak menoleh karena sibuk mengetik papan keyboard.
"Lagian apa susahnya ngajarin? Aku tuh disuruh melihat sambil belajar. Bukan baca buku!" Raisa merasa kesal, menutup kasar map di tangannya.
"Aku ada kerjaan lain, aku masih harus beresin berkas buat kompetisi! Tenggatnya sore ini. Jadi baca dulu---nanti akanku ajari,"
"Kompetisi?" sontak Raisa mulai tertarik, "Apa aku bisa ikut?"
Nila terdiam, ucapan tadi berhasil membuatnya terkejut. Bagaimana bisa dia tanpa ragu bertanya hal bodoh semacam itu? "Kamu ga akan bisa."
"Lho, kok kakak meremehkan gitu. Aku ini sarjana, ga akan kalah sama kakak yang ga lulus kuliah!" amuknya merasa direndahkan.
"Hust! Kecilin suaramu. Ga usah bikin ribut," seru Nila dengan tatapan tajam.
"Kompetisi ini, cuma buat karyawan senior. Kamu baru masuk kerja mana bisa ikut.." tambahnya menjelaskan, tak ingin menambah masalah.
Bisa gawat kalau gadis itu tantrum membuat heboh seisi kantor, dan pastinya Nila yang harus bertanggung jawab sekaligus menanggung malu.
"Sial banget! Kenapa sih, dia harus kerja di sini?! Ngerepotin." gerutu Nila dalam hati,
Begitu juga Raisa, raut wajahnya terlihat merah padam. Nila pasti tak pernah menyangka kalau adiknya sudah memiliki niat jahat,
Dan benar saja, setelah pulang kerja. Gadis itu diam-diam kembali memastikan tidak ada siapapun disana,
Tampaknya sudah menunggu lama, dengan langkah kecil Raisa masuk ke dalam ruangan yang gelap gulita. Wajar sebab hari sudah malam, tidak ada karyawan lembur jadi lampu dibiarkan mati.
"Masa bodoh, sama peraturan. Pokoknya aku bakalan ikut kompetisi ini," gumam Raisa berdiri di depan komputer.
Sesekali dia melirik ke sekeliling lalu bergegas mengotak-atik papan keyboard. Tampak sibuk mencari folder yang berisi kumpulan berkas milik karyawan lain,
"Aku ambil aja berkas karyawan lain, terus tinggal diganti pake namaku." lugasnya menyeringai, mulai memeriksa satu-persatu.
Gadis itu berniat curang, ingin mengikuti kompetisi dari hasil curian desain produk yang menurutnya paling baik di antara peserta.
"Wow, aku ga nyangka, punya Kak Nila yang paling bagus." dibuat takjub,
"Mending aku pake punya Kak Nila----toh, kita saudara kan?" seru Raisa mengangkat alis, berhenti mencari.
"Memang seharusnya kakak bantu adek." jemarinya begitu cepat menyalin dokumen tadi lalu mencantumkan namanya.
"Oh ya, aku harus hapus dulu formulir pendaftaran kakak. Biar dia ga bisa ikut!"
Hari kompetisi pun tiba.
Semua orang terlihat begitu semangat melihat setiap hasil karya peserta yang dipajang dalam layar besar.
Kompetisi diadakan di hotel milik DaungGroup, puluhan layar 3D mengisi aula. Para peserta, penilai, juga karyawan lain diperbolehkan masuk untuk melihat-lihat.
Acara ini memang terbuka untuk umum,
"Punyaku dipajang dimana ya? Dari tadi ga ketemu," gumam Nila mencari namanya di setiap sisi yang telah dilewati.
Kompetisi selalu diadakan setahun sekali untuk menilai kinerja para karyawan senior. Mereka diharapkan ikut menunjukkan ide produk serta menyusun konsep dan desain semenarik mungkin,
Nantinya ide pemenanglah yang akan digunakan dalam meluncurkan produk baru, bahkan banyak pemenang berhasil naik jabatan karena prestasi tersebut.
"Wah, konsep yang menarik! Gambar desainnya juga bagus." seru seorang pria yang tengah bergerumbul.
"Iya, sangat bagus. Kayaknya aku udah bisa nentuin siapa pemenang kompetisi tahun ini," jawab yang lain.
Mereka berdua merupakan karyawan DaungGroup yang ikut melihat dan memeriahkan acara. Keduanya terlihat antusias melihat karya salah satu peserta,
Nila yang kebetulan berjalan juga mendengar pembicaraan tadi, dia tersenyum karena mengenali hasil siapa yang sedang mereka puji. "Ternyata dipajang disana.."
Kedua pria itu terlihat penasaran. "Siapa ya yang buat ? Mumpung disini, aku mau ketemu orangnya."