Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGIT BARU DI BANDUNG
Pagi itu, udara Bandung terasa segar sekali, seolah alam semesta ikut merestui lembaran baru yang sedang dibuka lebar-hari ini. Masjid Al-Ikhlas yang terletak di area komplek ruko Pak Haji Mansyur sudah dipenuhi bunga sedap malam yang aromanya menenangkan jiwa, menyebar ke setiap sudut ruangan yang sejuk. Tidak ada pesta pora mewah yang berlebihan atau dekorasi yang bikin silau mata, cuma ada deretan kursi kayu yang tertata rapi dan wajah-wajah tulus dari tetangga serta kerabat yang datang memberikan doa paling murni. Rangga duduk di depan meja akad dengan jantung yang berdegup kencang sekali, tapi kali ini bukan karena takut atau sedih seperti tahun-tahun lalu, melainkan karena rasa syukur yang meluap-luap sampai ke kerongkongan.
Di sampingnya, Syakira duduk dengan anggun dalam balutan kebaya putih bersih yang sangat bersahaja namun memancarkan aura kecantikan dari dalam. Wajahnya tertutup kain tipis transparan, tapi binar kebahagiaan dari matanya tidak bisa disembunyikan sama sekali. Saat tangan Rangga menjabat tangan Pak Haji Mansyur untuk mengucapkan ijab kabul, seluruh bayangan masa kelam di Jakarta—saat ia diusir di bawah guyuran hujan badai—seolah menguap terbawa angin pegunungan. Dengan satu napas yang mantap dan suara yang bergetar karena haru, Rangga mengucapkan janji sucinya. "Sah!" teriak para saksi dengan kompak. Seketika, air mata syukur jatuh membasahi pipi Rangga. Dia kini bukan lagi seorang duda yang terbuang dan dianggap sampah, tapi seorang suami dari wanita yang sangat mulia hatinya.
Beberapa bulan setelah hari bahagia itu, roda kehidupan Rangga melaju dengan kecepatan yang tidak pernah ia duga sebelumnya dalam mimpi paling liar sekalipun. Angkringan Berkah bukan lagi cuma gerobak kayu sederhana di teras ruko, tapi sudah menggurita menjadi tiga cabang besar di lokasi paling strategis di Bandung. Rangga mulai dikenal sebagai pengusaha kuliner sukses yang sering diundang ke berbagai acara untuk berbagi kisah inspiratif. Tapi, kesuksesan yang datang bertubi-tubi itu tidak bikin dia tinggi hati atau sombong. Dia tetap sosok Rangga yang ramah, yang masih sering turun tangan langsung membakar sate di sela kesibukannya mengelola manajemen kantor kecilnya.
Rinjani pun tumbuh menjadi sosok anak yang luar biasa ceria, jauh sekali dari bayang-bayang masa lalunya yang suram. Tidak ada lagi raut ketakutan atau trauma akan suara bentakan di wajah mungilnya yang kini tampak berisi dan sehat. Dia sering menjadi juara di kelasnya dan selalu bangga memamerkan pialanya pada Syakira. Hubungan mereka bukan lagi seperti ibu tiri dan anak yang kaku, tapi beneran seperti ibu kandung yang sudah terikat batin. Syakira memperlakukan Rinjani dengan kasih sayang yang tulus sekali, memberikan kehangatan yang dulu sempat hilang total dari hidup bocah itu saat Laras masih ada.
"Mama, lihat deh! Rinjani dapat nilai seratus lagi di pelajaran menggambar!" teriak bocah itu sambil memeluk pinggang Syakira erat-erat setiap kali pulang sekolah. Rangga yang menatap pemandangan itu dari kejauhan cuma bisa mengucap hamdalah berkali-kali dalam hati. Dia merasa Tuhan benar-benar telah mengganti setiap tetes air matanya dengan senyuman anaknya yang tak ternilai harganya.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga suatu malam yang tenang di rumah baru mereka yang terletak di dataran tinggi Bandung, menghadap langsung ke arah kerlip lampu kota. Rangga berdiri di balkon lantai dua, menikmati semilir angin pegunungan yang menusuk tulang tapi terasa menyejukkan batin. Di sampingnya, Syakira berdiri sambil pelan-pelan mengelus perutnya yang mulai membuncit. Dia sedang mengandung anak pertama mereka, buah cinta yang makin melengkapi kebahagiaan kecil yang mereka bangun di atas puing-puing masa lalu.
Lampu-lampu kota Bandung di bawah sana tampak seperti hamparan permata yang berserakan, indah sekali menembus kegelapan malam yang pekat. Rangga terdiam cukup lama, matanya menerawang jauh ke arah cakrawala, menembus batas waktu. Seketika, memorinya kembali ke malam jahanam di terminal Jakarta beberapa tahun lalu. Dia ingat betul rasanya menggigil kedinginan di pojok peron sambil memeluk satu tas baju yang sudah basah kuyup. Dia ingat betapa perih hatinya saat Laras menelepon pria lain di depannya, lalu melemparkan koper pecah itu ke arahnya sambil meludah dan memaki kalau dia adalah beban hidup.
"Mas... kok melamun lagi sih? Mikirin apa hayo? Jangan jauh-jauh dong pikirannya," suara lembut Syakira membuyarkan lamunan Rangga yang sempat menggelap.
Rangga menoleh, lalu merangkul pundak istrinya dengan penuh kasih, seolah takut wanita ini akan menghilang. "Nggak apa-apa, Dek. Cuma lagi teringat masa lalu saja. Dulu, Mas pikir hidup Mas sudah berakhir pas diusir Laras dari apartemen itu. Mas merasa jadi pria paling gagal, nggak berguna, dan paling hina di dunia ini. Tapi sekarang, menatap kamu di sini, menatap Rinjani yang tidur nyenyak di kamarnya yang bagus... Mas baru sadar sesuatu yang besar sekali."
"Sadar soal apa sih, Mas?" tanya Syakira sambil menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Rangga, menikmati aroma tubuh suaminya yang selalu menenangkan.
"Sadar kalau setiap luka yang Mas dapatkan dulu, ternyata cuma cara Tuhan buat memandu Mas menuju tempat yang lebih baik ini. Kalau dulu Laras nggak mengusir Mas secara kejam, mungkin Mas nggak akan pernah punya keberanian buat pulang ke Bandung. Mas nggak akan pernah ketemu Pak Haji, nggak akan pernah punya keberanian buka angkringan sendiri, dan yang paling utama... Mas nggak akan pernah ketemu kamu," ujar Rangga dengan suara yang berat dan sedikit bergetar karena emosi yang tertahan.
Rangga menghela napas panjang, bayangan wajah Laras yang kuyu dan kurus kering di rumah sakit sebelum ajal menjemputnya sempat melintas sekilas. Ada rasa sedih yang menyayat hati saat dia mengingat bagaimana wanita itu menghancurkan hidupnya sendiri demi ambisi harta yang ternyata semu. "Dulu Mas benci sekali sama Laras, Dek. Mas dendam sampai ke tulang. Tapi sekarang, Mas justru ingin berterima kasih sama jalan hidup yang dia buat. Karena pengkhianatannya, Mas jadi tahu apa artinya perjuangan yang sebenarnya. Karena kekejamannya, Mas jadi bisa sangat menghargai ketulusan yang kamu kasih sekarang."
Syakira menggenggam tangan Rangga erat-erat, seolah ingin menyalurkan seluruh dukungan dan cintanya. "Gusti Allah itu adil sekali ya, Mas. Dia ambil apa yang memang bukan milik kita dan mungkin bakal menyakiti kita, lalu Dia ganti dengan yang jauh lebih indah pas kita sudah dianggap kuat buat menjaganya. Mas pantas mendapatkan semua ini karena Mas itu orang yang sabar sekali deh."
"Iya, Dek. Ternyata langit di Bandung memang beda ya. Di sini, Mas beneran bisa bernapas lega tanpa perlu merasa rendah diri lagi. Nggak ada lagi yang bakal memaki Mas karena Mas cuma jualan sate," sahut Rangga sambil mengecup kening Syakira lama sekali, menghirup aroma ketulusan yang selama ini ia cari.
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,