Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Kontrak di Ujung Maut
RS Medika, Jakarta – 02:00 WIB.
Dinding rumah sakit yang berwarna putih pucat seolah mulai menghimpit Aruna Salsabila. Bau antiseptik yang tajam merasuki rongga dadanya, meninggalkan rasa sesak yang tak kunjung hilang. Di lorong yang sunyi ini, hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti suara palu hakim yang siap mengetuk vonis mati.
Aruna, gadis berusia dua puluh satu tahun yang seharusnya sedang sibuk mengejar gelar Bioteknologi, kini duduk meringkuk di kursi besi yang dingin. Pakaiannya—sebuah kemeja flanel kusam dan celana jins yang mulai luntur warnanya—tampak berantakan. Rambut hitam panjangnya yang biasanya diikat rapi, kini terurai kusut, menutupi wajahnya yang pucat pasi karena tidak tidur selama tiga hari.
Di tangannya yang gemetar, ia menggenggam selembar kertas tagihan rumah sakit. Kertas itu sudah lembap terkena keringat dingin dan air mata yang tak henti-hentinya menetes.
TOTAL TAGIHAN: Rp1.250.000.000,-
Angka itu tampak seperti monster yang siap menelan hidupnya bulat-bulat.
"Nona Aruna Salsabila?"
Suara berat dan datar itu membuat Aruna tersentak. Suster kepala rumah sakit, seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung, berdiri di depannya. Tatapannya tidak mengandung simpati; hanya ada kepatuhan pada prosedur medis yang kaku.
"I-iya, Suster?" suara Aruna parau, nyaris hilang di tenggorokannya yang kering.
"Pihak administrasi sudah memberikan peringatan terakhir. Jika deposit minimal satu miliar rupiah tidak masuk ke rekening rumah sakit sebelum pukul enam pagi, kami dengan berat hati harus menghentikan seluruh mesin pendukung hidup Nyonya Sari Salsabila. Kamar ICU harus segera dikosongkan untuk pasien lain yang mampu membayar."
Aruna merasa dunianya runtuh seketika. Ia jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin, tepat di depan kaki suster itu. "Saya mohon, Suster... jangan matikan mesinnya. Ibu saya masih berjuang. Ayah saya baru saja meninggal dalam kecelakaan itu... saya tidak punya siapa-siapa lagi selain Ibu. Saya akan mencari uangnya, saya akan meminjam, saya akan menjual ginjal saya jika perlu!"
Suster itu menghela napas, sedikit menjauhkan kakinya. "Satu miliar bukan jumlah yang bisa didapat dengan menjual ginjal di pasar gelap, Nona. Dan waktu Anda hanya tersisa empat jam sebelum matahari terbit. Keputusan ada di tangan direksi, bukan saya."
Setelah suster itu pergi, Aruna hanya bisa menangis dalam diam. Isaknya tertahan di dada, menciptakan rasa sakit fisik yang nyata. Ia menatap ke arah jendela besar di ujung koridor. Di luar sana, Jakarta tampak gelap, acuh tak acuh pada nasib seorang gadis miskin yang sedang berada di ambang kehancuran.
Tiba-tiba, suasana di koridor itu berubah secara drastis. Suara kebisingan rumah sakit yang biasanya terdiri dari suara roda brankar dan bisikan perawat, tiba-tiba lenyap, digantikan oleh suara derap langkah sepatu bot yang berat dan teratur.
Tak. Tak. Tak.
Derap langkah itu terdengar seperti barisan militer. Aruna mendongak dan matanya membelalak. Di ujung koridor, sekelompok pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam yang sangat rapi berjalan masuk. Mereka tidak terlihat seperti pengunjung biasa; mereka memancarkan aura bahaya yang membuat para petugas rumah sakit menyingkir dengan wajah pucat.
Dan di tengah-tengah mereka, berdirilah dia.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu arang bespoke yang membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna. Tinggi badannya yang mencolok membuatnya tampak mendominasi ruangan. Wajahnya adalah perpaduan antara keindahan yang dingin dan kekejaman yang nyata. Rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan bibirnya tipis tanpa senyum.
Namun, yang paling mengerikan sekaligus mempesona adalah matanya. Sepasang mata berwarna abu-abu baja yang tidak memiliki emosi, menatap dunia seolah segalanya adalah miliknya untuk dihancurkan atau diselamatkan.
Dante melangkah perlahan, namun setiap langkahnya seolah meninggalkan jejak otoritas yang tak terbantahkan. Di tangannya yang kokoh, ia menggendong seorang bayi kecil yang dibalut dalam kain sutra putih yang sangat mahal. Bayi itu diam, tidak menangis, namun kulitnya tampak sangat pucat, hampir transparan.
Dante berhenti tepat di depan Aruna yang masih terduduk di lantai. Bayangan pria itu menyelimuti tubuh kecil Aruna, membuatnya merasa seolah sedang berada di bawah naungan awan badai.
Aroma parfum pria itu—campuran antara kayu cendana, tembakau mahal, dan aroma dingin pegunungan—memenuhi indra penciuman Aruna.
"Aruna Salsabila," suara Dante rendah, berat, dan memiliki vibrasi yang sanggup menggetarkan tulang belakang Aruna.
Aruna menelan ludah, ia mencoba berdiri namun kakinya terasa seperti jeli. "Siapa... siapa Anda?"
Dante tidak menjawab pertanyaan itu. Ia tidak merasa perlu memperkenalkan dirinya pada orang yang sedang berada di dasar jurang. Ia memberi isyarat kecil pada asistennya, seorang pria bernama Marco.
Marco melangkah maju dan meletakkan sebuah koper hitam besar di atas kursi besi di samping Aruna. Saat koper itu dibuka, Aruna nyaris tidak bisa bernapas. Di dalamnya, tumpukan uang kertas seratus ribu rupiah tersusun sangat rapi hingga penuh.
"Satu miliar rupiah. Tunai," ujar Dante dingin. "Aku sudah membayar seluruh tagihan rumah sakit ibumu untuk satu tahun ke depan, lengkap dengan biaya dokter spesialis terbaik dari Singapura yang akan tiba dua jam lagi."
Aruna menatap uang itu, lalu menatap Dante dengan pandangan bingung sekaligus takut. "Kenapa? Anda bahkan tidak mengenal saya. Apa yang Anda inginkan?"
Dante sedikit merendahkan tubuhnya, hingga wajahnya yang sempurna berada sejajar dengan wajah Aruna. Matanya mengunci mata Aruna dengan intensitas yang seolah bisa menembus ke dalam jiwanya.
"Putraku, Leonardo, lahir prematur dengan kelainan sistem kekebalan tubuh yang langka. Dia menolak semua jenis nutrisi buatan. Dokter bilang, dia hanya bisa bertahan jika mendapatkan nutrisi dari wanita dengan profil biometrik enzim tertentu yang sangat langka. Dan kau, Aruna... adalah satu-satunya di kota ini yang memilikinya."
Pandangan Dante beralih sejenak ke arah dada Aruna, sebuah tatapan yang bukan berisi nafsu, melainkan penilaian objektif terhadap sebuah aset yang sangat berharga.
"Aku tidak membelimu untuk tidur denganku. Aku membelimu untuk menjadi sumber kehidupan bagi anakku. Kau akan tinggal di mansionku, menyerahkan seluruh kebebasanmu, dan memberikan setiap tetes air susumu hanya untuk Leonardo. Kau tidak boleh keluar tanpa izin, tidak boleh menghubungi dunia luar, dan kau akan menjadi milik keluarga Valerius sepenuhnya."
Aruna terpaku. Ia adalah mahasiswi bioteknologi, ia mengerti apa yang dibicarakan pria ini. Hiperlaktasi yang ia alami sejak remaja, yang ia anggap sebagai kelainan memalukan, ternyata adalah emas di mata pria ini.
"Ini... ini penculikan berkedok bantuan," bisik Aruna parau.
Dante berdiri tegak kembali, menatap jam tangan berliannya dengan acuh tak acuh. "Sebut itu apa pun yang kau mau. Tapi jam menunjukkan pukul 02:15. Dalam tiga jam, matahari akan terbit. Kau bisa memilih untuk memegang harga dirimu dan melihat ibumu dibawa ke kamar jenazah, atau kau bisa menyerahkan hidupmu padaku dan melihat ibumu bangun esok pagi."
Dante mulai berbalik, jubah panjangnya berkibar saat ia melangkah pergi bersama para pengawalnya.
"Tunggu!" teriak Aruna. Suaranya bergema di lorong sepi itu.
Dante berhenti, namun ia tidak berbalik. Ia hanya berdiri diam, menunggu mangsanya menyerah.
"Aku... aku akan melakukannya," Aruna terisak, bahunya berguncang hebat. "Ambil hidupku. Jadikan aku apa pun yang Anda mau. Tapi selamatkan Ibu saya... saya mohon."
Dante menoleh sedikit melalui bahunya. Sebuah senyuman tipis—senyuman sang pemenang yang sangat kejam—muncul di sudut bibirnya.
"Pilihan yang tepat, Aruna. Marco, bawa dia. Dan pastikan dia tidak membawa apa pun dari masa lalunya. Mulai detik ini, Aruna Salsabila sudah mati. Yang ada hanyalah aset milik Valerius."
Aruna melihat Marco mendekat dan memegang lengannya dengan kuat. Saat ia diseret menuju pintu keluar rumah sakit, Aruna menatap ruang ICU ibunya untuk terakhir kali. Ia telah menyelamatkan ibunya, namun ia tahu, di depan sana, sebuah penjara berlapis emas telah menunggunya. Ia telah menjual jiwanya kepada sang Iblis dari Jakarta demi satu napas untuk ibunya.
Lampu limosin hitam di luar sana menyala, menelan sosok Aruna ke dalam kegelapan yang penuh dengan misteri dan penderitaan yang baru saja dimulai.