Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Sangkar Emas dan Peraturan Sang Iblis
Malam di mansion Valerius tidak pernah benar-benar sunyi. Di balik kemegahan dinding marmer dan pilar-pilar Gotik yang menjulang, ada ketegangan yang berdenyut seperti detak jantung yang tidak stabil. Aruna duduk di tepi tempat tidur berukuran king size di sebuah kamar yang lebih luas dari seluruh apartemen kecilnya dulu. Kamar ini beraroma melati dan kayu ek, namun bagi Aruna, ini tetaplah sebuah sel penjara.
Setelah momen intens di kamar bayi tadi, Dante meninggalkannya begitu saja tanpa sepatah kata pun, hanya menyisakan tatapan yang seolah menguliti harga dirinya. Aruna menatap tangannya yang masih sedikit gemetar. Bayi itu—yang ia ketahui bernama Leonardo—telah tertidur lelap setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan. Namun, Aruna justru merasa semakin terjaga.
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Marco masuk membawa sebuah map kulit berwarna hitam.
"Anda belum tidur, Nona Aruna?" Marco bertanya, nada suaranya selalu datar, profesional, namun menyimpan otoritas yang tak terbantahkan.
"Bagaimana aku bisa tidur di tempat seperti ini?" Aruna menyahut getir. Ia merapatkan piyama sutra pemberian pelayan rumah—yang entah sengaja atau tidak, memiliki potongan rendah di bagian dada. "Bagaimana kondisi ibuku?"
"Operasi telah selesai sepuluh menit yang lalu. Dr. Klaus dari Berlin telah menangani pendarahannya. Kondisinya stabil, meski masih dalam pengaruh anestesi. Anda bisa melihat rekam medisnya besok pagi melalui tablet yang kami sediakan."
Aruna mengembuskan napas lega yang panjang. Setidaknya, satu beban di pundaknya terangkat. Namun, ia tahu harga yang harus dibayar belum sepenuhnya lunas.
"Sekarang," Marco meletakkan map itu di atas meja rias marmer, "kita harus membicarakan peraturan selama Anda tinggal di sini. Tuan Dante adalah pria yang sangat teliti. Dia tidak menyukai improvisasi atau pelanggaran."
Aruna berdiri, melangkah mendekati map itu. Ia membukanya dan mendapati lembaran kertas dengan poin-poin yang tertulis tegas.
"Poin pertama," Marco mulai membacakan, "Anda dilarang meninggalkan sayap timur mansion tanpa pengawalan. Anda dilarang memiliki alat komunikasi pribadi. Semua kebutuhan Anda akan disediakan oleh kepala pelayan."
"Itu namanya tahanan kota," potong Aruna.
"Itu namanya keamanan, Nona. Musuh Tuan Dante ada di setiap sudut kota ini. Keamanan Anda adalah keamanan Tuan Muda Leonardo." Marco melanjutkan tanpa terganggu. "Poin kedua, yang paling krusial. Jadwal pemberian nutrisi. Anda akan menyusui Leonardo setiap tiga jam sekali, atau kapan pun ia menangis. Tidak ada pengecualian, bahkan di tengah malam sekalipun."
Aruna merasakan wajahnya memanas. "Lalu?"
"Poin ketiga. Nutrisi Anda. Anda harus mengonsumsi menu yang sudah disusun oleh ahli gizi kami. Tidak ada kafein, tidak ada makanan olahan, tidak ada hal yang bisa merusak kualitas ASI Anda. Tubuh Anda sekarang adalah laboratorium organik bagi pewaris Valerius."
Aruna mengepalkan tangannya. "Apakah aku punya hak untuk setidaknya berbicara dengan Tuan Dante tentang... batasan privasiku?"
"Tuan Dante tidak suka dibantah, Nona. Tapi jika Anda merasa perlu, beliau menunggu Anda di ruang kerja. Sekarang."
Ruang kerja Dante Valerius berada di ujung lorong yang gelap. Pintunya terbuat dari kayu mahoni berat dengan ukiran rumit. Saat Marco membukakannya, Aruna disambut oleh aroma cerutu mahal dan minuman keras yang kuat.
Dante duduk di balik meja kerja raksasa. Lampu meja yang temaram memberikan bayangan tajam pada garis rahangnya yang kokoh. Pria itu sedang menyesap wiski, matanya terpaku pada layar monitor yang menunjukkan pergerakan saham atau mungkin rute pengiriman ilegal—Aruna tidak tahu pasti.
"Duduk," perintah Dante tanpa menoleh.
Aruna duduk di kursi kulit di hadapannya. Ia merasa sangat kecil di hadapan pria ini. Dante meletakkan gelas wiskinya dengan bunyi denting yang tajam. Ia menyandarkan tubuhnya, menatap Aruna dengan intensitas yang membuat gadis itu lupa cara bernapas.
"Kau sudah membaca peraturannya?" tanya Dante.
"Sudah. Tapi ada beberapa hal yang ingin aku negosiasikan," Aruna mencoba memberanikan diri.
Dante sedikit memiringkan kepalanya, sebuah seringai dingin muncul. "Negosiasi? Kau berada di posisi di mana kau hanya bisa menerima, Aruna. Aku sudah membeli nyawa ibumu. Aku sudah membeli waktumu. Apa lagi yang ingin kau negosiasikan?"
"Privasiku," suara Aruna bergetar namun tegas. "Tadi... di kamar bayi. Kau memperhatikanku. Aku tahu kau adalah ayahnya, tapi aku bukan objek tontonan. Aku ingin kau atau siapa pun tidak berada di ruangan yang sama saat aku sedang... melakukan tugas itu."
Dante terdiam sejenak. Ia berdiri, melangkah perlahan mengitari meja kerjanya. Langkahnya seperti macan tutul yang sedang mengintai mangsa. Ia berhenti tepat di belakang Aruna, membungkuk hingga bibirnya berada beberapa inci dari telinga gadis itu.
"Anakku adalah segalanya bagiku," bisik Dante, suaranya rendah dan serak. "Aku tidak percaya pada siapa pun di rumah ini. Bagaimana aku bisa tahu kau tidak meracuninya? Bagaimana aku bisa tahu kau tidak menyakitinya jika aku tidak mengawasimu?"
Aruna bisa merasakan hawa panas dari tubuh Dante. "Aku bukan pembunuh! Aku mahasiswi, Dante. Aku punya hati."
"Hati adalah beban di dunia ini, Aruna," Dante meletakkan tangannya di sandaran kursi Aruna, mengurung gadis itu. "Di rumah ini, kau hanya punya satu tugas. Dan aku akan mengawasimu sesukaku. Jika aku ingin melihat bagaimana kau memberikan kehidupan bagi putraku, aku akan melakukannya. Itu adalah hak milikku."
Dante mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar menyentuh tengkuk Aruna, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Kau sangat cantik, Aruna. Terlalu cantik untuk seorang gadis yang sedang berduka. Jangan buat aku harus mengingatkanmu dengan cara yang kasar bahwa di sini, suaraku adalah hukum."
Aruna memejamkan mata, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. Ia merasa terjepit antara rasa benci yang luar biasa pada pria ini dan ketergantungan yang tidak terhindarkan.
Tiba-tiba, suara tangisan bayi kembali terdengar lewat baby monitor di atas meja. Tangisan Leonardo yang memecah ketegangan di ruangan itu.
Dante melepaskan cengkeraman auranya. "Dia bangun. Pergilah. Lakukan tugasmu."
Aruna segera berdiri dan bergegas keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Ia berlari kecil menuju kamar bayi, jantungnya berdegup kencang. Saat ia menggendong Leonardo yang kecil dan merah itu, rasa hangat menjalar di hatinya. Bayi ini tidak bersalah. Bayi ini tidak tahu bahwa ayahnya adalah seorang monster.
Saat Aruna mulai menyusui Leonardo di kursi goyang yang nyaman, ia merasakan kehadiran seseorang di ambang pintu. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma cerutu dan otoritas itu milik Dante.
Dante berdiri di sana, di kegelapan pintu yang setengah terbuka. Ia tidak masuk, tapi ia juga tidak pergi. Ia hanya memperhatikan dalam diam. Aruna menunduk, menatap wajah polos Leonardo yang sedang menyusu dengan tenang. Di tengah kegelapan mansion ini, hanya bayi inilah satu-satunya cahaya yang tersisa bagi Aruna.
Namun, ia juga tahu, setiap kali Leonardo merasa kenyang, ikatan antara dirinya dan Dante Valerius akan semakin kuat dan berbahaya. Ia bukan lagi sekadar ibu susu. Ia adalah jantung dari kediaman ini, dan Dante Valerius tidak akan pernah membiarkannya pergi dengan mudah.