Boqin Changing, Pendekar No 1 yang berhasil kembali ke masa lalunya dengan bantuan sebuah bola ajaib.
Ada banyak peristiwa buruk masa lalunya yang ingin dia ubah. Apakah Boqin Changing berhasil menjalankan misinya? Ataukah suratan takdir adalah sesuatu yang tidak bisa dia ubah sampai kapanpun?
Simak petualangan Sang Pendekar Dewa saat kembali ke masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabib Wang Tian
"Paman, tenanglah. Mungkin kami bisa menolongmu," ujar Boqin Changing sambil mendekat dan mencoba menenangkan pria tua itu.
"Jangan mendekat ke sini, Anak Muda. Kami orang-orang yang sudah dikutuk."
Boqin Changing teringat pada kehidupan pertamanya. Orang-orang yang paling awal terkena penyakit ini disebut telah dikutuk oleh dewa. Tubuh mereka yang menghitam dan berbeda dari yang lain dirumorkan sebagai akibat kemurkaan para dewa.
Namun, lambat laun, ketika penyakit ini mulai menyerang para tokoh penting, tabib, dan petinggi kerajaan, anggapan bahwa penyakit ini adalah kutukan dewa perlahan menghilang. Mereka mulai menyadari bahwa penyakit ini dapat menyerang siapa saja, bukan hanya para pendosa.
"Tuan, kami berdua adalah pendekar. Fisik kami cukup kuat untuk berada di dekatmu," ucap Guru Tian, berusaha menenangkan pria tua tersebut.
"Paman saat ini sedang sakit. Percayalah, guruku bisa menyembuhkanmu. Guruku, selain seorang pendekar, juga seorang tabib hebat, Paman," ucap Boqin Changing sambil membual.
"Betul, Tuan. Percayalah pada muridku. Penyakitmu bisa disembuhkan karena.... eh.."
Tiba-tiba Guru Tian menghentikan ucapannya setelah mencerna kalimat muridnya barusan.
"Chang’er, apa maksudmu?" bisik Guru Tian di telinga muridnya.
"Guru, percaya saja padaku. Akan lebih mudah meyakinkan mereka jika Guru yang seolah-olah menjadi tabibnya dibanding aku," balas Boqin Changing dengan suara pelan.
"Benarkah kalian bisa menyembuhkanku dan anakku dari kutukan ini, Tabib?" tanya pria itu dengan suara yang mulai melunak.
"Benar, Paman. Tenang saja, guruku pasti bisa menyembuhkanmu," jawab Boqin Changing sambil tersenyum ramah.
Dengan air mata berlinang, pria tua itu kemudian mengajak pasangan guru dan murid tersebut masuk ke gubuknya. Di dalam kamar terlihat seorang anak perempuan terbaring lemas di atas tempat tidur sambil menggigil. Tubuhnya mulai dipenuhi bercak-bercak hitam. Jika tidak segera diselamatkan, ia akan menyusul orang yang baru saja dikuburkan di halaman.
Pria tua itu terus memohon kepada Guru Tian agar segera menyembuhkan anak perempuannya. Ia tidak ingin kehilangan anaknya lagi setelah sebelumnya kehilangan sang istri yang baru saja dimakamkannya.
Guru Tian tak tega melihat kepedihan di hadapannya. Pria tua ini jelas berada dalam kondisi yang sangat buruk setelah ditinggal istrinya, dan keadaannya akan semakin hancur jika anak semata wayangnya juga pergi.
"Chang’er, apa kau yakin bisa menyembuhkan mereka?" bisik Guru Tian kepada muridnya.
"Tenang, Guru. Aku bisa menyembuhkan mereka. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk obatnya ada semua di cincin ruangku," balas Boqin Changing dengan suara pelan.
Boqin Changing tidak menyangka kebetulan ini terjadi. Semua bahan herbal untuk membuat obat penyakit ini tersedia di dalam cincin ruangnya. Awalnya, bahan-bahan itu disiapkan sebagai sumber daya untuk dirinya sendiri. Namun dalam keadaan darurat seperti ini, menyelamatkan nyawa manusia tentu menjadi prioritas.
"Paman, aku butuh ruangan untuk meracik obat. Aku izin menggunakan dapur, ya?"
"Silakan, Nak. Gunakan ruangan mana pun yang kau mau."
"Guru, biarkan muridmu yang meracik obatnya. Guru di sini saja untuk menjaga kondisi pasien," ucap Boqin Changing sambil berakting.
"Ah... baiklah, Chang’er. Lakukan yang terbaik. Nanti aku akan melihat hasilnya," jawab Guru Tian, membalas akting muridnya.
Pasangan guru dan murid itu kini tengah berperan sebagai tabib. Hal tersebut dilakukan agar pria tua itu percaya bahwa mereka benar-benar mampu menyembuhkan penyakit ini.
Dalam hati, Boqin Changing tertawa geli melihat tingkah gurunya. Ia tidak menyangka gurunya langsung memahami sandiwara yang ia buat.
Sambil mengawasi anak perempuan yang terbaring lemah, Guru Tian mengajak pria tua itu mengobrol. Pria tersebut bernama Guang Zhilong, sedangkan anaknya bernama Guang Feiling. Guang Zhilong adalah seorang pemburu yang tinggal di desa itu.
Sementara itu, Boqin Changing menuju dapur dan mengeluarkan berbagai herbal yang bisa digunakan untuk membuat obat penyakit wabah hitam. Ada dua cara pengolahan obat untuk penyakit ini. Yang pertama dibuat menjadi pil, dan yang kedua menjadi air rebusan.
Boqin Changing memilih cara kedua, yakni membuat air rebusan. Jika ingin membuat pil, ia membutuhkan tungku api khusus yang jelas tidak tersedia di desa ini. Saat ini pun ia belum memiliki tungku api. Ia mulai berpikir bahwa suatu saat nanti ia perlu membelinya, siapa tahu ia akan kembali terjebak dalam situasi serupa.
Dengan teliti, Boqin Changing memasukkan berbagai herbal dengan takaran yang tepat ke dalam panci di atas tempat pembakaran. Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, rebusan itu matang sempurna. Selanjutnya, ia menambahkan sedikit rumput naga ke dalam air rebusan yang masih mendidih untuk meningkatkan kemanjuran obat.
Penggunaan rumput naga sebenarnya tidak tercantum dalam resep asli penyakit ini. Namun, berdasarkan ingatannya dari Tabib Reha, penambahan rumput naga akan meningkatkan efektivitas obat secara signifikan.
Idealnya, obat ini akan menyembuhkan penderita dalam waktu tujuh hari jika diminum rutin tiga kali sehari. Namun, dengan tambahan rumput naga dalam takaran yang tepat, penderita dapat sembuh hanya dalam tiga hari.
"Chang’er, cepatlah. Sepertinya keadaan anak itu sudah mengkhawatirkan," ucap Wang Tian sambil mendekat ke arah dapur.
"Ah, baik, Guru. Ini sudah selesai," jawab Boqin Changing sambil menuangkan air rebusan ke dalam gelas-gelas yang tersedia di atas meja.
Ia kemudian membawa gelas-gelas tersebut ke tempat anak perempuan itu dirawat. Saat tiba, anak itu terlihat semakin pucat sambil terus menatap ayahnya.
Guru Tian dan Boqin Changing duduk di kursi dekat tempat tidur anak itu. Wajah sang ayah tampak dipenuhi kecemasan melihat kondisi putrinya.
"Chang’er, bagaimana rasa obat ini?" bisik Guru Tian.
"Pahit, Guru," jawab Boqin Changing.
"Aih..."
"Ada rebusan air nira yang kusiapkan untuk menetralisir rasa obat ini, Guru."
"Oh, baiklah kalau begitu."
Wang Tian kemudian mengajak anak perempuan itu berbincang sebelum memberinya obat.
"Fei’er, kau pasti sayang ayahmu, kan? Kalau begitu, kau harus lekas sembuh agar ayahmu tidak sedih lagi."
Guru Tian berusaha membangkitkan semangat hidup anak itu agar mau meminum obatnya.
"Obat ini memang agak pahit. Tapi Paman yakin setelah kau meminumnya, kau akan segera sembuh."
Zhilong membantu anaknya duduk. Wajahnya penuh harap akan kesembuhan putrinya.
Guru Tian kemudian menyodorkan gelas berisi obat buatan muridnya ke mulut Feiling.
"Minumlah dengan cepat agar rasa pahitnya tidak terlalu lama terasa."
Feiling menuruti instruksi tersebut. Dalam pikirannya, Guru Tian adalah tabib yang dibawa ayahnya untuk menyembuhkan keluarganya. Wajahnya langsung masam setelah meneguk obat itu, namun segera dinetralkan dengan air nira yang juga disiapkan.
Setelah meminum obat, Feiling dibaringkan kembali untuk beristirahat. Efek obat ini kemungkinan akan mulai terasa beberapa jam kemudian.
Boqin Changing juga meminta Paman Zhilong untuk meminum obatnya. Zhilong dengan sukarela langsung meneguknya, lalu meminum air nira untuk menekan rasa pahit.
"Guru, kau juga harus meminumnya?"
"Ah, kenapa aku harus meminumnya juga, Chang’er? Bukankah kita tidak akan terinfeksi penyakit ini?"
"Setidaknya untuk berjaga-jaga, Guru. Mungkin penyakit ini tidak berpengaruh pada kita, tapi bisa saja kita menularkannya ke orang lain."
"Kau juga akan meminumnya, kan, Chang’er?"
"Tentu, Guru. Mari kita minum bersama."
Mereka pun meneguk obat buatan Boqin Changing.
"Ah... pahit sekali obatmu, Chang’er."
"Ya, Guru. Aku juga tidak menyangka sepahit ini."
"Mana air niranya, Chang’er?"
"Ah, Guru, maaf. Aku hanya membuat dua gelas air nira untuk Paman dan adik ini saja."
"Aihhh... dasar murid kurang ajar," umpat Guru Tian.
atau aku salah ya🤔