Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Pagi di Istana Welas biasanya dimulai dengan kesunyian yang mencekam, hanya interupsi denting sendok perak yang beradu dengan porselen mahal. Namun, pagi ini, kamar rias tamu di sayap timur bagaikan medan tempur estetika. Tiga penata rias istana berdiri mematung, memegang kuas dan spons mereka dengan bingung, sementara Freya Aurelia duduk di depan cermin besar dengan set tumpukan make-up miliknya sendiri yang ia selundupkan dari tas ranselnya semalam.
"Jangan berani kalian sentuh wajah gue," desis Freya sambil mengayunkan kuas blending dengan lincah. "Ini baru namanya style, bukan kayak Patung Pancoran! Tebal banget bedaknya, mau kondangan atau mau demo semen?"
Para pelayan itu saling lirik, tak berani membantah. Mereka hanya bisa menonton saat Freya mengaplikasikan cushion tipis yang memberikan efek glowing alami, bukan hasil matte kaku yang biasanya disukai permaisuri. Ia menambahkan sedikit coral tint di bibirnya dengan teknik ombre, dan memberikan sentuhan shimmer halus di sudut matanya—sebuah gaya riasan Korea yang sangat segar.
Saat ia selesai, Freya berdiri dan merapikan kebaya champagne-nya. Kebaya itu kini tidak lagi terlihat seperti seragam kuno, melainkan seperti busana couture yang modern karena kontras dengan riasannya yang "anak muda banget".
"Nah, gini baru Freya Aurelia," gumamnya puas, lalu mengedipkan sebelah mata pada pantulan dirinya.
Saat Freya keluar menuju koridor utama menuju aula jamuan, ia hampir menabrak seseorang yang sedang asyik memainkan handheld console sambil berjalan.
"Woi, liat jalan dong!" seru Freya spontan.
Pemuda itu mendongak. Dia adalah Pangeran Ethan. Alih-alih marah karena ditegur kasar, mata Ethan justru membelalak kagum melihat penampilan Freya.
"Wih! Lo yang kemarin nyasar di kamar Kak Kaisar kan?" Ethan menutup konsol gamenya dan mendekat. "Gila, lo beda banget! Tadi pagi gue denger pelayan gosip katanya lo ngamuk nggak mau didandanin, tapi ternyata hasil dandan sendiri lo oke juga. Vibe-nya dapet banget."
Freya menyilangkan tangan, tapi senyumnya mengembang. "Ya iyalah. Mereka mau bikin gue kayak mumi. Ini namanya soft glam, tahu. Lo adiknya si Kaku itu, kan?"
Ethan tertawa lepas. "Si Kaku? Hahaha! Bener banget. Kak Kaisar emang udah kayak robot yang lupa di-update software-nya. Gue Ethan. Lo asik juga ternyata."
"Gue Freya. Lo lagi main apa tadi? Elden Ring?" tanya Freya sambil melirik konsol Ethan.
"Gila! Lo tahu?!" Mata Ethan makin berbinar. "Gue lagi lawan bos yang susah banget nih dari tadi malem. Di sini nggak ada yang ngerti game selain gue."
"Sini, gue liatin. Polanya tuh lo harus dodge ke kanan, jangan ke kiri. Gue udah tamat tiga kali," ujar Freya santai.
Hanya dalam lima menit, dua orang ini sudah terlihat seperti sahabat lama yang sedang nongkrong di kafe, padahal mereka berdiri di koridor istana yang dipenuhi lukisan leluhur yang tampak melotot. Mereka benar-benar sefrekuensi: sama-sama merasa 'terjebak' dalam protokol yang membosankan.
Suasana Aula Agung sudah penuh sesak dengan tamu kehormatan, duta besar, dan para pejabat tinggi. Musik gamelan mengalun lembut, menciptakan atmosfer yang sangat formal. Saat pintu dibuka dan pembawa acara mengumumkan kehadiran keluarga kerajaan, Kaisar melangkah masuk dengan wibawa yang luar biasa.
Namun, perhatian semua orang justru teralihkan pada sosok gadis yang berjalan di samping Pangeran Ethan, tepat di belakang barisan Kaisar.
Freya berjalan dengan dagu terangkat. Meskipun ia masih merasa aneh memakai hak tinggi, obrolannya dengan Ethan tadi membuatnya merasa jauh lebih rileks. Riasannya yang unik menarik perhatian para istri pejabat dan tamu mancanegara.
"Siapa gadis itu? Cantik sekali, riasannya sangat segar, tidak seperti gaya tradisional biasanya," bisik seorang istri duta besar dari Eropa.
"Itu busana tradisional kita, tapi wajahnya terlihat sangat modern. Sangat ikonik," timpal yang lain.
Kaisar, yang sesekali menoleh ke belakang, merasa lega sekaligus heran. Ia mengira Freya akan membuat keributan, tapi ternyata gadis itu justru menjadi magnet perhatian dengan cara yang positif.
Namun, kedamaian itu terusik saat mereka mencapai meja utama di mana Buyut, Kakek, dan Nenek duduk. Pangeran Kholid dan Putri Sherena sudah berada di sana, siap dengan tatapan menghakimi.
"Ehem," Kholid berdeham saat Freya mendekat. "Kaisar, aku tidak tahu kalau protokol istana sekarang mengizinkan tamu menggunakan riasan... apa ini? Seperti orang kurang tidur dengan warna merah di bawah mata?"
Freya hampir saja menyemprot Kholid, tapi Kaisar mendahuluinya.
"Itu disebut tren, Kholid. Sesuatu yang mungkin sulit dipahami oleh orang yang pikirannya tertinggal di abad lalu," jawab Kaisar dingin, tanpa menoleh pada sepupunya.
Ethan menyikut Freya sambil berbisik, "Mampus, Kak Kaisar kalau ngegas nggak pakai rem."
Acara makan siang dimulai. Ibu Freya, Bu Larasati, terlihat sibuk memimpin kru katering di kejauhan. Wajahnya tampak tegang melihat putrinya duduk di area yang sangat dekat dengan keluarga inti.
Tiba-tiba, Buyut Kaisar memberikan isyarat agar Freya mendekat. Suasana mendadak senyap. Para tamu menahan napas. Apakah Freya akan diusir karena riasannya yang tidak konvensional?
Freya berdiri, mengatur napasnya. Ia teringat ajaran Kaisar semalam soal cara berjalan. Ia melangkah anggun, membungkuk hormat di depan sang matriark keluarga Welas.
"Nona kecil," suara Buyut yang serak terdengar di seluruh aula. Beliau mengambil kacamata emasnya dan mengamati wajah Freya dari dekat. "Siapa yang merias wajahmu? Apakah penata rias istana sudah mulai belajar teknik baru?"
"Saya merias sendiri, Yang Mulia," jawab Freya dengan nada yang sopan namun tetap tegas, tidak ada rasa takut berlebihan. "Saya merasa setiap wanita harus menunjukkan karakter aslinya, bukan sekadar mengikuti pakem yang sudah ada."
Mata tua Buyut berkilat. Semua orang mengira beliau akan marah. Namun, perlahan, senyum tipis muncul di wajah yang penuh kerutan itu.
"Karakter asli... kata-kata yang berani. Sudah lama sekali aku tidak melihat warna yang begitu 'hidup' di istana ini. Kamu tampak seperti lukisan yang keluar dari bingkainya. Sangat berbeda, tapi... sangat cantik."
Gumam kekaguman pecah di seluruh ruangan. Putri Sherena tampak merengut tidak senang, sementara Pangeran Kholid hanya bisa memutar gelas anggurnya dengan kesal. Rencana mereka untuk mempermalukan Freya gagal total; gadis itu justru menjadi primadona dalam sekejap.
Setelah dipuji oleh Buyut, beberapa tamu wanita mulai mengerumuni Freya saat jeda acara.
"Nona Freya, bisakah Anda memberi tahu merek produk yang Anda pakai?"
"Teknik gradient lips itu sangat cocok dengan kebayamu!"
Freya, yang biasanya benci keramaian, entah kenapa merasa senang. Ia melirik ke arah Kaisar yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu sedang menyesap air putih, dan saat mata mereka bertemu, Kaisar memberikan anggukan kecil—sebuah apresiasi langka yang membuat jantung Freya berdebar aneh.
"Ternyata nggak seburuk itu ya, jadi 'orang penting' sehari," bisik Freya pada dirinya sendiri.