Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 ( twenty five)
Kereta api fajar dari Jakarta perlahan memasuki Stasiun Tugu. Ratna turun dengan topi baseball yang ditarik rendah, menutupi wajahnya yang lelah. Di sampingnya, Teguh membawa tas ransel berisi peralatan komunikasi yang telah dimodifikasi oleh Hendra. Mereka tampak seperti turis biasa, namun waspada mereka berada di level tertinggi.
"Yogyakarta... kota ini selalu punya cara untuk menyembunyikan sesuatu," bisik Teguh sambil mengamati kerumunan orang di peron.
Ratna tidak menyahut. Pikirannya masih tertuju pada pesan Ares. Si Pemahat. Nama itu terdengar seperti kode untuk seseorang yang tidak hanya membentuk batu, tapi mungkin membentuk ulang nasib manusia.
Berdasarkan koordinat yang berhasil dipecahkan Hendra dari ponsel pemberian Ares, jejak "Si Pemahat" mengarah ke sebuah desa sunyi di lereng Gunung Merapi. Udara dingin pegunungan menusuk tulang, kontras dengan panasnya ledakan di kapal The Eternal Sun.
Mereka sampai di sebuah sanggar seni pahat yang tersembunyi di balik hutan bambu. Di sana, puluhan patung batu tanpa wajah berdiri berjajar, seolah-olah sedang mengawasi siapapun yang datang. Di tengah sanggar, seorang pria tua dengan rambut putih panjang sedang memahat sebongkah batu andesit besar.
"Kau terlambat tiga jam, Jenderal," ujar pria tua itu tanpa menoleh. Suara pahatannya yang beradu dengan batu menciptakan irama yang menghipnotis.
Ratna menegang. "Bagaimana kau tahu aku akan datang?"
Pria itu berhenti memahat. Ia membalikkan badan, menampakkan wajah yang dipenuhi garis-garis usia namun matanya bercahaya seperti anak muda. "Batu ini bercerita padaku. Getaran dari langkah kaki seseorang yang memikul beban dua nyawa dalam satu tubuh tidak bisa disembunyikan."
Pria ini adalah Ki Ageng Prawiro, yang dikenal di dunia bawah tanah sebagai 'Si Pemahat' mantan ilmuwan bioteknologi militer yang mengasingkan diri setelah menolak proyek awal Sangkala tiga puluh tahun lalu.
Di dalam pondoknya yang penuh dengan kitab-kitab kuno dan perangkat laboratorium modern yang disamarkan, Ki Ageng menunjukkan sesuatu pada Ratna. Bukan sebuah data digital, melainkan sebuah pola pahatan yang menyerupai untaian DNA, namun dengan simbol-simbol aksara Jawa kuno di sela-selanya.
"Phoenix tidak menginginkan darahmu hanya untuk virus, Ratna," Ki Ageng menjelaskan sambil menuangkan teh melati panas. "Mereka mencari kunci stabilitas. Jiwamu yang melakukan transmigrasi telah menciptakan sebuah anomali biologis. Tubuh wanitamu beradaptasi dengan memori otot dan kekuatan mental seorang jenderal. Itu adalah 'jembatan' yang mereka butuhkan untuk menciptakan tentara super yang tidak akan mengalami kerusakan mental."
"Maksudmu... mereka ingin mengklon jiwaku?" tanya Ratna, suaranya bergetar karena ngeri.
"Bukan kloning. Mereka ingin mengekstrak 'frekuensi' jiwamu untuk dimasukkan ke dalam subjek-subjek mereka. Jika itu terjadi, dunia akan dipenuhi oleh mesin pembunuh tanpa nurani dengan keahlian taktismu."
Tiba-tiba, suasana tenang itu pecah. Burung-burung di hutan bambu terbang berhamburan. Teguh, yang berjaga di luar, langsung masuk dengan senjata terhunus.
"Bu! Ada pergerakan di arah jam dua dan jam sepuluh! Mereka bukan polisi, gerakannya terlalu senyap," lapor Teguh.
Ki Ageng hanya tersenyum tipis. "Sepertinya Phoenix tidak sabar untuk menjemput 'pola' baru mereka. Ratna, ambillah ini."
Ki Ageng memberikan sebuah kotak kayu kecil berisi sebuah flash drive berbahan perak. "Ini adalah algoritma penghancur ekstraksi jiwa. Hanya bisa diaktifkan oleh DNA-mu. Jika mereka berhasil menangkapmu, gunakan ini. Itu akan menghancurkan sistem mereka dari dalam, tapi risikonya... jiwamu mungkin tidak akan punya tempat untuk kembali."
Dor!
Sebutir peluru sniper memecahkan pot bunga di dekat jendela.
"Teguh, gunakan tabir asap! Kita bergerak ke arah tebing!" perintah Ratna. Ia kembali ke mode tempur. Kali ini, ia tidak hanya bertarung untuk nyawanya, tapi untuk menjaga agar esensi dirinya tidak menjadi senjata bagi musuh.
Di luar, selusin agen Phoenix dengan pakaian kamuflase hutan mulai mengepung sanggar. Mereka dipimpin oleh seorang wanita muda yang wajahnya sangat mirip dengan Siska, namun dengan tatapan yang lebih dingin dan tanpa emosi.
"Adik Siska..." gumam Ratna. "Mereka benar-benar tidak pernah habis."
Kok bisa gak ada habisnya jangan jangan???
Jeng.... Jeng.... Jengg....