fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The King
Jarak kota dan Desa dimana Owen tinggal, lebih dari 10 kilometer, saat di persimpangan jalan. tiba-tiba Mano dicegat 4 orang bertopeng, ia ditangkap, karena kaget, Mano tak melawan. dan langsung di angkut dalam kereta oleh para penculik dan dibawah kesuatu tempat. ia diinterogasi, disebuah gubuk. ditanyakan keperluan apa mengunjungi Owen dan apa yang mereka bicarakan. namun Mano beralasan bahwa kunjungannya adalah soal pesanan senjata putra Owen yang sudah selesai. dan ia mengunjungi Owen untuk menagih pembayarannya. namun para penculik tak percaya. kini mereka berniat menghabisi pemuda itu. maka dicarilah tempat tersembunyi dan eksekusi dipersiapkan.
Pedang salah satu diantara penculik sudah siap kali inj Mano meyakini bahwa nyawanya tak akan bisa selamat. Ia menutup mata saat ayunan pedang tajam itu akan menghujam lehernya. Tiba-tiba muncul sabetan pedang lain yang menghentikan pedang itu.
“Trang!!”
Kedua pedang beradu dan terpental. salah satu patah. Pencegat yang lain kaget secara spontan menyerang sosok pengganggu itu. sementara si algojo yang berdiri tak jauh dari Mano, tak menyadari bahwa calon korbannya dengan kecepatan berhasil memunguti pedang yang terpental dan balik menyerang si algojo. satu tusukan tepat ke arah perut. algojo terhuyung dengan perut tembus pedang sendiri.
Tiga penyerang lain kini mengeroyok si pengganggu. Salah satu berhasil di robohkan tak lama kemudian. Mano datang membantu dan terjadi duel sengit dari keempat orang itu. sabetan pedang, tendangan dan suara pedang beradu memecah kesunyian tempat itu. Sampai kemudian penculik ketiga roboh. tewas seketika dengan luka mengangga. Melihat ketiga rekannya telah tewas, penculik keempat. Memilih melarikan diri.
“Kejar dia..” teriak Mano.
“Tak perlu “ kata si penolong.
“Mereka melihat wajahmu, kita berdua kini dalam bahaya. Mereka ini adalah para prajurit kekaisaran..”. kata Mano tegang.
Kini si penolong yang tertegun. menyadari ia baru menyadari telah melakukan kesalahan sepertinya dengan tidak mengejar satu penculik yang tersisa.
Akhirnya setelah beberapa saat istirahat. Mereka berkenalan.
“Siapa namamu? “ tanya Mano.
“Aku Ommer Ghie., putra Owen.”
“Astaga. Ini akan menjadi masalah besar bagimu dan ayahmu..kenapa kau menolong aku?” kata Mano penuh kekhawatiran.
“Aku melihatmu dari rumah ayahku. Dan ditahan oleh mereka. Aku tidak menyangka itu adalah para prajurit kekaisaran..”. Kata Ommer. kegelisahan diwajahnya. Karena ia saat ini sedang mengikuti seleksi sebagai prajurit kekaisaran.
“Ada keperluan apa kau mengunjungi ayahku?”
Mano berfikir apakah ia akan menceritakan hasil kunjungannya ini atau tidak. Namun apa yang mereka berdua lakukan sudah melampaui batas. Yakni membunuh 3 prajurit. Sehingga tak apalah ia memberitahukan maksud kunjungannya itu. Mano kemudian menceritakan semuanya.
“Kita akan hadapi bersama masalah ini, namun aku masih punya satu tugas lagi pada ayahmu .yakni menyelesaikan pedang yang aku janjikan padanya. Itu sebenarnya masih butuh waktu lama, namun aku akan berusaha untuk mempercepat pembuatannya. Kita berpisah. Sambil melihat situasi yang ada.” kata Mano.
Ommer setuju. Mereka kemudian berpisah.
sejak saat itu, ditengah kekhawatiran para prajurit Kekaisaran yang setiap saat akan datang menjemputnya, Mano bekerja siang dan malam menyelesaikan pedang yang ia beri nama The King. Ia merasa yakin bahwa pedang itu akan menjadi sesuatu yang Istimewa bagi perjuangan Owen Ghie kedepannya, meskipun ia ragu. karena usia mantan perwira itu, juga keselamatan anaknya. yang pasti tak akan cukup kuat melanjutkan perjuangan warga The Horn Land yang penuh harap pada mereka.
Ia belum lagi menemukan cara bagaimana Owen memulai perjuangan kedepannya. Namun ada dorongan aneh yang memaksanya untuk terus bekerja menyelesaikan pembuatan pedang itu. Ini menimbulkan pertanyaan bagi majikannya. Namun setiap kali ditanyakan, Mano selalu mengelak bahkan menyembunyikan pedang yang ia buat.
Sampai suatu hari, tempatnya ia bekerja dikunjungi selusin prajurit kekaisaran. Untunglah Mano berhasil menyelinap lewat pintu belakang dan berlari jauh membawa pedang yang juga sudah selesai dibuatnya. Tujuannya adalah segera menemui Owen Ghie untuk menyerahkan pedang hasil buatannya itu. Tak lama kemudian ia sampai di kediaman Owen . Namun ada tamu lain disana, sosok asing yang tak dikenalnya…pria paru baya.
Sempat muncul keraguan, namun ini harus berakhir fikirnya.
“Aku datang menyerahkan pedang ini pada tuan. Pedang Istimewa yang aku beri nama The King, pakai saja. Jadikan simbol perjuangan tuan dan kawan-kawan …” kata Mano tergesa-gesa. ia menyerahkan bungkus ini. kain panjang yang didalamnya terdapat pedang. yang langsung diterima Owen.
“Aku belum berfikir untuk pergi dari rumahku anak muda, juga soal pedangmu, aku hanya memintanya untuk melihat, tak ada niat untuk memiliki. Apalagi ini cukup istimewa” kata Owen . Sambil membuka bungkusan. kini terlihat sarung pedang yang indah. dengan gagang terbuat dari tanduk hewan. Owen tak mencabut pedang itu karena ia merasa belum berhak memilikinya.
“Tidak pakailah. Aku membuatkannya untukmu. Anda istimewa sebagai harapan terakhir warga The Horn. Aku cukup bersyukur bisa memberikan ini. Saranku Ser. Pulanglah,..rakyat The Horn menantikan pemimpin mereka… maaf aku harus segera pergi.” kata Mano. fikirannya terbelah antara meluangkan waktu atau segera menghindari sergapan para prajurit Kekaisaran.
Sebelum berpisah. Ia meminta ijin untuk bersalaman dengan Owen . Namun Owen justru memeluknya. Dan berkata ;
“Terima kasih, semoga kita masih bisa bertemu Kembali.” Keduanya kemudian berpisah. Sejak saat itu tak ada berita lagi yang terdengar tentang pemuda penempa besi itu.