Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama, Kolaborasi Dimulai
Senin pagi di kampus UNS terasa lebih bersemangat bagi Sekar Arum. Setelah pertemuan inspiratif dengan Damar Sasongko dan perkenalannya dengan Dirga Ardhani, ia merasa memiliki tujuan baru yang jelas. Ia ingin segera memulai proyek media sosial untuk melestarikan wayang kulit.
Sesuai janji, Dirga menghubunginya melalui pesan singkat. "Mbak Sekar, lagi ada kelas? Kalau nggak, saya tunggu di taman depan FISIP ya," tulis Dirga.
Sekar tersenyum membaca pesan itu. "Nggak ada kelas, Mas Dirga. Aku langsung ke sana ya," balas Sekar.
Dengan langkah ringan, Sekar menuju taman depan FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik). Ia melihat Dirga sudah menunggunya di bawah pohon rindang.
"Selamat pagi, Mas Dirga!" sapa Sekar.
"Selamat pagi, Mbak Sekar! Semangat banget nih," kata Dirga sambil tersenyum.
"Iya, dong. Aku udah nggak sabar pengen mulai proyek kita," jawab Sekar.
"Saya juga sama. Tapi, kita mulai dari mana ya?" tanya Dirga.
Sekar mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya. "Aku udah bikin beberapa catatan tentang ide-ide kita kemarin. Gimana kalau kita bahas satu per satu?" kata Sekar.
"Boleh, Mbak. Silakan," jawab Dirga.
Sekar mulai membacakan catatan-catatannya. Ia menjelaskan tentang ide-idenya untuk membuat video pendek tentang wayang kulit, animasi tentang tokoh-tokoh wayang, dan infografis tentang sejarah dan filosofi wayang kulit. Ia juga menjelaskan tentang rencananya untuk membuat kuis dan giveaway tentang wayang kulit di media sosial.
Dirga mendengarkan dengan seksama setiap ide yang disampaikan oleh Sekar. Ia memberikan masukan dan saran yang sangat berharga.
"Ide-ide Mbak Sekar sangat bagus dan kreatif. Tapi, kita harus mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, kita harus menentukan target audiens kita. Siapa yang ingin kita jangkau dengan konten-konten kita?" tanya Dirga.
"Aku pikir target audiens kita adalah generasi muda, khususnya anak-anak SMA dan mahasiswa. Mereka adalah generasi yang paling aktif di media sosial," jawab Sekar.
"Saya setuju. Tapi, kita juga harus mempertimbangkan anak-anak SD dan SMP. Mereka adalah generasi penerus yang harus kita kenalkan dengan wayang kulit sejak dini," kata Dirga.
"Benar juga. Gimana kalau kita bikin konten yang berbeda untuk setiap target audiens?" tanya Sekar.
"Itu ide yang bagus, Mbak. Kita bisa bikin konten yang lebih sederhana dan mudah dipahami untuk anak-anak SD dan SMP, dan konten yang lebih mendalam dan analitis untuk anak-anak SMA dan mahasiswa," jawab Dirga.
Setelah berdiskusi panjang lebar, Sekar dan Dirga akhirnya sepakat untuk membuat konten yang berbeda untuk setiap target audiens. Mereka juga sepakat untuk fokus pada tiga platform media sosial, yaitu YouTube, Instagram, dan TikTok.
"YouTube cocok untuk video-video panjang tentang wayang kulit. Instagram cocok untuk foto-foto dan infografis yang menarik. TikTok cocok untuk video pendek yang lucu dan menghibur," kata Dirga.
"Aku setuju. Tapi, kita juga harus membuat konten yang berkualitas tinggi. Kita harus memperhatikan kualitas gambar, suara, dan editing video," kata Sekar.
"Tentu saja. Kita harus membuat konten yang berkualitas tinggi. Kalau konten kita jelek, orang nggak akan tertarik untuk menonton," kata Dirga.
"Mas Dirga bisa bantu aku untuk membuat video dan animasi?" tanya Sekar.
"Insya Allah, Mbak. Saya punya sedikit pengalaman dalam membuat video dan animasi. Tapi, saya masih harus banyak belajar," jawab Dirga.
"Nggak apa-apa. Kita belajar sama-sama," kata Sekar.
"Oke, Mbak. Kalau gitu, kita bagi tugas ya. Mbak Sekar yang bikin naskah dan konsep konten, saya yang bikin video dan animasi," kata Dirga.
"Siap!" jawab Sekar dengan semangat.
Setelah membagi tugas, Sekar dan Dirga mulai merencanakan konten pertama mereka. Mereka sepakat untuk membuat video pendek tentang sejarah wayang kulit untuk diunggah di YouTube.
"Kita bisa bikin video yang menceritakan tentang asal-usul wayang kulit, jenis-jenis wayang kulit, dan tokoh-tokoh wayang yang terkenal," kata Sekar.
"Itu ide yang bagus, Mbak. Kita bisa bikin video yang menarik dan informatif," kata Dirga.
"Kita juga bisa wawancara dengan dalang atau ahli wayang kulit untuk memperkaya konten kita," kata Sekar.
"Saya punya kenalan dalang muda yang keren di Solo. Namanya Ki Jlitheng Suparman. Dia pasti mau kita wawancara," kata Dirga.
"Wah, kebetulan sekali! Kita bisa wawancara dengan Ki Jlitheng untuk video kita," kata Sekar.
Setelah merencanakan konten pertama mereka, Sekar dan Dirga mulai bekerja secara terpisah. Sekar membuat naskah video tentang sejarah wayang kulit, sementara Dirga mencari referensi video dan animasi tentang wayang kulit.
Meskipun bekerja secara terpisah, Sekar dan Dirga terus berkomunikasi dan bertukar pikiran. Mereka saling memberikan semangat dan dukungan.
Beberapa hari kemudian, Sekar menyelesaikan naskah video tentang sejarah wayang kulit. Ia mengirimkan naskah tersebut kepada Dirga untuk diperiksa.
"Mas Dirga, ini naskah video yang aku buat. Tolong dicek ya," tulis Sekar dalam pesan singkat.
Tidak lama kemudian, Dirga membalas pesan Sekar. "Mbak Sekar, naskahnya bagus banget! Saya suka dengan alur ceritanya dan pemilihan bahasanya. Tapi, ada beberapa bagian yang perlu kita revisi agar lebih mudah dipahami oleh generasi muda," tulis Dirga.
Sekar menerima masukan dari Dirga dengan senang hati. Ia merevisi naskahnya sesuai dengan saran dari Dirga.
Setelah naskah selesai direvisi, Dirga mulai membuat video tentang sejarah wayang kulit. Ia menggunakan software animasi dan editing video untuk membuat video yang menarik dan berkualitas tinggi.
Dirga bekerja keras untuk menyelesaikan video tersebut. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer untuk membuat animasi dan mengedit video.
Sekar sering menemani Dirga saat ia sedang bekerja. Ia memberikan semangat dan dukungan kepada Dirga.
"Mas Dirga hebat banget! Videonya keren banget," kata Sekar.
"Terima kasih, Mbak Sekar. Ini semua berkat dukungan dari Mbak Sekar," jawab Dirga.
Setelah beberapa minggu bekerja keras, akhirnya Dirga menyelesaikan video tentang sejarah wayang kulit. Ia mengirimkan video tersebut kepada Sekar untuk ditonton.
Sekar sangat terkesan dengan video yang dibuat oleh Dirga. Videonya sangat menarik, informatif, dan berkualitas tinggi.
"Mas Dirga, videonya keren banget! Aku yakin video ini akan disukai oleh banyak orang," kata Sekar dengan antusias.
"Alhamdulillah, Mbak. Saya senang Mbak Sekar suka dengan video ini," jawab Dirga.
"Kapan kita mau upload video ini di YouTube?" tanya Sekar.
"Bagaimana kalau besok?" tanya Dirga.
"Besok? Oke, aku siap!" jawab Sekar.
Keesokan harinya, Sekar dan Dirga bertemu di kampus. Mereka membawa laptop dan modem untuk mengunggah video mereka di YouTube.
"Mbak Sekar yang upload videonya ya?" tanya Dirga.
"Oke, Mas Dirga. Bismillah," jawab Sekar sambil mulai mengunggah video tersebut di YouTube.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya video mereka berhasil diunggah di YouTube. Sekar dan Dirga merasa sangat lega dan bahagia.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga!" seru Sekar.
"Iya, Mbak. Semoga video ini bisa bermanfaat untuk banyak orang," kata Dirga.
Sekar dan Dirga kemudian mempromosikan video mereka di media sosial. Mereka mengajak teman-teman dan kenalan mereka untuk menonton dan membagikan video tersebut.
Tidak disangka, video mereka mendapatkan respons yang sangat positif dari masyarakat. Banyak orang yang memuji video mereka karena informatif, menarik, dan berkualitas tinggi. Video mereka juga mendapatkan banyak viewers, likes, dan komentar positif.
Sekar dan Dirga merasa sangat senang dan bangga. Mereka tidak menyangka bahwa proyek kecil mereka bisa mendapatkan respons yang begitu besar dari masyarakat.
"Mas Dirga, video kita viral!" seru Sekar dengan gembira.
"Alhamdulillah, Mbak. Ini semua berkat kerja keras kita berdua," jawab Dirga.
"Iya, Mas. Kita harus terus berkarya dan membuat konten-konten yang bermanfaat untuk masyarakat," kata Sekar.
"Saya setuju, Mbak. Kita harus terus melestarikan wayang kulit dan mengenalkannya kepada generasi muda," kata Dirga.
Setelah kesuksesan video pertama mereka, Sekar dan Dirga semakin termotivasi untuk membuat konten-konten lainnya. Mereka mulai merencanakan video-video tentang tokoh-tokoh wayang, cerita-cerita wayang, dan filosofi wayang kulit. Mereka juga berencana untuk membuat animasi dan infografis tentang wayang kulit.
Sekar dan Dirga berharap bahwa proyek media sosial mereka dapat memberikan kontribusi positif bagi pelestarian wayang kulit dan seni tradisional lainnya di Indonesia. Mereka ingin agar generasi muda semakin mencintai dan menghargai budaya bangsa sendiri.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*