Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Idola di Festival
Minggu malam yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sekar dan Dirga berangkat menuju desa Jaten bersama Ki Purbo dan para anggota komunitas lainnya. Mereka membawa peralatan gamelan, wayang kulit, dan perlengkapan lainnya.
Sesampainya di desa Jaten, mereka disambut dengan meriah oleh warga desa. Pertunjukan wayang kulit akan diadakan di lapangan desa. Panggung sudah didirikan dan penonton sudah mulai berdatangan.
Sekar dan Dirga semakin gugup. Mereka berusaha untuk menenangkan diri dan fokus pada tugas mereka.
Pertunjukan wayang kulit dimulai dengan doa bersama dan sambutan dari kepala desa. Kemudian, para pengrawit mulai memainkan gamelan dengan syahdu.
Sekar dan Dirga duduk di belakang gamelan dan bersiap untuk menembang. Mereka saling memberikan semangat dan dukungan.
Ketika tiba giliran mereka untuk menembang, Sekar dan Dirga menarik napas dalam-dalam dan mulai menyanyikan lagu-lagu Jawa dengan merdu. Suara mereka terdengar syahdu dan menyentuh hati para penonton.
Para penonton terpukau dengan suara Sekar dan Dirga. Mereka memberikan tepuk tangan yang meriah setelah setiap lagu selesai dinyanyikan.
Ki Purbo tersenyum melihat penampilan Sekar dan Dirga. Ia bangga dengan kemajuan yang telah mereka capai.
Setelah menembang, Sekar dan Dirga membantu Ki Purbo dalam memainkan wayang kulit. Mereka menggerakkan wayang dengan lincah dan menghidupkan karakter-karakter wayang dengan baik.
Para penonton terhibur dengan pertunjukan wayang kulit tersebut. Mereka tertawa, sedih, dan terharu dengan cerita yang disampaikan oleh Ki Purbo.
Pertunjukan wayang kulit berakhir dengan sukses. Para penonton memberikan apresiasi yang tinggi kepada Ki Purbo dan para anggota komunitas wayang kulit.
Sekar dan Dirga merasa sangat lega dan bahagia. Mereka berhasil memberikan penampilan yang terbaik dan berkontribusi dalam melestarikan seni wayang kulit.
Setelah pertunjukan selesai, Sekar dan Dirga menghampiri Ki Purbo.
"Ki Purbo, terima kasih banyak atas kesempatan yang telah diberikan kepada kami. Kami sangat senang bisa tampil bersama komunitas ini," kata Sekar dengan tulus.
"Sama-sama, Sekar, Mas Dirga. Kalian berdua sudah tampil dengan sangat baik. Saya bangga dengan kalian," kata Ki Purbo sambil tersenyum.
"Kami masih harus banyak belajar lagi, Ki Purbo," kata Dirga.
"Tentu saja, Mas Dirga. Proses belajar tidak akan pernah berhenti. Teruslah berlatih dan berkarya," kata Ki Purbo.
Setelah itu, Sekar dan Dirga membantu para anggota komunitas lainnya untuk membereskan peralatan. Mereka merasa lelah, tetapi juga sangat puas.
Dalam perjalanan pulang, Sekar dan Dirga saling bertukar cerita tentang pengalaman mereka di desa Jaten.
"Aku nggak nyangka ternyata tampil di depan umum itu seseru ini," kata Sekar.
"Iya, Mbak. Aku juga merasa begitu. Aku jadi semakin semangat untuk belajar tentang wayang kulit," kata Dirga.
"Aku jadi semakin semangat untuk belajar tentang wayang kulit dan berkontribusi dalam melestarikannya," kata Sekar.
"*Kita harus terus membuat konten-konten yang menarik di media sosial dan juga aktif mengikuti kegiatan di komunitas wayang kulit," kata Dirga.
"Aku setuju sekali denganmu, Mas Dirga," kata Sekar sambil tersenyum.
Setelah malam yang penuh pengalaman itu, Sekar dan Dirga semakin termotivasi untuk mengembangkan proyek media sosial mereka dan aktif dalam kegiatan komunitas wayang kulit. Mereka merasa bahwa mereka telah menemukan jalan yang tepat untuk berkontribusi dalam melestarikan seni tradisional ini.
Beberapa minggu kemudian, Ki Purbo menghubungi Sekar dan Dirga.
"Sekar, Mas Dirga, saya ingin mengajak kalian berdua untuk mengikuti festival wayang kulit di kota Surakarta bulan depan," kata Ki Purbo melalui telepon.
"Festival wayang kulit? Wah, itu keren sekali, Ki Purbo!" seru Sekar dengan antusias.
"Iya, Sekar. Festival ini adalah acara tahunan yang diadakan untuk mempromosikan seni wayang kulit kepada masyarakat luas. Ada banyak dalang dari berbagai daerah yang akan tampil di festival ini," kata Ki Purbo.
"Kami sangat tertarik untuk ikut, Ki Purbo. Tapi, apa yang bisa kami lakukan di festival itu?" tanya Dirga.
"Saya ingin kalian berdua membuat liputan tentang festival ini dan mengunggahnya di YouTube dan media sosial lainnya. Kalian bisa mewawancarai para dalang, sinden, dan pengrawit yang tampil di festival ini. Kalian juga bisa membuat video tentang kegiatan-kegiatan yang ada di festival ini," kata Ki Purbo.
"Itu ide yang bagus sekali, Ki Purbo. Kami akan dengan senang hati membuat liputan tentang festival ini," jawab Sekar.
"Baiklah. Nanti saya akan bantu kalian untuk mendapatkan akses ke festival ini," kata Ki Purbo.
Dengan semangat, Sekar dan Dirga mempersiapkan diri untuk membuat liputan tentang festival wayang kulit di Surakarta. Mereka membuat daftar pertanyaan untuk wawancara, menyiapkan peralatan kamera dan audio, serta mempelajari tentang sejarah dan perkembangan festival wayang kulit.
Hari pelaksanaan festival wayang kulit pun tiba. Sekar dan Dirga berangkat menuju Surakarta bersama Ki Purbo dan para anggota komunitas wayang kulit lainnya.
Sesampainya di lokasi festival, mereka terpukau dengan suasana yang meriah dan penuh warna. Ada banyak stand yang menjual wayang kulit, gamelan, dan pernak-pernik lainnya. Ada juga panggung-panggung yang menampilkan pertunjukan wayang kulit dari berbagai daerah.
Saat mereka sedang melihat-lihat, Sekar tiba-tiba menyikut lengan Dirga. "Mas Dirga, itu bukannya Ki Arya Sasongko?" bisik Sekar sambil menunjuk ke arah seorang pria berwibawa yang sedang berjalan di antara stand.
Dirga mengikuti arah pandang Sekar. "Wah, iya, Mbak Sekar! Itu benar Pakde Arya!" jawab Dirga dengan nada terkejut.
"Terus, itu yang di sampingnya, bukannya Mas Prasetyo? Ya ampun, ternyata mereka juga datang ke festival ini!" seru Sekar dengan antusias.
Dirga mengangguk. "Iya, Mbak. Biasanya Pakde Arya memang selalu datang ke festival-festival seperti ini. Mas Prasetyo juga sering ikut, apalagi kalau ada kesempatan untuk tampil," kata Dirga.
Sekar tampak antusias. "Wah, ini kesempatan bagus buat kita untuk kenalan lebih dekat dengan mereka! Kita samperin yuk, Mas Dirga!" ajak Sekar.
Dirga sedikit ragu. "Tapi, Mbak, Pakde Arya itu orangnya agak formal. Saya takutnya malah mengganggu beliau," kata Dirga.
Sekar meyakinkan Dirga. "Ayolah, Mas. Kita kan cuma mau silaturahmi dan belajar dari beliau. Lagian, ini juga kesempatan bagus buat konten kita di YouTube," kata Sekar.
Akhirnya, Dirga mengalah. "Baiklah, Mbak. Tapi, biar saya saja yang bicara duluan ya. Mbak Sekar ikut saja di belakang saya," kata Dirga.
Dengan sedikit gugup, Sekar dan Dirga menghampiri Ki Arya Sasongko dan Prasetyo Sasongko. Dirga mendekat dan menyapa dengan sopan.
"Sugeng siang, Pakde Arya. Selamat siang, Mas Prasetyo," sapa Dirga sambil mencium tangan Ki Arya.
Ki Arya Sasongko menoleh dan tersenyum tipis saat melihat Dirga. "Oh, Dirga. Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Ki Arya.
"Baik, Pakde. Pakde sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Dirga.
"Baik juga. Kamu sedang apa di sini?" tanya Ki Arya.
"Saya sedang membuat liputan tentang festival ini, Pakde. Sekalian ingin belajar lebih banyak tentang wayang kulit," jawab Dirga.
Ki Arya mengangguk-angguk. "Baguslah kalau ada anak muda yang peduli dengan wayang kulit," kata Ki Arya.
Dirga kemudian menoleh ke arah Prasetyo dan menyapanya. "Selamat siang, Mas Prasetyo," sapa Dirga.
Prasetyo tersenyum ramah. "Eh, Dirga. Selamat siang juga. Sedang sibuk membuat konten ya?" tanya Prasetyo.
"Iya, Mas. Mas Prasetyo sendiri sedang apa di sini?" tanya Dirga.
"Saya cuma menemani Bapak saja. Sekalian ingin melihat-lihat perkembangan wayang kulit zaman sekarang," jawab Prasetyo.
Dirga kemudian menoleh ke arah Sekar dan mengenalkannya kepada Ki Arya dan Prasetyo. "Pakde, Mas, perkenalkan, ini Sekar, teman saya. Dia juga sangat tertarik dengan wayang kulit," kata Dirga.
Sekar tersenyum dan mengangguk sopan. "Selamat siang, Ki Arya, Mas Prasetyo," sapa Sekar.
Ki Arya hanya mengangguk singkat sebagai balasan. Sementara Prasetyo tersenyum ramah pada Sekar. "Selamat siang, Mbak Sekar. Saya sering lihat video liputan Mbak Sekar dan Dirga di YouTube. Keren-keren videonya," kata Prasetyo.
"Terima kasih, Mas Prasetyo," jawab Sekar dengan senang hati.
Dirga kemudian memberanikan diri untuk menyampaikan maksudnya. "Pakde, Mas, sebenarnya kami ingin sekali belajar lebih banyak tentang wayang kulit dari Pakde dan Mas Prasetyo. Apakah Pakde dan Mas Prasetyo bersedia kami wawancarai untuk konten kami di YouTube?" tanya Dirga dengan sopan.
Ki Arya tampak berpikir sejenak. "Wawancara? Hmmm... Saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan publisitas. Tapi, karena kamu yang minta, Dirga, baiklah. Nanti kita bicarakan lebih lanjut,"* kata Ki Arya.
Prasetyo tersenyum dan menimpali. "Kalau saya sih siap saja, Dirga. Kapan saja boleh," kata Prasetyo.
Dirga merasa lega dan senang mendengar jawaban Ki Arya dan Prasetyo. "Terima kasih banyak, Pakde, Mas. Kami sangat menghargai kesediaan Pakde dan Mas Prasetyo," kata Dirga dengan tulus.
"Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu ya, Pakde, Mas. Kami mau melanjutkan liputan," kata Dirga sambil berpamitan.
"Silakan, Dirga. Selamat bekerja," kata Ki Arya.
Setelah berpamitan, Sekar dan Dirga menjauh dari Ki Arya dan Prasetyo. Sekar langsung menepuk lengan Dirga dengan semangat.
"Mas Dirga, kamu hebat banget! Aku nggak nyangka bisa ngobrol langsung sama Ki Arya dan Mas Prasetyo," seru Sekar dengan gembira.
"Iya, Mbak. Saya juga kaget Pakde Arya mau diwawancarai. Mungkin karena saya keponakannya ya," kata Dirga sambil tersenyum.
"Sekarang kita harus mempersiapkan pertanyaan yang bagus untuk wawancara nanti. Kita harus membuat konten yang benar-benar berkualitas," kata Sekar dengan semangat.
Dirga mengangguk setuju. "Betul sekali, Mbak. Kita harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin," kata Dirga.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*