NovelToon NovelToon
Takdir Paranormal Gadungan

Takdir Paranormal Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Mata Batin / Iblis / Anak Yatim Piatu / Roh Supernatural
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Princss Halu

Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
​Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
​Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
​Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
​Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengamanan Lokadi Ritual

Nam dengan setia duduk di karpet di samping sofa tempat Freen tertidur. Ia menggunakan waktu istirahat singkat itu untuk membalas pesan dari Bibi Som (mengatakan mereka sibuk dengan kasus di luar kota) dan mengatur logistik untuk perjalanan mereka ke lokasi proyek malam nanti.

Wajah Freen yang pucat dan kelelahan masih mengkhawatirkan Nam, tetapi ia tahu bahwa Freen membutuhkan tidur itu lebih dari apa pun.

Tidak lama kemudian, keheningan di ruang tamu yang besar itu terpecah.

Terdengar langkah kaki perlahan menuruni tangga. Nam mendongak, dan hatinya langsung dipenuhi kehangatan. Di sana, di tangga, berdiri Nyonya Vongrak. Di sebelahnya, berjalan dengan langkah lemah namun pasti, adalah Rebecca.

Rebecca terlihat jauh lebih baik. Wajahnya tidak lagi kehijauan, matanya terbuka dan meskipun masih terlihat lelah, sorot matanya sudah kembali normal. Ia mengenakan piyama sutra dan didampingi erat oleh ibunya.

Mereka berjalan pelan menuju ruang tamu, tempat Freen dan Nam beristirahat.

Saat mereka mendekat, Tuan Vongrak muncul dari lorong, diikuti oleh asisten rumah tangga yang membawa nampan berisi teko teh, kopi, dan camilan mewah.

"Nyonya Vongrak, Rebecca, kalian sudah bangun," sapa Tuan Vongrak dengan suara lega.

Ia memberi isyarat kepada asistennya untuk meletakkan nampan itu di meja kopi, berdekatan dengan sofa.

Rebecca menatap Freen yang terlelap di sofa, lalu menatap Nam. Ia tersenyum tipis.

Nam, yang melihat Nyonya Vongrak mendekat, hendak membangunkan Freen. Ia membungkuk ke sofa dan berbisik, "Freen, bangun. Mereka datang..."

Namun, Nyonya Vongrak segera meletakkan tangan lembutnya di bahu Nam, mencegahnya.

"Jangan, Nak Nam," bisik Nyonya Vongrak, matanya penuh rasa terima kasih.

"Biarkan Nona Freen beristirahat. Kami tahu betapa lelahnya dia setelah menyelamatkan putri kami. Dia perlu memulihkan tenaganya."

Rebecca ikut mengangguk. Ia berjalan perlahan ke sofa di sebelah Freen.

"Aku bisa merasakannya, Ibu," bisik Rebecca, suaranya lemah. "Bayangan marah itu sudah pergi. Dia... dia seperti bertarung untukku."

Tuan Vongrak menghela napas, rasa bersalahnya tampak jelas. "Dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Kita harus menghargainya."

Nyonya Vongrak berbalik ke Nam. "Nak Nam, Anda pasti juga lelah. Silakan minum teh dan makan. Kami hanya ingin mengucapkan terima kasih. Tolong sampaikan pada Nona Freen saat dia bangun, bahwa kami sangat berhutang budi padanya. Dan kami akan melaksanakan semua yang dia minta untuk ritual besok. Suami saya sudah menghubungi Biksu agung."

Nam merasa tersentuh oleh kebaikan dan ketulusan keluarga itu. "Terima kasih banyak, Nyonya Vongrak. Saya akan menyampaikannya. Kami sangat menghargai kepercayaan Anda."

Rebecca berdiri di dekat sofa, menatap wajah Freen yang damai dalam tidurnya. Untuk pertama kalinya, Freen bisa tidur tanpa ketegangan spiritual.

Nam tersenyum. Misi mereka telah membuahkan hasil, bukan hanya uang, tetapi juga kebahagiaan sebuah keluarga. Ia memutuskan untuk menikmati kopi dan melanjutkan risetnya tentang Kuil Agung, membiarkan Freen menikmati istirahatnya yang layak, setidaknya untuk beberapa jam lagi.

Pertarungan malam ini di lokasi proyek akan membutuhkan Freen Sarocha dalam kondisi prima.

Nam mengangguk dan tersenyum pada Nyonya Vongrak dan Rebecca, menerima secangkir teh hangat. Kehadiran Rebecca yang kembali pulih memberinya semangat baru. Ia menunggu sejenak hingga Tuan Vongrak selesai berbicara di telepon dengan Biksu, mengatur detail ritual.

Ketika Tuan Vongrak kembali duduk, Nam memutuskan untuk menyampaikan rencana mereka.

"Tuan Vongrak," kata Nam dengan nada profesional, memastikan perhatian Tuan Vongrak tertuju padanya.

"Meskipun Nona Freen sudah berhasil menstabilkan kondisi Rebecca, Roh-roh Leluhur itu hanya setuju untuk gencatan senjata hingga ritual besok pagi dilaksanakan."

Nam merendahkan suaranya, "Kami merasa tidak tenang. Kami harus memastikan tidak ada gangguan spiritual di lokasi proyek malam ini, dan semua persiapan untuk ritual besok berjalan lancar. Nona Freen dan saya berencana pergi ke sana malam ini, untuk berjaga dan memastikan semuanya aman sampai acara ritual besok dilaksanakan."

Tuan Vongrak mendengarkan dengan serius, rasa takut bercampur hormat terlihat di matanya. Ia mengerti bahwa masalah ini jauh melampaui kemampuan polisi atau petugas keamanan biasa.

"Jika kalian akan ke proyek," ujar Tuan Vongrak segera, "Saya tidak bisa membiarkan kalian pergi sendirian menggunakan taksi online di daerah yang sepi seperti itu. Daerah proyek itu sangat gelap dan terpencil di malam hari. Nanti supir saya bisa mengantar kalian dan saya akan meminta mandor proyek menemani kalian di sana. Saya juga akan meminta mereka mendirikan tenda, menyediakan kopi, dan memastikan kalian mendapatkan makanan hangat."

Tawaran Tuan Vongrak sangat membantu logistik mereka. Daerah proyek yang terpencil adalah risiko keamanan tersendiri, terlepas dari ancaman spiritual. Bantuan pengamanan dan fasilitas dari klien adalah keuntungan besar.

"Itu akan sangat membantu kami, Tuan Vongrak. Terima kasih," jawab Nam, lega. Ia tahu Freen akan sangat menghargai kenyamanan dan keamanan tambahan itu.

Nam menoleh ke sofa, Freen masih terlelap. Freen terlihat begitu damai, seperti ia telah menumpuk waktu tidur selama berbulan-bulan yang hilang.

"Saya akan biarkan Nona Freen beristirahat sedikit lagi. Kami akan berangkat setelah magrib, Tuan Vongrak," kata Nam.

"Sementara itu, saya akan melanjutkan riset saya di ruang kerja Anda, jika diizinkan."

"Silakan, Nak Nam. Gunakan apa pun yang kalian butuhkan," kata Tuan Vongrak, menunjuk ke ruang kerjanya.

"Kalian telah menyelamatkan putri saya. Saya akan memastikan semua permintaan kalian dipenuhi."

Nam mengangguk, lalu menoleh sekali lagi ke arah Freen. Ia tersenyum kecil. Freen, sebentar lagi kau akan bangun dan menjadi 'paranormal high-class' yang dikawal supir pribadi ke lokasi proyek. Karma ini memang ajaib.

Nam pun beranjak menuju ruang kerja Tuan Vongrak untuk menyusun data lokasi proyek dan informasi Biksu agung yang akan memimpin ritual, membiarkan Freen menikmati istirahat terakhir sebelum pertarungan pamungkas melawan kemarahan leluhur dimulai.

Matahari sudah mulai condong ke barat saat Freen perlahan terbangun. Ia merasa jauh lebih baik, meskipun masih ada sisa-sisa kelelahan dari pertempuran spiritual yang ia alami. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan Mustika Merah Delima di dadanya, dan yang kedua adalah aroma kopi yang tajam.

Nam duduk di sofa di seberangnya, sudah berganti pakaian menjadi lebih rapi dan santai, dan ia tampak segar. Di meja kopi, ada laptop yang menyala dan secangkir kopi hitam yang mengepul, menunggu Freen.

"Selamat pagi, Bos. Atau haruskah aku bilang, selamat sore?" sapa Nam sambil tersenyum lebar.

Freen menggeliat, merasakan setiap ototnya meregang. "Pagi, Researcher. Berapa lama aku tertidur?"

"Empat jam yang luar biasa," jawab Nam.

"Dan banyak hal terjadi. Rebecca sudah bangun dan memelukmu dari jauh. Nyonya Vongrak sangat berterima kasih. Dan Tuan Vongrak sudah mentransfer biaya konsultasi awal kita—jumlahnya sungguh gila, Freen! Dan yang paling penting: logistik untuk misi malam ini sudah aman."jelas Nam, penuh semangat.

Freen meraih cangkir kopi. "Logistik apa?"

"Tuan Vongrak menyediakan supir pribadi untuk mengantar kita ke lokasi proyek. Mandor proyek juga akan menemani kita, menyiapkan tenda dan kopi. Kita tidak perlu kedinginan di tempat makam kuno itu," jelas Nam, bangga.

Freen mengangkat alisnya. "Wow. Dari motor butut Nam ke mobil mewah dengan supir pribadi. Terima kasih, Dewi Nakha, untuk peningkatan karir yang cepat ini."

Freen menyesap kopinya, merasakan energi kembali ke tubuhnya.

"Baik. Sudah waktunya kita menghadapi para leluhur itu secara langsung. Apa yang sudah kau riset tentang makam itu?"

Nam menyodorkan tablet-nya. "Makam itu milik klan bangsawan tua di masa lalu. Mereka sangat dihormati. Sengketa Tuan Vongrak melibatkan area pemakaman utama. Ini yang penting, Freen: Tuan Vongrak tidak hanya membangun di atasnya, dia juga memindahkan patung penjaga makam. Roh-roh itu sangat terikat pada patung itu."

Freen menatap foto patung kuno di tablet itu—patung batu dengan ukiran wajah yang serius dan kuno.

"Jadi, mereka tidak hanya marah karena diganggu, mereka marah karena penjaga mereka dicabut dari tempatnya. Kita harus mencari patung itu, Nam."

"Aku sudah mencarinya. Mandor proyek melaporkan bahwa patung itu disimpan di gudang penyimpanan material proyek, di pinggiran lokasi, karena dianggap 'tidak punya nilai seni' oleh Tuan Vongrak."

"Tugas kita malam ini: Menginspeksi lokasi, memastikan Biksu sudah siap, dan yang paling penting, memindahkan patung penjaga itu kembali ke posisi asalnya sebelum ritual besok. Itu akan menjadi simbol perdamaian terbesar," putus Freen.

"Aku yakin itu adalah kunci untuk menenangkan amarah mereka sepenuhnya."

Tuan Vongrak muncul kembali, mengenakan jaket ringan. "Nona Freen, Nona Nam. Supir sudah siap. Apakah kalian siap berangkat?"

Freen bangkit, ia merasa sepenuhnya kembali. Mustika Merah Delima memancarkan kehangatan yang kuat.

"Kami siap, Tuan Vongrak," kata Freen, senyum percaya diri kembali di wajahnya.

"Kami akan memastikan tanah itu tenang malam ini, sehingga putri Anda aman selamanya. Anda sudah siapkan Mandor yang kooperatif, kan?"

"Tentu saja. Dia akan membantu Anda apa pun yang Anda minta."

Freen mengangguk. Ia berjalan menuju pintu depan. Misi pengamanan spiritual di lokasi proyek dimulai. Mereka harus menghadapi kegelapan di makam kuno itu, tetapi kali ini, mereka datang sebagai negosiator yang memiliki wewenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!