Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Pagi itu, suasana di kediaman Amara Lathifa terasa jauh lebih hidup. Sinar matahari yang mengintip dari celah gorden ruang makan seolah membawa semangat baru, meskipun sisa trauma kejadian kemarin masih menyisakan sedikit rasa waspada di hati Ifa.
Ifa berdiri di depan cermin besar di ruang tamu, merapikan kerah seragam putih abu-abunya. Ia menyisir rambutnya yang panjang dan membiarkannya tergerai rapi, lalu memastikan gantungan kunci kucing pemberian Nicholas terpasang kuat di tas ranselnya. Entah kenapa, melihat benda kecil itu membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
"Bang Ryan! Ayo berangkat, udah jam tujuh kurang sepuluh nih!" seru Ifa sambil memakai sepatu ketsnya dengan terburu-buru.
Ryan yang sedang asyik menyesap kopi hitam sambil membaca grup WhatsApp himpunan hanya bergumam tidak jelas.
Ifa mendekat, lalu menepuk bahu abangnya dengan cukup keras. "Abang! Anterin donggg. Hari ini aku ada kuis sejarah jam pertama, jangan sampai telat."
Ryan menurunkan ponselnya, lalu memberikan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak langsung menjawab, melainkan hanya mengedikkan dagunya ke arah pintu depan yang terbuka lebar.
"Gue nggak bisa, Dek. Ada kelas pagi jam delapan, dan motor gue bannya lagi kurang angin. Tapi tenang aja, jemputan lo udah siap di depan," ucap Ryan santai.
Ifa mengernyitkan dahi. "Jemputan? Aku nggak pesen ojol."
Ia melangkah menuju pintu dan seketika bahunya merosot. Di depan pagar rumahnya, sudah terparkir motor besar hitam yang sangat familiar. Nicholas bersandar di sana, masih dengan jaket kulitnya, namun kali ini ia memakai kaos berwarna abu-abu. Ia sedang memainkan kunci motor di jarinya, tampak sangat santai seolah itu adalah rutinitas paginya.
"Apa sih! Aku mau sama Abang aja!" rengek Ifa sambil berbalik ke arah Ryan. ia menarik-narik lengan jaket abangnya. "Ayo dong, Bang. Sekalian aku mau palak Abang nasi uduk di depan sekolah yang biasanya itu. Plisss, udah lama nggak makan nasi uduk Bang Jago."
Ryan tertawa, ia mengacak rambut adiknya. "Nasi uduk doang? Nick juga bisa beliin lo satu gerobaknya kalau lo mau. Udah sana, dia udah nungguin dari tadi. Kasihan mahasiswa tingkat tiga jam segini udah standby di depan rumah orang."
"Iih, Abang mah gitu! Nggak seru!" Ifa menghentakkan kakinya.
Dengan wajah cemberut yang ditekuk sedalam mungkin, Ifa berjalan keluar menemui Nicholas. Nicholas hanya menaikkan sebelah alisnya saat melihat wajah Ifa yang tidak bersahabat.
"Lama banget. Lo dandan dulu atau ngerjain skripsi di dalem?" tanya Nick ketus seperti biasa.
"Nggak usah banyak tanya! Kenapa sih Kakak ke sini lagi? Aku kan udah bilang mau bareng Bang Ryan!" protes Ifa.
Nick menyerahkan helm cadangannya pada Ifa. "Ryan ada urusan. Dan mulai hari ini, jadwal berangkat dan pulang lo adalah urusan gue. Paham?"
"Nggak paham! Aku mau nasi uduk!"
Nick terdiam sejenak, lalu ia menyeringai—sebuah seringai yang kali ini terasa sedikit lebih... lunak. "Cuma gara-gara nasi uduk lo nolak boncengan sama cowok paling ganteng se-Fakultas Teknik?"
"Pede banget! Nasi uduk Bang Jago itu enak banget, tahu! Ada semur jengkolnya, telor dadar iris, terus sambalnya mantap. Kalau bareng Kakak, pasti langsung diajak ngebut ke sekolah," keluh Ifa.
Nick menarik napas panjang, seolah sedang melatih kesabarannya. "Ya udah, naik. Kita mampir ke nasi uduk itu."
Mata Ifa berbinar sesaat, tapi ia segera menetralkan ekspresinya. "Beneran ya? Jangan bohong. Dan satu lagi... jangan ngebut! Aku baru sarapan sereal, jangan sampai keluar lagi."
"Iya, Bawel. Naik sekarang atau gue berubah pikiran?"
Sepanjang jalan, Nicholas benar-benar menepati janjinya. Ia membawa motornya dengan kecepatan yang sangat wajar, bahkan cenderung santai. Hal ini membuat Ifa merasa lebih nyaman.
Begitu sampai di depan gerobak Nasi Uduk Bang Jago yang ramai oleh anak sekolah, Nick memarkirkan motornya dengan gagah. Kehadirannya yang terlihat seperti "kakak tingkat galak" langsung mencuri perhatian siswi-siswi yang sedang mengantre.
"Bang, nasi uduknya satu. Makan sini," ucap Ifa semangat. Ia menoleh ke arah Nick. "Kakak mau makan nggak?"
"Samain aja," jawab Nick singkat. Ia duduk di bangku panjang kayu yang sempit, membuat kakinya yang panjang harus menekuk canggung.
Pemandangan itu terlihat lucu di mata Ifa. Nicholas yang biasanya terlihat sangat dominan dan "mahal" kini duduk di pinggir jalan sambil menunggu nasi uduk bungkus karet dua.
"Nih, makan yang banyak biar otak lo nggak lemot pas kuis sejarah," ucap Nick saat pesanan datang. Ia memberikan bagian telor dadarnya ke piring Ifa.
Ifa tertegun. "Lho? Buat Kakak mana?"
"Gue nggak suka telor dadar iris," bohong Nick. Padahal semalam ia baru saja makan itu di rumah.
Ifa tersenyum tipis, kali ini senyum yang tulus. "Makasih, Kak."
Saat mereka sedang asyik makan, tiba-tiba sebuah motor matic berhenti di depan mereka. Pengendaranya adalah Daffa. Cowok itu tampak terkejut melihat Amara duduk berdua dengan Nicholas di tempat umum sepagi ini.
"Amara?" panggil Daffa.
Ifa tersedak sedikit. "Eh, Daffa. Pagi, Daff."
Nick yang tadinya tenang, mendadak berubah mode. Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Daffa dengan tatapan yang sangat dingin. Ia sengaja menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Ifa, seolah sedang menandai wilayahnya kembali.
"Lagi sarapan, Ra?" tanya Daffa, mencoba mengabaikan hawa membunuh dari Nicholas.
"Iya, Daff. Mau bareng?" tawar Ifa canggung.
"Enggak, gue—"
"Dia udah selesai sarapannya. Dan kita mau berangkat sekarang," potong Nick tajam. Ia berdiri, lalu menaruh selembar uang lima puluh ribuan di meja tanpa menunggu kembalian. "Ayo, Ifa. Telat nanti."
Nick menarik tangan Ifa—bukan dengan kasar, tapi dengan gerakan yang sangat posesif. Sebelum pergi, Nick melirik ke arah Daffa melalui sudut matanya.
"Lain kali kalau mau nyapa, liat-liat situasi. Dia lagi sama gue," desis Nick pelan namun penuh penekanan.
Daffa hanya bisa terdiam melihat Amara ditarik pergi. Di sisi lain, Ifa merasa jantungnya berdebar tidak karuan. Ada rasa kesal karena Nick selalu bersikap bossy, tapi ada rasa hangat yang aneh saat menyadari bahwa Nicholas tidak pernah main-main dengan ucapannya untuk menjaganya.
"Kak! Pelan-pelan jalannya, aku hampir jatuh!" protes Ifa saat mereka sudah sampai di samping motor.
Nick berbalik, menatap mata Ifa dengan serius. "Gue nggak suka dia liatin lo kayak gitu, Fa. Lo itu... lo nggak tahu seberapa berharganya lo buat gue, jadi berhenti bersikap terlalu ramah sama cowok lain."
Ifa tertegun. Ia melihat kejujuran di mata Nicholas. Nick bukan sedang marah, dia sedang... takut kehilangan. Memori dua tahun lalu kembali melintas, membuat kemarahan Ifa menguap begitu saja.
"Iya, Kak Nick. Maaf," bisik Ifa pelan.
Nick mengusap puncak kepala Ifa sebentar—sebuah gerakan langka yang sangat lembut—sebelum memakaikan helm ke kepala gadis itu. "Ya udah, ayo sekolah. Belajar yang bener."