Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Belas
Abi, Umi, aku sudah melepaskan kalian dengan ribuan tetesan air mataku. Aku merelakan kalian dengan hati yang ikhlas. Tidak ada rasa yang lebih sakit dari kehilangan kedua orang tua. Pada bunga yang kutabur, ada rindu yang terkubur. Pada air yang kusiram, ada memori usang yang terekam. Untuk Abi dan Umi, yang telah tiada terlebih dahulu, bisakah kau hadir menenangkan riuh rindu pada buih masa lalu? Datanglah nanti sekejab dalam tidur dimimpiku. Tiada cinta setulus cinta kalian. Tiada pelukan sehangat pelukanmu, Abi, Umi. Aku titipkan doa pada Allah, bahwa aku merindukan kalian. Sekarang hanya sepucuk doa yang aku punya. Semoga Abi dan Umi tenang di alam sana. Sampai jumpa di surga.
Langit sore mulai meredup ketika rombongan kembali dari pemakaman. Rumah yang sejak pagi dipenuhi pelayat kini terasa lebih sunyi, meski beberapa tetangga masih hilir mudik membantu membereskan kursi dan gelas air mineral.
Hanin duduk di ruang tengah, tepat di tempat dua keranda tadi sempat disandingkan.
Semua terasa kosong. Seolah rumah itu ikut kehilangan napasnya.
Ghania duduk di sampingnya, menggenggam jemarinya yang dingin.
“Nin … makan sedikit ya,” bujuk salah satu ibu tetangga sambil menyodorkan semangkuk sup hangat.
Hanin menggeleng pelan. “Belum bisa, Bu.”
“Kalau kamu tumbang, siapa yang doakan orang tuamu?” tegur ibu itu lembut.
Kalimat itu membuat Hanin menelan ludah. Ia memaksa menyuapkan dua sendok kecil. Rasanya hambar. Entah karena supnya memang tawar atau lidahnya yang sudah mati rasa.
Menjelang Maghrib, para lelaki mulai berdatangan kembali untuk takziah malam pertama. Tikar digelar. Kursi disusun rapi. Lampu-lampu dinyalakan lebih terang.
Ustaz Hamid berdiri di depan, memimpin doa dan tahlil. Suaranya berat, namun tetap teduh.
Hanin duduk di anatara para ibu-ibu. Setiap lantunan ayat terdengar seperti pelukan yang menenangkan, meski tangisnya tetap tak berhenti.
“Ya Allah, ampuni kedua orang tua kami yang telah Engkau panggil hari ini .…” Suara Ustaz Hamid menggema.
Hanin memejamkan mata.
Ya Allah … tolong jaga Abi dan Umi. Jangan biarkan mereka sendirian di sana.
Air matanya jatuh lagi. Selesai doa, beberapa tetangga menghampirinya.
“Sabar ya, Nak.”
“Kalau butuh apa-apa, bilang saja.”
Hanin hanya mengangguk pelan. “Terima kasih, Bu … Pak .…”
Malam semakin larut. Satu per satu tamu pulang. Tinggal keluarga dekat dan beberapa tetangga inti.
Ghania memeluk Hanin lagi sebelum masuk ke kamar tamu.
“Aku di sini sampai besok,” bisiknya.
Hanin menatapnya lama. “Makasih, Nia .…”
“Kamu nggak sendiri.”
Hanin tidak menjawab. Karena ia merasa tetap saja kosong.
Keesokan paginya, rumah kembali dipenuhi doa. Siang itu suasana lebih tenang. Tidak seramai hari pertama.
Hanin duduk di teras bersama Ustaz Hamid.
“Nak,” ucap beliau pelan, “Setiap kehilangan adalah ujian. Dan Allah tidak pernah salah memilih siapa yang diuji.”
Hanin menunduk. “Tapi kenapa harus Hanin, Ustaz? Kenapa dua-duanya sekaligus?”
Ustaz Hamid menghela napas panjang. “Karena mungkin Allah tahu, kalau satu yang pergi, kamu masih akan bergantung pada yang lain. Sekarang Allah ingin kamu bergantung penuh pada-Nya.”
Air mata Hanin jatuh lagi. “Apa Hanin bisa, Ustaz?”
“Bisa,” jawabnya mantap. “Kamu anak yang kuat. Cuma kamu belum sadar saja.”
Sore itu, setelah tahlil hari kedua selesai, Ustaz Hamid dan Ghania bersiap pulang.
Hanin berdiri di depan pagar, memeluk Ghania erat.
“Kamu yakin nggak apa-apa kalau aku pulang?” tanya Ghania dengan mata berkaca-kaca.
Hanin mengangguk. “Nggak apa-apa.”
“Maaf aku nggak bisa lama-lama temenin kamu. Aku masih harus ngajar di pesantren. Anak-anak lagi ujian.”
Hanin tersenyum tipis. “Kehadiran kamu dua hari ini aja sudah jadi obat buat aku.”
Ghania menangis lagi. “Jangan dipendam sendiri ya.”
“Nggak.”
Ustaz Hamid mendekat. “Nak Hanin,” ucapnya lembut, “kalau kamu ingin kembali ke pondok, jangan dipaksakan cepat-cepat. Ambil waktu yang kamu butuhkan.”
Hanin terdiam beberapa detik. “Hanin minta waktu seminggu, Ustaz. Setelah itu … Hanin akan kembali.”
Ustaz Hamid tersenyum. “Kapan hatimu ingin kembali, datanglah. Jangan dipaksakan.”
Hanin mengangguk pelan. “Doakan Hanin kuat, Ustaz.”
“Setiap hari.”
Mobil itu akhirnya melaju pergi. Hanin berdiri sampai kendaraan itu hilang di tikungan jalan.
Kini benar-benar tinggal ia dan beberapa tetangga yang masih membantu. Rumah terasa lebih besar dari biasanya.
Malam itu, Hanin masuk ke kamar orang tuanya sendirian. Ia membuka pintu perlahan.
Aroma khas Umi masih terasa. Lemari kayu di sudut ruangan. Sajadah terlipat rapi. Kacamata baca Abi di atas meja kecil. Hanin melangkah masuk, lalu duduk di tepi ranjang.
“Abi … Umi .…” Suaranya langsung pecah.
Ia memeluk bantal yang biasa dipakai ibunya. “Kenapa kamarnya masih hangat, tapi orangnya nggak ada?”
Tangisnya pecah tanpa ditahan.
“Hanin belum sempat bahagiain Abi … belum sempat beliin Umi mukena yang Umi pengin .…”
Ia tersedu-sedu. “Maafin Hanin ya kalau selama ini sering membantah, sering bikin capek .…”
Ia menunduk, dahinya menyentuh kasur. “Kalau boleh jujur, Hanin marah sama Allah tadi. Hanin sempat bilang kenapa harus sekarang.”
Tangisnya makin dalam. “Tapi Hanin takut dosa. Jadi Hanin minta maaf .…”
Ia menatap foto keluarga di atas meja. “Kalian pasti lagi bareng kan sekarang?”
Hanin menangis sampai kelelahan. Sampai akhirnya tertidur di atas sajadah Abi.
Hari demi hari berlalu. Takziah terus berlangsung sampai hari ketujuh. Tetangga masih setia datang. Namun setiap malam setelah semua pulang, Hanin kembali menangis di kamar itu.
Hari kelima, ia duduk sendirian di ruang makan. Biasanya Umi akan memanggilnya.
“Nin, makan dulu!”
Sekarang tidak ada suara itu lagi. Ia mengambil piring sendiri.
“Umi … Hanin makan ya.” Seolah masih ingin izin.
Hari ketujuh, ia mulai merapikan lemari. Melipat pakaian Abi dan Umi.
Setiap menemukan benda kecil, kenangan datang menyerbu. “Ini baju koko Abi waktu Lebaran .…” Tangis lagi.
Hingga tak terasa sudah hari kesepuluh.
Pagi itu, Hanin bangun dengan mata sembap, tapi hatinya terasa sedikit lebih stabil.
Ia duduk di teras, menatap langit. “Abi … Umi … Hanin harus lanjut hidup ya?”
Angin pagi berembus lembut. Hari itu ia mengambil keputusan. Ia akan kembali ke pondok.
Sore harinya, sebelum berkemas, Hanin pergi ke makam. Langkahnya pelan menyusuri jalan setapak yang sudah mulai ia hafal.
Dua gundukan tanah itu kini mulai ditumbuhi rumput tipis. Hanin duduk di tengah-tengahnya.
“Abi … Umi … Hanin datang lagi.”
Ia mengusap tanah itu perlahan. “Besok Hanin mau kembali ke pondok.”
Air matanya jatuh, tapi tidak lagi sekeras hari pertama. “Hanin nggak boleh lama-lama tenggelam dalam kesedihan. Abi sama Umi pasti nggak mau Hanin berhenti belajar.”
Ia tersenyum kecil di sela tangis. “Setiap liburan Hanin akan datang. Hanin janji.”
Ia memegang tanah itu erat. “Ini rumah terakhir kalian ya … Hanin akan jaga dengan doa.”
Angin kembali berembus. “Abi … Umi … doakan Hanin ikhlas dan sabar menghadapi semua ujian sendirian.”
Suaranya bergetar. “Hanin sayang kalian.”
Tangisnya jatuh lagi. “Tolong datanglah sesekali dalam mimpi Hanin. Jangan lama-lama ya, sebentar aja, biar Hanin tahu kalian tenang.”
Ia membaca doa panjang. Mengirim Al-Fatihah berkali-kali. “Kalau Hanin nanti capek … Hanin ke sini lagi ya. Cerita di sini.”
Ia menatap nisan itu dalam-dalam. “Terima kasih sudah jadi orang tua terbaik.”
Air matanya membasahi tanah. “Sekarang Hanin pamit dulu.”
Ia berdiri perlahan. “Jangan lupa tunggu Hanin di surga.”
Langkahnya mundur pelan, enggan membelakangi makam itu. Beberapa kali ia menoleh. Dua nisan itu berdiri berdampingan.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??