Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Bencana Kopi
"Kau dengar itu, mesin bodoh? Jangan sampai meleset."
Harper berbicara pada mesin kopi seharga mobil keluarga yang bertengger angkuh di pantry kantor. Jarinya menekan tombol 'Double Espresso' dengan kekuatan yang sedikit berlebihan, seolah dia sedang menekan tombol peluncur nuklir untuk meledakkan ruangan CEO di seberang sana.
Suara mendesis tajam memenuhi ruangan kecil itu. Uap panas mengepul, membawa aroma pahit yang biasanya menenangkan, tapi kali ini hanya membuat darah Harper semakin mendidih. Dia melirik termometer digital yang dia tancapkan ke dalam cangkir. Angka di layar berkedip cepat.
88... 89... 90.
"Pas. Sempurna. Jangan berani-berani turun," ancam Harper pada cangkir porselen putih itu.
Dia tidak punya waktu untuk meludah ke dalamnya—meskipun ide itu sangat menggoda. Dominic Vance, si bayi raksasa yang minta jadwal rapat triliunan dibatalkan demi main golf, sedang menunggu 'bahan bakar'-nya.
Harper menarik napas panjang, memaksakan wajah datarnya kembali terpasang, lalu melangkah keluar. Dia berjalan cepat. Bukan karena semangat, tapi karena dia tahu kopi ini punya masa hidup yang pendek sebelum suhunya turun dan menjadi alasan bagi Dominic untuk memecat seseorang lagi hari ini.
Pintu ruangan Dominic terbuka lebar. Pria itu sudah tidak lagi duduk di kursinya. Dia kini berdiri di depan jendela kaca, memegang stik golf—entah dari mana dia mendapatkannya—dan melakukan gerakan mengayun imajiner ke arah gedung pencakar langit di seberang.
"Bahu kirimu terlalu rendah," komentar Harper sambil meletakkan cangkir di atas meja kerja yang bersih tanpa debu.
Dominic tidak menoleh. Dia menyelesaikan ayunannya dengan gaya berlebihan. "Dan kau terlalu lambat. Apa kau menanam biji kopinya dulu di halaman belakang?"
"Mesinnya butuh waktu pre-heating agar tekanannya stabil, Pak. Bapak mau kopi atau air limbah?" sahut Harper tak kalah pedas.
Dominic mendengus, meletakkan stik golfnya di sofa kulit, lalu berjalan mendekati meja. Dia menatap cangkir itu seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak.
"Warnanya bagus," gumam Dominic, tangannya terulur. "Kremanya tebal. Aromanya... hm, lumayan. Tidak bau gosong seperti buatan sekretaris lantai tiga."
"Silahkan dinikmati sebelum dingin."
Dominic mengangkat cangkir itu dengan elegan, jari kelingkingnya sedikit terangkat. Dia mendekatkan bibir cangkir ke mulutnya, memejamkan mata sejenak untuk menghirup uapnya, lalu menyesap cairan hitam pekat itu.
Satu detik.
Dua detik.
PRANG!
Suara porselen menghantam lantai terdengar nyaring. Bukan pecah karena jatuh, tapi karena Dominic mendorongnya kasar dari meja seolah cangkir itu baru saja menggigit lidahnya. Cairan hitam panas muncrat ke mana-mana—mengotori karpet sutra Persia, memercik ke ujung sepatu hak tinggi Harper, dan menodai kaki meja yang mengkilap.
Harper tidak berteriak. Dia bahkan tidak melompat kaget. Dia hanya menunduk, menatap noda kopi di sepatu mahalnya dengan tatapan kosong. Sepatu itu baru dia beli minggu lalu dengan uang bonus lembur.
"Apa-apaan ini?" desis Dominic. Suaranya rendah, berbahaya.
"Itu kopi, Pak. Arabica, single origin, dari dataran tinggi Ethiopia. Harganya per gram lebih mahal dari harga diri Bapak saat ini," jawab Harper tenang, meski tangannya di samping tubuh sudah mengepal erat.
"Jangan bercanda!" bentak Dominic. Wajahnya yang tadi santai kini berubah garang. Dia menunjuk genangan kopi di lantai. "Kau mau membunuhku? Kau mau merusak pita suaraku dengan air dingin ini?"
Harper mengangkat wajahnya perlahan. "Dingin?"
"Suhunya salah!" Dominic menggebrak meja. "Aku minta 90 derajat! Sembilan puluh! Bukan delapan puluh sembilan! Apa lidahmu mati rasa? Atau otakmu yang mati rasa?"
"Bapak bisa membedakan satu derajat?" tanya Harper tak percaya.
"Tentu saja aku bisa! Aku bukan hewan ternak yang meminum apa saja!" Dominic melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka. Matanya menyala-nyala karena amarah yang tidak masuk akal. "Pada suhu 90 derajat, acidity kopi keluar sempurna. Di 89 derajat, rasanya tawar! Hampa! Seperti otakmu hari ini!"
Napas Harper tertahan. Dia menatap pria di depannya. Pria ini jenius dalam bisnis, tapi benar-benar idiot dalam kemanusiaan. Hanya karena satu derajat—satu derajat yang mungkin hilang saat Harper berjalan dari pintu ke meja—dia menghancurkan karpet, sepatu, dan sisa kesabaran Harper.
"Jadi..." Harper memulai, suaranya terdengar aneh. Halus. Terlalu halus. "Hanya karena turun satu derajat, kopi ini jadi sampah?"
"Ya! Sampah!" teriak Dominic. "Buat lagi! Dan kalau kali ini salah lagi, kumasukkan kau ke dalam mesin penggiling kopi!"
Dominic membuang muka, kembali menatap jendela, merasa sudah memenangkan argumen. Dia menunggu suara langkah kaki Harper yang berlari ketakutan menuju pantry atau suara permintaan maaf yang gemetar.
Tapi hening.
Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada isak tangis.
Dominic mengerutkan kening. Kenapa dia diam?
Perlahan, Dominic menoleh kembali ke belakang. Dan saat itulah dia melihatnya.
Harper tidak menunduk. Dia berdiri tegak di tengah genangan kopi. Dan dia tersenyum.
Bukan senyum sopan sekretaris. Bukan senyum ramah profesional.
Kedua sudut bibir Harper terangkat tinggi, menampilkan deretan gigi putih yang rapi, tapi matanya tidak ikut tersenyum. Matanya gelap, kosong, dan menatap lurus ke leher Dominic seolah sedang mengukur di mana letak arteri utamanya.
Senyum itu manis. Sangat manis. Semanis gula beracun.
Bulu kuduk Dominic meremang seketika. Seumur hidup dia menghadapi rival bisnis, mafia pasar saham, bahkan preman jalanan, dia tidak pernah merasa terancam. Tapi melihat senyum di wajah sekretarisnya yang biasanya kaku itu... ada alarm bahaya yang berdering kencang di kepala Dominic.
"Kenapa kau senyum-senyum?" tanya Dominic, suaranya sedikit goyah, kehilangan wibawa bentakannya tadi. "Kau kesurupan?"
Harper tidak menjawab. Dia hanya memperlebar senyumnya, lalu memiringkan kepalanya sedikit ke kanan.
Klik.
Suara itu terdengar jelas di kepala Harper. Itu suara sekring kesabarannya yang putus total.
Bersambung...
cerita kk yg ini bnr2 bikin hipertensi ,,
perlu cek darah aq kak abis ini ,,
tkut drah tinggi ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kak bisa gx ad scene si Dominic tenggelam di laut trus ilang bertahun2 sampai si Harper nikah sama dokter Ryan ,,
🤭🤭🤣🤣🤣
sebel aq tuh sama si domba ,, banyak tingkah gengsi segede bulan ,, /Smug//Smug//Smug/
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣