NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: KABAR DARI MASA LALU

Hari ke-750. Tiga bulan sudah sejak Bab 13. Risma sekarang 2 tahun 3 bulan. Dewi hamil 8 bulan. Perutnya makin besar. Jalannya makin lambat. Tapi ia tetap semangat.

Aryo bangun pagi itu dengan perasaan aneh. Sejak semalam, hatinya nggak enak. Seperti ada yang mengganjal.

Ia lihat Dewi masih tidur. Risma di sampingnya. Tidur nyenyak. Wajah mereka tenang. Tapi Aryo nggak tenang.

"Mas, kok udah bangun?"

Dewi buka mata. Lihat Aryo duduk di kursi. Ia bangun pelan-pelan. Perutnya besar, tapi ia tetap berusaha.

"Nggak bisa tidur, Ri."

"Kenapa?"

"Entah. Perasaan aja."

Dewi duduk di sampingnya. "Pikiran utang? Pikiran Risma? Pikiran calon adiknya?"

"Mungkin campur aduk, Ri."

Dewi pegang tangannya. "Mas, kita udah lewati banyak. Apapun nanti, kita hadapi bareng-bareng."

Aryo tersenyum. "Iya, Ri."

Tapi dalam hati, ia masih tak tenang. Ada yang lain.

 

Pagi itu, Aryo ke pasar seperti biasa. Angkat karung. Tapi konsentrasinya buyar. Dua kali hampir jatuhkan barang.

"Pak Aryo, kenapa? Kurang tidur?" tanya mandor Badrun.

Aryo geleng. "Nggak apa-apa, Pak."

Tapi mandor tahu. "Kalau nggak enak badan, istirahat. Pulang."

Aryo mengangguk. Tapi tetap kerja. Ia butuh uang. Buat Risma. Buat calon anaknya. Buat keluarga.

Sore harinya, ia pulang. Badan capek. Pikiran kacau.

Di depan rumah Mbah Kar, ada seseorang duduk di kursi bambu.

Laki-laki. Muda. Mungkin 25 tahun. Wajah tegang. Pakaian lusuh. Tas selempang di bahu.

Aryo berhenti. Jantungnya berdegup kencang.

"Mas Aryo?" laki-laki itu bangkit.

"Iya. Siapa?"

"Saya Joko. Dari desa Bapak."

Aryo pucat. Dari desa? Berarti dari masa lalu. Dari tempat ia lari. Dari utang. Dari preman. Dari semua yang ingin ia lupakan.

"Ada perlu apa?"

Joko menghela napas. Panjang. Seperti berat sekali.

"Pak, saya dikirim Kirman. Rentenir itu."

Aryo diam. Tangannya mengepal. Tubuhnya tegang.

Dewi keluar rumah. Lihat Joko. Lihat wajah Aryo yang pucat. Ia tahu. Ada masalah.

"Mas... ada apa?"

Aryo nggak jawab. Ia tatap Joko.

"Kirman minta apa?"

Joko menghela napas lagi. "Pak, utang Bapak 2,4 juta dulu udah lunas. Waktu Bapak jual rumah, Bapak bayar lunas ke Kirman."

Aryo ingat. Iya. Itu benar. Uang hasil jual rumah dipakai bayar Kirman.

"Tapi itu utang ke Kirman, Pak. Sekarang ada utang lain."

"Utang apa lagi?" suara Aryo mulai tinggi.

"Utang ke bank palsu itu. Yang pake KTP Bapak. 5 juta. Kirman nggak tahu siapa pelakunya. Tapi bank itu sekarang tagih ke Kirman. Katanya Kirman yang kenalin Bapak."

Aryo bingung. "Maksudnya?"

"Pak, Kirman sekarang dikejar bank. Mereka tuduh Kirman komplotan. Kirman stres. Rumahnya mau disita. Istrinya mau cerai. Ia minta Bapak balik. Jadi saksi. Bilang kalau Bapak nggak pernah pinjam."

Aryo diam. Otaknya berputar cepat. Bank palsu. KTP-nya. Masa lalu.

"Pak, saya cuma suruhan. Kirman minta Bapak balik. Bantu dia. Nanti urusan beres. Bapak nggak perlu bayar apa-apa. Bapak cuma perlu bilang yang benar."

Dewi pegang tangan Aryo. Tangannya dingin. Gemetar.

"Mas, jangan. Ini bisa jebakan. Jangan pergi."

Aryo tahu. Dewi benar. Tapi di sisi lain, ini kesempatan. Kesempatan buat bersihkan nama. Biar nggak ada lagi bayangan masa lalu.

"Kasih aku waktu, Joko. Besok aku jawab."

Joko mengangguk. "Saya tunggu sampai besok, Pak. Di warung depan."

Ia pergi. Meninggalkan Aryo yang diam membatu. Meninggalkan Dewi yang matanya basah.

 

Malam itu, mereka diskusi. Mbah Kar ikut dengar. Risma di kursinya, tidur. Tak tahu apa-apa.

"Mas, ini bahaya. Bisa jebakan," kata Mbah Kar tegas.

"Tapi Mbah, kalau ini kesempatan buat bersihkan nama? Selama ini kita selalu lari. Kapan selesainya?"

"Kamu nggak tahu orang itu. Bisa aja mereka tangkap kamu. Tuduh kamu yang bikin KTP palsu. Kamu bisa masuk penjara."

Dewi nangis. "Mas, jangan pergi. Aku takut. Perutku udah gede. Sebentar lagi lahiran. Aku butuh kamu di sini."

Aryo peluk istrinya. "Ri, aku juga takut. Tapi utang ini terus membayangi. Sampai kapan kita lari? Sampai anak kita lahir? Sampai Risma gede? Nggak akan selesai."

Mbah Kar diam. Lalu berkata, "Kalau Mas mau balik, saya temani."

Aryo kaget. "Mbah?"

"Saya kenal banyak orang. Polisi juga. Mantan tetangga saya pensiunan polisi. Mungkin bisa bantu."

Aryo berpikir. Lama. Matanya ke Dewi. Ke perutnya. Ke Risma yang tidur.

"Besok saya kasih jawaban."

 

Malam makin larut. Aryo nggak bisa tidur. Ia duduk di samping Risma. Risma tidur. Dadanya naik turun. Pelan.

"Nak, Bapak harus pergi sebentar. Urus masa lalu."

Risma tak bergerak. Tak bisa. Tapi Aryo tahu, ia butuh bicara.

"Nak, Bapak takut. Tapi Bapak juga capek lari. Bapak ingin kalian hidup tenang. Nggak ada lagi yang ngejar-ngajar."

Risma diam. Tapi napasnya... napasnya seperti jawaban.

"Nak, doain Bapak ya."

Aryo pegang tangannya. Tangan kaku itu. Dingin. Tapi hangat di hati.

 

Pagi harinya, Aryo temui Joko di warung.

"Joko, aku balik. Tapi Mbah Kar ikut."

Joko mengangguk lega. "Terserah, Pak. Yang penting Bapak datang. Kirman pasti senang."

"Kapan berangkat?"

"Besok pagi. Saya jemput jam 5."

Aryo pulang. Beri tahu Dewi.

Dewi nangis sejadi-jadinya. Nangis di pelukan Aryo.

"Mas... jangan lama-lama... aku takut... apalagi kalau tiba-tiba kontraksi..."

Aryo usap rambutnya. "3 hari, Ri. Paling lama 3 hari. Aku janji. Udah sama Mbah Kar. Nggak apa-apa."

"Janji?"

"Janji. Demi Risma. Demi calon anak kita."

Dewi mengangguk. Masih nangis. Tapi ia coba kuat.

Risma di kursi. Matanya ke Dewi yang nangis. Matanya... matanya berkaca.

"Risma, Nak... Bapak pergi sebentar. Urus utang. Nanti balik."

Risma diam. Tapi tangannya... tangannya bergerak tak terkontrol. Seperti ingin meraih.

Aryo pegang tangannya. "Makasih, Nak."

 

Malam harinya, Aryo berkemas. Sama seperti waktu mau kerja jagung dulu. Baju ganti. Sarung. Senter kecil.

Tapi kali ini, beda. Kali ini ia pergi ke masa lalu.

Mbah Kar siap-siap. Bawa surat-surat. Bawa nomor telepon kenalan polisi.

"Mas, saya akan jagain kamu. Nggak usah takut."

Aryo tersenyum. "Makasih, Mbah. Mbah udah kayak bapak sendiri."

Mbah Kar terharu. Matanya basah. "Mas... saya senang dengar itu. Saya nggak punya siapa-siapa. Kalian keluarga saya sekarang."

Mereka berpelukan. Lama.

 

Pagi-pagi, jam 5, Joko jemput. Naik angkutan desa. Mobil tua warna hijau.

Dewi antar sampai pintu. Risma di gendongan. Perutnya besar, tapi ia paksakan.

"Mas... cepet pulang... aku tunggu..."

Aryo cium keningnya. Cium kening Risma.

"Iya, Ri. 3 hari. Aku janji. Jaga diri. Jaga Risma. Jaga calon anak kita."

Mereka berangkat. Mobil jalan pelan. Meninggalkan Dewi dan Risma.

Dewi lihat dari pintu. Sampai mobil hilang di ujung jalan.

Risma di gendongannya. Matanya terus ke arah mobil pergi.

"Nak... Bapak pergi... kita doain ya..."

Risma nggak nangis. Tapi matanya basah.

 

Perjalanan panjang. 8 jam. Aryo diam sepanjang jalan. Pikirannya ke mana-mana.

Mbah Kar di sampingnya. Joko di depan.

"Mbah, aku takut."

Mbah Kar pegang tangannya. "Mas, saya di sini. Saya nggak akan tinggalin kamu."

Sampai di desa, suasana berubah. Rumah-rumah mulai dikenali. Pasar tempat ia biasa narik becak. Jalan yang dulu ia lalui tiap hari. Warung tempat ia biasa ngopi.

Aryo ingat semuanya. Rumahnya yang sudah dijual. Kontrakan tempat mereka tinggal. Makam orang tuanya.

Air matanya jatuh. Tanpa bisa ditahan.

Mereka berhenti di rumah Kirman. Rumah besar. Dulu megah. Tapi sekarang kusam. Pagar besi berkarat. Rumput liar di mana-mana. Cat tembok mengelupas.

Kirman keluar. Wajahnya kurus. Lingkaran hitam di mata. Rambut beruban lebih banyak dari setahun lalu.

"Pak Aryo... makasih... makasih udah datang."

Suaranya parau. Bergetar.

Aryo diam. Melihat Kirman yang dulu sombong, dulu kejam, dulu seenaknya ambil becak, sekarang hancur.

"Pak, saya minta maaf. Dulu saya kejam. Saya sesat. Tapi sekarang saya yang kena. Tolong... tolong bantu saya."

Aryo ingin marah. Ingin bentak. Ingin ingatkan semua sakit hati. Tapi lihat Kirman hancur, marahnya luntur.

"Cerita, Pak. Dari awal."

 

Mereka duduk di teras. Kursi kayu lapuk. Meja berdebu.

Kirman cerita. Panjang. Tentang bank palsu yang datang setahun lalu. Tentang orang tak dikenal yang pinjam 5 juta pakai KTP Aryo. Tentang Kirman yang dianggap komplotan karena dialah yang kenal Aryo.

"Saya nggak tahu siapa pelakunya, Pak. Tapi bank tuduh saya. Karena saya yang kenal Bapak. Rumah saya mau disita. Istri saya mau cerai. Anak saya malu punya bapak rentenir."

Air mata Kirman jatuh.

"Saya hancur, Pak. Hancur total."

Aryo diam. Mbah Kar yang bicara.

"Pak Kirman, saya kenal polisi. Mantan tetangga saya. Besok kita lapor. Tapi Aryo harus jadi saksi. Bilang KTP-nya hilang."

Kirman mengangguk. "Saya setuju, Pak. Saya setuju."

Malam itu, Aryo tidur di rumah Kirman. Kamar kosong. Hanya dipan tipis. Nggak enak. Tapi nggak ada pilihan.

Ia ingat Dewi. Ingat Risma. Ingat perut besar istrinya. 3 hari. Ia harus cepet pulang.

 

Besoknya, mereka ke polisi. Mbah Kar bawa kenalan. Pak Marto, pensiunan polisi. Rambut putih. Wajah ramah.

"Silakan lapor. Saya dampingi."

Aryo buat laporan. KTP hilang setahun lalu. Waktu kecopetan di pasar. Itu alasan.

Polisi catat. "Kami akan cek CCTV bank. Lacak orang yang pinjam. Kalau benar Bapak nggak pernah pinjam, nama Bapak bersih."

Aryo lega. Tapi belum selesai. Harus nunggu.

Ia telepon Dewi. Pakai telepon umum di depan polsek.

"Ri, aku di polisi. Lagi urus. Nanti 3 hari balik."

Dewi di seberang nangis. "Mas, hati-hati. Aku tadi malam nggak bisa tidur."

"Iya, Ri. Aku juga. Jagain Risma. Jagain perutmu."

"Iya, Mas. Cepet pulang."

 

Hari kedua. Mereka nunggu. Aryo gelisah. Ingin pulang.

Mbah Kar tenang. "Sabar, Mas. Ini biar beres."

Aryo jalan-jalan keliling kampung. Lihat tempat-tempat lama. Rumahnya sudah jadi gudang. Kontrakan mereka kosong, kumuh.

Ia singgah ke makam orang tuanya. Makam sederhana. Rumput liar.

"Ma, Pa... maaf udah lama nggak ziarah. Doain aku ya. Doain Risma. Doain calon anakku."

Air matanya jatuh.

 

Hari ketiga. Polisi panggil.

"Pak Aryo, kami udah lacak. Pelakunya warga desa seberang. Pakai KTP palsu. KTP Bapak dipakai tanpa sepengetahuan Bapak. Nama Bapak bersih."

Aryo nangis. Nangis di kantor polisi. Nangis di depan Mbah Kar. Nangis di depan Kirman.

"Makasih, Pak. Makasih banyak."

Kirman juga lega. Tersenyum. Pertama kalinya Aryo lihat Kirman tersenyum.

"Pak Aryo, saya minta maaf. Dulu saya jahat. Sekarang saya tahu rasa. Saya kapok."

Aryo lihat Kirman. Lalu berkata, "Pak, saya maafkan. Tapi mulai sekarang, jangan jadi rentenir lagi. Cari kerja halal. Jadi tukang ojek. Jualan. Apa aja."

Kirman mengangguk. "Saya janji, Pak. Saya sudah mulai jualan gorengan keliling."

Aryo tersenyum. "Baguslah."

 

Sore itu, Aryo pulang. Naik angkutan desa. Mbah Kar di sampingnya.

Sepanjang jalan, ia senyum sendiri. Beban 5 juta hilang. Nama bersih. Hidup baru bisa dimulai.

Mbah Kar lihat. "Senang, Mas?"

Aryo mengangguk. "Iya, Mbah. Lega banget. Tapi kangen Dewi. Kangen Risma."

"Sabar, Mas. Sebentar lagi sampai."

Sampai di rumah, malam hari. Lampu di teras menyala. Dewi sudah nunggu di pintu. Perutnya besar. Risma di kursi di sampingnya.

"MAS!"

Dewi lari sebisanya. Aryo tangkap. Mereka berpelukan.

"Udah, Ri. Udah beres. Utang lunas. Nama bersih."

Dewi nangis. Nangis di pelukannya.

Aryo lepas pelukan. Ia hampiri Risma. Risma di kursi. Matanya ke Aryo. Lama.

"Nak, Bapak pulang. Utang udah beres. Nama Bapak bersih."

Risma diam. Tapi matanya... matanya menatap Aryo. Lama. Sangat lama.

Lalu, untuk pertama kalinya...

Risma tersenyum.

Senyum kecil. Tipis. Hanya sudut bibir terangkat sedikit. Tapi nyata.

Aryo diam. Nggak percaya.

"Ri... Ri... lihat... Risma... Risma senyum..."

Dewi lihat. Risma masih tersenyum. Meski sebentar.

Mereka berdua nangis. Nangis bahagia.

Mbah Kar lihat dari pintu. Tersenyum.

"Risma... cucu saya... dia hebat..."

Aryo gendong Risma. Cium pipinya.

"Nak, Bapak sayang kamu. Makasih udah nunggu."

Risma diam. Tapi senyumnya... senyumnya masih ada.

 

Malam itu, mereka rayakan. Sederhana. Mbah Kar masak nasi liwet dan telur dadar. Dewi bantu sebisanya.

Mereka makan berempat. Aryo, Dewi, Mbah Kar, dan Risma di kursinya.

"Untuk masa depan," kata Mbah Kar.

"Untuk masa depan," sahut mereka.

Risma di kursi. Matanya ke mereka. Satu per satu. Seperti merekam.

Selesai makan, Aryo gendong Risma. Duduk di teras. Pandangi bintang.

"Nak, Bapak janji. Mulai sekarang, kita hidup tenang. Nggak ada lagi utang. Nggak ada lagi lari."

Risma diam. Tapi matanya ke langit. Ke bintang.

"Sebentar lagi kamu punya adik, Nak. Kamu harus jadi kakak yang baik ya."

Risma tak bergerak. Tapi Aryo tahu, ia mendengar.

Dari dalam, suara Dewi. "Mas, masuk. Udah malem."

Aryo masuk. Risma di pangkuannya. Tidur. Nyenyak. Senyumnya masih ada. Seperti mimpi indah.

Aryo tidurkan Risma di samping Dewi. Ia tidur di lantai. Beralas tikar. Capek. Tapi tenang.

"Mas, kita beruntung."

Aryo pegang tangan Dewi. "Iya, Ri. Kita beruntung."

Dari luar, suara jangkrik. Malam tenang.

Hidup baru, benar-benar dimulai.

Tapi Aryo tahu, perjuangan belum selesai. Risma butuh perhatian. Calon anaknya butuh biaya. Tapi sekarang, mereka punya harapan.

Harapan yang baru.

 

[BERSAMBUNG KE BAB 15]

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!