Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback
Ingatan itu selalu datang seperti kabut tebal yang menyesakkan dada, terutama di saat-saat Mirasih merasa dunianya sudah runtuh sepenuhnya. Sebelum ia menjadi "barang" yang diperdagangkan di kamar belakang yang lembap, sebelum kulitnya ternoda oleh sentuhan mahluk ghaib, Mirasih adalah seorang gadis yang hidup dalam kehangatan yang sempurna. Ia adalah pusat semesta dari dua orang manusia yang sangat mencintainya: Bapak dan Ibunya.
Keluarga Mirasih bukanlah keluarga yang bergelimang kemewahan seperti yang dipamerkan Paman Broto sekarang, namun mereka sangat berkecukupan. Ayahnya, Pak Hardi, adalah seorang pemilik penggilingan padi yang sukses dan disegani di desa sebelah. Beliau dikenal sebagai pria yang jujur, tangan dingin yang bisa mengubah butiran gabah menjadi tumpukan emas yang halal. Ibunya, Ibu Sarah, adalah sosok wanita lembut yang selalu tercium aroma melati dan bedak dingin.
Mirasih teringat rumah lama mereka. Sebuah rumah joglo yang asri dengan halaman luas yang ditanami pohon mangga dan sawo. Di sana, setiap sore, ia akan duduk di teras sambil mengepang rambutnya yang hitam panjang, ditemani teh manis hangat buatan Ibunya. Hidup terasa begitu lambat, begitu damai, dan begitu aman. Tidak pernah sekalipun terlintas di benak Mirasih bahwa keamanan itu hanyalah sebuah pinjaman yang akan diambil kembali dengan cara yang paling kejam.
Semuanya bermula pada sebuah sore di bulan Juli, dua tahun yang lalu.
"Nduk, bersiaplah. Kita akan ke kota," suara Bapak terdengar bersemangat saat itu. "Bapak baru saja menutup kontrak besar dengan tengkulak dari Semarang. Kita harus merayakannya. Kau boleh beli buku baru, atau baju yang kau inginkan itu."
Mirasih yang saat itu baru saja menyelesaikan pendidikan menengahnya, tersenyum lebar. Ia mengenakan gamis kesukaannya, warna biru muda yang senada dengan langit sore itu. Ibunya juga tampak cantik dengan kebaya kutubaru sederhana. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil sedan tua milik Bapak yang selalu dirawat dengan apik.
Perjalanan itu dimulai dengan tawa. Bapak bercerita tentang rencana masa depan Mirasih. Beliau ingin Mirasih melanjutkan kuliah di universitas terbaik, ingin melihat putrinya menjadi sarjana, menjadi orang hebat yang tidak perlu bersusah payah mengurusi sawah seperti dirinya.
"Harta Bapak ini untuk siapa lagi kalau bukan untukmu, Mirasih," kata Pak Hardi sambil melirik melalui spion tengah, menatap putri tunggalnya dengan penuh kebanggaan. "Semua sawah, penggilingan, dan tabungan itu sudah Bapak siapkan atas namamu. Agar suatu saat nanti, kalau Bapak dan Ibu sudah tidak ada, kau tidak akan kekurangan."
Mirasih hanya tertawa kecil, tidak menyadari bahwa kata-kata itu adalah sebuah wasiat yang akan menjadi kutukan baginya di tangan Paman Broto.
Saat itu, hujan mulai turun. Bukan hujan lebat, hanya gerimis tipis yang membuat aspal jalanan menjadi licin dan mengkilap seperti kulit ular. Jalanan menuju kota melewati jalur perbukitan yang berkelok-kelok dengan jurang yang menganga di sisi kiri. Bapak mengemudi dengan sangat hati-hati, tangannya yang kokoh mencengkeram kemudi dengan stabil.
Namun, maut tidak pernah mengetuk pintu sebelum bertamu.
Dari arah berlawanan, sebuah truk besar pengangkut kayu melaju dengan kecepatan tinggi. Truk itu tampak kehilangan kendali, oleng ke kanan dan ke kiri di jalanan yang sempit itu. Lampu depannya yang silau membutakan mata Bapak untuk sesaat.
"Bapak! Awas!" teriak Ibu Sarah dengan suara melengking yang akan selalu menghantui mimpi buruk Mirasih selamanya.
Bapak mencoba membanting setir ke arah kanan untuk menghindari tabrakan adu banteng dengan truk itu. Namun, dari arah depan, sebuah motor juga muncul secara tiba-tiba. Dalam kepanikan yang luar biasa, Bapak membuat keputusan sepersekian detik untuk menyelamatkan pengendara motor itu dengan membanting setir kembali ke arah kiri.
Ke arah jurang.
Mirasih merasakan perutnya seolah tertinggal di atas saat mobil mereka meluncur bebas ke kegelapan. Segalanya terjadi begitu lambat, namun terasa begitu cepat di saat yang bersamaan. Suara decitan ban yang beradu dengan aspal, suara benturan logam yang mengerikan, dan teriakan Ibu yang tiba-tiba terputus.
Mobil itu terguling berkali-kali di lereng bukit yang curam. Mirasih merasa tubuhnya terlempar-lempar di kursi belakang. Kepalanya menghantam kaca jendela hingga pecah, menyisakan serpihan-serpihan kecil yang tertanam di kulitnya. Rasa sakit yang tajam menusuk kesadarannya, namun rasa takut jauh lebih mendominasi.
BRAK!
Mobil itu akhirnya berhenti setelah menghantam pohon jati besar di dasar jurang. Keheningan yang mematikan segera menyelimuti lokasi kejadian. Hanya terdengar suara tetesan bensin dan gemericik air sungai kecil di dekat sana.
Mirasih tersadar dalam posisi terbalik. Kepalanya terasa berat dan panas oleh darah yang mengalir. Di depannya, ia melihat pemandangan yang menghancurkan seluruh dunianya.
Ibunya terkulai di kursi depan dengan posisi yang tidak wajar. Matanya terbuka sedikit, namun tidak ada lagi cahaya di sana. Darah merembes dari kepalanya, membasahi kebaya cantiknya yang kini sobek. Sementara Bapak, separuh tubuhnya terjepit di bawah kemudi yang ringsek. Beliau masih bernapas, meskipun suaranya hanya berupa kerongkongan yang sesak oleh darah.
"Ba... pak..." rintih Mirasih. Suaranya hampir tidak terdengar.
Pak Hardi menggerakkan tangannya yang gemetar. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha meraih tangan Mirasih yang terjuntai di antara celah kursi. Jari-jari mereka bersentuhan—sebuah sentuhan terakhir yang dingin dan penuh keputusasaan.
"Mi... ra... sih... lari..." bisik Bapak dengan susah payah. Matanya menatap Mirasih dengan penuh duka, seolah beliau sudah tahu apa yang akan menimpa putrinya tanpa perlindungannya. "Jangan... percaya... pada... siapa... pun..."
Itu adalah kata-kata terakhirnya. Tangan yang selama ini selalu mendekap Mirasih dengan hangat, perlahan-lahan kehilangan kekuatannya dan terkulai lemas di atas lantai mobil yang berlumuran darah.
Mirasih meraung. Ia berteriak memanggil nama orang tuanya hingga tenggorokannya terasa terbakar, namun tidak ada jawaban. Di tengah kegelapan hutan yang dingin dan bau bensin yang menyengat, Mirasih merasa benar-benar sendirian.
Beberapa jam kemudian, tim penolong datang. Ia ingat samar-samar cahaya senter yang menyilaukan dan suara orang-orang yang sibuk mencongkel pintu mobil. Ia ingat bagaimana ia diangkat keluar dengan tandu, matanya terus menatap ke arah mobil yang ringsek itu, berharap Bapak dan Ibu akan bangun dan keluar mengejarnya.
Namun, di antara kerumunan orang-orang yang menonton di atas bukit, Mirasih melihat sosok Paman Broto. Ekspresinya aneh. Tidak ada kesedihan di wajahnya. Ada kilatan yang sulit diartikan di matanya saat ia menatap mobil Pak Hardi yang hancur. Bukan kesedihan atas kehilangan saudara kandungnya, melainkan tatapan sinis dengan senyum sedikit menyeramkan.
Mirasih yang saat itu masih dalam keadaan setengah sadar karena syok, tidak menyadari bahwa malam itu bukan hanya akhir dari kehidupan orang tuanya, tapi juga awal dari penderitaannya yang lebih panjang dari kematian itu sendiri.
Di rumah sakit, saat Mirasih masih terbaring dengan perban di kepala dan luka-luka yang belum kering, Paman Broto dan Bibi Sumi datang. Mereka menangis tersedu-sedu di depan orang banyak, berakting seolah-olah mereka adalah keluarga paling terpukul di dunia. Mereka memeluk Mirasih, membisikkan kata-kata palsu bahwa mereka akan menjaganya, bahwa mereka akan menyayanginya seperti anak sendiri.
"Jangan khawatir, Mirasih sayang," bisik Bibi Sumi sambil mengusap air mata palsunya dengan ujung kerudung. "Sekarang kau tinggal dengan kami. Kami akan mengurus semuanya. Rumahmu, sawah bapakmu, biar Paman yang urus agar kau bisa fokus sembuh."
Mirasih yang malang, dalam kerapuhannya yang paling dalam, mempercayai mereka. Ia menyerahkan kunci-kunci rumah, surat-surat berharga, dan seluruh hidupnya kepada mereka. Ia tidak tahu bahwa di balik pelukan Bibi Sumi yang terasa hangat itu, ada niat busuk untuk melucuti setiap harta yang ditinggalkan orang tuanya.
Ia tidak tahu bahwa hanya dalam hitungan bulan, rumah joglo tempatnya dibesarkan akan dijual. Sawah-sawah ayahnya akan dipindahtangankan untuk membayar hutang judi Paman Broto yang menggunung. Dan ia, putri tunggal Pak Hardi yang terhormat, akan berakhir di sebuah kamar belakang yang kumuh, menunggu malam Selasa untuk diserahkan kepada mahluk hitam dari hutan larangan.
Haaaiiii .. jangan lupa like komen follow juga ya..
Love u sekebon..
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
manusia busukk