Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelatihan
Matahari bahkan belum sempat mengintip dari balik cakrawala Chiba ketika jam weker di apartemen Nakano berbunyi serentak pada pukul 04.30 pagi. Udara masih diselimuti sisa dingin malam, dan keheningan di dalam gedung mewah itu biasanya hanya dipecah oleh dengkur halus kelima penghuninya. Namun, hari ini berbeda. Hari ini adalah hari pertama dari empat belas hari yang akan menentukan apakah aku akan tetap menjadi manusia bebas atau sekadar catatan kriminal dalam arsip Maruo Nakano.
Aku sudah berdiri di ruang tengah, mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Di atas meja makan, lima cangkir kopi panas dan lima piring kecil berisi protein tinggi sudah tertata rapi.
[Keahlian Analitis: Master]
[Status: Memulai Fase Pelatihan Spartan]
[Bahasa Sistem: Kondisi Fisik Subjek 70%, Kondisi Mental 90%]
Satu per satu, mereka muncul dari kamar dengan langkah gontai. Nino yang biasanya tampil sempurna dengan pita rambutnya kini hanya mengenakan kaus kebesaran dengan rambut yang sedikit berantakan. Yotsuba terlihat setengah sadar, sementara Miku merapatkan sweternya seolah sedang mencari perlindungan dari kenyataan pahit bahwa ia harus belajar sepagi ini.
"Duduk," perintahku singkat. Suaraku tidak keras, namun di ruangan yang sunyi itu, ia membawa otoritas yang membuat mereka langsung mengambil tempat masing-masing.
"Saiba... ini bahkan lebih pagi dari waktu koki menyiapkan sarapan di hotel," keluh Nino, meski ia tetap menarik kursi dan duduk.
"Otak kalian berada dalam kondisi paling reseptif tepat setelah bangun tidur, sebelum gangguan sosial masuk ke dalam pikiran," jawabku sembari membagikan tumpukan kertas soal pertama hari itu. "Kita tidak punya waktu untuk mengeluh. Mulai detik ini, setiap menit yang kalian buang adalah satu langkah menuju kegagalanku."
Kalimat terakhirku membuat mereka terdiam. Mereka diingatkan kembali pada kontrak yang kusepakati dengan Maruo semalam. Rasa kantuk yang tadi menggelayut di mata mereka seolah tersapu oleh gelombang rasa bersalah dan tanggung jawab yang besar.
[Bahasa Sistem: Tingkat Keseriusan Subjek Meningkat Drastis]
"Hari ini kita akan fokus pada integrasi lintas subjek," ujarku sembari mulai menulis di papan tulis putih kecil. "Kita tidak akan belajar sejarah secara terpisah dari bahasa. Kita tidak akan belajar kimia tanpa matematika. Semuanya terhubung dalam satu pola logika besar."
Aku memulai sesi dengan memaksa mereka membedah sebuah teks sastra klasik dalam bahasa Inggris, namun dengan cara yang berbeda. Aku meminta Miku menganalisis latar belakang sejarahnya, Itsuki membedah struktur gramatikalnya yang rumit, dan Nino menerjemahkan metafora emosionalnya menjadi logika sosial.
Dua jam pertama berlalu dalam kesunyian yang intens. Hanya suara gesekan pulpen dan sesekali suara Itsuki yang bertanya tentang kosakata tertentu. Sifat dewasaku membuatku tidak lagi memberikan jawaban langsung. Aku hanya memberikan kata kunci yang memicu ingatan mereka.
"Pikirkan akarnya, Itsuki. Jangan lihat katanya, lihat bagaimana ia berfungsi dalam kalimat itu," bisikku saat berdiri di belakang kursinya.
Tepat pukul 07.00, aku memberikan jeda lima belas menit. Yotsuba langsung merebahkan kepalanya di meja. "Otakku... rasanya seperti baru saja lari maraton sejauh sepuluh kilometer..."
"Lari maraton baru saja dimulai, Yotsuba," balasku sembari mengganti kertas di papan tulis. "Sekarang, kita masuk ke Matematika. Aku sudah merancang lima puluh soal turunan fungsi yang polanya terus berulang. Jika kalian bisa menguasai polanya, angka berapa pun yang diberikan Kaito tidak akan berpengaruh."
Miku menatapku, matanya terlihat sedikit lelah namun ada binar tekad yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Ren... kau juga tidak tidur semalam, kan? Aku melihat lampu di ruang tengah ini menyala sampai pagi."
Aku terdiam sejenak. Sifat analitisku sebenarnya sudah memberikan peringatan tentang kelelahan fisikku sendiri, namun aku menepisnya. "Kondisiku tidak relevan dalam kontrak ini, Miku. Fokuslah pada lembar soalmu."
"Itu relevan bagi kami!" Nino menyela, menatapku tajam. "Bagaimana kami bisa tenang belajar kalau tutor kami sendiri terlihat seperti mayat hidup? Minum kopimu dan makanlah sesuatu, atau aku akan berhenti belajar sekarang juga."
Sifat protektif Nino muncul dalam bentuk ancaman yang manis. Aku menghela napas, menyadari bahwa mengabaikan kesehatan di depan mereka justru akan menurunkan moral kelompok. Aku mengambil sepotong roti dan memakannya di depan mereka.
"Puas?" tanyaku.
Nino mendengus puas. "Sedikit lebih baik."
Kami melanjutkan sesi belajar hingga waktu berangkat sekolah tiba. Bahkan di sepanjang jalan menuju Akademi Sakura, aku tidak membiarkan mereka lengang. Aku memberikan kartu-kartu kecil berisi rumus kimia yang harus mereka hafalkan di sepanjang perjalanan.
Saat kami memasuki gerbang sekolah, tatapan para siswa lain masih terasa sinis, namun kembar lima tidak lagi menunduk. Mereka berjalan dengan kepala tegak, menggenggam kartu rumus mereka seolah itu adalah jimat keberuntungan.
Di kejauhan, aku melihat Kaito Shindo sedang berdiri di koridor lantai dua, mengamati kami dengan senyum meremehkan. Ia melambaikan tangannya seolah sedang menyapa mangsa yang sedang menuju lubang perangkap.
"Abaikan dia," instruksiku pada mereka. "Variabel yang paling tidak berguna dalam ujian adalah opini orang lain. Tetaplah pada naskah kita."
[Status: Fase Pemanasan Selesai]
[Pencapaian: Sinkronisasi Fokus Pagi Berhasil 100%]
[Bahasa Sistem: Memasuki Sesi Pelatihan Lanjutan di Sekolah]
Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang. Dan aku tahu, Maruo Nakano sedang menghitung mundur hari-hariku di sekolah ini. Namun, melihat punggung kelima gadis itu yang kini tampak begitu tangguh, aku merasa bahwa kontrak yang kutandatangani semalam bukanlah surat kematianku, melainkan awal dari kebangkitan mereka yang sesungguhnya.
Sinar matahari sore yang masuk melalui jendela perpustakaan sekolah terasa lebih panas dan menyesakkan daripada biasanya. Debu-debu halus menari di udara, namun tidak ada satu pun dari kami yang memiliki energi untuk sekadar memperhatikannya. Sudah delapan jam sejak sesi subuh tadi dimulai, dan kini retakan dalam fondasi mental kembar lima mulai terlihat.
Di meja panjang yang terisolasi di sudut perpustakaan, tumpukan buku referensi sains mulai terlihat seperti gunung yang mustahil didaki. Suara gesekan pulpen yang tadinya ritmis kini berganti dengan suara napas yang berat dan sesekali decakan lidah penuh frustrasi.
[Keahlian Analitis: Master]
[Status: Ambang Batas Kelelahan Emosional Terlampaui]
[Bahasa Sistem: Deteksi Gesekan Interpersonal Antar Subjek]
"Ichika, bisakah kau berhenti menggerakkan kakimu?" Nino bersuara, nadanya tajam dan penuh iritasi. "Suara ketukan sepatumu di lantai membuatku tidak bisa konsentrasi pada tabel periodik ini."
Ichika, yang biasanya menanggapi segalanya dengan senyuman santai, kali ini hanya menatap Nino dengan mata yang terlihat sangat lelah. "Aku hanya mencoba agar tidak tertidur, Nino. Kalau aku berhenti bergerak, aku akan pingsan di atas buku ini. Tidak semua orang punya energi sepertimu."
"Aku tidak punya energi! Aku hanya mencoba agar Saiba tidak masuk penjara!" Nino membalas, suaranya naik satu oktav, memancing teguran dari pustakawan di kejauhan.
Itsuki mencoba menengahi, namun suaranya sendiri terdengar gemetar. "Sudahlah, kalian berdua. Kita hanya perlu menyelesaikan bab ini, lalu kita bisa—"
"Bisa apa, Itsuki?" Miku memotong, ia menutup bukunya dengan suara yang cukup keras. "Tadi pagi kita belajar tiga jam. Di sekolah kita belajar di setiap celah istirahat. Sekarang kita sudah di sini selama empat jam. Kepalaku terasa seperti disiram air mendidih. Aku... aku bahkan tidak bisa membaca namaku sendiri lagi."
Yotsuba, yang biasanya menjadi penengah paling ceria, kini hanya menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya. Ia tidak bicara, namun bahunya yang gemetar menandakan bahwa ia berada di titik nadir motivasinya.
Aku menutup buku catatan yang sedang kugunakan untuk memantau kemajuan mereka. Sifat dewasaku memberitahuku bahwa ini bukan lagi soal kapasitas kognitif, melainkan soal stabilitas emosional. Kelelahan telah mengubah rasa tanggung jawab mereka menjadi beban yang melumpuhkan.
"Semuanya, letakkan pulpen kalian," ujarku, suaraku rendah namun memiliki frekuensi yang langsung memutus perdebatan mereka.
"Tapi Saiba-san, soal ini belum—" Yotsuba mencoba mendongak, matanya merah.
"Berhenti," aku mengulang, kali ini lebih tegas. "Keluar dari perpustakaan sekarang. Kita akan pergi ke taman belakang."
"Tapi waktu kita—" Nino ingin protes, namun aku sudah berdiri dan mulai merapikan buku-buku mereka dengan gerakan yang sangat efisien.
"Waktu kalian akan terbuang percuma jika kalian belajar dengan kebencian satu sama lain. Ikuti aku."
Aku menggiring mereka menuju area taman belakang sekolah yang sepi, tempat di mana pohon-pohon rindang memberikan perlindungan dari tatapan siswa lain. Kami duduk di bangku kayu panjang yang melingkar. Udara segar sore hari mulai menyapu sisa-sisa ketegangan di wajah mereka, namun keheningan di antara mereka masih terasa sangat kaku.
[Bahasa Sistem: Memulai Protokol Rekonsiliasi Kelompok]
Aku tidak segera bicara. Aku membiarkan mereka menghirup oksigen sebanyak mungkin. Setelah beberapa menit, aku bersandar pada batang pohon besar di dekat mereka, menatap langit yang mulai berubah warna menjadi ungu keemasan.
"Kalian tahu kenapa Maruo-san yakin kalian akan gagal?" tanyaku, memecah kesunyian tanpa menatap mereka. "Bukan karena kalian kurang pintar. Tapi karena dia tahu bahwa di bawah tekanan, kalian akan mulai saling menyalahkan. Dia bertaruh pada keretakan hubungan kalian, bukan pada nilai ujian kalian."
Nino menunduk, memainkan ujung jarinya. "Kami tidak bermaksud begitu... hanya saja, beban ini... rasanya sangat berat karena kau mempertaruhkan segalanya untuk kami."
"Aku mempertaruhkan segalanya karena aku tahu nilai kalian jauh lebih tinggi daripada angka 65," aku melangkah mendekat, berdiri di tengah-tengah mereka. "Kalian adalah kembar lima. Keunggulan kalian bukan pada persaingan, tapi pada sinkronisasi. Saat satu dari kalian jatuh, empat lainnya seharusnya menjadi penyangga, bukan menjadi hakim."
Aku berjalan menuju Miku, meletakkan tanganku di atas kepalanya sebentar—sebuah gestur romantis yang sangat halus namun penuh dukungan. "Miku, kau tidak perlu membaca namamu. Kau hanya perlu mengingat bahwa naskah yang kita tulis belum selesai. Dan naskah itu butuh penulis yang tidak saling membenci."
Lalu aku menatap Nino dan Ichika. "Nino, amarahmu adalah bentuk perlindungan, tapi jangan arahkan pada saudaramu. Ichika, energimu memang terbatas, jadi gunakanlah untuk saling menguatkan, bukan untuk bertahan sendirian."
Sifat humoris ku muncul sedikit untuk mencairkan suasana. "Lagipula, kalau kalian terus berdebat seperti ini, wajah kalian akan keriput sebelum hari kelulusan. Dan aku tidak yakin sistemku bisa memproses data 'kembar lima yang menua' begitu cepat."
Yotsuba tertawa kecil mendengar itu, diikuti oleh Itsuki. Ketegangan yang tadi hampir meledakkan ruangan perpustakaan perlahan mencair, berganti dengan rasa solidaritas yang lebih dewasa.
"Maafkan aku, Ichika," gumam Nino pelan. "Aku hanya... aku sangat takut kita akan kehilangan Saiba."
Ichika tersenyum lemas, menyandarkan kepalanya di bahu Nino. "Aku juga minta maaf. Aku akan mencoba bergerak lebih tenang nanti."
[Status: Stabilitas Emosional Pulih ke 80%]
[Pencapaian: Ikatan Kelompok Menguat di Bawah Tekanan]
"Sudah cukup untuk hari ini," ujarku, mengejutkan mereka semua. "Tidak ada lagi buku sampai besok pagi. Pulanglah, mandi air hangat, dan tidur. Jika otak kalian tidak beristirahat malam ini, semua yang kita pelajari hari ini akan terhapus oleh stres."
"Benarkah? Kita boleh berhenti?" Itsuki bertanya seolah tidak percaya.
"Ya. Ini adalah perintah tutor kalian," jawabku mantap. "Besok subuh, aku ingin melihat lima orang yang sudah siap tempur, bukan lima orang yang sedang bertengkar."
Saat mereka mulai berjalan menuju gerbang sekolah dengan langkah yang lebih ringan, Miku sempat tertinggal di belakang. Ia mendekatiku, wajahnya diterangi oleh cahaya lampu jalan yang mulai menyala.
"Ren... terima kasih karena tidak hanya mengajar kami matematika," bisiknya. "Terima kasih karena tetap menjaga kami agar tidak hancur."
Aku menatapnya dengan pandangan yang tenang dan protektif. "Menjaga kalian adalah variabel paling penting dalam kontrakku, Miku. Sekarang pulanglah."
Aku berdiri di sana, mengawasi mereka sampai siluet mereka menghilang di persimpangan jalan. Aku tahu, hari esok akan jauh lebih berat. Dan aku tahu, Kaito Shindo pasti sedang merencanakan sesuatu untuk merusak kedamaian singkat ini. Namun untuk malam ini, aku telah berhasil menyelamatkan "naskah" kami dari retakan internal.