David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 27) Obat penyembuh racun 1
Bruuuum.
Ditengah gemerlap malam dan diantara lalu-lalang kendaraan dengan lampu jalanan sebagai kawan, Leo mempercepat laju mobil mewah milik tuannya. Dibelakangnya ada Laila dan juga sang majikan.
Dimana, Laila tampak merangkul bahu David. Pria itu bersandar padanya.
David bergelagat linglung. Kedua matanya makin layu. Nafasnya tiada henti memburu. Suhu tubuhnya melebihi batas. Seperti orang yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
"Tolong lebih cepat lagi Leo," seru Laila menepuk bagian belakang kursi pengemudi. Matanya berpencar, memastikan sudah sampai dimanakah mereka.
"Ini sudah sangat laju nyonya," balas Leo mengendalikan kemudi.
Laila kembali menatap David. Ia reflek menempelkan punggung tangannya ke kening pria itu.
"Astaga, panasnya kok tidak turun-turun?" batinnya khawatir.
Setttt.
Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang cukup mencengangkan, mobil menepi tepat di halaman kediaman Mendoza. Cepat-cepat, Laila yang dibantu oleh Leo memapah David menuju kamarnya.
Bruuuk.
Laila dan Leo merebahkan tubuh kekar David ke atas ranjang. Leo segera melepas sepatu dan kaos kaki tuannya itu. Sementara Laila berdiri diam, membisu. Rautnya terlihat bingung. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ia sebenarnya sangat khawatir, entah apa yang sedang terjadi kepada suami kontraknya, David.
"Padahal sebelumnya, dia baik-baik saja. Kenapa mendadak jadi begini? Apa dia mengidap suatu penyakit?" batinnya menggaruk jemarinya sendiri.
Saat Leo hendak menanggalkan jas tebal yang membalut tubuh David, tiba-tiba majikannya itu mencubitnya. Membuat Leo tersentak.
Telunjuk David langsung bergerak cepat ke arah pintu kamar, dengan kedua mata yang masih tertutup rapat. Seolah mengkode asistennya itu, tanpa sepengetahuan Laila.
Leo terhenyak. Ia seketika tersadar, kalau tuannya tidak benar-benar hilang kesadaran. Namun, apa yang tengah direncanakan sang majikan sampai menyuruh dirinya keluar?
Jawabannya, itu tidaklah penting. Leo yang paham akan kode alam tersebut, menghentikan gerakan tangannya di tubuh David. Berbalik badan lalu berkata kepada Laila, "selebihnya saya percayakan pada anda, Nyonya."
Leo mengambil langkahnya.
"Eh tung..." belum sempat Laila berucap, asisten pribadi David itu sudah lenyap dari pandangan. Bagaikan tertiup angin yang kencang.
Brakk.
Pintu tertutup rapat. Hingga menyisakan Laila dan David saja.
"Duh, bagaimana ya ini?" Laila gelagapan.
"Aku harus ngapain?" gumamnya celingak-celinguk.
Ketika ia hendak menuju pintu kamar hendak keluar mencari bantuan, tangan kekar David menghentikan pergerakannya.
Happp.
Pria itu meraih tangannya.
Laila terperangah. Ia buru-buru menoleh. "Dev?"
Dengan keadaan yang terlihat mencemaskan disertai suara serak, David berkata, "jangan pergi. Kumohon."
"Ta... Tapi..."
Chupppp.
"Hmmmph!" Mata Laila terbelalak.
Lagi-lagi, sebelum ia menyelesaikan perkataannya, David sudah menarik tengkuk lehernya duluan. Dan tanpa permisi, ia mendaratkan ciuman buas yang begitu melekat di bibir Laila.
Laila mematung. Kedua bola matanya hampir meledak karena melotot. Ia spontan mengangkat kedua tangan karena tegang. Sedangkan David, sedikit lagi mau menenggelamkan lidahnya ke dalam mulut wanita itu.
Tetapi Laila segera tersadar, dan langsung mendorong tubuh pria itu hingga kembali merebah di kasur.
"Apa yang Anda lakukan?!" teriak Laila, mengelap kasar bibirnya.
"Apa anda sudah gila?!"
"Dasar mesum!"
Laila tampak marah. Ia menghardik David. Namun luapan perasaan itu tertahan ketika pria tersebut berkata dengan lirihnya, "kau harus membantuku, Laila. Cuma ini satu-satunya cara agar aku tidak mati."
Deggg.
"Apa katamu...?" Laila tercengang.
David pun menjelaskan, "aku telah mengatakan kepadamu, bahwa sepertinya aku telah melakukan kesalahan."
David tertunduk. Mimik wajahnya lesu. Sebuah ekspresi yang sama sekali belum pernah ia perlihatkan pada siapapun termasuk Laila. Seakan ia sedang memohon dengan sangat tulus.
Ia membisu sejenak dan sesudahnya meneruskan bahwa, "gelas berisi sampanye yang hampir kau minum tadi, mengandung racun."
"Ra--Racun??" Laila shock.
"Aku khilaf dan tanpa sadar meneguknya sampai habis tak tersisa," sahut David.
"Sebab itu adalah racun perangsang, yang kalau tidak diobati dalam satu jam akan membuat pengonsumsinya mati mengenaskan," lanjutnya memasang wajah orang yang sebentar lagi bakal menjemput ajalnya.
Duarrr.
Laila tidak bisa berkata-kata. Perasaannya berkecamuk, dan ia panik. Terlebih saat David mengerang kesakitan.
"Akkkhh!"
"Dev!" Laila langsung terduduk di ranjang. Ia memegang kedua bahu David, yang kini merintih-rintih seraya menahan dada dengan nafas ngos-ngosan.
"Dev! Katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan agar racun ini tidak membunuhmu?" tanya Laila gundah-gulana.
Samar-samar, senyum tipis David tersungging. Kemudian, dengan lemas ia mengatakan, "tapi apa kau yakin akan melakukannya?"
Laila menelan ludah. Sesudahnya, ia mengangguk pelan.
Dalam waktu seperkian detik, David langsung menumbangkan Laila. Merentangkan tubuh wanita itu ke atas kasur dan naik ke atasnya. Lalu mendekap dia dalam kungkungan.
Laila terkejut. "Dev..."
"Akan aku tunjukan caranya," bisik David yang kemudian menyosor sekilas bibir Laila.
Ketika ciuman itu lepas, Laila ternganga. Ternyata inilah maksud David. Cara yang dilakukan supaya dia tidak mati karena racun perangsang.
"Begini caranya," ucap David ragu-ragu. "Tetapi jika kau tidak berkenan, aku takkan memaksa."
Awalnya, Laila tidak percaya. Namun, karena minimnya pengetahuan akan racun modelan begitu, ia pelan-pelan meluluhkan diri. Apalagi dikala melihat wajah David seperti mau menangis, karena akan segera mati.
Laila berpikir, sepertinya pria itu sangat takut. Ia juga menimba-nimba, jika David meninggal, bagaimana dengan nasibnya dan hutang-hutangnya?
Itulah mengapa, Laila yang pikirannya sudah kacau dan bingung harus berbuat apa, mengalungi tangannya dengan pelan-pelan namun kaku ke tengkuk leher David.
"Lakukan saja," lirihnya hampir meneteskan air mata.
"Aku... tidak apa-apa."
David terlonjak. Ia tidak menduga kalau Laila akan berkata demikian. Padahal, ia hanya pura-pura atau sedang menggoda istri kontraknya itu. Memang, ia telah mencerna bubuk perangsang yang ada di sampanye pemberian Mario. Namun, satu hal yang mesti diketahui, jikalau imun David lebih kebal dari orang-orang pada umumnya. Makanya ia tidak begitu terpengaruh.
Sangkaannnya, Laila pasti akan menolak atau lebih tepatnya, menemukan sebuah solusi. Namun reaksinya diluar dugaan. Ini secara tidak langsung menjelaskan kepada David bahwa Laila polos serta masih banyak hal yang belum ia ketahui, meski tampangnya kelihatan pintar dan independen. Jadi, siapa laki-laki yang tidak mau memanfaatkan kesempatan ini?
Chupp... Chuppp...
Tanpa basa-basi, David segera mendaratkan kecupan-kecupan brutalnya ke bagian-bagian sensual milik Laila. Mulai dari bibir, pipi, leher hingga ke dada. Gerakan itu cekatan dan liar.
Hasratnya yang menggebu terhadap Laila sudah lama ia tahan-tahan. Karenanya, ketika wanita itu menyerahkan diri walau tidak sepenuhnya dengan hati, David langsung menerkamnya.
Ia seperti binatang buas yang kelaparan. Sehingga makanannya harus terpenuhi. Kalau tidak, ia akan menderita.
"Uhhh..." Laila menggeliat. Desahannya keluar perlahan, bagaikan alunan musik syahdu. Ia mengigit bibir dengan wajah memerah, menahan reaksi yang entah kenapa terasa nikmat, ketika pria itu bertindak.
Sebab hanya satu hal yang membentang di pikirkan Laila sekarang. Jikalau apa yang tengah mereka perbuat, sebagai upaya untuk menyelamatkan David Mendoza dari kematian. Tidak lebih.