Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Seduhan di Dasar Semesta
Suasana di dalam ruangan karang itu mendadak jadi sangat sureal. Di luar jendela, lautan cahaya perak berkilauan dengan bangkai-bangkai kapal alien yang terlihat seperti fosil raksasa, tapi di dalam sini, aromanya persis seperti dapur di Malabar saat pagi hari. Bau asap kayu bakar yang samar, aroma tanah basah, dan yang paling dominan: wangi teh yang baru saja diseduh.
Sekar masih mematung, tangannya masih mendekap Adrian kecil yang sedang asyik memainkan ujung jemari Sekar dengan polos. Matanya tidak bisa lepas dari sosok pria tua di depannya. Wak Haji atau siapa pun dia masih sibuk menata cangkir tanah liat di atas meja batu.
"Wak... ini beneran Wak Haji?" suara Aris pecah, terdengar antara mau nangis atau mau pingsan. Dia merangkak mendekat, matanya menyipit melihat detail wajah pria itu. "Bukannya Wak Haji udah... maksud gua, pas pamanen itu..."
Pria tua itu tertawa kecil, suara tawanya renyah dan sangat akrab di telinga. Dia mengelap tangannya dengan kain sarung lusuh yang tersampir di pundaknya.
"Nama itu cuma label, Nak Aris. Di atas sana, saya mungkin Wak Haji yang hobi ngomel kalau kalian telat memetik teh. Di sini, saya cuma Penjaga Gudang. Tukang beberes barang-barang yang dibuang sama tuan-tuan besar di langit itu," ucapnya santai. Dia menyodorkan satu cangkir ke Aris dan satu lagi ke arah Sekar. "Minum dulu. Teh Malabar asli, cuma airnya saja yang saya ambil dari tetesan embun bintang."
Sekar menerima cangkir itu dengan tangan gemetar. Begitu cairan hangat itu menyentuh lidahnya, ada rasa tenang yang luar biasa merambat ke seluruh tubuhnya. Luka-luka memar akibat guncangan di bunker tadi rasanya seperti diusap oleh tangan yang sangat lembut.
"Kenapa Adrian jadi begini, Wak? Kenapa dia jadi anak kecil?" tanya Sekar sambil menatap Adrian kecil yang sekarang malah mencoba meraih cangkir teh Sekar karena penasaran.
Wak Haji duduk bersila di atas pasir putih, dia menatap Adrian kecil dengan tatapan penuh kasih sayang, tapi juga ada sedikit rasa prihatin.
"Neng Sekar, bayangkan kalau kamu lagi menyeduh teh. Kamu masukkan air mendidih, kamu aduk, kamu kasih gula. Tapi tiba-tiba, tekonya jatuh dan pecah berkeping-keping," Wak Haji membuat gerakan tangan seolah-olah ada sesuatu yang hancur. "Airnya tumpah, aromanya menguap. Nah, Nak Adrian ini sedang dalam kondisi 'diseduh ulang'."
Wak Haji mengambil selembar daun teh dari sakunya, daun itu bersinar redup. "Waktu dia meledakkan diri untuk menyelamatkan jutaan jiwa itu, dia sudah melampaui batas kapasitas raga manusianya. Dia 'pecah'. Yang kalian bawa sekarang ini adalah sarinya jiwa murninya yang belum terkontaminasi oleh ambisi, rasa sakit, atau ego 'The Shark'. Dia kembali ke titik nol, ke format paling dasar."
"Terus raga dewasanya?" Aris menyela sambil menyeruput tehnya sampai habis.
Wak Haji menunjuk ke luar jendela, ke arah Menara Hitam yang menjulang tinggi menembus awan cahaya. "Semua ampasnya ada di sana. Memorinya sebagai CEO, kekuatannya sebagai pelindung, amarahnya... semuanya tersaring dan tertinggal di sana. Menara itu adalah tempat pembuangan ego yang paling pekat."
Malam itu kalau bisa disebut malam di dunia yang selalu berpendar biru itu mereka memutuskan untuk beristirahat. Bunker "Akar Sejati" terparkir miring di luar gua karang, separuh badannya terkubur pasir putih. Aris, yang tidak bisa diam meski tangannya masih dibebat, mulai sibuk membongkar panel bawah bunker.
"Dri, sini. Jangan cuma liat doang. Lu mau jadi pahlawan atau mau jadi tukang bengkel?" Aris memanggil Adrian kecil.
Adrian kecil, yang tadinya sedang asyik mengejar ikan cahaya kecil di genangan pasir, berlari mendekat. Dia menatap mesin-mesin yang berasap itu dengan mata emasnya yang besar dan penuh rasa ingin tahu. "Ini apa, Kak Aris?" tanya Adrian kecil dengan suara cempreng yang menggemaskan.
"Ini namanya radiator antar-dimensi. Kalau kabel yang warna biru ini lu sambungin ke yang merah, kita bakal meledak. Tapi kalau lu sambungin ke yang kuning, lampu dapur bakal nyala," Aris menyerahkan sebuah tang kecil ke tangan mungil Adrian. "Coba lu puter baut yang itu. Pelan-pelan aja."
Sekar memperhatikan mereka dari kejauhan sambil tersenyum tipis. Aneh melihat Adrian yang biasanya memerintah ribuan orang sekarang justru terlihat serius sekali mencoba memutar sebuah baut kecil dengan wajah yang berkerut-kerut konsentrasi.
"Dia punya bakat, ya," gumam Sekar.
"Instingnya masih ada, Neng," Wak Haji tiba-tiba sudah berdiri di samping Sekar. "Meskipun ingatannya kosong, tapi cara dia memahami pola itu tetap sama. Adrian adalah 'desain' yang sangat sempurna. Itulah kenapa The Architect sangat terobsesi padanya."
Wak Haji kemudian mengajak Sekar berjalan sedikit menjauh ke arah area pasir yang lebih luas. Dia menyerahkan sebuah kantong kain kecil kepada Sekar. "Coba kamu tanam ini."
Sekar membuka kantong itu. Isinya cuma benih teh biasa yang sudah kering. "Di sini, Wak? Ini kan pasir, bukan tanah Malabar."
"Di Sub-Root ini, Neng, tanahnya bukan dari nutrisi organik, tapi dari harapan. Kamu siram pasir ini dengan air perak dari laut itu, lalu kamu kasih sedikit perasaanmu saat pertama kali kamu jatuh cinta sama kebun teh Malabar," Wak Haji memberi instruksi dengan nada misterius.
Sekar ragu sejenak, tapi dia mengikuti kata-kata itu. Dia menggali lubang kecil di pasir putih, memasukkan benihnya, lalu mengambil segelas air cahaya perak dari pinggir gua. Dia memejamkan mata, membayangkan hijaunya perbukitan Malabar, suara gemericik air, dan janji-janji yang dia buat untuk menjaga tempat itu.
Begitu air itu menyentuh pasir, terjadi sesuatu yang ajaib. Pasir itu mendadak berkilau, dan sebuah tunas hijau segar muncul dalam hitungan detik. Tunas itu tumbuh merambat, daunnya lebar-lebar dan mengeluarkan cahaya keemasan yang sangat lembut.
"Ini... tehnya Adrian?" bisik Sekar.
"Ini adalah 'Teh Pemulih'. Daun inilah yang nanti bisa menjadi jembatan buat Nak Adrian dewasa kembali. Tapi hati-hati, Neng. Semakin subur tanaman ini, semakin besar juga 'Tamu' di atas sana ingin mencicipinya," Wak Haji menatap Menara Hitam dengan ekspresi serius.
"Sebenernya 'Tamu' itu siapa, Wak? Kenapa dia begitu berbahaya?"
Wak Haji menghela napas panjang. "Tamu itu bukan alien. Dia adalah bagian dari Adrian yang dia buang jauh-jauh saat dia memutuskan untuk jadi pelindung. Dia adalah ambisi murni, ego seorang penakluk yang dulu disebut 'The Shark'.
Di Menara Hitam itu, ego itu mendapatkan bentuknya sendiri. Dia menunggu raganya kembali, tapi dia tidak menginginkan jiwanya yang sekarang. Dia ingin Adrian yang dingin, yang berkuasa, yang tidak mengenal cinta."
Sekar merinding. Berarti Adrian harus melawan dirinya sendiri yang paling buruk untuk bisa kembali utuh.
Beberapa jam kemudian, Aris dan Adrian kecil masuk ke dalam gua dengan wajah yang penuh dengan noda oli hitam. Adrian kecil tertawa-tawa sambil memamerkan tangannya yang kotor.
"Lampu dapur sudah nyala, Kak Sekar! Aris bilang aku hebat!" lapor Adrian kecil dengan bangga.
Sekar mengelap wajah Adrian kecil dengan sapu tangan. "Iya, kamu hebat banget. Sekarang waktunya makan, lalu tidur. Besok kita punya perjalanan panjang."
Setelah Adrian kecil tertidur lelap di atas tumpukan rumput laut yang empuk, Aris mendekati Sekar dan Wak Haji. Wajahnya yang biasanya penuh canda sekarang terlihat sangat kuyu.
"Bunker-nya nggak bakal bisa terbang jauh, Wak. Mesinnya cuma kuat buat manuver pendek. Kalau kita mau ke Menara Hitam itu, kita harus lewat jalur darat... atau jalur pasir ini," ucap Aris sambil melihat peta hologram yang baru saja dia pulihkan.
"Kita tidak akan terbang, Nak Aris. Kita akan berjalan di atas jembatan yang dibuat oleh teh yang ditanam Neng Sekar tadi," Wak Haji menjelaskan. "Tapi ingat, di Sub-Root ini, waktu tidak berjalan seperti di bumi. Satu hari di sini bisa jadi sebulan di luar sana. The Watchers sedang menyiapkan 'pemanen' baru untuk menyapu habis sisa-sisa kita."
Wak Haji menatap mereka berdua dalam-dalam. "Kalian berdua adalah dua manusia paling berani yang pernah saya temui. Melindungi benih galaksi di tempat sampah semesta... itu tugas yang berat."
"Gua cuma pengen bos gua balik, Wak. Biar dia bisa bayar lembur gua yang udah nunggak berbulan-bulan," Aris mencoba melucu, tapi suaranya sedikit serak.
Tiba-tiba, dari arah luar gua, terdengar suara dentuman yang sangat berat. BOOM... BOOM... BOOM...
Getarannya membuat pasir putih di lantai gua meloncat-loncat. Aris segera mengecek sensor bunker lewat jam tangannya. "Sesuatu yang besar lagi turun dari Menara Hitam, Wak! Ukurannya... gila, ini seukuran kapal induk!"
Mereka bertiga berlari ke jendela gua. Di kejauhan, di lereng Menara Hitam, terlihat sesosok raksasa yang turun perlahan. Sosok itu bukan terbuat dari logam, tapi dari bayangan hitam yang sangat pekat. Raksasa itu membawa sebuah sabit raksasa yang terbuat dari energi merah yang berderak.
Tapi yang paling mengerikan adalah wajahnya. Meski itu hanya bayangan, Sekar bisa mengenali raut wajah itu. Itu adalah wajah Adrian dewasa, tapi matanya tidak berwarna emas atau biru matanya hitam pekat seperti lubang hampa.
"Dia sudah tahu," bisik Wak Haji. "Si Tamu sudah tidak sabar untuk menjemput sarinya."
Raksasa bayangan itu mengangkat sabitnya ke langit, dan seketika lautan cahaya perak di bawahnya berubah menjadi gelap. Ribuan makhluk bayangan yang lebih kecil mulai muncul dari balik bangkai-bangkai kapal alien, merangkak menuju gua karang mereka.
"Aris, siapin semua senjata yang masih sisa di bunker! Sekar, jaga tanaman tehnya dan jangan lepasin Nak Adrian!" perintah Wak Haji dengan nada yang sangat berwibawa, jauh berbeda dari gayanya yang santai tadi. "Gudang ini akan segera digerebek, dan saya tidak berniat membiarkan mereka mengambil satu barang pun tanpa izin."
Sekar langsung memeluk Adrian kecil yang terbangun karena suara bising. Anak itu gemetar ketakutan, matanya menatap ke arah raksasa di kejauhan.
"Kakak... itu siapa? Kenapa dia mirip sama aku?" tanya Adrian kecil dengan suara lirih.
Sekar tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa mengeratkan pelukannya sambil menatap tanaman teh yang baru saja dia tanam. Tanaman itu bersinar terang, seolah-olah siap untuk bertarung melawan kegelapan yang datang.
Di saat yang sama, Jantung Emas yang diletakkan di atas meja batu tiba-tiba melayang. Benda itu mengeluarkan proyeksi hologram yang menampilkan wajah seorang wanita yang sangat cantik Ibu Adrian. Tapi wajah itu terlihat sedih, dan dia hanya mengucapkan satu kalimat berulang-ulang:
"Jangan biarkan dia mengingat kemarahannya... biarkan dia mengingat akarnya."
Siapakah sebenarnya raksasa bayangan yang menyerupai Adrian dewasa tersebut? Apakah itu benar-benar hanya ego yang tertinggal, atau ada entitas lain yang sedang "meminjam" raga Adrian untuk memburu mereka?
Saat pasukan bayangan mulai mengepung gua karang, rahasia apa yang tersimpan dalam teh yang ditanam Sekar yang bisa menjadi kunci kemenangan mereka? Dan mampukah Sekar melindungi kepolosan Adrian kecil saat dia dipaksa untuk melihat sisi tergelap dari dirinya sendiri yang sedang menghunus sabit ke arah mereka?
semangat update terus tor..