NovelToon NovelToon
PLEASURE AND PUNISHMENT

PLEASURE AND PUNISHMENT

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Kriminal dan Bidadari / Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: lanasyah

"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
​Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
​Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: PELARIAN DARI BLACKWOOD

Ledakan pertama menghantam fondasi Level -4 dengan kekuatan yang sanggup membelah bumi. Langit-langit laboratorium yang steril itu retak, menjatuhkan bongkahan beton dan debu putih yang menyelimuti ruangan dalam kabut maut. Sirine peringatan kini bukan lagi sekadar dengungan, melainkan jeritan parau yang menandakan bahwa Sanatorium Blackwood sedang menelan dirinya sendiri.

Aku mencengkeram lengan Julian, memaksanya berdiri meski ia mengerang kesakitan akibat luka tembak di lengannya. Di seberang ruangan, Adrian Vane terlempar ke sudut akibat guncangan, namun matanya masih menatapku dengan kebencian yang murni. Sang Ilmuwan sudah tidak terlihat; ia mungkin sudah terkubur di bawah tumpukan server yang meledak.

“Tinggalkan dia, Valerie! Biarkan detektif bodoh itu mati!” suara Zura memekik di dalam kepalaku. “Gunakan tubuh cantik ini untuk menyelamatkan diri kita! Aku tahu jalan rahasianya!”

“Diam!” bentakku secara lisan, membuat Julian tersentak.

“Valerie? Kau bicara pada siapa?” Julian terengah, wajahnya memucat karena kehilangan darah.

“Bukan siapa-siapa. Kita harus keluar dari sini, sekarang!”

Aku memapah Julian menuju pintu darurat, namun langkahku goyah. Bukan karena ledakan, melainkan karena perang di dalam lobus frontalku. Setiap kali aku melangkah, Zura mencoba menarik kendali saraf motorik pada kaki kiriku, membuatku hampir tersungkur. Ia seperti virus yang merayap di sirkuit otakku, mencoba menyabotase setiap gerakanku agar aku menyerah pada kepanikannya.

Kami memasuki koridor panjang yang kini dipenuhi asap hitam pekat. Lampu-lampu darurat berkedip merah, memberikan kesan horor pada dinding-dinding putih yang kini mulai hangus. Di ujung koridor, tiga orang pasukan keamanan berbaju taktis muncul dengan senjata terangkat.

“Subjek B dan Detektif terdeteksi! Tembak di tempat!” teriak salah satu dari mereka melalui radio.

“Biar aku yang hadapi mereka!” Zura mengambil alih pita suaraku secara paksa. Aku merasakan otot leherku menegang. “Aku tahu cara membunuh dengan tangan kosong, Dokter! Berikan kendalinya!”

“Jangan!” aku berteriak di dalam batin, mencoba mendorong kesadaran Zura kembali ke sudut gelap pikirannya.

Akibat konflik internal itu, aku terpaku di tengah koridor selama dua detik yang sangat berharga. Moncong senjata musuh sudah terarah pada kami.

“Valerie, awas!” Julian mendorongku ke balik pilar beton sesaat sebelum rentetan peluru menghujam dinding di belakang kami.

Julian mencoba membalas tembakan dengan pistolnya, namun tangannya yang terluka gemetar hebat. Pelurunya meleset jauh. Aku sadar, jika aku tidak bertindak, kami berdua akan berakhir sebagai bangkai di gedung yang akan runtuh ini.

Aku memejamkan mata sejenak, melakukan teknik dissociative focus yang biasa kugunakan untuk menghadapi saksi mata yang histeris. Aku tidak menolak Zura; aku memanfaatkannya.

“Zura, dengar,” bisikku dalam pikiran. “Kau ingin hidup dalam kemewahan raga ini, bukan? Jika kita mati di sini, tidak ada raga, tidak ada kemewahan. Aku butuh insting bertahan hidupmu. Aku akan memberikanmu kendali tangan kanan untuk membidik, tapi aku yang memegang kendali atas emosi dan pemicu. Setuju?”

Ada jeda sejenak. Aku bisa merasakan rasa lapar akan kehidupan dari jiwa Zura yang rakus itu menyetujui kesepakatan maut ini.

Aku meraih pistol dari tangan Julian yang melemah. Tiba-tiba, cara aku memegang senjata berubah. Jika sebelumnya aku memegangnya dengan kaku seperti seorang warga sipil, kini tanganku terasa ringan, luwes, dan berbahaya. Insting jalanan Zura menyatu dengan analisis spasial Valerie.

Aku keluar dari balik pilar. Satu, dua, tiga.

Tiga tembakan presisi dilepaskan. Bukan di kepala, karena Zura ingin melihat mereka menderita, tapi aku mengarahkannya ke sendi bahu dan paha. Ketiga pasukan itu tumbang, melumpuhkan jalur gerak mereka tanpa perlu menguras habis peluruku.

“Ayo, Julian! Bergerak!”

Kami menaiki tangga darurat saat ledakan kedua mengguncang gedung. Kali ini lebih besar. Aku bisa merasakan panas api dari Level -4 mulai menjalar naik. Dinding-dinding beton di sekitar kami mulai membara.

Saat kami mencapai lantai dasar, lobi sanatorium yang megah itu telah berubah menjadi medan perang. Pasukan tambahan Adrian Vane telah mengepung gedung. Di luar sana, lampu-lampu biru merah dari kepolisian kota yang dikendalikan oleh Klub 0,1% terlihat menyapu gerbang utama.

“Kita terjebak,” gumam Julian, ia terduduk di balik meja resepsionis yang terbalik. “Mereka punya seluruh kota, Valerie. Kita hanya punya satu pistol dan tubuh yang hampir hancur.”

Aku menatap raga Valerie melalui pantulan kaca lemari obat yang retak. Wajah ini... begitu indah namun kini tercoreng abu dan darah. Di dalam pikiranku, Zura mulai merengek lagi.

“Gunakan identitasmu, Valerie! Teriaklah pada polisi itu bahwa kau Dr. Valerie yang diculik! Mereka akan menyelamatkanmu!”

“Kau pikir mereka akan percaya?” balasku pada Zura. “Adrian pasti sudah menyiapkan narasi bahwa Dr. Valerie sudah mati dan aku adalah impostor yang gila. Jika aku keluar dan mengaku sebagai Valerie, mereka akan memasukkanku ke rumah sakit jiwa—atau langsung mengeksekusiku di tempat.”

Aku melihat sebuah ambulans yang terparkir di depan pintu darurat samping. Mesinnya masih menyala, mungkin para paramedisnya sudah lari menyelamatkan diri.

“Julian, ambulans itu,” aku menunjuk ke arah kendaraan putih tersebut. “Itu tiket kita keluar dari sini.”

“Terlalu terbuka, Valerie. Mereka akan memberondong kita sebelum kita sampai ke pintu kemudi.”

“Tidak jika mereka sibuk memadamkan api yang lebih besar.”

Aku berlari ke arah panel kontrol kebakaran di dinding lobi. Dengan pengetahuan teknisku tentang infrastruktur rumah sakit, aku memicu sistem pemadam api kimiawi, namun bukan air yang keluar, melainkan gas halon yang sangat tebal yang biasanya digunakan untuk memadamkan api di ruang server. Dalam hitungan detik, lobi itu dipenuhi kabut putih yang menyesakkan mata dan menghalangi pandangan sensor panas.

“Sekarang!”

Aku memapah Julian menembus kabut putih itu. Suara tembakan membabi buta terdengar di sekitar kami, namun para penjaga itu menembak ke arah yang salah. Kami berhasil mencapai ambulans. Aku mendudukkan Julian di kursi penumpang dan aku melompat ke kursi kemudi.

“Biar aku yang menyetir!” Zura berteriak, mencoba merebut kendali kaki pada pedal gas. “Aku pernah melakukan kejar-kejaran dengan polisi di lima distrik berbeda! Aku tahu cara melompatkan mobil ini!”

“Jangan konyol! Kau akan membuat kita terbalik!”

Pertarungan kembali terjadi di dalam kepalaku. Kaki kiriku menekan kopling terlalu keras sementara tangan kananku memutar kemudi ke arah yang salah. Ambulans itu menderu liar, menghantam beberapa pilar sebelum akhirnya aku berhasil menstabilkan sinkronisasi kami.

“Zura, jika kau tidak berhenti, aku akan membenturkan kepala ini ke dinding sampai kita berdua pingsan!” ancamku dengan sangat serius.

Zura terdiam, mundur sejenak, namun aku bisa merasakan kebenciannya yang mendidih. Aku memacu ambulans itu menerobos gerbang samping Sanatorium Blackwood, menghantam pagar besi hingga roboh, dan meluncur ke jalan raya yang diguyur hujan lebat.

Di spion, aku melihat Sanatorium Blackwood meledak untuk terakhir kalinya. Api raksasa membubung ke langit, menghanguskan segala bukti tentang Proyek Regenesis yang tersisa di sana. Namun aku tahu, Adrian Vane tidak akan semudah itu binasa. Ia adalah kecoa yang akan selalu menemukan celah untuk selamat.

“Valerie...” Julian bersuara lirih, kepalanya bersandar pada kaca jendela. “Kau melakukannya. Kita keluar.”

“Belum, Julian. Kita baru saja keluar dari gedung, tapi kita masih berada di dalam kota mereka.”

Aku memacu ambulans itu menuju distrik paling kumuh di pinggiran kota—tempat di mana hukum tidak berlaku dan di mana identitas tidak pernah ditanyakan. Tempat yang dulu menjadi rumah bagi Zura.

“Selamat datang di rumah, Dokter,” Zura berbisik dengan nada mengejek. “Mari kita lihat berapa lama kau bisa bertahan menjadi 'Valerie' di tempat sampah ini.”

Aku mencengkeram kemudi dengan erat. Tanganku tidak lagi gemetar karena narkoba, tapi karena beban dua jiwa yang kini harus kupikul. Aku telah mendapatkan kembali ragaku, tapi harganya adalah kehilangan kedamaian di dalam pikiranku sendiri.

“Aku akan menemukan cara untuk menghapusmu, Zura,” janjiku dalam hati.

“Atau mungkin, aku yang akan menelanmu lebih dulu.”

Ambulans itu menghilang di balik kegelapan lorong-lorong kota, meninggalkan api Blackwood yang masih meronta di kejauhan. Perang identitas ini baru saja memasuki babak yang paling intim: perang di bawah satu kulit yang sama.

1
ayin muPp
SEMANGAT KAKK, isi novel yang kamu buat berbobot banget ga cuma cinta'an gitu. anw ga ada niatan buat up di apk lain gituu? biar lebih ramee
XXAURORA: apaaaa terimakasih yaaa, ada rekomendasi apk apa kira²?/Slight/
total 1 replies
Rani Saraswaty
sbg pembaca agaknya ikut mikir lama nih, penuh dg analisa utk menambah ilmu
XXAURORA: biar ikut mikir, jadi author ada temen🤭
total 1 replies
pocong
semangat
XXAURORA: terimakasih, terus ikutin ceritanya yaaa/Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!