Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menarilah, Eva!
...୨ৎ──── F A R R I S ────જ⁀➴...
Dengan season pertunjukan yang makin dekat, suasana di perusahaan balet jadi tegang. Kami sudah kehilangan dua balerina karena enggak kuat sama tekanannya.
Dan Nyonya Hadibroto berubah menjadi hantu gentayangan. Astaga, wanita itu seharusnya jadi sersan tentara saja. Paru-parunya jelas kuat buat teriak-teriak seharian.
Aku duduk di auditorium saat latihan, ketenangan yang biasanya aku rasakan enggak ada sama sekali.
"Gak! Gak! Gak!" teriak Nyonya Hadibroto sambil menghentakkan kaki. "Apa sih yang kalian pelajari di kelas? Jari kelingking aku lebih anggun daripada yang kalian tunjukin. Ulangi dari awal!"
Sudah muak, aku berdiri dan jalan ke baris depan, tempat Nyonya Hadibroto duduk.
Waktu dia lihat aku, aku bilang, "Aku rasa kamu harus istirahat. Pulang aja!"
"Apa?" Dia tersedak sambil berdiri. "Pertunjukannya tiga minggu lagi!"
Aku kasih tatapan peringatan dan bergumam, "Jangan pernah ninggiin suara ke aku!"
Dia cepat-cepat menenangkan diri dan memaksa senyum gemetar. "Maaf, Tuan Delaney."
Saat dia pergi, aku berbalik ke panggung dan teriak, "Semua istirahat lima belas menit."
Aku harus menjaga agar semuanya tetap terkendali biar pertunjukan ini enggak jadi kegagalan besar, aku keluar dari auditorium dan menyusul Nyonya Hadibroto.
Saat belok di sudut, aku lihat dia sedang menyerang salah satu petugas kebersihan.
"Kamu enggak bisa ngepel lantai saat kita masih di sini semua. Gimana kalau salah satu balerina kepeleset dan patah kaki?"
Aku enggak bisa dengar apa yang dibisikkan petugas itu. Waktu aku mendekat, aku lihat wanita malang itu, tapi enggak bisa lihat wajahnya karena tertutup topi yang dia pakai.
Sambil menatap Nyonya Hadibroto, aku bilang, "Kantor kamu. Sekarang!"
Saat aku menjauh, aku dengar sesuatu jatuh dari troli kebersihan.
"Kamu hampir numpahin pemutih ke sepatu akuuuuu!"
Kehilangan kesabaran, suaraku jadi kasar saat menjawab, "Nyonya Hadibroto, berhenti teriak-teriak ke semua orang dan pergi ke kantor!"
Tanpa menunggu, aku jalan ke kantor dan dorong pintunya. Mondar-mandir di ruangan itu, aku tarik napas dalam buat menenangkan diri, karena aku enggak bisa seenaknya mecat Nyonya Hadibroto sedekat ini dengan hari pertunjukan.
Dia masuk ke kantor dan menutup pintu biar kami punya privasi.
Aku tarik napas lagi sebelum bilang, "Aku enggak bakal tolerir kamu teriak ke balerina dan staf aku. Semua orang lagi stres, dan kamu malah memperburuk keadaan."
"Maaf, Tuan Delaney," gumamnya. "Tekanannya kena ke aku."
"Libur besok dan istirahat. Aku yang bakal ngurus latihan sampai kamu balik." Saat dia kelihatan mau debat, aku geleng-geleng. "Ini perintah!"
Dia jalan ke meja buat ambil tasnya. Sebelum keluar dari kantor, dia bertanya, "Aku bakal pakai malam ini buat nenangin diri, tapi tolong biarin aku balik besok. Aku udah kerja setahun penuh buat pertunjukan ini."
"Baik, tapi kalau aku dengar kamu teriak ke satu orang lagi, itu bakal bikin kamu kehilangan pekerjaan ini." Aku peringatkan.
aku bisa lihat ancaman aku kena banget ke dia, dan dia keluar dari kantor dengan dagu gemetar.
Saat keheningan turun di sekitarku, aku merasa sangat gelisah. Aku jarang kehilangan kendali, tapi kalau ada satu hal yang membuatku marah, itu adalah karena orang-orang yang memperlakukan orang lain dengan cara yang buruk.
Aku harus menenangkan diri.
Aku enggak keberatan buat melihat Eva menari daripada balik ke tempat latihan.
Saat sebuah ide muncul di kepalaku, aku ambil HP dari saku dan menelepon Eva.
Aku harap bisa membujuk dia untuk menari buat aku malam ini. Sumpah, kalau dia bilang iya, aku bakal nyuruh semua orang pulang.
...📞...
^^^"Hai."^^^
"Tolong datang ke studio dan nari."
^^^"Apa?"^^^
"Datang dan nari buat aku, Eva."
^^^"Ahh … aku agak sibuk sekarang.'^^^
"Aku bakal nunggu."
Dia diam lama banget sampai aku cek layar buat memastikan dia enggak menutup telepon di muka aku.
^^^"Bukannya kamu sibuk siapin pertunjukan?"^^^
"Iya, tapi aku bisa nyuruh semua orang pulang."
Dia diam lagi .
"Aku bakal bayar kamu. Sebut aja harganya."
^^^"Buat nari? Kamu punya beberapa balerina terbaik di perusahaan kamu. Kenapa enggak minta salah satu dari mereka?"^^^
"Enggak ada yang kayak kamu."
Aku dengar napasnya.
^^^ "Baiklah. Aku bakal sampai sana satu jam lagi."^^^
Aku tarik napas lega waktu dia setuju, sementara senyum menyebar di wajahku.
Eva tutup telepon, dan aku masukkan HP ke saku sambil keluar dari kantor.
aku balik ke auditorium buat suruh semua orang pulang. Aku mau tempat ini kosong secepat mungkin.
Duduk di studio, aku terus mengecek jam yang jalannya lambat banget.
Saat Eva masuk ke ruangan, pakai celana pendek ketat dan atasan pendek, rasa lega langsung membanjiri tubuhku lagi.
Aku matikan HP dan menyimpannya, sementara mataku mengikuti tiap gerakan dia saat dia jalan ke meja, tempat dia taruh HPnya dan menyambungkan ke speaker.
Dia berdiri, diam sebentar. Saat musik mulai, dia berbalik dan melihatku.
Cuma dari nada pembuka aku langsung kenal Never Enough dari Lauren Allred. Itu salah satu favorit aku, dan aku sudah enggak kehitung berapa kali nonton The Greatest Showman.
Eva jalan ke arahku. Saat dia cukup dekat, dia angkat tangan dan taruh di dagu aku. Aku bisa lihat ada sesuatu yang ganggu dia hari ini.
Pikiran itu bikin perasaan protektifku meledak di dada.
Tubuhnya berputar dan berputar, membuat musik terasa sejuta kali lebih kuat.
Jantungku langsung berdentum di dada, dan stres soal pertunjukan yang akan datang, langsung menghilang seperti kabut yang terkena matahari, sampai yang tersisa cuma ....
Eva.
JD penasaran Endingnya