Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Akhir dari Pencarian
Cuma tiga hari Zafira merasakan bahagia, yang ia kira bakal bertahan selamanya. Tiga hari Anggara ada di sisinya, memberi perhatian, memberi janji-janji manis, bahkan memberi harapan palsu yang membuat Zafira percaya lagi.
Tiga hari yang ternyata cuma ilusi.
Hari ini, hari keempat sejak Anggara kembali, Zafira berdiri di depan rumah kontrakan Anggara, di daerah Umbulharjo. Rumah kecil yang dulu sering dia datangi, tempat mereka sering masak bareng, nonton film sambil pelukan di sofa lusuh, mereka tertawa bersama.
Tapi sekarang rumah itu kosong. Pintu terkunci, jendela tertutup rapat, halaman depan penuh dengan daun kering yang nggak pernah di ada yang menyapunya. Zafira mengetuk pintu berkali kali.
Tok Tok Tok.
"Anggara? Anggara, apa kamu ada di dalam?"
Nggak ada jawaban.
Tok Tok Tok.
"Anggara please, buka pintunya. Aku mau bicara sama kamu."
Tetap sepi.
Zafira mengeluarkan ponselnya, lalu menelpon nomor Anggara yang kemarin masih aktif, yang kemarin masih mengangkat telponnya.
Nada sambung berbunyi tapi, 'Maaf, nomor yang Anda hubungi tidak dapat menerima panggilan.'
Zafira terus mencoba, namun hasilnya tetap sama. 'Tidak dapat menerima panggilan.'
Jantung Zafira mulai berdetak nggak karuan. Ada yang salah, ini bener-bener salah.
Dia membuka aplikasi pesan, chat terakhir sama Anggara masih ada, bahkan tadi pagi Zafira mengirim pesan. "Pagi sayang, sudah sarapan?" tapi cuma centang satu, dan belum terkirim, atau mungkin nomornya telah diblokir?
Zafira mencoba membuka profil Anggara di aplikasi chat. 'Anda tidak dapat melihat foto profil pengguna ini."'
Semuanyanya hilang, bahkan media sosialnya tidak bisa di temukan. Zafira mengira, bahwa tiga hari kemarin cuman mimpi.
Zafira jatuh terduduk di depan pintu rumah Anggara, ponselnya jatuh dari tangannya. Nafasnya terasa sesak, dadanya sakit banget.
Kenapa?
Kenapa lagi?
Kenapa harus kayak gini lagi?
"Anggara," bisiknya pelan sambil menunduk, air mata menetes jatuh ke tanah. "Kenapa kamu melakukan ini lagi sama aku?"
***
Tiga hari yang lalu, hari kedua sejak Anggara kembali, mereka jalan-jalan ke Malioboro. Anggara membelikan Zafira baju khas Jogja yang tulisannya 'Yogyakarta Istimewa', Anggara tersenyum lebar saat memberikan baju itu.
"Biar kamu ingat terus sama aku," ucap Anggara sambil mencubit hidung Zafira gemas.
Mereka makan gudeg di angkringan pinggir jalan, mengobrol sambil canda tawa. Anggara cerita, rencananya mau cari kerja di Jogja aja, biar nggak LDR lagi, dan bisa sering ketemu sama Zafira.
"Beneran, Gar? Kamu mau kerja di Jogja?"
"Beneran, Fira. Aku udah kapok jauh dari kamu, kali ini aku mau deket terus sama kamu, dan aku mau selalu ada di samping kamu."
Zafira percaya, dan ia bener-bener percaya.
Tapi kemarin, hari ketiga, ada yang berbeda. Anggara keliatan gelisah, ia sering melihat ponselnya, bahkan sering terlihat bengong, dan senyumnya seperti dipaksa.
"Kamu kenapa sih, Gar? Apa ada masalah?" tanya Zafira waktu mereka lagi duduk di taman Tugu, tempat pertama kali mereka bertemu dua tahun yang lalu.
"Nggak ada apa-apa Fira, cuma masalah kerjaan aja. Bosku menghubungi aku, dan meminta aku untuk kembali ke Jakarta sebentar, untuk membereskan sesuatu."
Jantung Zafira langsung berdetak kenceng, ia bertanya-tanya pada dirinya. Apa ia harus LDR lagi?
"kembali, kapan kamu akan kembali lagi ke Jakarta?" tanyaku pelan.
"Mungkin besok lusa, tapi tenang, ini cuma sebentar kok. Paling satu minggu aku sudah kembali lagi."
"Janji ya, satu minggu kamu kembali lagi?"
Anggara tersenyum, lalu menggenggam tangan Zafira erat. "Iya, aku janji. Kali ini aku benar-benar akan kembali lagi."
Mereka menghabiskan sore itu dengan mengobrol panjang, Anggara mengeluarkan semua ceritanya tentang kota Jakarta, tentang kerjaannya, dan betapa ia merasa bosan hidup sendirian di sana.
Zafira mendengarkan sambil sesekali mengelus rambut Anggara yang gondrong. Nggak ada pertengkaran atau argumen. Semuanya terlihat baik-baik saja. Bahkan waktu Anggara mengantarkan Zafira pulang ke kost, ia masih memberi kecupan manis di kening Zafira.
"Aku sayang sama kamu, Fira," ucap Anggara lirih.
Zafira pun membalas ucapan Anggara, "Aku juga sayang sama kamu, Garra."
Tapi pagi ini, waktu Zafira bangun dan mencoba menghubungi Anggara untuk sarapan bareng, semuanya hilang. Nomornya diblokir, akun hilang, bahkan rumahnya terlihat kosong.
Anggara pergi lagi, tanpa pamit, tanpa penjelasan, dan tanpa kabar apapun.
***
Zafira nggak tau sudah berapa lama ia duduk di depan rumah kosong itu. Tetangga sebelah keluar, dan melihat Zafira dengan tatapan yang kasihan.
"Dek, kamu mencari yang punya rumah ini ya?" tanya seorang wanita paruh baya, yang kini tengah menghampiri Zafira.
Zafira mengangkat kepalanya, matanya terlihat sembab. "Iya Bu, Anggara yang tinggal di sini, kemana ya, Bu?"
"Oh, Mas Anggara? Dia sudah pindah dek. Tadi pagi saat subuh, dia sudah mengangkut barang-barangnya dan langsung pergi dengan naik taksi."
Dunia Zafira terasa runtuh saat itu juga, hatinya hancur saat mengetahui, bahwa Anggara sudah pergi sejak subuh tadi.
"Kira-kira, pindah kemana ya, Bu?" tanya Zafira sopan.
"Kalo itu ibu nggak tau dek, dia nggak bilang apa-apa. Cuma pamit aja sama ibu dan bilang mau pindah, kontrakkannya diserahkan lebih cepat."
"Apa dia nggak meninggalkan pesan buat saya, Bu? Atau apa gitu?"
Wanita paruh baya itu hanya menggeleng pelan, sambil menatap Zafira kasihan. "Nggak ada dek, maaf ya."
Zafira hanya mengangguk lemah, saat akan berdiri, kakinya terasa begitu lemas, bahkan ia hampir jatuh, jika wanita paruh baya itu nggak menahannya.
"Kamu nggak apa-apa, Dek? Atau mau masuk dan minum dulu mungkin?"
"Nggak Bu, makasih. Saya mau pulang saja."
Tapi kaki Zafira nggak jalan ke kost, ia jalan ke Tugu lagi. Tempat yang selalu ia datangi kalau lagi hancur. Tempat yang jadi saksi bisu semua kepergian Anggara.
***
Sore itu di Tugu Yogyakarta terlihat ramai seperti biasa. Anak-anak muda tengah berfoto, turis keliling, pedagang asongan menawarkan dagangannya. Tapi Zafira cuma duduk diam di pinggiran, melihat bundaran putih itu dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk dari Rania.
Rania: Fir, sekarang kamu di mana? Kok, dari tadi nggak membalas pesan dari aku?
Zafira mengetik pelan.
^^^Zafira: Aku berada di Tugu.^^^
Nggak sampai sepuluh menit, Rania sudah datang. Ia langsung duduk di sebelah Zafira, nafasnya terlihar ngos-ngosan.
"Fir, kenapa kamu ke sini lagi? Bukannya kemarin Anggara sudah kembali? Kalian..."
"Dia pergi lagi, Ran," potong Zafira pelan. Suaranya datar. "Anggara pergi lagi, dan dia pindah dari kontrakan, nomorku juga di blokir sama dia, semua kontakku, hilang lagi."
Rania terdiam, matanya melotot nggak percaya.
"Apa, di pergi lagi? Tapi dia kan baru kembali tiga hari yang lalu? Dan dia..."
"Cuma tiga hari Ran. Cuma tiga hari dia memberi aku harapan palsu, memberi janji-janji manis yang ternyata itu semua bohong. Dan sekarang, dia pergi lagi. Bahkan aku merasa, aku ini nggak ada apa-apanya."
Air mata Zafira mengalir pelan, tapi wajahnya tetep datar. Ia sudah capek menangis terus menangis. Yang ada cuma rasa sakit, yang membuat Zafira merasa, bahwa ia nggak berhak untuk bahagia, nggak berhak untuk di cintai.
Rania memeluk Zafira erat, ia ikuta menangis.
"Bajingan! Dia bener-bener bajingan, Fir. Gimana bisa dia melakukan hal seperti ini lagi sama kamu?"
"Aku yang bodoh, Ran," bisik Zafira di pelukan Rania. "Aku bener-bener bodoh, aku sudah hampir ikhlas, sudah hampir move on, tapi pas dia kembali lagi, aku langsung luluh begitu saja. Aku bener-bener tolol."
"Bukan kamu yang bodoh, Fir. Dia yang brengsek. Dan dia yang nggak punya hati."
Mereka duduk di situ sampai langit gelap, sampai lampu-lampu di Tugu mulai menyala satu-satu. Rania menemeni Zafira disana, ia nggak bicara apa-apa lagi. Karena Rania tau, kata-kata apapun nggak akan membantu Anggara kembali.
***
Malem itu, Zafira kembali ke kost dengan keputusan yang sudah bulat. Ia membuka lemari, dan mengeluarkan sebuah kardus yang besar. Yang isinya semua kenangan ketika bersama Anggara. Foto-foto mereka berdua, surat cinta yang dulu Anggara tulis tangan, tiket bioskop, tiket kereta waktu jalan-jalan ke Parangtritis, boneka kecil yang Anggara belikan waktu ulang tahun Zafira, gelang emas yang baru dikasih tiga hari yang lalu.
Semuanya, semua kenangan saat dua tahun bersama Anggara ada di kardus itu. Zafira membawa kardus itu ke halaman belakang kost yang sepi. Ia jongkok, lalu mengeluarkan korek api dari kantongnya.
Tangannya terlihat gemetar waktu akan menyalakan korek pertama. Api kecil menyala, dan terlihat api itu kini mulai tertiup oleh angin.
"Selamat tinggal," bisik Zafira pelan, sambil menaruh api itu ke tumpukan kertas yang ada di dalam kardus.
Api mulai menjalar, perlahan tapi pasti. Foto-foto mereka mulai terbakar, warna wajah Anggara yang senyum lebar di foto itu, kini perlahan jadi hitam, hancur menjadi abu.
Semua surat cinta pun ikut terbakar, kata-kata 'Aku sayang sama kamu, Fira.' Yang dulu ditulis pake tinta biru, sekarang jadi debu yang terbang diterpa angin. Tiket-tiket kenangan, boneka kecil, semuanya habis terbakar dimakan api.
Zafira melihat api itu, dengan air mata yang mengalir nggak berhenti. Tapi ia nggak berusaha untuk memadamkannya. Safira membiarkan semuanya menjadi abu. Membiarkan kenangan itu mati, seperti cinta yang sudah mati lebih dulu.
Yang terakhir, Zafira menggenggam gelang emas, pemberian Anggara tiga hari yang lalu. Gelang yang Anggara bilang, bahwa itu bukti dari keseriusan, dan ia bilang itu adalah simbol janji.
Janji yang palsu.
Zafira melempar gelang itu ke dalam api, logam emasnya berkilau sebentar, sebelum akhirnya ikut tenggelam di kobaran api.
"Selamat tinggal, cinta pertamaku," bisik Zafira sambil menunduk, melihat api yang semakin membesar.
"Untuk kejadian ini, cukup sekali dalam seumur hidupku. Semoga kamu bahagia Anggara, jika itu pilihan terbaikmu. Meskipun dengan tanpa sepatah kata pun, untuk memberi kepastian padaku."
Api mulai mengecil, hanya tinggal bara kecil yang masih menyala. Kardus itu sudah menjadi tumpukan abu hitam, yang sudah nggak berbentuk lagi.
Zafira berdiri, kakinya lemas tapi dipaksa jalan untuk kembali ke kamar. Ia masuk, dan menutup pintu. Lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memejamkan mata.
Kalung perak berbentuk hati masih melingkar di lehernya. Karena itu, satu-satunya benda yang nggak ia bakar. Bukan karena sayang, tapi karena Zafira butuh pengingat. Pengingat kalau ia pernah secinta ini sama seseorang. Pengingat kalau ia pernah sesakit ini karena ditinggalkan.
Pengingat agar nggak pernah percaya lagi, dengan janji-janji manis dari laki-laki manapun.
Malam itu Zafira tidur dengan hati yang benar-benar kosong, nggak ada lagi harapan. Nggak ada lagi pertanyaan, dan nggak ada lagi air mata. Yang ada cuma kekosongan yang mencekam, yang membuat Zafira merasakan mati rasa.
Dan di suatu tempat, entah di mana, Anggara mungkin lagi tidur nyenyak tanpa memikirkan Zafira sama sekali. Tanpa tau kalau dia sudah bunuh kepercayaan Zafira. Tanpa tau kalau dia sudah meninggalkan luka, yang mungkin nggak akan pernah sembuh. Tanpa tau, kalau Zafira sekarang sudah bener-bener mati rasa dan tidak percaya lagi dengan laki-laki manapun.