Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 : Halusinasi
Malam merayap sunyi di Kediaman Jenderal Wu. Rembulan tertutup awan tebal, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh lentera yang bergoyang tertiup angin. Di sebuah paviliun kediaman Wu, seorang wanita berdiri terpaku di depan jendela menatap ke arah luar. Rambut nya melambai tertiup angin malam. Qinqin berdiri di depan jendela Paviliun Anggrek, menatap ke arah Paviliun Utama tempat Nyonya Besar Wu beristirahat.
"Xue, kau sudah tahu apa yang harus dilakukan?" tanya Qinqin pelan.
Xue mengangguk, meski jemarinya masih bergetar. "Hamba sudah menaruh serbuk 'Bunga Pemutus Mimpi' di dalam tungku dupa ruangan Nyonya Besar saat para pelayan sedang sibuk mengganti lilin tadi, Nona. Tapi apakah ini benar-benar tidak akan ketahuan?"
Qinqin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat dingin di bawah cahaya lilin yang remang. "Itu tidak akan membunuhnya, Xue. Hanya memberinya mimpi buruk yang sangat nyata. Dia ingin aku 'tidur' dengan racun sup itu, kan? Maka aku hanya mengabulkan doanya untuk memberinya tidur yang sangat panjang tanpa bisa bangun dengan tenang."
***
Di Paviliun Utama, Nyonya Besar Wu baru saja merebahkan tubuhnya yang lelah setelah seharian merencanakan cara lain untuk menyingkirkan menantunya---atau setidak nya menyingkirkan roh jahat dalam tubuh qinqin--- agar menantu nya kembali patuh.
Aroma dupa yang biasanya menenangkan kini tercium sedikit berbeda---ada aroma manis bunga yang sangat pekat, hampir memuakkan. Tak butuh waktu lama bagi wanita tua itu untuk jatuh terlelap.
Namun, tidurnya jauh dari kata damai. Dalam mimpinya, langit-langit kamarnya seolah runtuh, berubah menjadi gudang kumuh tempat ia pernah mengurung Qinqin. Udara terasa pengap dan berbau busuk. Di sudut ruangan, ia melihat sesosok wanita berpakaian lusuh dengan rambut emas yang terurai panjang menutupi wajahnya. Meski sebagian wajah nya tertutup rambut, Nyonya Wu masih bisa melihat senyuman mengerikan di balik nya.
"Siapa kau?!" teriak Nyonya Besar Wu dalam mimpinya.
Sosok itu perlahan berdiri, gerakannya patah-patah seperti boneka kayu. Saat wajahnya terlihat, Nyonya Besar Wu terkesiap. Itu adalah Qinqin, namun matanya berwarna emas menyala dan di tangannya ia memegang mangkuk sup sarang burung yang mendidih.
"Ibu mertua supnya masih hangat. Kenapa Anda tidak mencicipinya sedikit?" bisik sosok itu dengan suara yang bergema di kepala Nyonya Wu. Suara nya parau dan intonasi nya patah-patah.
Tiba-tiba, cairan sup itu berubah menjadi ribuan ular kecil berwarna hitam yang merambat ke kaki Nyonya Besar Wu. Ia berteriak histeris, mencoba berlari namun kakinya seolah terpaku di lantai gudang yang kotor.
"Hantu! Menjauh dariku!" jerit Nyonya Besar Wu di dalam tidurnya.
Ia tersentak bangun dengan napas memburu dan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya. Peluh mengucur deras dari dahinya. Suara teriakannya memecah kesunyian malam, membuat para pelayan jaga berlarian masuk ke kamarnya dengan wajah panik.
***
Pagi harinya, subuh baru saja pecah di ufuk timur. Burung burung kecil mengitari kediaman Wu sekedar untuk menandakan bahwa waktu subuh telah tiba.
Qinqin sudah berdiri di lapangan belakang dengan pakaian ringkas yang memudahkan geraknya. Ia melakukan pemanasan, otot-ototnya terasa jauh lebih siap daripada pertama kali ia berlatih.
Wu Lian datang dengan langkah tegap, jubah hitamnya berkibar diterpa angin pagi. Ia menatap Qinqin dengan tatapan menyelidik. Berita tentang Ibundanya yang histeris semalam sudah sampai ke telinganya, namun ia tak menemukan bukti bahwa istrinya meninggalkan paviliun.
"Kau tampak sangat segar pagi ini, padahal seluruh kediaman gempar karena teriakan Ibunda semalam," ujar Wu Lian sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Qinqin menoleh, memberikan senyum polos yang sedikit nakal. "Oh ya? Ibu mertua teriak? Mungkin beliau sedang rindu padaku, Jenderal. Atau mungkin sup kemarin terlalu enak sampai terbawa mimpi. Sudahlah, jangan bahas itu. Ayo, mana janji tenaga dalammu?"
Wu Lian berjalan mendekat, ia berdiri di belakang Qinqin. "Berdiri tegak. Rasakan aliran napasmu bukan hanya di paru-paru, tapi tarik hingga ke titik di bawah pusarmu. Itu adalah pusat Qi."
Wu Lian meletakkan telapak tangannya yang hangat di punggung Qinqin. Wanita itu sempat tersentak kecil---bukan karena takut, tapi karena aliran energi yang tiba-tiba merambat dari tangan Wu Lian terasa sangat kuat dan asing di tubuhnya.
"Fokus, Xu Qinqin. Jangan biarkan pikiranmu melayang ke tempat lain," tegur Wu Lian dingin.
Qinqin memejamkan mata, mencoba mengikuti instruksi itu. Ia membayangkan rasa sakit dan ketidakadilan yang dialami pemilik tubuh asli sebagai bahan bakar energinya. Ia memusatkan semuanya pada telapak tangannya, lalu dengan satu hentakan, ia menghantam batang pohon besar di depannya.
DUKK!
Pohon itu bergetar hebat. Meski tidak tumbang, terlihat bekas telapak tangan yang cukup dalam di kulit kayu tersebut. Qinqin terengah-engah, namun wajahnya tampak puas.
"Hebat juga," gumam Qinqin sambil menatap telapak tangannya sendiri.
"Masih kasar," komentar Wu Lian, meski dalam hati ia terkejut dengan kecepatan belajar istrinya. "Tiga hari lagi kita berangkat ke Gunung Qingyun. Jika kau tidak ingin mati dimakan binatang buas atau dijebak pertapa gila, pastikan aliran energimu stabil."
Meski Wu Lian tahu bahwa Huo Lu cukup untuk menemani istri nya. Namun , lelaki itu tetap ingin bergabung dengan istri nya dan Huo Lu. Alasan nya karena Wu Lian ingin lihat sendiri. Bagaimana istri nya yang dulu polos dan bodoh itu berkembang pesat.
Qinqin berbalik, menatap Wu Lian dengan tatapan nakal nya yang kembali muncul. "Siap, Jenderal Kaku! Tapi kalau aku berhasil mendapatkan obat untuk ayahku, apa hadiahnya untukku?"
Wu Lian terdiam sejenak, menatap mata emas Qinqin yang berkilau cerah. "Hadiahnya adalah aku akan membiarkanmu tetap hidup di kediaman ini tanpa gangguan siapa pun."
"Dih, pelit banget hadiahnya!" cibir Qinqin sambil melenggang pergi meninggalkan lapangan. "Tapi boleh jugalah, daripada tinggal di gudang!"
Sambil berjalan kembali, Qinqin membatin puas. Nyonya Besar Wu baru merasakan satu malam mimpi buruk. Masih ada sisa serbuk untuk malam-malam berikutnya. Biarkan wanita tua itu sibuk dengan 'hantu-hantunya' sementara Qinqin bersiap menuju Timur.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂