Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Cahaya fajar menyelinap masuk ke dalam gua, menyinari debu-debu yang menari di udara. Han Muchen bangkit sambil merapikan jubah sastrawannya yang tidak ternoda sedikit pun oleh debu gua.
Matanya menatap ke arah luar, ke arah jajaran gunung yang puncaknya masih tertutup kabut abadi.
"Dunia persilatan adalah sebuah kuali besar yang mendidih," ucap Han Muchen tanpa menoleh.
"Kadang kau pikir kau adalah orang yang memegang sendoknya, padahal kau hanyalah salah satu bahan yang sedang dimasak di dalamnya."
Liang Shan terdiam, merasakan kehangatan tenaga dalam Han Muchen yanh masih mengalir di titik-titik nadinya, menenangkan Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang yang baru saja mengamuk.
"Aku tidak keberatan menjadi bahan masakan, asalkan aku bisa membuat mereka yang memakannya tersedak sampai mati."
Han Muchen tertawa kecil, tawa yang kering dan hambar. "Ayahmu dulu punya idealisme yang sama. Tapi idealisme adalah barang mewah yang harganya seringkali harus dibayar dengan nyawa orang-orang tercinta."
Ia kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berisi obat bubuk dan menyerahkannya kepada Liang Shan.
"Gunakan ini saat racunmu bergejolak. Ini tidak menyembuhkan, hanya menipu tubuhmu agar merasa tidak sakit untuk sementara. Tapi ingat, menipu tubuh sendiri adalah cara tercepat untuk menuju liang lahat."
Setelah memberikan instruksi terakhir mengenai lokasi rahasia Si Buta Lu di Kota Teratai Biru, Han Muchen menghilang dari pandangan secepat asap yang ditiup angin.
Liang Shan kini berdiri sendiri di mulut gua. Di punggungnya, Golok Sunyi Mengoyak Langit terasa berat, seberat rahasia negara yang kini ia pikul di telapak tangannya.
Beberapa saat kemudian, pemuda itu mulai melanjutkan perjalanannya kembali.
Liang Shan memilih jalur tikus, melewati hutan-hutan lebat dan tebing-tebing curam yang jarang dilalui manusia. Ia tahu, di jalur utama, para pengejar dari tiga klan besar dan pendekar bayaran kiriman lainnya sudah memasang jaring yang rapat.
Namun, dunia persilatan selalu memiliki telinga di setiap helai daun.
Pada hari ketiga perjalanannya, saat sedang beristirahat di pinggir sebuah telaga yang sunyi, telinganya menangkap suara desingan lembut. Itu bukan suara angin, melainkan suara benda tajam yang membelah udara dengan presisi tinggi.
WUTT!!! TAKK!!!
Sebuah jarum perak menancap di batang pohon, tepat satu inci di samping kepala Liang Shan. Jarum itu membawa helai benang sutra ungu yang sangat halus.
Liang Shan tidak bergerak ataupun menoleh. Ia hanya tetap duduk sambil memegang dahan kayu yang sedang digunakan untuk menusuk ikan.
"Xu Ruomei," ucap Liang Shan datar. "Klan Xu rupanya tidak sabar untuk menyerahkan bagian permata mereka padaku."
Dari balik rimbunnya pohon ginkgo, muncul seorang wanita cantik dengan gaun ungu yang melambai ditiup angin.
Wajahnya secantik dewi dalam lukisan, namun di balik matanya yang jernih, tersimpan kecerdikan yang mampu menjatuhkan sebuah kerajaan.
"Kau sungguh luar biasa, Tuan Muda Liang," suara Xu Ruomei tersebut lembut, semanis madu yang disimpan dalam guci porselen.
"Banyak orang mencarimu dengan pedang dan teriakan, sementara aku lebih suka mencarimu dengan ketenangan."
Wanita itu berjalan mendekat, langkahnya seringan kapas, tidak meninggalkan jejak di atas rumput yang basah.
"Aku tidak datang untuk bertarung. Aku datang untuk memberikan penawaran. Klan Xu tahu bahwa kau memegang rahasia yang mampu mengguncang takhta. Mengapa tidak bekerja sama dengan kami? Kita bisa menghancurkan Klan Murong dan Zhao, dan kau bisa mendapatkan kembali nama baik keluargamu."
Liang Shan bangkit berdiri. Ia menatap Xu Ruomei dengan tatapan kosong.
"Di dunia ini, ada dua hal yang tidak bisa dipercayai, pertama adalah janji seorang politikus, dan kedua adalah air mata seorang wanita dari dunia persilatan. Kau termasuk yang mana?"
Xu Ruomei tertawa kecil, kipas suteranya menutupi sebagian wajahnya.
"Aku adalah wanita yang tahu cara bertahan hidup, Liang Shan. Ayahmu dulu gagal karena dia terlalu jujur. Kejujuran di tengah sekumpulan serigala adalah cara tercepat untuk dikuliti."
"Tapi ayahku mati dengan punggung yang tegak," balas Liang Shan dingin. "Sedangkan kalian hidup dengan lutut yang gemetar di hadapan kekuasaan."
Suasana di pinggir telaga itu mendadak mendingin. Xu Ruomei menutup kipasnya dengan suara ceklak yang tajam.
Tiba-tiba, dari empat penjuru, muncul delapan orang pria berbaju hitam dengan topeng perak. Mereka adalah Delapan Penjaga Bayangan Klan Xu, pendekar-pendekar yang telah membuang nama mereka demi menjadi mesin pembunuh yang efisien.
"Aku diperintahkan untuk membawamu hidup-hidup," ucap Xu Ruomei, suaranya kini setajam belati es. "Tapi jika hanya kepalamu yang tersisa, aku rasa Permata Tiga Hati itu masih bisa bicara."
Liang Shan menarik napas panjang. Ia merasakan racun di nadinya mulai berdenyut.
'Kalau harus bertarung, maku harus menyelesaikany dalam dua belas jurus jika ingin tetap bisa berjalan hari ini,' batin Liang Shan.
Tanpa aba-aba, pertarungan pecah seketika!
Delapan Penjaga Bayangan itu bergerak dalam formasi "Jaring Labah-Labah Langit".
Mereka tidak menyerang secara membabi buta, melainkan mengepung dengan sinkronisasi yang sempurna. Pedang-pedang mereka berkilat dan mengincar titik-titik mematikan.
Melihat formasi lawan yang sempurna, Liang Shan langsung menghunus Golok Sunyi!
WUSHH!!!
Tubuhnya seolah terbelah menjadi delapan bayangan. Ia meluncur di sela-sela tebasan pedang lawan. Golok hitamnya tidak menebas, melainkan mematuk seperti ular kobra.
Dalam tiga gerakan, tiga orang penjaga tersungkur dengan urat nadi tangan yang putus. Liang Shan tidak membunuh mereka, namun melumpuhkan kemampuan bertarung mereka secara permanen.
"Kurang ajar!" geram salah satu penjaga yang tersisa. Ia melompat tinggi dan menghantamkan gada besarnya.
Liang Shan tidak menghindar. Ia menggunakan Jurus Bayangan Sunyi di Balik Hujan, memutar goloknya, menangkap beban gada itu, lalu mengalihkannya ke arah penjaga lain yang sedang menyerang dari samping.
BRAKK!!!
Dua penjaga itu bertabrakan dan terlempar ke dalam telaga.
Xu Ruomei yang menyaksikan itu tertegun. Ia menyadari bahwa ilmu silat Liang Shan bukan sekedar ilmu golok biasa. Itu adalah ilmu yang lahir dari penderitaan yang melampaui batas manusia.
Di dunia persilatan, orang paling berbahaya bukanlah dia yang memiliki tenaga dalam paling besar, melainkan dia yang sudah tidak takut lagi pada kematian.
Tinggal tiga penjaga lagi!
Liang Shan merasakan dadanya sesak. Darah hitam mulai merembes dari sudut matanya. Gejolak racun itu mulai mengaburkan pandangannya.
"Cukup!" teriak Xu Ruomei. Ia melesat maju dengan telapak tangan yang memancarkan cahaya ungu.
"Tapak Bunga Beracun".
Liang Shan melihat serangan itu, dia tidak menghindar, melainkan menyambutnya secara langsung!
BLARR!!!
Hantaman dua tenaga dalam itu menimbulkan ledakan udara yang hebat. Permukaan telaga di samping mereka terangkat, menciptakan tirai air setinggi tiga meter.
Liang Shan terhuyung mundur lima langkah, wajahnya seputih kertas. Xu Ruomei juga terlempar mundur, jilbab suteranya robek, dan sudut bibirnya berdarah.
"Kau ..., kau memaksakan tenaga dalammu meskipun racun itu sedang memakanmu?" Xu Ruomei menatap Liang Shan dengan ngeri. "Kau gila! Kau akan mati dalam satu jam jika terus begini!"