Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEPASANG MATA MERAH MENYALA
Aku terus melangkah menjauh dari Ustadz Furqon dan Mas Ahmad. Aku sempatkan menoleh ke belakang. Dan tampak sudah hanya terlihat bayangan mereka berdua di kejauhan.
Aku kembali memperhatikan jalan setapak yang lurus dan cukup panjang ini. Aku melihat ke arah sekitar. Hanya ada pepohonan, dan juga suara hewan malam yang mulai bangun dari sarang-sarang mereka. Dan juga hembusan angin yang terasa berbeda di tubuhku. Lebih dingin. Lebih mencekam.
Ketika aku merasa sudah berada di tengah-tengah jalan setapak ini, aku segera duduk perlahan di atas tanah. Duduk bersila. Terasa sedikit lembab karena hujan deras tiga hari yang lalu itu.
"Baiklah. Aku akan bawa kamu pulang Farhan..." ucapku dalam hati sambil mulai meletakkan bunga kantil di depanku, dan kedua tangan di atas pahaku.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sambil mulai kupejamkan kedua mataku.
Terbersit sejenak pertanyaan dalam benakku, bagaimana caranya aku supaya bisa berkomunikasi dengan Mas Iko yang berada di rumah Farhan? Tak mungkin aku berteriak di tengah gelanya jalan setapak ini.
Namun segera kualihkan itu. Sekarang fokusku adalah menemukan keberadaan Farhan dan segera mengajaknya untuk kembali pulang ke dimensi nyata.
Aku tenangkan diriku. Kembali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, beberapa kali aku lakukan itu.
Dan... Kembali ku baca kalimat Basmallah dalam hati...
Tiba-tiba... Angin itu berhembus lagi pelan... Membawa hawa dingin yang lebih menusuk kulit...
Akhirnya, seluruh kebisingan hewan malam di sekitarku. Menghilang. Suara dedaunan yang tertiup angin pun lenyap.
Seketika seluruhnya menjadi hening... Sangat hening...
Lalu tiba-tiba, di tengah kedua mataku terpejam ini, dan keheningan yang sudah datang, aku terkejut dengan suara seseorang yang berkata...
"Mbak Nisa, saya temani dari jarak jauh..."
Suara itu adalah milik Mas Iko.
Aku langsung membuka kedua mataku. Dan sudah berada di dimensi ghoib jiwaku. Aku menatap sekitar. Dan sudah berbeda seluruh area di sekitarku. Aku berada di tengah hutan. Namun aku tahu, hutan ini bukan dimensi nyataku.
Aku mencoba mendengarkan dengan lebih tajam, merasa sedikit tak percaya dengan suara Mas Iko yang barusan ku dengar.
"Tenang saja Mbak, saya juga bisa sepertimu..."
Lagi-lagi suara Mas Iko itu terdengar jelas namun tanpa wujudnya di hadapanku. Seolah kami berdua berbicara melalui telepati ghoib.
"Mas Iko? Mas Iko bisa seperti saya?" tanyaku penasaran.
"Iya Mbak..."
Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Meski aku tak melihat wujudnya ikut hadir di dimensi ghoib ini.
"Baiklah Mas... Mohon bantuannya..." kataku.
"Iya Mbak, hati-hati..."
Lalu, aku alihkan fokusku. Kali ini aku memanggil Dayang Putri.
"Dayang Putri... Tolong beri tahu aku. Kemana aku harus mencari Farhan?"
Dan Dayang Putri menjawab, namun tak menampakkan sosoknya di hadapanku, "Tengoklah ke arah kirimu Nisa..."
Aku menoleh ke arah yang Dayang Putri maksud. Dan secara tiba-tiba, muncul sebuah jalan setapak. Padahal sebelumnya jalan itu tak ada sama sekali. Hanya hutan yang cukup lebat dan semak-semak.
Aku berjalan menyusuri jalan setapak itu. Dengan suasana sekitar yang sangat hening. Dan cukup gelap. Aku mencoba meraba-raba sekitar. Khawatir jika aku salah langkah dan menabrak sesuatu di depanku.
Dan tak lama, aku melihat jalan setapak itu kini ada beberapa lampu obor bambu di sisinya. Seolah lampu obor itu menyala sendiri. Aku terus menyusuri jalan yang kini sudah ada cahaya lampu obor itu.
Dan... Tak jauh... Di ujung sana... Aku melihat sesuatu...
Muncul sebuah tempat yang sama persis dengan tempat yang kulihat saat kemarin malam. Saat aku melihat Farhan bermain dengan sosok makhluk ghoib kecil bernama Gilang itu.
Sebuah rumah yang tampak tak berpenghuni. Aku berjalan semakin mendekat.
Ketika aku sudah di depan rumah itu, jelas sekal di pandanganku, rumah itu berlantai tiga. Namun seluruh jendela yang ada tak ada satupun yang keluar cahaya dari dalamnya. Sangat sepi. Sangat mencekam kurasakan.
Aku berjalan mendekati pintu depan rumah itu. Tampak terasnya kosong, tak ada satupun kursi atau meja di sana. Aku mencoba untuk langsung membuka pintu itu.
Namun tiba-tiba...
Krieeeettt...
Pintu itu terbuka sendiri sesaat tanganku hampir menyentuhnya.
Langsung... Aroma anyir darah kering menusuk hidungku dari arah dalam rumah ini. Terasa merinding sekujur tubuhku. Detak jantungku pun terasa lebih cepat. Bahkan suaranya bisa kudengar halus dari dalam dadaku.
"Assalamu'alaikum..." ucapku spontan sambil melangkah masuk ke dalamnya. Namun tak ada jawaban sama sekali.
Ketika aku sudah berada di dalamnya, tiba-tiba...
BRAKKK!!!
Pintu itu tertutup dengan keras!
Aku terkejut bukan main. Sambil membalikkan badan, menatap pintu itu. Seketika seluruhnya menjadi gelap. Sangat gelap.
Aku panik. Mencoba membuka pintu itu. Namun tak bergerak sedikitpun pintunya!
"Mbak Nisa! Dia ada di belakangmu!" tiba-tiba suara Mas Iko terdengar lagi olehku.
Aku diam sejenak. Lalu perlahan menolehkan kepalaku. Mencoba melihat apa yang diberitahu oleh Mas Iko barusan.
Saat aku melihat ke belakangku. Ternyata...
Sudah ada sosok Gilang berdiri. Penampakannya masih sama. Wajahnya yang pucat. Kedua matanya yang menatapku kosong. Tangan dan kakinya yang berlumuran darah kering. Dan bajunya yang sobek di beberapa bagian.
"Gi-Gilang..." ucapku sedikit gemetar.
"Dimana Farhan?" tanyaku langsung tanpa basa-basi.
"Cari aja sendiri... Hihihi..." jawabnya yang dengan tiba-tiba berlari ke arah kananku. Lalu lenyap sosoknya di telan kegelapan rumah ini.
"Gilang?! Mau kemana kamu?! Tunggu!!" teriakku.
Ketika aku hendak berlari menyusul sosok Gilang itu, tiba-tiba Dayang Putri muncul di belakangku. Menarik tangan kananku. Menahanku supaya tak mengejar sosok Gilang.
"Nisa! Jangan terkecoh! Bukan sosok itu yang sedang kau cari." ucapnya.
Lalu Dayang Putri melepas selendangnya, menaruhnya di leherku. Menjuntai ke bawah. Dan seketika itu juga cahaya kuning keemasan terpancar dari selendangnya. Membuat sekitarku lebih terang. Seperti sebuah lentera yang diberikan untukku.
Dan, Dayang Putri menghilang dari hadapanku...
Aku mulai mengacuhkan penampakan sosok Gilang tadi. Dan tak mempedulikan sosoknya lari kemana.
Aku berjalan sambil kembali memperhatikan seisi rumah ini. Dan...
"Mbak Nisa, Farhan ada di dalam kamar." suara Mas Iko memberi petunjuk padaku.
"Di... Dimana?" tanyaku.
"Saya tak tahu kamarnya di mana. Tapi, saya melihat dia ada dalam sebuah kamar Mbak. Carilah di mana kamar itu." suara Mas Iko menjawab.
Entah memang sebuah pertanda atau apa, tiba-tiba saja terdengar suara Farhan yang tertawa, "Hahaha... Ayok main lagi Gilang..."
Arahnya seperti dari lantai dua. Aku segera menaiki tangga. Suara langkah kakiku terdengar jelas di tengah heningnya rumah ini. Kunaiki selangkah demi selangkah, anak tangga yang terasa kotor dan berdebu.
Ketika sudah ada di lantai dua, aku menoleh ke kanan. Nampak gelap dan kosong lorong lantai dua itu.
Aku menoleh ke kiri, dan...
"Gggrrrrrrr...."
Aku langsung merinding hebat mendengar suara geraman yang berat dan mengerikan itu.
"Si-si-siapa di sana?!" tanyaku.
Lalu... Secara perlahan... Di tengah gelapnya lorong itu, muncul sepasang mata berwarna merah menyala.
Hanya mata merah yang menatapku... Tanpa wujud...