“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Antara Fiktif & Fakta
Pria itu terdiam sepersekian detik, cukup lama untuk seseorang yang sebenarnya sudah merencanakan semuanya. Sedangkan Ivory menatap penuh khawatir, jika pria dihadapannya akan menolak tawarannya. Jujur saja, Ivory benci berhutang pada siapapun.
“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “aku tidak akan menolak permintaan maaf.”
Jawaban pria itu seketika membuat Ivory merasa lega. Kini mereka duduk di sebuah kedai kecil yang ramai. Ivory memilih menu paling aman bagi karyawan baru sepertinya, sementara pria itu memesan daging panggang tanpa banyak bumbu.
“Namaku Ren Damien, kau bisa memanggilku Ren saja,” katanya sambil tersenyum kecil. “Terima kasih sudah mentraktir makanannya.”
“Mm, namaku Ivory. Dan maaf sekali lagi soal makanan milikmu tadi.”
“Tenang,” balas Ren. “Aku pernah melalui hal yang lebih… berantakan.”
Ivory tertawa kecil, merasa anehnya nyaman… seolah seperti bertemu teman lama yang tidak dia ingat. Ren tidak bertanya berlebihan, tidak menatapnya terlalu lama. Ia hanya bercerita hal-hal ringan, misal tentang kota, tentang makanan, tentang betapa sulitnya mencari tempat makan yang tidak terlalu ramai.
Tanpa Ivory sadari, ia menikmati makan siang itu. Tidak hanya itu, mereka bahkan memutuskan untuk berteman. Saling berbagi kontak satu sama lain dan janji makan siang untuk waktu berikutnya.
“Kalau kita bertemu lagi,” katanya santai, “aku harap bukan karena insiden makan siang lagi.”
Ivory tersenyum. “Tidak apa-apa. Kita bisa bertemu sebagai teman untuk ke depannya.”
Ren mengangguk. “Itu sudah lebih dari cukup… untuk sekarang. Senang memiliki teman sepertimu, Ivory!”
“Aku juga! Kau menyenangkan diajak mengobrol, tidak seperti Bos Gilaku,” celetuk Ivory tanpa sadar mengingat tentang Ragnar.
“Bos Gila? Apakah Bosmu menyebalkan?” tebak Ren seolah tidak mengerti siapa yang sedang Ivory bicarakan.
“Ya, bisa dikatakan seperti itu. Bahkan tidak hanya gila, dia juga suka berbuat hal mesum dengan berbagai alasan yang aneh,” ujarnya, “Ren, apakah kau percaya bahwa reinkarnasi itu nyata?”
Tiba-tiba saja, Ivory menanyakan pertanyaan yang selama ini hanya tertahan dibenaknya saja. Entah mengapa, setiap ucapan Ragnar terus terngiang di kepalanya terutama tentang dirinya yang dikatakan sebagai reinkarnasi dari Ratunya dan tanda yang ia sembunyikan.
“Menurutku antara Iya dan Tidak? Tapi aku lebih mengarah pada jawaban ‘Iya’, sebab aku merasa nyaman denganmu seakan kita pernah bertemu dan bahkan mungkin pernah berteman di kehidupan sebelumnya,” kata Ren membuat Ivory menatapnya penuh banyak artian.
“Benarkah? Aku juga merasa begitu. Namun, bukankah banyak mengatakan bahwa reinkarnasi hanya cerita fiktif belaka… tidak ada orang yang pernah mengaku pernah terlahir kembali dan mengingat kehidupannya yang sebelumnya.” Ivory sepertinya masih berusaha menyangkalnya.
“Terkadang cerita fiktif memang tidak masuk akal, tapi cukup membuat penasaran, bukan?” ujar Ren.
“Lalu apakah kau percaya bahwa vampire itu memang ada?” tanya Ivory lagi.
“Aku bahkan percaya kalau kaum werewolf dan para peri ada, bagaimana aku tidak percaya kalau vampir itu ada. Jujur saja, aku menyukai cerita fiktif dan kisah tentang vampire dan mahluk abadi lainnya sungguh menarik,” jawabnya santai, tapi menyiratkan banyak hal.
“Hahahaa, kau benar! Kau akan percaya kalau kau menyukai cerita fiktif,” balas Ivory yang mengira jawaban Ren adalah sebuah candaan untuk menghentikan dirinya menanyakan hal yang tidak normal.
Ren ikut tertawa seakan membenarkan bahwa jawabannya adalah sebuah candaan. Tanpa ada yang mengetahui bahwa jawaban tersebut adalah kebenaran nyata yang ia sembunyikan untuk menutupi identitas aslinya.
Rencana pendekatannya berhasil, kini ia hanya perlu secara perlahan membuat reinkarnasi Ivory Esmeralda jatuh cinta kepadanya. Memulai balas dendamnya melalui kelahiran kembali sang Ratu vampire.
...****************...
Sementara disisi lain, dari balik dinding kaca setinggi langit-langit, Ragnar tengah berdiri tanpa bergerak di ruang CEO miliknya. Lantai tertinggi gedung itu sunyi, hanya detak jam antik di sudut ruangan yang berani bernapas. Matanya yang merah tua, warna darah yang telah menua oleh abad seolah menembus jarak dengan mudah, melampaui keramaian kota siang hari.
Di seberang jalan, tepat di depan perusahaan miliknya, sebuah restoran dengan teras terbuka dipenuhi cahaya matahari. Di sanalah mereka duduk. Mantan sahabatnya yang berasal dari kaum werewolf—Ren Damien Xandrio bersama seorang perempuan yang tak lain adalah reinkarnasi ratunya, Ivory Asteria.
Ia melihat segalanya dengan kejernihan yang kejam. Cara Ren condong sedikit ke depan saat tertawa, naluri lamanya sebagai pelindung muncul tanpa diminta. Cara Ivory menyibakkan rambutnya ke belakang telinga, gerakan kecil yang di kehidupan lalu hanya ia yang tahu artinya. Senyum mereka ringan, bebas, seolah dunia tak pernah mengenal perang, pengkhianatan, atau darah yang mengering di istana Emerald.
Pendengarannya yang terkutuk menangkap suara sendok beradu dengan piring, tawa pelan, bahkan detak jantung keduanya yang sinkron dan tenang. Ia mendengar namanya disebut? Tidak. Yang ada hanya cerita remeh tentang makanan terlalu asin, cuaca terlalu cerah, rencana pertemuan kembali yang sederhana.
Kenyamanan.
Kebahagiaan.
Dua kata yang kini terasa asing baginya.
Tangannya mengepal di balik jas hitam sempurna. Ingatan menyeruak di malam ketika sahabatnya itu bersumpah setia, lalu memilih pergi bersama kawanan serigala ketika sebuah kesalahpahaman terjadi. Dan ratunya… mati di pelukannya, darahnya menghangatkan tangan yang kini dingin oleh keabadian. Tubuhnya yang menghilang bagai butiran debu yang ikut terbawa hembusan angin.
“Jadi begini,” bisiknya pada bayangan dirinya di kaca, “kau ingin mendekati reinkarnasi Ratuku untuk balas dendam atas apa yang tidak pernah aku lakukan padamu?”
“Sebuah kesalahpahaman yang membuatnya membenciku dan bahkan ingin membunuhku, Ren Damien! Selama ini aku diam membiarkanmu berbuat sesuka hatimu, karena aku hanya menganggap bahwa semua ini hanya kesalahpahaman biasa. Namun, tidak lagi jika kau menargetkan reinkarnasi dari Ratuku hanya untuk balas dendam tanpa dasar yang jelas,” ucapnya dengan mata menyala tajam.
Matanya menyempit menatap restoran tepat di seberang jalan, teras terbuka itu menjadi panggung bagi pemandangan yang menusuk harga dirinya sebagai raja sekaligus sebagai kekasih yang kehilangan. Mantan sahabatnya, bangsawan berstatus Enigma dari kaum werewolf, duduk berhadapan dengan perempuan yang jiwanya telah ia kenali bahkan sebelum jantungnya sendiri berhenti berdetak. Reinkarnasi ratunya.
“Berani sekali kau,” gumam Ragnar, suaranya nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.
“Mendekatinya… jangan harap! Aku tidak akan membiarkan siapapun memanfaatkannya.”
Tangannya terangkat, jemari panjang menyentuh kaca. Refleksinya menatap balik mata merah tua yang kini berkilat bukan oleh amarah semata, melainkan perhitungan. Ia tidak akan merebutnya dengan paksa.
Tidak lagi.
Reinkarnasi ratunya kini hidup sebagai manusia. Jiwa ratunya terbungkus kenangan yang terkunci. Jika ia ingin memilikinya kembali, maka ia harus membuatnya datang dengan kemauannya sendiri. Sebab Ragnar sudah pernah memaksanya, tetapi Ivory malah berniat melarikan diri darinya.
Bersambung ….
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔