NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Obsesi dan Rencana Licik

Tanpa peringatan, tangan besar William menyambar dagu Jihan dan membanting kepala wanita itu ke sandaran jok mobil dengan kasar. Jihan tersentak, tangannya refleks memegang lengan William, mencoba melepaskan cengkeraman yang menyakitkan itu.

William mendekatkan wajahnya, menatap Jihan dengan sorot mata yang begitu menyeramkan, penuh dengan kebencian dan amarah yang meledak-ledak.

"Dengar kau, jalang kecil!" maki William tepat di depan wajah Jihan. "Kau pikir kau siapa? Kau hanyalah sampah dari keluarga Alvarezh yang aku pungut untuk dijadikan alat! Kau tidak punya hak untuk mengatur apa pun!"Suaranya rendah namun menggelegar.

"Keluargamu mengemis padaku untuk aliansi dan agar kau berada di sini, dan sekarang kau berani kurang ajar padaku?"

Jihan merasakan sakit hati yang luar biasa. Bukan hanya karena perlakuan kasar fisiknya, tapi karena harga dirinya diinjak-injak begitu rendah.

Air mata mulai menggenang, namun ia menolaknya untuk jatuh di depan pria ini.

Di kursi depan, Rafael hanya bisa menggelengkan kepala dalam batinnya. Ia tak habis pikir dengan keberanian Jihan yang seperti sedang menggali kuburnya sendiri dengan terus memancing amarah tuannya.

Tangan besar William tiba-tiba berpindah dari dagu ke leher kecil Jihan. Cengkeramannya tidak mencekik sepenuhnya, tapi cukup kuat untuk membuat Jihan sulit menelan ludah.

"Satu cengkeraman saja dari tanganku, dan nyawamu akan melayang," desis William dengan nada mematikan. "Jangan pernah menguji kesabaranku lagi dengan mulut kurang ajarmu itu. Jika aku bilang kau diam di mansion, maka kau akan membusuk di sana sampai aku memberimu izin untuk bernapas di luar!"

Jihan terdiam, tubuhnya bergetar karena tekanan atmosfer yang begitu berat di dalam mobil itu. Matanya menatap William, mencoba mencari sisa kemanusiaan, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan.

William akhirnya melepaskan tangannya dengan kasar, membiarkan Jihan terbatuk kecil saat oksigen kembali masuk ke paru-parunya.

Uhuk! Uhuk!

"Rafael! Cepat sampai ke rumah. Aku sudah muak melihat wajahnya di tempat sempit ini!" Nada William dengan tajam

Sepanjang sisa perjalanan, hanya ada keheningan yang menyesakkan.

—-

Bar The Azure

Di bar mewah The Azure yang remang-remang, Olivia duduk di pojok bar, botol minuman keras sudah setengah kosong di depannya. Matanya sembab, riasannya sedikit luntur, amarah di dadanya masih membara.

Lucas, sepupunya yang baru saja bergabung setelah menerima telepon darurat, menghela napas panjang melihat kondisi Olivia yang sudah setengah mabuk.

"Minum secukupnya, Oliv. Kau bisa pingsan kalau begini terus," ujar Lucas sambil mencoba menjauhkan gelas dari tangan Olivia.

Olivia tertawa getir, suaranya parau. "Pingsan? Aku lebih baik mati daripada melihat William menikahi wanita itu, Lucas! Bertahun-tahun aku mengejarnya... Aku yang ada di sisinya saat Anna pergi! Aku yang memeluknya saat dia terpuruk! Tapi apa? Dia malah menikahi wanita dari keluarga Alvarezh itu dan menjadikannya istri!"

"William punya alasannya sendiri, Oliv. Kau tahu dia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa rencana," tenang Lucas.

Olivia tiba-tiba terisak lebih keras, wajahnya disembunyikan di balik kedua tangannya. "Hiks..Aku sangat mencintainya... Kau tahu, Lucas? Selama ini aku mengarang cerita. Aku membohongi William tentang semuanya."

Lucas tersentak, ia mendekatkan duduknya. "Maksudmu apa? Berbohong soal apa?"

Olivia mendongak dengan mata merah. "Aku berbohong soal putusnya hubunganku dengan kekasihku dulu. Aku sengaja memutuskan nya, Agar aku benar-benar bebas bisa memiliki William seutuhnya."

Lucas terdiam, terkejut mendengar pengakuan sepupunya itu.

"Bukan hanya itu," lanjut Olivia sambil tertawa sinis di sela tangisnya. "Aku berbohong soal kehilangan pekerjaan, soal kekasihku yang meneror tempat tinggal hingga hancur... itu semua ulahku sendiri! Aku menghancurkan apartemenku agar William merasa bersalah, agar dia bertanggung jawab padaku, agar dia membawaku pergi dan menikahiku!"

Olivia meneguk minumannya lagi sampai habis. "Yah, dia memang bertanggung jawab. Dia memberiku segalanya…mansion mewah, uang tak terbatas, mobil, karier, pengawal... Tapi itu tidak cukup, Lucas! Aku ingin status! Aku ingin menjadi istrinya!"

"Oliv, aku tak percaya kau melakukan itu! Sungguh keterlaluan," bisik Lucas tidak percaya.

"William sangat tampan, dia berkuasa... Wanita itu, Jihan, dia tidak pantas bersanding dengannya! Kau harus membantuku, Lucas!" tuntut Olivia sambil mencengkeram lengan jas Lucas.

Lucas menarik napas panjang dan melepaskan tangan Olivia dengan perlahan. "Aku bingung harus membantumu bagaimana. Faktanya, William sudah menikah. Aku tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangganya. William juga sudah tidak menggubrismu, kan?"

Olivia tertawa mabuk, tawanya terdengar gila. "Dia mungkin tidak menggubrisku sekarang. Tapi aku sudah menanam bom di sana. Tadi... aku menciumnya. Aku sengaja meninggalkan jejak lipstik di kerah kemejanya. Aku berharap Jihan melihatnya dan mereka bertengkar hebat malam ini. Aku ingin pernikahan itu hancur secepatnya!"

Lucas membelalakkan matanya, ia menggelengkan kepala. "Kau gila, Oliv. Kau menjebaknya dengan trik kotor seperti itu? Kau benar-benar nekat."

Lucas terdiam sejenak, bayangan wajah Jihan saat di meja makan tadi terlintas di pikirannya. "Tapi soal Jihan... harus kuakui, dia memang sangat cantik. Seperti gambaran sang bidadari dan dewi. Aku belum pernah melihat wanita secantik itu sebelumnya. Jika aku jadi William, mungkin aku akan menatapnya setiap detik dan tidak akan berpaling pada wanita lain."

Kata-kata Lucas barusan bagaikan siraman bensin ke api amarah Olivia. Ia membanting gelasnya ke meja, matanya berkilat penuh dendam. "Kau juga?! Kau juga terpesona olehnya?! Akan kupastikan kecantikan itu tidak akan bertahan lama di sisi William!"

Lucas menyesap minumannya, menatap Olivia dengan tatapan peringatan yang serius. "Aku hanya jujur, Oliv. Aku memperingatkanmu karena Jihan bukanlah wanita biasa. Dia berasal dari keluarga Alvarezh, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Dan soal William? Kau tahu sendiri bagaimana kekuasaan Marculles di Global. Aku tidak berani bermain api dengan William. Lagipula, feeling-ku mengatakan Jihan bukan tipe wanita yang akan menangis hanya karena melihat noda lipstik."

Olivia tertawa sinis, matanya yang merah menatap Lucas tajam. "Aku tidak peduli siapa dia! Yang aku tahu hanyalah William milikku. Dia memberiku harapan, dan sekarang dia pergi begitu saja? Aku ingin memilikinya seutuhnya!"

Olivia mencondongkan tubuh, suaranya merendah penuh obsesi. "Tidak ada wanita yang tidak terpesona oleh William. Kau tau sendiri kan? Wanita-wanita di sekitarnya, sepupunya, bahkan Siena... dia tampak biasa saja di depan, tapi siapa yang tahu di belakang? Semua menginginkan William. Tapi aku berbeda."

"Lalu apa maumu?" tanya Lucas.

"Kita bisa bekerja sama, Lucas," bisik Olivia licik. "Kau mendapatkan Jihan, dan aku mendapatkan William. Dengan kecantikan Jihan yang kau puja itu, bukankah ini tawaran yang menguntungkan?"

Lucas tersentak, ia menarik napas panjang dan menggeleng pelan. "Aku tidak tidak bisa dan tidak yakin, Oliv. Aku tidak ingin melakukan hal gila yang bisa menghancurkan karier dan hidupku. Menaruh tangan pada istri William Marculles adalah hukuman mati."

"Kau sangat payah, Lucas!" cibir Olivia kesal. "Asal kau tahu, Jihan itu hanyalah anak-anak yang berusaha menjadi wanita dewasa untuk menyesuaikan William. Aku bisa melihatnya, aku bisa merasakannya."

Olivia terdiam sejenak, lalu teringat ucapan Jihan di kamar mandi tadi. "Dan kau tahu apa yang paling aneh? Dia mendukung hubunganku dengan William! Dia bahkan menyuruhku segera siap untuk menikah dengan suaminya itu."

Lucas tersentak, matanya membulat tidak percaya. "Apa? Tidak mungkin. Tidak ada istri di dunia ini yang mendukung suaminya dengan wanita lain, kecuali..."

"Kecuali dia memang tidak mencintai William," potong Olivia dengan seringai lebar. "Itu celah kita. Kita buat William dan Jihan saling berkhianat dan saat itulah aku dan kau masuk sebagai pahlawannya. Bukankah itu rencana yang sempurna?"

Lucas terdiam, meskipun logikanya menolak, namun bayangan kecantikan Jihan yang murni dan dingin mulai menggoyahkan pertahanannya. "Kau benar-benar iblis, Olivia..."

Olivia hanya tersenyum puas, mengangkat gelasnya seolah merayakan kemenangan yang bahkan belum ia raih. Di kepalanya, ia sudah membayangkan noda lipstik di kerah William malam ini akan menjadi awal dari badai besar di mansion Marculles.

—-

Di Mansion Marculles

Di kamar utama yang luas, Jihan baru saja selesai membersihkan diri. Ia mengganti gaun dengan gaun tidur sutra yang lembut. Setelah keluar dari ruang pakaian, ia melangkah menuju ranjang king size yang terasa terlalu besar untuknya sendiri.

Jihan menghela napas panjang, menatap pintu kamar yang masih tertutup rapat.

“Syukurlah dia tidak masuk ke sini,” batinnya lega.

Jihan menarik selimut hingga ke dada, memiringkan tubuhnya ke samping, membelakangi sisi kosong yang biasa ditempati William. Dalam hitungan menit, rasa kantuk yang luar biasa membawanya terlelap.

1
Eva Rosita
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!