Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan yang Sempurna
Dreven Veir Kingsley dan Shahinaz Zerrin Johara adalah perpaduan pasangan yang sangat sempurna, mungkin begitulah isi hati para ajudan dan pelayan yang ada di Mansion megah Dreven saat ini. Shahinaz dengan wajah cantik dan naturalnya, lalu dipadukan dengan Tuan mereka yang juga tampan seolah tidak ada kecacatan sedikitpun. Sayangnya, mereka sama-sama memancarkan ekspresi datar, tidak ada jejak ekspresi sedikitpun wajah mereka.
Shahinaz dan Dreven duduk berhadap-hadapan di ruang makan itu dengan pancaran yang berbeda-beda. Dreven dengan wajah kemenangannya yang terlalu mendominasi, sedangkan Shahinaz hanya memancarkan wajah pasrah, dia seolah terjebak oleh permainan Dreven sendiri.
"Udah saatnya gue obatin lo dan balik ke rumah kan? Ayo cepet, gue udah pengin meditasi, butuh energi positif untuk tetap menikmati hidup." kata Shahinaz yang sudah tidak memiliki cukup kesabaran untuk meladeni Dreven lagi. Dia sudah kalah telak, sudah tidak ada gunanya lagi dia melawan.
"Di kamar. Dan mulai sekarang, pakai aku-kamu." kata Dreven membuka suaranya setelah lama terdiam juga.
Shahinaz mendelik, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tidak akan terjebak dua kali, cukup tadi saja dia mendapatkan masalah dan kalah telak. Kali ini Shahinaz harus menang dengan keputusannya sendiri.
"Lo tau, gue bukan dokter. Gue cuma mau melakukan apa yang bisa gue lakukan untuk membantu, lalu pulang. Jadi di sini aja nggak masalah kan?" ujar Shahinaz dengan nada tegas, dia tidak ingin mendengar Dreven lagi sekarang.
Dreven tampaknya tidak terpengaruh oleh nada tegas Shahinaz, dia berdiri dengan perlahan dan melangkah mendekat. Melihat Dreven yang meminta para bawahannya untuk membalikkan badan, Shahinaz jadi paham apa yang akan dilakukan laki-laki itu kepadanya.
"Aku paham kamu bukan dokter. Tapi saat ini, aku butuh kamu di sini dan memperlakukan aku dengan cara serius. Lalu satu lagi, aku-kamu itu aturan yang simple, tapi penting."
Shahinaz merasa frustrasi namun tetap berusaha untuk menjaga sikapnya, "Gue gak bisa terus terjebak dalam permainan lo Dreven. Gue hanya ingin menyelesaikan ini dan pulang. Gue capek, gue ngantuk, dan gue... stress berat."
Dreven seperti tidak punya hati nurani, kepalanya sudah pening, tapi Dreven tidak ada niatan untuk melepasnya. Dia yang kelaparan sejak sore tadi juga mendadak kenyang, dia sudah tidak memiliki nafsu makan lagi dan hanya makan sedikit saja.
"Kali ini aja lo lepasin gue, otak gue kayaknya konslet, butuh meditasi. Lo bisa minta obatin ke yang lain dulu, mata gue udah blur nggak lihat apa-apa lagi." lanjut Shahinaz sambil memijit pelipisnya yang benar-benar pusing.
Dia akan mencoba untuk berdrama, barangkali Dreven masih memiliki perasaan untuk melepasnya sedikit saja. Shahinaz hanya ingin sendiri, mengurung dirinya sendiri, dan mencari energi positif agar tetap bisa menikmati hidup seperti rencana awalnya. Kalaupun Shahinaz harus merubah rencana awal, Shahinaz butuh waktu untuk menulis awal bukan?
Dreven memperhatikan Shahinaz dengan seksama, menilai betapa seriusnya situasi ini baginya. Meskipun tampaknya Shahinaz berusaha keras untuk membuatnya merasa kasihan, Dreven tetap tidak bergeming.
"Kamu tau?" kata Dreven pelan, "bahwa kamu bisa saja menipu orang lain dengan drama seperti itu. Tapi aku sudah mengenalmu cukup baik, aku tau kamu sedang berusaha keras menghindar dari aku. Lalu pakai aku-kamu, atau mau aku hukum sekarang juga?"
Shahinaz merasa frustrasi dan mulai merasa kehabisan tenaga, "Oke fine, ayo obati di kamar! Setelah itu, pokoknya gue-maksudnya aku harus pulang ke rumah. Nggak ada penolakan, titik!"
Shahinaz bangkit dari duduknya, lalu berjalan mengikuti Dreven yang tersenyum kemenangan, dia menggandeng tangan Shahinaz lembut. Tidak akan dia sia-siakan kedekatannya dengan Shahinaz apapun caranya.
Shahinaz berjalan dengan langkah berat, berusaha menyembunyikan rasa frustrasi dan kelelahan yang menyelimuti dirinya. Di dalam hati, dia berharap Dreven tidak akan membuatnya lebih lama terjebak dalam situasi ini. Dia ingin pulang, dia ingin menikmati waktu sendirian.
Sesampainya di kamar, Dreven duduk di tepi tempat tidur, terlihat seperti sedang menunggu dengan sabar. Sedangkan Shahinaz berdiri di dekat meja samping tempat tidur, menarik napas dalam-dalam sebelum mulai menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk pengobatan.
"Bahkan kayaknya lo-maksudnya kamu udah ngerencanain ini matang-matang. Sebenarnya apa sih yang ada di dalam otak kamu itu? Kenapa harus aku yang jadi sasarannya?" keluh Shahinaz cepat.
"Karena kamu cantik." jawab Dreven santai.
"Oh, aku juga sadar kalau aku cantik, makanya diriku adalah milikku sendiri." lanjut Shahinaz dengan penuh kepercayaan dirinya.
Dreven hanya tersenyum mendengar pernyataan Shahinaz. Gadisnya benar-benar berbeda dengan gadis lain. Tidak ada jejak salah tingkah atau terharu dengan jawaban romantisnya itu.
"Aishhh, kenapa lo buka baju tanpa permisi sih, gue syok tau!" seru Shahinaz yang langsung memalingkan mukanya, dan mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba tidak beraturan.
Cup...
Kena lagi Shahinaz ini! Dreven Veir Kingsley, selain psikopat gila, dia juga mesum parah. Dia sudah ternodai, bahkan sudah dijebak hingga harus berurusan dengan laki-laki iblis ini. Sialan, Shahinaz harus ekstra kuat menjalani situasi berat ini!
"Itu hukuman dariku, sayang. Dan lukaku juga ada di bagian perut, apa ada yang salah?" tanya Dreven sambil mengangkat alisnya heran.
"Lo nggak salah, gue yang emang dari awal udah salah!" ketus Shahinaz yang langsung menutup bibirnya takut terkena serangan mendadak lagi, "Kali ini aku minta maaf. Boleh aku keluar sebentar? Jujur, aku nggak ngerti dengan caranya mengobati orang lain."
Padahal fakta sebenarnya, Shahinaz merasa ngeri dengan luka yang bersarang di tubuh Dreven. Kenapa laki-laki itu tidak meringis kesakitan, apakah laki-laki itu sudah mati rasa?
Shahinaz tidak takut dengan darah. Namun melihat sumber luka di tubuh Dreven saat ini, itu mengingatkan Shahinaz ke dalam ingatan samar yang sepertinya berasal dari pemilik tubuh sebelumnya. Dia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya sekarang, kenapa dirinya tiba-tiba pusing? Apa ada yang bisa menjawab kebingungannya?
"Aku keluar sebentar cari bantuan, entar balik lagi." ujar Shahinaz yang berusaha untuk tetap tenang, andai ada Auretheil di sini, mungkin gadis itu bisa menjawab kebingungannya.
"Kamu nggak bohong?" tanya Dreven memastikan.
"Ini wilayah kamu, nggak mungkin bisa aku kabur dari kamu." kata Shahinaz lagi.
Dreven mengamati Shahinaz dengan tatapan tajam, menilai keseriusan dan kebingungan yang ada di wajahnya. Meskipun dia tahu betul bahwa Shahinaz sebenarnya menghindar, dia juga merasakan kejujuran dalam permintaannya untuk keluar.
Dreven mengangguk, memberikan izin tanpa mengatakan lebih banyak.
Shahinaz melangkah keluar dari kamar, berusaha mengatasi kegugupan dan ketidaknyamanan yang semakin membebani dirinya. Dia membutuhkan waktu untuk berpikir, dan yang paling penting, dia butuh jawaban. Tangannya bergetar ketika dia menutup pintu kamar Dreven dan berjalan cepat menuju area mansion yang lebih tenang.
"Orang tuanya meninggal, hidupnya sebatang kara, depresi, tapi Shahinaz termasuk anak yang hidupnya berkecukupan bukan? Jadi bagian depresi ini, harusnya ada yang lebih spesifik alasannya itu karena apa bukan?" kata Shahinaz sambil mendeskripsikan apa yang terjadi dengan karakter Shahinaz di dalam novel, "Luka tusuk di dalam ingatan samarnya itu siapa? Apa Shahinaz dalam novel juga menusuk dirinya sendiri?"
Tokoh dirinya di dalam novel terlalu bermasalah. Venelattie, sahabat yang membuat novel eksklusif ini terlalu pilih kasih. Kenapa cerita mengenai dirinya tidak dijabarkan secara lengkap? Dia jadi tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.
"Permasalahannya terlalu kompleks, gue jadi bingung sendiri. Kepala gue pening banget." ucap Shahinaz sambil memegangi kepalanya yang mendadak pusing kembali.
Daripada Dreven menimbulkan keributan lebih lanjut lantaran dia yang pergi dan tak kunjung kembali, lebih baik Shahinaz kembali saja sekarang. Lalu setelah urusannya beres, dia langsung pulang, banyak teka-teki yang harus dia jawab secepat mungkin rupanya.
"Kenapa tambah makin pusing? Gue nggak maksa buat ingat sekarang kok, gue sadar kalau tubuh ini terlalu banyak mengkonsumsi obat penenang. Tapi please jangan sekarang, gue nggak mau ngerepotin orang lagi." rapal Shahinaz dengan suara lirihnya.
Dia melihat Dreven berdiri di depan pintu.
Sepertinya kesabaran laki-laki itu sudah terbabat habis, lantaran Shahinaz yang tak kunjung kembali. Dreven pasti merasa jika Shahinaz mengkhianatinya, padahal Shahinaz sedang berjalan perlahan, meredakan rasa pusing yang tiba-tiba menghantam kepalanya secara bertubi-tubi sekarang.
Dreven berlari menuju ke arah Shahinaz karena merasa ada yang tidak beres, "Kenapa? Ada yang sakit?"
Terlambat, pertahanan Shahinaz buyar. Tubuhnya langsung limbung tak sadarkan diri. Untung saja dengan gesit Dreven menangkapnya, merengkuhnya ke dalam pelukannya juga. Dreven mengangkat Shahinaz dengan hati-hati, menenangkan dirinya di tengah kepanikan yang mendalam.
Dia membawa Shahinaz ke kamarnya dan meletakkannya dengan lembut di tempat tidur. Rasa cemas di wajah Dreven semakin jelas saat dia memeriksa keadaan Shahinaz. Suhu tubuhnya tiba-tiba berubah, dan itu membuat Dreven semakin bertambah khawatir sekarang.
"Kalian dimana? Cepat panggilkan Dokter.
Dalam waktu 20 menit, Dokter itu tidak sampai ke kamar saya, kalian yang terkena akibatnya." seru Dreven yang didetik itu juga langsung mematikan panggilannya.
Dreven menggenggam tangan Shahinaz sambil berharap cemas. Baru saja dia bahagia karena bisa dekat dengan gadis itu, tetapi beberapa menit kemudian dia juga dijatuhkan dari rasa kebahagiaan itu.
"Wake up, honey. Don't make me worry like this." kata Dreven sambil mencium lembut telapak tangan gadis itu. Dia merasa bersalah karena terlalu banyak memaksa gadis itu sejak tadi.
Dreven berharap, apapun yang terjadi kepada gadisnya, itu bukan pertanda serius. Dia sudah terlalu banyak ditinggalkan oleh orang tersayangnya, jadi dia menaruh banyak harapan kepada gadis itu.
Shahinaz Zerrin Johara, dia pilihan yang sempurna untuk menjadi pendampingnya kelak!