Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LOMBA MEWARNAI DI KAMPUNG
Setelah Caca pulih sepenuhnya, suasana di rumah Rafi kembali penuh keceriaan. Suatu pagi, Pak Bara datang dengan berita menyenangkan sambil mengangkat selembar poster berwarna-warni.
“Warga kampung akan mengadakan festival anak-anak minggu depan, dan ada lomba mewarnai dengan tema ‘Kampung Kita yang Indah’!” ujar Pak Bara dengan semangat. “Pemenangnya akan mendapatkan hadiah alat tulis lengkap dan buku cerita baru lho!”
Rafi langsung berjalan cepat ke arah Caca yang sedang membantu Mama Lila menyiram tanaman di halaman belakang. “Caca, caca! Ada lomba mewarnai minggu depan! Kita harus ikutan bareng ya!”
Caca mata membelalak dengan senang. Meskipun dia sering menggambar dan mewarnai di rumah, ini adalah pertama kalinya dia mengikuti lomba. “Benarkah? Aku sangat ingin ikutan! Tapi bisakah aku membuatkan karya yang bagus ya?”
“Tentu saja bisa!” ujar Rafi sambil mengangguk-angguk dengan percaya diri. “Kita bisa berlatih bersama setiap hari setelah sekolah. Aku akan membantu kamu memilih warna yang tepat dan membuat gambarmu lebih indah!”
Mama Lila juga sangat mendukung mereka berdua. Dia menyiapkan kertas gambar besar, berbagai macam warna pensil dan crayon, serta buku panduan mewarnai yang dia dapatkan dari toko buku di kota terdekat.
Setiap sore setelah pulang sekolah, Rafi dan Caca akan duduk bersama di teras rumah dan mulai berlatih.
Rafi mengajari Caca cara memilih warna yang sesuai dengan tema, bagaimana mengisi warna dengan rapi tanpa keluar garis, dan cara menambahkan aksen kecil agar gambar terlihat lebih hidup. “Lihat ini, Caca,” ujar Rafi sambil menunjukkan gambarnya. “Kita bisa menambahkan awan putih yang lembut di langit biru, dan bunga-bunga berwarna merah, kuning, dan ungu di tepi jalan untuk membuat kampung terlihat lebih cantik.”
Caca dengan cermat mengikuti arahan Rafi. Dia menggambar rumah-rumah dengan atap jerami yang khas, sawah hijau yang luas, dan anak-anak yang sedang bermain di halaman.
Kadang-kadang dia juga menambahkan hewan seperti ayam, kambing, dan ikan di kolam agar gambarnya lebih kaya akan detail.
Hari H lomba tiba. Tempat perlombaan berada di lapangan desa yang sudah dihiasi dengan dekorasi berwarna-warni. Banyak anak-anak dari kampung sekitar yang datang mengikuti lomba, masing-masing dengan semangat yang tinggi.
Pak Bara sebagai salah satu panitia memberikan pengarahan singkat tentang aturan lomba dan tema yang harus diikuti.
“Setiap peserta akan diberikan waktu 90 menit untuk menyelesaikan karyanya,” ujar Pak Bara dengan suara lantang. “Juri akan menilai berdasarkan ketepatan tema, kebersihan warna, dan kreativitas masing-masing peserta. Semoga sukses untuk semua peserta!”
Rafi dan Caca duduk berdampingan di meja yang sudah disiapkan. Mereka menerima kertas gambar dan kotak warna dari panitia, lalu segera mulai bekerja.
Rafi fokus menggambar pemandangan sungai yang jernih dengan anak-anak yang sedang mandi dan bermain air. Sementara itu, Caca menggambar pasar pagi yang ramai dengan pedagang yang menjual berbagai macam buah dan sayuran segar.
Selama proses mewarnai, keluarga Rafi dan Ibu Caca datang untuk memberikan dukungan. Mama Lila membawa jus buah segar dan kue kecil untuk mereka, sedangkan Pak Bara sering berjalan ke belakang mereka untuk melihat kemajuan karya dan memberikan semangat.
“Kerjakan dengan tenang ya, kamu berdua pasti bisa!” ujar Pak Bara dengan senyum hangat.
Setelah waktu yang ditentukan habis, semua peserta mengumpulkan karyanya kepada panitia. Juri kemudian melakukan penilaian dengan cermat sambil berdiskusi tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing karya.
Selama menunggu pengumuman pemenang, Rafi dan Caca duduk bersama dengan teman-teman mereka, berbagi cerita dan tawa.
“Aku sangat senang bisa ikutan lomba ini bersama kamu, Caca,” ujar Rafi sambil memegang tangan Caca. “Baik menang atau tidak, yang penting kita sudah berusaha yang terbaik dan memiliki banyak kesenangan.”
Caca mengangguk dengan senyum. “Aku juga sangat senang, Rafi. Terima kasih sudah membantu dan mendukungku selama ini.”
Akhirnya, waktu pengumuman tiba. Juri mulai memanggil nama pemenang dari juara ketiga, kedua, dan pertama.
“Untuk juara ketiga lomba mewarnai tahun ini adalah Rafi!” ujar salah satu juri dengan suara lantang.
Rafi berdiri dengan senang dan naik ke panggung untuk menerima hadiahnya. Dia mendapatkan buku cerita baru dan kotak pensil warna. Setelah itu, juri melanjutkan pengumuman.
“Dan untuk juara pertama adalah Caca!”
Suara tepukan meriah menggema di seluruh lapangan. Caca terkejut dan tidak percaya dirinya bisa menjadi juara. Dengan bantuan Rafi, dia berdiri dan naik ke panggung dengan hati yang penuh kebahagiaan. Dia menerima hadiah alat tulis lengkap dan piagam penghargaan dari panitia.
“Karya Caca sangat luar biasa,” ujar juri saat memberikan hadiah. “Dia berhasil menangkap suasana pasar pagi yang hidup dan penuh warna dengan sangat baik. Selamat untukmu, Caca!”