Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan yang Sama-Sama Konyol
Nara Amelinda menyimpulkan satu hal penting setelah pertemuan keluarga itu selesai yaitu ,
Hidupnya resmi memasuki fase
“aku butuh strategi, bukan doa.”
Ia duduk di kamar, rebahan setengah miring, satu kaki diangkat ke dinding, sambil menatap plafon seperti orang yang baru saja sadar hidupnya sudah masuk plot utama sinetron tanpa casting ulang.
“Oke,” gumamnya.
“Kita evaluasi.”
Pertama:
Ia tidak pingsan.
Kedua:
Tidak ada cincin.
Ketiga:
Ia masih hidup, walau mentalnya agak lecet.
Keempat adalah yang paling menyebalkan:
Arga Wiratama tidak seburuk yang ia bayangkan.
Dan itu masalah.
“Kenapa sih harus manusia rapi tapi waras?” keluhnya.
“Kenapa nggak sekalian nyebelin total?”
Ponselnya bergetar.
Grup chat “SOS NARA” (anggota: Nara dan Sasa. Iya, dia bikin grup dengan dirinya sendiri) langsung terbuka.
Sasa:
HIDUP?
Nara:
Masih. Tapi harga diriku agak tergores.
Sasa:
DETAIL.
Nara langsung mengetik panjang.
Nara:
Dia rapi. Tenang. Nggak sok ngatur. Nggak nge-judge.
Dan yang paling bahaya:
DIA NGGAK MAKSA.
Sasa:
…oh tidak.
Nara:
KAN?!
Kalau dia maksa, aku bisa langsung pasang mode beringas.
Ini dia malah santun. Rasional. Waras.
Aku benci cowok waras di situasi salah.
Sasa:
Berarti kamu—
Nara:
JANGAN LANJUT.
Sasa:
Aku belum ngetik apa-apa.
Nara:
TAPI NADA CHAT-MU MENCURIGAKAN.
Sasa mengirim stiker tertawa.
Nara menjatuhkan ponsel ke kasur.
“Tidak,” katanya pada diri sendiri.
“Aku tidak baper. Aku hanya… menghargai manusia normal.”
Ia duduk.
“Oke... Fokus! Masalah utama adalah tekanan keluarga.”
Karena meskipun pertemuan itu berakhir tanpa deklarasi resmi, Nara bisa mencium satu hal,
ini belum selesai.
Dan di tempat lain, Arga Wiratama sedang melakukan hal yang jarang ia lakukan yaitu
mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas.
Di apartemennya yang rapi, langkah kakinya terasa asing.
Ia membuka kulkas lalu menutup lagi.
Duduk lalu berdiri, ia lakukan itu berulang-ulang kali.
Menatap ponsel.
Nama Nara Amelinda muncul di kepalanya lagi dan ini mengganggu.
Arga tidak terbiasa memikirkan orang yang baru ia temui satu kali. Apalagi dengan intensitas seperti ini bukan karena tertarik tentu saja bukan.
Lebih karena perempuan itu tidak bisa dimasukkan ke kategori mana pun yang ia kenal.
Spontan...
Cerewet...
Sarkastik...
Tapi yang anehnya perempuan itu jujur.
Ia mengambil ponsel.
Nomor Nara sudah tersimpan, ia bahkan tidak ingat kapan ia menyimpannya. Mungkin refleks profesional mungkin karena ya, entah.
Ia mengetik menghapusnya kembali lalu mengetik lagi dan akhirnya.
Arga:
Malam... Maaf mengganggu.
Titik.
Ia menatap layar, seperti sedang menunggu hasil ujian.
Di kamar lain, ponsel Nara berbunyi, nama Arga Wiratama muncul.
Nara menegang.
“HAHA,” katanya keras.
“INI DIA.”
Ia menatap layar tidak langsung membalas.
“Oke, jangan kelihatan antusias. Jangan sok cool juga harus jadi diri sendiri.”
Ia mengetik.
Nara:
Malam... Santai, belum tidur.
(Kalau ini soal janji lagi, aku siap kabur via chat.)
Beberapa detik kemudian.
Arga:
Bukan.
Saya justru ingin bicara soal itu.
Nara menyipitkan mata.
Nara:
Oke... Aku pasang helm mental.
Arga:
Saya berpikir… kita butuh kesepakatan.
Nara duduk tegak.
Nara:
LANJUTKAN.
Di apartemennya, Arga menarik napas.
Arga:
Tekanan keluarga tidak akan berhenti.
Jika kita hanya diam, mereka akan menafsirkan sendiri.
Nara membaca cepat.
Nara:
Iya, dan tafsiran orang tua biasanya langsung lompat ke gedung KUA.
Arga:
Tepat.
Nara mengernyit.
Dia lucu juga.
Tidak. ..Tidak lucu, hanya Rasional saja.
Arga:
Jadi saya berpikir…
Bagaimana jika kita sepakat bekerja sama?
Nara menatap layar.
Nara:
Kerja sama gimana?
Ini bukan misi Avengers, kan?
Arga:
Kurang lebih tapi versi keluarga.
Nara tertawa kecil.
Nara:
Oke, aku tertarik.
Jelaskan sebelum aku curiga.
Arga mengetik agak lama.
Arga:
Kita buat kesepakatan sementara.
Menunjukkan pada keluarga bahwa kita “sedang mencoba”.
Tanpa komitmen nyata.
Nara membeku.
Nara:
…
…
Sebentar.
Ia menutup chat lalu membukanya lagi.
Nara:
Kamu ngajak aku pura-pura?
Arga:
Saya menyebutnya strategi bertahan.
Nara menatap layar lama.
Di kepalanya, alarm berbunyi.
Tapi bersamaan dengan itu logika juga menyala.
Kalau menolak mentah-mentah malah tekanan makin besar.
Kalau pura-pura patuh jadi ada kendali.
Ia mengetik.
Nara:
Oke, kita bicara aturan dulu.
Arga:
Silakan.
Nara:
Tidak ada sentuhan fisik berlebihan.
Tidak ada drama cemburu palsu.
Tidak ada kalimat “calon istri/suami” di ruang publik.
Kita bisa kabur kapan saja.
Arga membaca.
Arga:
Setuju.
Tambahan dari saya:
Tidak baper.
Nara mendengus.
Nara:
HAHAHAHA.
Santai. Aku alergi baper.
Dan di detik itu keduanya berbohong.
Kesepakatan itu berjalan lebih cepat dari dugaan.
Dalam hitungan hari, keluarga mulai “tenang”.
Tidak mendesak dan tidak memaksa.
Karena menurut mereka Nara dan Arga sedang “mengenal”.
Padahal kenyataannya?
Mereka sedang memainkan sandiwara paling sopan sedunia.
Dan tentu saja sandiwara itu penuh dengan kekacauan.
Chat mereka mulai ramai.
Nara:
Besok Tante Mira mau datang.
Aku disuruh kirim foto kegiatan kita.
KEGIATAN APA.
Arga:
Minum kopi?
Nara:
Kita belum pernah minum kopi bareng.
Arga:
Bisa besok.
Nara:
Kamu ngajak aku ngopi resmi?
Arga:
Dalam konteks strategi.
Nara:
Oke, tapi aku pilih tempat.
Aku anti kafe yang menunya pakai bahasa Perancis.
Keesokan harinya…
Mereka duduk berhadapan di kafe kecil.
Nara datang duluan dan Arga menyusul.
Nara menatap Arga dari ujung kaki ke kepala.
“Kamu kelihatan kayak mau presentasi,” komentarnya.
“Saya habis kerja.”
“Kelihatan.”
“Kamu kelihatan santai.”
“Ini mode normal.”
Mereka memesan kopi.
Sunyi sebentar, lalu Nara angkat ponsel.
“Oke... Foto.”
Arga menegakkan badan refleks.
“Jangan tegang,” kata Nara.
“Ini bukan foto KTP."
Klik.
Nara menatap layar.
“…Kamu senyum dikit bisa nggak?”
“Saya sedang senyum.”
“Itu ekspresi ‘saya menghormati situasi’, bukan senyum.”
Arga mencoba lagi.
“STOP,” kata Nara.
“Itu lebih aneh.”
Mereka tertawa dan itu natural lepas begitu saja.
Nara langsung berhenti tertawa.
“Oke, ingat aturan nomor lima.”
Arga mengangguk cepat.
“Tidak baper.”
Tapi saat Arga menatap Nara yang sedang tertawa sambil mengomel dadanya terasa aneh.
Dan saat Nara melihat Arga memperhatikan dirinya terlalu lama, jantungnya berdetak satu kali lebih cepat.
Denial aktif.
Malamnya.
Sasa:
Ngopi???
Nara:
STRATEGI.
Sasa:
Kok lo senyum di fotonya?
Nara:
REFLEKS OTOT WAJAH.
Sasa:
Lo baper.
Nara:
AKU CUMA TERHIBUR.
Sasa:
SAMA DIA.
Nara:
SASA.
Sasa:
Aku di sini hanya mencatat sejarah.
Nara mematikan ponsel, ia menatap langit-langit.
“Ini bahaya,” gumamnya.
“Aku harus lebih rese.”
Dan di tempat lain, Arga juga menatap ponselnya.
Pesan dari ibunya masuk:
Mama senang kamu kelihatan nyaman.
Arga mengetik balasan singkat.
Kami hanya berbicara.
Tapi kata “nyaman” itu tertinggal di kepalanya.
Kesepakatan konyol itu berjalan.
Dan perlahan yang konyol bukan lagi kesepakatannya.
Tapi perasaan yang mulai muncul diam-diam dan sama-sama mereka tolak dengan keras.